Benarkah Teh Menganggu Lambung atau Pencernaan ? Ternyata Sebaliknya, Teh Memperbaiki Saluran Cerna.

Selama ini sering kita dengar saat terjadi gangguan saluran cerna seperti dispepsia, gastrititis atau orang awam menyebutkan dengan gangguan asam lambung, terlambat makan, atau sakit maag beberapa klinisi melarang untuk minum teh. Sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa teh berbahaya untuk pencernaan atau untuk penderita gangguan saluran cerna. Justru banyak penelitian yang menunjukkan sebaliknya bahwa teh akan memperbaiki metabolisme dan sistem penyerapan dalam sistem saluran cerna. Polifenol teh dapat memodifikasi komposisi mikrobiota usus.  Bahkan beberapa penelitian menunjukkan teh dapat mencegah reaksi inflamasi saluran cerna kronis khususnya potensi pencegahan kanker usus besar dan rektum. Tetapi memang ada laporan kasus bahwa teh yang tidak segar atau teh rendaman yang berlangsung lebih dari 12 jam dalam suhu ruangan, diduga terjadi perubahan bilogis dan kimiawi bisa mengganggu saluran cerna.

Kontroversi perbedaan pendapat 

Dalam beberapa puluh tahun lamanya mungkin sering dihadapi oleh masyarakat pada umumnya, masih sering terjadi kontroversi tentang penyakit alergi saluran cerna dan hipersensitifitas saluran cerna. Sering terjadi bukan hanya pada orang awam di kalangan dokterpun masih banyak terjadi perbedaan pendapat. Seorang penderita alergi saluran cerna  dan hipersensitivitas saluran cerna mendapat advis dari seorang dokter untuk menghindari makanan tertentu untuk mengurangi keluhan penyakitnya. Tetapi dokter lainnya mengatakan tidak perlu menghindari makanan tersebut, karena makanan tidak berhubungan dengan penyakitnya. Sebagian dokter berpendapat, bahwa gejala alergi saluran cerna dan hipersensitivitas saluran cerna karena makanan jarang ditemukan.  Ada pendapat alergi dan hipersensitivitas makanan hanya berkaitan dengan sedikit penyakit dan sangat jarang menyangkut bahan makanan. Sebagian dokter berpendapat bahwa teh, susu, gluten mengganggu pencernaan harus dihindari, tetapi dokter lain berpendapat bahwa teh aman, tetapi yang dihindari kopi, sea food, coklat dan sebagainya.

Mengapa Dokter Beda pendapat ?

Perbedaan pendapat makanan penyebab hipersenitifitas makanan ini terjadi di kalangan masyarakat atau klinisi terjadi karena banyak faktor penyebab dan pemicu terjadi gangguan slauran cerna. Sehingga bukan hanya penderita, dokterpun kesulitan mencari penyebab dan gangguan pemicu tersebut. Banyak faktor dan pemicu gangguan. Paling sering kekambuhan gangguan saluran cerna bisa disebabkan karena reaksi simpang makanan atau ketidakcocokan makanan untuk saluran cerna dan dipicu atau diperberat karena infeksi virus common cold atau flu ringan. Namun gangguan infeksi virus ringan ini sering tidak disadari oleh penderita bahkan oleh klinisi karena gejala yang muncul sangat ringan sehingga sering dianggap normal seperti hidung meler, nyeri tenggorokan, kering tenggorokan, nyeri tangan dan punggung, sakit kepala, badan lesu.

Hal inilah yang menunjukkan saat penderita makan penyebab makanan gangguan saluran cerna seperti coklat dan mengalami gejala virus atau common cold ringan maka saat minum teh perutnya terganggua. Padahal sebelumnya minum teh tidak mengalami gangguan. Penderita atau klinisi tidak menyadari bahwa coklat atau infeksi virus atau common cold ringan juga berperanan utama dalam kekambuhan saluarn saluran cerna. Tetapi memang benar terdapat beberapa laporan kasus minum teh rendaman air dalam suhu kamar yang berlangsung lebih dari 12 hari bisa mengganggu saluran cerna. Hal ini belum bisa dijelaskan mengapa hal itu terjadi. Diduga saat teh berlangsung lama dalam suhu kamar berpotensi merubah kandungan biologis atau kimiawi dalam teh yang menganggu saluran cerna.

Penyebab perbedaan pendapat yang lain karena untuk memastikan penyebab makanan yang mengganggu tubuh tidak dapat dipastikan dengan tes atau pemeriksaan laboratorium. Di bidang ilmu kedokteran telah disepakati secara ilmiah bahwa untuk memastikan penyebab alergi makanan atau hipersensitifitas makanan adalah dengan eliminasi provokasi makanan bukan dengan tes alergi. Tes alergi hanya membantu diagnosis bukan memastikan penyebab alergi. Tetapi kesepakatan ilmiah yang seharusnya tidak terbantahkan ini sering diabaikan dan menjadi sumber berbagai kontroversi yang ada

Penyebab lain perbedaan pendapat ini adalah sulitnya untuk memastikan penyebab alergi dengan melakukan eliminai provokasi makanan. Gold Standart atau standar baku emas diagnosis alergi makanan adalah DBPCFC (Double Blind Placebo Chalenge Food Control). Tetapi karena relatif rumit timbul beberapa modifikasi Chalenge test atau eliminasi provokasi makanan yang kelihatan mudah tetapi sulit ini seringkali tidak pernah dilakukan oleh klinisi dan sebagian ahli alergi untuk memastikan penyebab alergi makanan.

