September 30, 2022

www.klinikgizi.com

The Science of Nutrition

Intoleransi Laktosa dan Diare Serta Penanganannya

4 min read

Intoleransi laktosa dan diare merupakan dua keadaan yang hampir selalu terjadi bersamaan pada anak. Pemahaman kedua hal tersebut penting untuk mendapatkan tata laksana yang optimal. Laktosa adalah sumber karbohidrat terpenting dalam ASI dan susu formula. Hampir semua laktosa yang masuk usus halus dihidrolisis (dipecah) menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase yang terdapat pada mikrovili epitel usus halus. Hasil hidrolisis akan diserap dan masuk ke dalam aliran darah sebagai nutrisi. Pada diare (terutama akibat rotavirus) terjadi kerusakan mikrofili sehingga enzim laktase terganggu dan berkurang. Secara umum seorang anak (kecuali bayi di bawah usia 2 bulan) dikatakan menderita diare bila frekuensi BAB bertambah dari biasanya (>3 kali/hari) dengan konsistensi tinja cair. Data epidemiologi memperlihatkan bahwa rotavirus (60%) merupakan penyebab tersering diare akut pada anak usia di bawah 3 tahun. Intoleransi laktosa dan diare merupakan dua keadaan yang hampir selalu terjadi bersamaan pada anak. Pemahaman kedua hal tersebut penting untuk mendapatkan tata laksana yang optimal.

Intoleransi laktosa adalah gejala klinis akibat tidak terhidrolisnya laktosa secara optimal di dalam usus halus akibat enzim laktase yang berkurang. Gejala klinis yang diperlihatkan yaitu diare profus, kembung, nyeri perut, muntah, sering flatus, merah di sekitar anus, dan tinja berbau asam.

Intoleransi laktosa adalah masalah pencernaan yang terjadi ketika tubuh tidak dapat mencerna laktosa, yaitu salah satu bentuk gula yang terdapat pada susu dan produk olahannya. Dalam tubuh, laktosa dicerna menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim yang dinamakan laktase, agar dapat diserap tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Orang dengan intoleransi laktosa tidak menghasilkan laktase yang cukup, sehingga laktosa yang tidak tercerna masuk ke usus besar lalu terfermentasi oleh bakteri, dan menimbulkan berbagai gejala. Intoleransi laktosa merupakan salah satu jenis intoleransi makanan yang cukup sering terjadi.

BACA:   Youtube pilihan: Pengaruh Makanan Pada Sulit BAB atau Konstipasi

DIARE DAN INTOLERANSI LAKTOSA

  • Secara umum seorang anak (kecuali bayi di bawah usia 2 bulan) dikatakan menderita diare bila frekuensi BAB bertambah dari biasanya (>3 kali/hari) dengan konsistensi tinja cair. Data epidemiologi memperlihatkan bahwa rotavirus (60%) merupakan penyebab tersering diare akut pada anak usia di bawah 3 tahun.
  • Laktosa adalah sumber karbohidrat terpenting dalam ASI dan susu formula. Hampir semua laktosa yang masuk usus halus dihidrolisis (dipecah) menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase yang terdapat pada mikrovili epitel usus halus. Hasil hidrolisis akan diserap dan masuk ke dalam aliran darah sebagai nutrisi. Pada diare (terutama akibat rotavirus) terjadi kerusakan mikrofili sehingga enzim laktase terganggu dan berkurang.
  • Intoleransi laktosa adalah gejala klinis akibat tidak terhidrolisnya laktosa secara optimal di dalam usus halus akibat enzim laktase yang berkurang. Gejala klinis yang diperlihatkan yaitu diare profus, kembung, nyeri perut, muntah, sering flatus, merah di sekitar anus, dan tinja berbau asam

Gejala Intoleransi Laktosa

Gejala intoleransi laktosa biasanya terjadi 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa. Di antaranya adalah:

  • Mual.
  • Diare.
  • Kram perut.
  • Perut kembung.
  • Sering buang angin.

Tingkat keparahan gejala tersebut tergantung pada seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi.

Penyebab Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Intoleransi laktosa primer, yaitu penurunan produksi laktase yang terjadi seiring bertambahnya usia. Umumnya dimulai pada usia 2 tahun, namun keluhan baru muncul saat remaja atau dewasa. Kondisi ini paling umum terjadi dan disebabkan oleh faktor genetik.
  • Intoleransi laktosa sekunder. Jenis ini terjadi karena penurunan produksi laktase sementara yang dapat disebabkan oleh penyakit celiac, penyakit Crohn, infeksi usus, radang usus besar, atau kemoterapi.
  • Intoleransi laktosa dalam masa perkembangan. Bayi dengan kelahiran prematur dapat mengalami intoleransi laktosa secara sementara, akibat usus halus belum berkembang sempurna saat dilahirkan.
  • Intoleransi laktosa bawaan. Bayi yang lahir dengan sedikit atau tanpa memiliki enzim laktase. Kondisi ini sangat langka, namun bisa terjadi disebabkan kelainan genetik yang diturunkan dari kedua orang tua.
BACA:   ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN PERTUMBUHAN

PENANGANAN

Sebagian besar diare pada anak self-limited diseases, sehingga jangan terburu-buru memberikan antibiotik dan mengubah diet. Tatalaksana utama adalah mencegah dehidrasi dan gangguan nutrisi.

  • Pemberian cairan rehidrasi oral (CRO) hipotonik
  • Rehidrasi cepat (3-4 jam)
  • ASI harus tetap diberikan
  • Realimentasi segera dengan makanan sehari-hari
  • Susu formula yang diencerkan tidak dianjurkan
  • Susu formula khusus diberikan sesuai indikasi
  • Antibiotik hanya berdasarkan indikasi kuat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.