KESULITAN MAKAN DAN PEMBERIAN NUTRISI PADA ANAK SEKOLAH

Dipresentasikan pada seminar Healthy Shoolage Children
Hotel Acasia, Jakarta 12 Juni 2005

Dr Widodo Judarwanto pediatrician

I. PENDAHULUAN
Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini. Karena kesehatan adalah hak asasi, menjadi kewajiban semua pihak untuk menjamin kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak Indonesia. Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Optimalisasi tumbuh dan kembang khususnya anak usia sekolah adalah menjadi prioritas utama,. Salah satu masalah yang sering dialami adalah kesulitan pemberian makan pada anak yang secara langsung mengganggu tumbuh kembang anak.
Tumbuh dan berkembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung dari beberapa hal, diantaranya adalah pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas sesuai dengan kebutuhan. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna, sering timbul masalah terutama dalam pemberian makanan karena faktor kesulitan makan pada anak.
Pemberian makan pada anak usia sekolah memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak. Tumbuh kembang dalam usia anak sekolah sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.
Dengan penanganan kesulitan makan pada anak usia sekolah yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya dalam mencapai prestasi yang optimal di sekolah.

II. PEMBERIAN NUTRISI YANG BAIK DAN BENAR PADA ANAK SEKOLAH

Untuk memberikan makanan yang benar pada anak usia sekolah harus dilihat dari banyak aspek,seperti ekonomi, sosial ,budaya,agama,disamping aspek medik dari anak itu sendiri. Makanan pada anak usia sekolah harus serasi,selaras dan seimbang.
Serasi artinya sesuai dengan tingkat tumbuh kembang anak. Selaras adalah sesuai dengan kondisi ekonomi,sosial budaya serta agama dari keluarga. Sedangkan seimbang artinya nilai gizinya harus sesuai dengan kebutuhan berdasarkan usia dan jenis bahan makanan seperti kabohidrat, protein dan lemak. .
Karena besarnya variasi kebutuhan makanan pada masing-masing anak,maka dalam memberikan nasehat makanan pada anak tidak boleh terlalu kaku. Pemberian makanan pada anak tidak boleh dilakukan dengan kekerasan tetapi dengan persuasif dan monitoring terhadap tumbuh kembangnya, Harus senantiasa dipikirkan untuk melakukan perbaikan generasi. Makanan pada bayi dan anak tidak harus mengikuti pola lama tapi harus senantiasa dinamis sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya saja merubah kebiasaan masyarakat bukanlah sesuatu hal yang gampang, lebih-lebih dalam masyarakat kita dikenal hubungan keluarga yang luas, yang dalam penentuan pola asuhan anak tidak semata-mata ditentukan oleh kedua orang tuanya tetapi juga oleh nenek ataupun pamannya yang masih sering tetap bertahan denga tradisi lama. Demikian pula kita sebagai petugas kesehatan jangan dengan mudah merubah kebiasaan mereka,karena perubahan akan menimbulkan antipati dan trauma. Semuanya harus dilakukan secara bijaksana dengan mempertimbangkan berbagai faktor setempat.
Makanan seorang anak harus mengandung protein, karbohidrat, air, mineral dan trace elements. Enersi untuk metabolisme,dihitung dalam kilo kalori (kcal), berasal dari protein (4 kcal/gm), karbohidrat (4 kcal/gm), dan lemak m(9kcal/gm). Distribusi kalori pada makanan seimbang harus 7-15% berasal dari protein,30-35% dari lemak,dan 40-50% dari karbohidrat. Enersi makanan harus memenuhi kebutuhan basal metabolik rate (BMR), spesifik dynamik action, pertumbuhan, aktivitas serta pengeluaran melalui tinja dan air seni. BMR dipengaruhi oleh : umur, jenis kelamin, penyakit, komposisi tubuh serta obat-obatan yang diminum.
Pemberian makan yang baik harus sesuai dengan Jumlah, Jenis dan Jadwal pada umur anak tertentu. Ketiga hal tersebut harus terpenuhi sesuai usia anak secara keseluruhan, bukan hanya mengutamakan jenis tapi melupakan jumlahnya atau sebaliknya memberikan jumlah yang cukup tapi jenisnya tidak sesuai untuk anak. Bila hal tersebut tidak sesuai maka akan mengganggu asupan gizi yang masuk ke tubuh, contohnya bayi minum jenis susu yang baikn dan mahal tapi jumlahnya hanya separuh yang harus dikonsumsi dalam sehari. Contoh lainnya pemberian makanan jumlahnya sudah cukup banyak tapi jenis makanannya kurang mengandung nilai gizi yan baik.
Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.
Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).
Gizi seimbang adalah keadaan yang menjamin tubuh memperoleh makanan yang cukup mengandung semua zat gizi dalam jumlah yang dibutuhkan. Khusus anak usia sekolah gizi seimbang didapat dari protein 9-15%, karbohidrat 45-55%, dan lemak 35-45%. Dengan gizi seimbang yang diberikan pada anak diharapkan mampu mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Bagaimana mendapatkan Gizi lengkap dan seimbang untuk makanan pada anak. Penggolongan bahan makanan terbagi menjadi 3 kelompok utama yaitu :
· Bahan makanan sumber tenaga berfungsi untuk beraktifitas, contoh: beras, roti, kentang,mi.
· Bahan makanan sumber zat pembangun, berfungsi untuk pembentukan, pertumbuhan dan pemeliharaan sel tubuh. contoh : daging, ikan, telur. (protein hewani), tempe, tahu, (protein nabati).
· Bahan makanan sumber zat pengatur berfung-si untuk mengatur proses metabolisme.Contoh : sayuran dan buah-buahan.
Kecukupan energi pada usia sekolah adalah 80-90 kkal/kgBB/hari dan kecukupan pro-tein adalah 1 g/kgBB/hari. Bila anak dengan BB 20 kg maka kecukupan energi sehari adalah 1600 kkal sampai dengan 1800 kkal, sedangkan kecukupan protein sehari adalah 20 g. Pada usia ini sering terjadi kecenderungan anak mengalami ketidakseimbangan gizi, terutama kalsium dan zat besi, terutama bagi anak yang jarang minum susu atau makan daging.
Sarapan pagi bagi anak usia sekloah sangatlah penting, karena waktu sekolah adalah penuh aktifitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Untuk sarapan pagi harus memenuhi sebanyak ¼ kalori sehari. Dengan mengkonsumsi 2 potong roti dan telur; satu porsi bubur ayam; satu gelas susu dan buah; akan mendapatkan 300 kalori. Bila tidak sempat sarapan pagi sebaiknya anak dibekali dengan makanan/snack yang berat (bergizi lengkap dan seimbang) misalnya : pastel goreng, mi goreng atau nasi uduk. Untuk makan siang biasanya menu makanannya lebih bervariasi karena waktu tidak terbatas, sedangkan makan malam merupakan saat yang menyenangkan berkumpul dengan keluarga.
CONTOH MENU MINGGUAN UNTUK MENCIPTAKAN VARIASI MAKANAN YANG BAIK BAGI ANAKWAKTU
SENIN
SELASA
RABU
BANGUN TIDUR :
Satu gelas susu
Satu gelas susu
Satu gelas susu
PUKUL 08:00
Nasi goreng
Mi goreng / mi rebus
Roti tawar bakar isi sosis
PUKUL 10.00
Kue pastel
Kue donat
Roti Isi daging
SIANG HARI
Nasi, Gurame Goreng, Kripik Tempe, Sayur Asem, Pepaya
Nasi, Empal Goreng, Sup daging sapi, krupuk, Apel
Nasi, , Krupuk, telor rebus, Soto betawi, Jeruk
PUKUL 16.00
Kolak pisang
Puding Buah dan susu
Bubur sumsum
MALAM HARI
Nasi, Sate Hati Ayam, Tempe bacem, Sup Bayam , Satu Gelas Susu
Nasi, Ayam bakar, Tahu bacem, sup sayur, Satu Gelas Susu
Nasi,Ayam opor, Tahu goreng, sup bayem,
Satu Gelas SusuWAKTU
KAMIS
JUMAT
SABTU
BANGUN TIDUR :
Satu gelas susu
Satu gelas susu
Satu gelas susu
PUKUL 08:00
Bubur ayam
Roti tawar isi telor dadar
Bubur menado
PUKUL 10.00
martabak
Lumpia
Kue bolu
SIANG HARI
Nasi,Paru Goreng Tempe goreng, Sup buntut, pisang
Nasi, Siomay, Sup makaroni, krupuk, pepaya
Nasi, dadar jagung, Krupuk, Sup sayur, jus wortel
PUKUL 16.00
Bubur Kacang Hijau
Bubur Beras merah
Bubur sagu
MALAM HARI
Nasi, steak lidah , Sup, salad sayur , Satu Gelas Susu
Nasi, Hati ayam tofu, bakmoy sapi , Satu Gelas Susu
Nasi,Ayam goreng Tahu, Sup jagung, Satu Gelas Susu

III. PERILAKU MAKAN PADA ANAK USIA SEKOLAH
Perilaku makan anak di luar rumah harus diperhatikan dan dicermati. Pada mumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food.

KEBIASAAN MAKAN JAJANAN
Usia prasekolah atau taman Kanak-kanak sudah mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah bisa memilih makanan yang disukainya. Seorang ibu yang telah menanamkan kebiasaan makan dengan gizi yang baik pada usia dini tentunya sangat mudah mengarahkan makanan anak, karena dia telah mengenal makanan yang baik pada usia sebelumnya. Apalagi di sekolah diarahkan pula oleh gurunya dengan praktik makan makanan yang sehat secara rutin. Hal ini sangat menguntungkan seandainya ada anak yang susah makan dan dengan petunjuk tentunya anak akan mengikuti. Program makan bersama di sekolah sangat baik dilaksanakan karena ini merupakan modal dasar bagi pengertian anak supaya anak mau diarahkan pada pola makan dengan gizi yang baik.

Golongan usia SD usia 7-9 tahun dan 10-12 tahun bisa menentukan makanan yang disukai karena mereka sudah mengenal lingkungan. Untuk itu perlu pengawasan dari orang tua supaya tidak salah melilih makanan karena pengaruh lingkungan. Disini anak masih dalam tahap pertumbuhan sehingga kebutuhan gizinya harus tetap seimbang. Banyak makanan yang dijual dipinggir jalan atau tempat umum hanya mengadung karbohidrat dan garam yang hanya kan membuat cepat kenyang dan banyak disukai anak, sayangnya hal ini bisa mengganggu napsu makan anak dan jika hal ini dibiarkan berlarut2 akan dapat mengganggu atau menghambat pertumbuhan tubuhnya.
Sedangkan pada anak usia 10-12 tahun sudah harus dibagi dalam jenis kelaminnya mengingat kebutuhan mereka yang berbeda. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik sehingga mmerlukan kalori yang lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Pada usia ini biasanya anak perempuan sudah mengalami masa haid sehingga memerlukan lebih banyak protein, zat besi dari usia sebelumnya.
Makanan jajanan yang dijual oleh pedagang kaki lima atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Jajanan kaki lima dapat mejawab tantangan masyarakat terhadap makanan yang murah, mudah, menarik dan bervariasi. Anak-anak sekolah umumnya setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. Sebuah penelitian di Jakarta baru-baru ini menemukan bahwa uang jajan anak sekolah rata-rata sekarang berkisar antara Rp 2000 – Rp 4000 per hari. Bahkan ada yang mencapai Rp 7000. Lebih jauh lagi, hanya sekitar 5% anak-anak tersebut membawa bekal dari rumah. Mereka lebih terpapar pada makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk membeli makanan tersebut.
Menariknya, makanan jajanan kaki lima menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebanyak 36%, protein 29% dan zat besi 52%(3). Karena itu dapat dipahami peran penting makanan jajanan kaki lima pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Namun demikian, keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi masih dipertanyakan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor telah ditemukan Salmonella Paratyphi A di 25% – 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima. Bakteri ini mungkin berasal dari es batu yang tidak dimasak terlebih dahulu (4). Selain cemaran mikrobiologis, cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ilegal seperti borax (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet yang digunakan untuk mayat), rhodamin B ( pewarna merah pada tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil). Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit-penyakit seperti antara lain kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ini menimbulkan gelaja-gejala yang sangat umum seperti pusing dan mual. Karenanya Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no. 722/Menkes/Per/IX/1998.
Secara umum penyakit bawaan makanan (foodborne diseases) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di banyak negara. Karena penyakit ini dianggap bukan termasuk penyakit yang serius, maka seringkali kasus-kasusnya kurang terlaporkan. Temuan baru di Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Berdasarkan uji lab, pada otak-otak dan bakso ditemukan borax, tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin, dan es sirop merah positif mengandung rhodamin B. Wawancara dengan PKL menunjukkan bahwa mereka tidak tahu adanya BTP ilegal pada bahan baku jajanan yang mereka jual. Selain itu BTP ilegal menjadi primadona bahan tambahan di jajanan kaki lima karena harganya murah, dapat memberikan penampilan makanan yang menarik (misalnya warnanya sangat cerah sehingga menarik perhatian anak-anak) dan mudah didapat. Lebih jauh lagi, kita ketahui bahwa makanan yang dijajakan oleh PKL umumnya tidak dipersiapkan dengan secara baik dan bersih. Kebanyakan PKL mempunyai pengetahuan yang rendah tentang penanganan pangan yang aman, mereka juga kurang mempunyai akses terhadap air bersih serta fasilitas cuci dan buang sampah. Terjadinya penyakit bawaan makanan pada jajanan kaki lima dapat berupa kontaminasi baik dari bahan baku, penjamah makanan yang tidak sehat, atau peralatan yang kurang bersih, juga waktu dan temperatur penyimpanan yang tidak tepat(.
Untuk mengurangi paparan anak sekolah terhadap makanan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru, orang tua, murid, serta pedagang. Secara sinambung, sekolah dan pemerintah perlu menggiatkan kembali UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Materi komunikasi tentang keamanan pangan yang sudah pernah diproduksi salah satunya oleh Badan POM dan Departemen Kesehatan dapat ditingkatkan penggunaannya sebagai alat bantu penyuluhan keamanan pangan di sekolah-sekolah.
Perlu diupayakan pemberian makanan ringan dilakukan di lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar anak tidak sembarang jajan, dengan cara melakukan koordinasi oleh pihak sekolah dengan persatuan orang tua murid untuk dapat menyajikan makanan ringan pada waktu keluar istirahat yang bisa diatur porsi dan nilai gizinya. Hal ini tentunya akan lebih murah dibnding anak jajan diluar disekolah yang tidak ada jaminan gizi dan kebersihannya.
Dengan menyelenggarakan kegiatan makanan tambahan tersebut, diharapkan mendapat keuntungan, misalnya : anak sudah ada jaminan makanan disekolah, sehingga orang tua tidak khawatir dengan makanan yang dimakan anaknya disekolah. Ibu yang selalu khawatir biasa memberi bekal makanan pada anaknya, tetapi kalau sudah disediakan disekolah, sedikit banyak akan meringankan tugas ibu. Dalam kegiatan ini bisa pula dikenalkan berbagai jenis bahan makanan yang mungkin tidak disukai anak ketika disajikan dirumah, tetapi akan menerima ketika disajikan disekolah. Dengan demikan anak dapat mengenal aneka bahan pangan.
Banyak studi yang menunjukkan persentase anak sekolah Amerika yang kelebihan berat badan bertambah hampir tiga kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Kecenderungan tersebut diduga akibat makanan tak bermutu dan kurang olahraga. Kebijakan baru di Los Angeles dalam tiga tahun ke depan akan menghilangkan tahap demi tahan minuman ringan di mesin-mesin penjaja dan kafetaria. Minuman yang dianggap tak bermanfaat itu akan diganti dengan air putih, susu dan buah-buahan dan minuman olahraga

KEBIASAAN MAKAN FAST FOOD

Fast food atau makanan siap saji sering disebut juga Junk food sangat disukai anak usia sekolah. Fast food sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.

Sudah menjadi gejala umum bila anak menyukai fastfood, karena pada saat makan fastfood anak menyukai tempat yang sejuk, nyaman, dekorasi yang menarik, ada tempat bermain, penyajian cepat serta hadiah mainan yang menarik. Bahkan anak yang biasanya di rumah mengalami sulit makan, tetapi waktu makan di fastfood nafsu makannya meningkat.
Fastfood mengandung kalori, protein, lemak dan sodium yang tinggi. Sementara kandungan vitamin A, C, E, kalsium, zat besi, asam folat serta serat relatif rendah. Seorang anak 5 tahun memilih menu 1 porsi paha goreng (330 kal), kentang goreng (330 kal) dan satu gelas minuman ringan (150 kal) akan mendapatkan 810 kalori; sedangkan kebutuhan energi 1750 kalori, telah memenuhi ½ kebutuhan kalori sehari. Bila hal ini sering dilakukan akan beresiko untuk terjadi kelebihan berat badan atau kegemukan dengan segala manifestasi gangguan seperti gangguan penyakit jantung, hipertensi atau penyakit pembuluh darah lainnya.
Kandungan garam atau sodium tampaknya juga harus menjadi perhatian, karena menurut penelitian kandungan garam tinggi :
§ 1 porsi hamburger mengandung sodium 520 mg
§ ayam goreng mengandung sodium 409 mg
§ kentang goreng kecil mengandung sodium 109 mg
Sodium ini berasal dari MSG(monosodium glutamat)/vetsin/garam. Dalam batas normal anak membutuhkan 200 mg/hari, bila mengkonsumsi 2000 mg / hari, dianggap aman tapi bila jangka panjang akan menimbulkan resiko terjadinya penyakit darah tinggi, penyakit jantung.Kandungan makanan pada fastfood rata-rata 40-60% kalori berasal dari lemak, sedangkan lemak biasanya dikonsumsi hanya 20-25% dari kalori. Lemak didapat dari keju, saus, mayonaese, cream. Serat pada fastfood didapat dari sup dan salad, tetapi gizinya berkurang karena telah mengalami pemanasan dan pendinginan yang terlalu lama.
Berbagai pertimbangan tersebut tampaknya kita harus memahami manfaat dan kerugian mengkonsumsi fastfood bagi anak. Hal lain yang menguntungkan adalah suasana yang menarik di tempat fastfood tersebut sehingga nafsu makan anak meningkat Beberapa ahli gizi berpendapat mengkonsumsi fast food seminggu 1 hingga 2 kali masih dianggap relatif aman. Kalaupun orang tua tidak bisa menolak keinginan anak untuk datang ke fastfood, bisa saja disiasati dengan membawa bekal dari rumah makanan yang lebih sehat sedangkan fastfood yang dipesan bisa dimakan orang tua. Tips yang lain adalah pilih makanan dengan tinggi serat berupa saur segar misalnya salad atau sup sayur dan batasi jumlah makanan dengan kandungan garam dan kalori yang berlebihan..

IV. KESULITAN MAKAN PADA ANAK SEKOLAH
Definisi kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.
Tabel 1. Gejala kesulitan makan pada anak sekolah
· Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak.
· Makan berlama-lama dan memainkan makanan.
· Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut.
· Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua
· Tidak mengunyah tetapi langsung menelan makanan
· Kesulitan menelan, sakit bila mengunyah atau menelan makanan

Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak dan luas, semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab.. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir atau infeksi didapat.

PENYEBAB SERING
· GANGGUAN PENCERNAAN : ALERGI MAKANAN, COELIAC, INTOLERANSI MAKANAN sering kembung, buang angin, muntah, mual, Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”ngeden”, tidak setiap hari buang air besar atau buang air besar sering (>2 kali). Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah.
· INFEKSI AKUT Infeksi Saluran napas Akut, infeksi pada rongga mulut (sariawan, jamur dll), infeksi saluran pencernaan, atau penyakit infeksi akut lainnya.

PENYEBAB JARANG
· INFEKSI KRONIS Infeksi Saluran Kencing, Tuberculosis (TBC), infeksi parasit Cacing dan sebagainya.
· GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU.Autism, ADHD, dan gangguan lainnya.
· KELAINAN BAWAAN. sumbing, lidah besar, tenggorok terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia, trakeomalasia, kista laring, tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi, kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam kandungan.
· KELAINAN HORMONAL DAN METABOLIK. hipotiroid, intoleransi fruktosa heriditer, asidemia organic, gangguan atau kelainan ginjal, gangguan hormonal, gangguan enzim tertentu din pencernaan dan sebagainya.
· KELAINAN NEUROLOGI ATAU SISTEM SUSUNAN SARAF PUSAT. infeksi, kelainan bawaan atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis, poliomielitis..
· GANGGUAN FUNGSI ORGAN DIDAPAT. infeksi (ensefalitis/infeksi ota), akibat operasi bedah (pemotongan usus) atau trauma atau kecelakaan di organ perut yang berat.
· GANGGUAN PSIKOLOGIS

V. PENANGANAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK USIA SEKOLAH
Pendekatan dan penanganan terbaik pada kasus kesulitan makan pada anak bukanlah dengan pemberian vitamin nafsu makan, tetapi harus dilakukan pendekatan yang cermat, teliti dan terpadu. Pemberian vitamin nafsu makan hanya akan mengaburkan penyebab Kesulitan makan tersebut. Sering terjadi orang tua dalam menghadapi masalah kesulitan makan pada anaknya telah berganti-ganti dokter dan telah mencoba berbagai vitamin tetapi tidak kunjung membaik.
Beberapa langkah yang dilakukan pada penatalaksanaan kesulitan makan pada anak yang harus dilakukan adalah :
Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan
Cari penyebab kesulitan makanan pada anak.
Identifikasi adakah komplikasi yang terjadi
Pemberian pengobatan terhadap penyebab
Ikuti pedoman penanganan kesulitan makan pada anak secara umum.

Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Jangan terlalu mudah menganggap penyebabnya karena masalah psikologis sebelum kita menyingkirkan penyebab fisik atau organik lainnya. Penyebab fisik atau organik kesulitan makan tampaknya yang sering adalah karena gangguan saluran cerna, alergi, infeksi kronis dan masalah psikologis. Sedangkan penyebab yang lain relatif sangat jarang terjadi.. Kesulitan makan kalau tidak cepat di atasi akan menimbulkan komplikasi yang lebih berat baik karena penyebab penyakit tersebut atau karena akibat gangguan makan itu sendiri. Kesulitan makan yang terjadi sejak lahir atau bayi usia muda maka penyebabnya kemungkinan adalah kelainan bawaan, cacat bawaan atau alergi.

Bila terdapat kesulitan makan yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu sebaiknya harus segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter anak yang biasa merawat. Dengan penanganan awal namun kesulitan makan tidak membaik hingga lebih 1 bulan disertai dengan gangguan kenaikkan berat badan dan belum bisa dipastikan penyebabnnya maka sebaiknya dilakukan penanganan beberapa disiplin ilmu. Koordinator penanganannya adalah dokter anak atau dokter tumbuh kembang anak. Dokter anak yang merawat harus mengkonsultasikan ke dokter spesialis anak dengan minat subspesialis tertentu untuk menyingkirkan kelainan organik atau medis sebagai penyebab kesulitan makan tersebut. Bila dicurigai adanya latar belakang psikologis maka kelainan makan tersebut harus dikonsultasikan pada psikiater atau pskolog anak.
Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menangani penyebab tersebut secara langsung. Mengingat penyebabnya demikian luas dan kompleks bila perlu hal tersebut harus ditangani oleh beberapa disiplin ilmu tertentu yang berkaitan dengan kelainannya.
Bila dalam waktu satu bulan kesulitan makan tidak kunjung membaik disertai penurunan atau tidak meningkatnya berat badan dan belum ditemukan penyebabnya kita harus waspada. Sebelum menjadi lebih berat dan timbal komplikasi yang lebih berat maka bila perlu dalam penanganan kesulitan makan tersebut harus melibatkan berbagai disilpin ilmu kedokteran. Dokter spesialis dengan peminatan tertentu yang sering berkaitan dengan hal ini adalah : Dokter Spesialis Anak minat gizi anak, tumbuh kembang anak, alergi anak, neurologi anak atau psikiater anak, psikolog anak, Rehabilitasi Medis, dan beberapa subspesialis lainnya. Bila masalah gangguan pencernaan cukup menonjol maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak gastroenterologi, bila masalah alergi yang dominan maka konsultasi ke dokter alergi anak demikian seterusnya.
Amat penting untuk melibatkan semua orang yang berkaitan dengan pemberian makan pada anak seperti orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya, sehingga mereka harus menerima informasi yang jelas dan rinci tentang penanganan masalah tersebut.
Penyebab kesulitan makanan demikian kompleks dan luas, kadang penyebabnya lebih dari satu bahkan satu sama lain saling mempengaruhi dan memberatkan. Sehingga sering terjadi kebingungan pada orang tua, karena beberapa diagnosis dan penanganannya sangat berbeda atau bertentangan antara dokter satu dengan lainnya. Perbedaan ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara dokter yang merawat atau mungkin juga sering terjadi penanganan penyakit anak yang ditangani secara sepotong-sepotong. Paling ideal dalam menangani kasus seperti ini adalah dengan cara holistik, dimana semua yang dicurigai sebagai penyebab dicari dan ditangani secara tuntas secara bersamaan. Dokter yang harus merawat melakukan komunikasi satu sama lainnya, baik melalui rekam medis (catatan penderita) atau hubungan langsung.
Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik, dan lain-lain. Dalam beberapa kasus, kesulitan makan pada anak bisa disembuhkan hanya dengan mengganti peralatan makan seperti dot, botol, sendok, dan sebagainya, yang sesuai dengan kondisi fisiologis anak. Kesulitan makan yang bukan akibat gangguan fisik, bisa dicegah orangtua sedini mungkin.

Pemberian vitamin tertentu sering dilakukan oleh orang tua atau dokter pada kasus kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut, padahal bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Di bawah ini terdapat pedoman umum tentang cara penaganan kesulitan makan tersebut.

KESALAHAN CARA PEMBERIAN MAKAN

Meskipun tampaknya kesalahan pemberian makanan bukan sebagai penyebab utama kesulitan pemberian makanan. Tetapi perilaku pemberian makanan yang salah sering terjadi malah memperberat kesulitan makan pada anak, yang sudah ada karena dapat mengurangi selera makannya.

· Hindari pemberian permen yang manis, kacang-kacangan dan makanan ringan lain saat menjelang jam makan yang dapat mengurangi selera makan.
· Jangan memaksa anak untuk makan dengan cara yang sempurna seperti orang dewasa, misalnya makan tanpa berserakan
· Jangan memaksa anak untuk makan lebih banyak dari yang mereka inginkan.
· Beberapa ahli psikologi perkembangan anak tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.Orangtua yang sering memaksa anak makan tanpa memperhatikan kebutuhan anak akan makanan, membuat anak tidak pernah dapat membedakan antara rasa lapar dan keharusannya untuk makan, serta menganggap makanan sebagai hukuman bagi anak.
· Orangtua atau pengasuh yang sering memaksa anak makan, menyebabkan anak tidak menghargai makanan dan dapat mempermainkan makanan tersebut, sehingga anak tidak pernah belajar makan dengan benar.
· Demikian pula bila makan diberikan bukan dalam situasi makan tetapi bersama aktivitas lain, misalnya sambil bermain berjalan-jalan atau menonton TV
· Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh”
· Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan
· Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar
· Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai menu yang dihidangkan.

CARA PEMBERIAN MAKAN PADA ANAK DENGAN KESULITAN MAKAN
Cara pemberian makan yang baik dan benar sangat berpengaruh terhadap selera makan pada anak. Berikut ini terdapat beberapa cara dan petunjuk untuk mengatasi kesulitan makan pada anak.
· Beri jumlah makanan secara bertahap sedikit demi sedikit tapi sering, jangan terlalu bernafsu untuk memberi sekaligus banyak pada anak dengan masalah pencernaan. Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.
· Bila menyuruh makan pada anak harus dengan suara lemah lembut dan dengan pendekatan yang baik tanpa memaksa. Jangan dengan perasaan emosi, marah atau dengan nada tinggi dan bersifat menekan.
· Bila sudah tiba saat jam makan tapi anak sedang asyik bermain, jangan langsung dihentikan mendadak permainan si anak. Cobalah anak untuk diingatkan sebelumnya, misalnya berkata dengan lembut : sepuluh menit lagi permainannya harus berhenti ya… karena adik harus makan siang !..
· Buatlah suasana makan itu menyenangkan dengan pembicaraan yang menarik bagi anak. Kurangi pembicaraan mengenai makan itu sendiri. Suasana yang “mencintai dan mendukung” amat diperlukan. Terimalah bila anak tidak menghendaki suatu jenis makanan tertentu, tetapi jelaskan nutrisi yang terkandung dalam makanana tersebut tanpa terkesan ‘memaksa’.
· Sajikan makanan-makanan sederhana, makanan yang mudah dikenali. Anak usia kanak-kanak awal ini biasa
nya ingin mengetahui apa yang dimakannya dan menolak makanan yang dicampur, sehingga mereka tidak mengenal bentuknya, misalnya gado-gado.
· Sajikan dalam porsi kecil, terutama makanan yang baru dikenal atau yang tidak disenanginya.
· Perhatikan penampilan dari bentuk, tekstur, warna dan rasa dari makanan. Kreatiflah dalam menyajikan makanan, misalnya membuat dadar telur yang berwajah, dsb.
· Ikut sertakan anak untuk menentukan menu makanan yang hendak dimakan. Jika anak merasa menjadi bagian dari aktivitas, maka biasanya mereka menjadi lebih tertarik. Gunakan lembar berisi informasi tentang makanan beserta gambar, misalnya daging, telur, ayam, ikan sayur-sayuran. Bantu anak merencanakan makanannya dengan gambar piring yang akan diisi dengan makanan apa yang hendak dimakan hari ini
· Berilah contoh makan yang baik bagi anak. Orangtua yang tidak bersemangat untuk makan atau rewel makan akan menjadi contoh yang buruk bagi anak, sebab anak biasa meniru tokoh yang berarti baginya.
· Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.
· Mempercantik tampilan makanan misalnya menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.
· Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa “anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru”.
· Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.
· Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.
· Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginannya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
· Kebiasaan makan orangtua akan menjadi contoh bagi anak, karena itu biasakanlah menyantap makanan beragam. Pastikan hanya makanan sehat dan bergizi yang tersedia di rumah.

PENDEKATAN PSIKOLOGIS
Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat.
Sulit makan yang terus menerus dapat merupakan suatu proses atau reaksi emosional anak terhadap orangtuanya. Seringnya anak menerima ancaman atau hukuman karena menolak makan atau pengalaman yang tidak menyenangkan saat anak mulai mengenal makanan padat dapat pula berkelanjut menjadi anak dengan keluhan sulit makan.
Hubungan yang tidak sesuai dan tidak harmonis antara anak dan orang di sekitarnya atau antara anak dengan kondisi lingkungan akan menimbulkan reaksi penolakan secara psikologis berupa gangguan makan pada anak tersebut.
· Bina hubungan antara keluarga (ayah, ibu, saudara dan lainnya) dengan baik dan penuh kasih sayang. Jauhi penggunaan emosi yang berlebihan berupa teriakan, umpatan, membanting sesuatu, memukul atau tindakan kekerasan lainnya.
· Hindari stres yang berlebihan pada orang tua, bila sedang mengalami stres sedapat mungkin jangan diungkapkan di depan anak.
· Binalah komunikasi terhadap anak dengan sentuhan rasa kasih sayang dengan menggunakan suara yang lemah lembut, jauhi perasaan emosi, marah dan kecemasan.
· Buat jadwal secara rutin kebiasaan makan bersama, ciptakan suasana makan yang baik, penuh kasih sayang dan kekekuargaan. Jangan meniciptakan suasana penuh kebencian dan kemarahan saat makan bersama.
TIPS BAGI ORANG TUA DALAM MENCEGAH KESULITAN MAKAN SECARA PSIKOLOGIS
· Mencoba dengan bahan yang sama tetapi dengan resep yang berbeda, misalnya : Jagung selain dibuat sop, bisa juga dimasak untuk dadar jagung, atau makanan selingan seperti kue jagung, jenang jagung dan lain sebagainya.
· Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi diantara makanan utama misalnya : Ketela pohon direbus kemudian dihaluskan,kemudian dikepal, di dalamnya diberi gula merah, dicelupkan dalam adukan 1 butir telor lalu digoreng, atau wortel (tambahkan daging bila ada) dicincang, tumis dengan bawang putih dan daun bawang, masukkan bihun yang sudah ditiriskan tambahkan kecap sedikit, gula dan garam secukupnya.
TIPS UNTUK MENCIPTAKAN VARIASI MAKANAN

VI. PENUTUP
Makan dan kebiasaan makan merupakan aspek yang penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan, terutama periode anak usia sekolah. Untuk memberikan makanan yang baik dan benar pada anak usia sekolah harus dilihat dari banyak aspek,seperti ekonomi, sosial ,budaya,agama,disamping aspek medik dari anak itu sendiri. Makanan pada anak usia sekolah harus serasi,selaras dan seimbang.
Kegiatan pemberian makanan anak ini sering menjadi masalah baik bagi orang tua, khususnya bila terjadi kesulitan makan pada anak. Penyebab kesulitan makan pada anak sangat banyak dan luas, yang tersering adalah adanya gangguan pencernaan, alergi, penyakit infeksi, dan gangguan psikologis. Penyebab lainnya seperti kelainan bawaan, gangguan neurologist, gangguan metabolic dan sebagainya sangat jarang terjadi. Jangan mudah memastikan bahwa penyebab kesulitan makan pada anak karena gangguan psikologis, sebelum dipastikan tidak adanya gangguan organ tubuh terutama pencernaan anak.
Pemberian vitamin tanpa mencari penyebab gangguan kesulitan makan pada anak bukan merupakan jalan keluar yang baik. Penanganan kesulitan makan pada anak adalah dengan mencari dan mengatasi penyebabnya secara langsung.X. DAFTAR PUSTAKA
1. Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
2. FAO. Street Foods. Report of an FAO technical meeting on street foods, Calcutta, 6-9 November 1995. FAO Food and Nutrition paper 63. FAO, Rome. 1997.
3. Maskar D.H. Assessment of illegal food additives intake from street food among primary school children in selected area of Jakarta. Thesis. SEAMEO-TROPMED RCCN University of Indonesia. 2004.
4. Guhardja S, Madanijah S, Wulandari S, Natal NPS, and Akbar M. The role of street foods in the household food consumption: A survey in Bogor. Proceeding of the 4th ASEAN Food Conference 1992. IPB Press. 1992.
5. Anita N. Mutu mikrobiologis minuman jajanan kantin di tiga sekolah wilayah Bogor. Institut Pertanian Bogor. 2002.
6. WHO. Foodborne disease: a focus for health education. World Health Organization, Geneva. 2000.
7. WHO/ICD/SEAMEO. Persyaratan utama keamanan makanan jajanan kaki lima. (Terjemahan). SEAMEO TROPMED RCCN UI. Jakarta. 1999.
8. Agus Firmansyah.Aspek. Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update, 2003.
9. Aronson, David. “No Laughing Matter: Young people who are overweight can face a lifetime of discrimination”. Teaching Tolerance Magazine, Fall 1997.
10. Berg, Frances., ed. Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis. Hettinger, ND: Healthy Weight Institute, 402 S. 14th St., Hettinger, ND 58639, 1996.
11. Carlson, Nancy. I Like Me! New York: Viking/Penguin, 1988. [Children's]Upbeat story of a young pig who likes all aspects of herself, including her round belly.
12. Gil, Eliana, PhD. “The Inner World of the Fat Child: Challenge for a Child Abuse Counselor” Radiance, the Magazine for Large Women, Fall 1987.
13. Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA: Gürze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support groups.
14. Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing Childhood Eating Problems: A Practical, Positive Approach to Raising Children Free of Food & Weight Conflicts Carlsbad, CA: Gürze Books, 1993
15. Kubersky, Rachel. Everything You Need to Know about Eating Disorders New York: Rosen Publishing Group, 1992.
16. Levine, Michael, PhD, and Hill, Laura, PhD. A 5-Day Lesson Plan on Eating Disorders: Grades 7-12 Tulsa, OK: NEDO, 1996.Maine, Margo, PhD. Father Hunger: Fathers, Daughters, & Food Carlsbad, CA: Gürze Books, 1991.
17. Judarwanto Widodo, Kesulitan makan pada penderita alergi dengan gastroenteropati Atopi. (tidak dipublikasikan).
18. Satter, Ellyn, RD, ACSW. How to Get Your Kid to Eat…But Not Too Much: From Birth to Adolescence Palo Alto: Bull Publishing, 1987.
19. Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.
20. Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their children. International Journal of Eating Disorders, 25(3), 253-62.
21. Bryant-Waugh R., Lask B. Eating Disorders in Children. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines 36 (3), 191-202, 1995.
22. Kreipe RE. Eating disorders among children and adolescents. Pediatrics in Review, 16(10), 370-9, 1995.
23. Marchi M., Cohen P. (1990). Early childhood eating behaviors and adolescent eating disorders. Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry,29(1), 112-7.
24. Perry LM. Medicinal Plants of East and Southeast Asia. Attributed properties and uses. Copyright by The Masschussets Institute of Technology, 1980
25. Sjamsulhidajat SS, Hutapea JR. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Depkes RI. Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1991. 1.

www.klinikgizi.com

Provided By: KLINIKGIZI.COM Supported By: GRoW UP CLINIC online Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, KLINIKGIZI.COM Information Education Network. All rights reserved

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s