Penelitian tunjukkan bahwa Teh justru memperbaiki saluran cerna

Teh, dibuat dari daun tanaman Camellia sinensis, adalah minuman populer dan kemungkinan efek kesehatan yang bermanfaat dari polifenol teh (TPP), EGCG telah dipelajari secara luas.

  • Penelitian secara biologis polifenol teh dan interaksinya dengan mikrobiota di saluran pencernaan. Polifenol teh diserap terutama di usus kecil dan menjalani metabolisme di berbagai organ. Polifenol teh yang tidak terserap memasuki usus besar terdegradasi oleh mikrobiota. Beberapa metabolit juga diserap secara sistemik dan diekskresikan dalam urin, sementara yang tidak diserap diekskresikan dalam tinja. Polifenol teh dapat memodifikasi komposisi mikrobiota usus. Dalam studi manusia dan hewan pengerat yang diulas di sini, banyak penelitian melaporkan korelasi antara perubahan mikrobiota yang diamati dengan penurunan kadar glukosa darah atau kenaikan berat badan. Spesies bakteri milik genera yang berbeda diidentifikasi
  • Penelitian terhadap efek menguntungkan dari teh hijau yang mengandung selenium dan Teh Hijau China pada ukuran populasi lactobacilli dan bifidobacteria dan aktivitas dari dua enzim mikroba dalam caeca tikus telah diselidiki. Gavage oral tikus dengan ekstrak Teh Hijau  selama 6 hari menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam jumlah caecal lactobacilli dan bifidobacteria  sementara secara signifikan mengurangi jumlah caecal dari bacteroides dan bakteri clostridial. Sebaliknya, melakukan gavaging pada tikus dengan ekstrak Teh Hijau China selama 6 hari menghasilkan sedikit peningkatan tetapi tidak signifikan dalam jumlah caecal lactobacilli dan bifidobacteria tetapi secara signifikan mengurangi jumlah bacteroides dan clostridia. Selain itu, tikus yang dicincang dengan Teh Hijau China dan Teh Hijau menunjukkan penurunan 17,2% dan 21,3% dalam aktivitas enzim bakteri β-glukururididase, masing-masing, jika dibandingkan dengan tikus yang hanya diberi air. β-glukuronidase dianggap sebagai salah satu enzim yang meningkatkan risiko kanker kolorektal. Selain itu, tikus yang melakukan gavaging dengan teh ini menghasilkan peningkatan masing-masing sebesar 19% dan 25,5% dalam aktivitas β-glukosidase. Kesimpulannya, Teh Hijau menunjukkan efek bifidogenik dan laktogenik dan tingkat selenium yang tinggi mungkin berada di belakang keunggulan teh ini dibandingkan Teh Hijau China.
  • Ternyata penelitian ilmiah menunjukkan bahwa teh khususnya teh hijau justru secara farmakologi dalam penelitian memperbaiki ganggua saluran cerna. Teh hijau kaya akan senyawa polifenolik, dengan katekin sebagai komponen utamanya. Penelitian telah menunjukkan bahwa katekin memiliki sifat farmakologis yang beragam yang mencakup efek anti-oksidatif, anti-inflamasi, anti-karsinogenik, anti-arteriosklerotik, dan anti-bakteri. Dalam saluran pencernaan, teh hijau ditemukan untuk mengaktifkan antioksidan intraseluler, menghambat pembentukan prokarsinogen, menekan angiogenesis dan proliferasi sel kanker. Studi tentang efek pencegahan teh hijau pada kanker kerongkongan telah menghasilkan hasil yang tidak konsisten; Namun, hubungan terbalik konsumsi teh dengan kanker lambung dan usus besar telah banyak dilaporkan. Teh hijau efektif untuk mencegah karies gigi dan mengurangi kolesterol dan penyerapan lipid dalam saluran pencernaan, sehingga menguntungkan subyek dengan gangguan kardiovaskular. Karena teh katekin diserap dengan baik di saluran pencernaan dan mereka berinteraksi secara sinergis dalam tindakan modifikasi penyakitnya, maka minum teh hijau yang tidak difraksi adalah cara yang paling sederhana dan bermanfaat untuk mencegah gangguan pencernaan.
  • Penelitian epedemiologis yang dilakukan Y Hara  menunjukkan bahkan teh juga bisa memperbaiki gangguan saluran cerna sehingga dapat mencwgah kanker usus atau dubur. sensitif justru pemberian teh dapat memperbeikinya. Teh katekin mengalami berbagai perubahan metabolisme setelah diminum, meskipun sebagian besar diekskresikan dengan feses. Studi epidemiologis menunjukkan efek perlindungan teh terhadap berbagai kanker manusia, termasuk usus besar dan dubur. Properti bakterisida dari katekin teh memainkan beberapa peran dalam saluran pencernaan. Di usus kecil, katekin menghambat aktivitas alfa-amilase, dan sejumlah tertentu diserap ke dalam vena portal. Meskipun katekin bersifat bakterisidal, mereka tidak memengaruhi bakteri asam laktat. Termasuk katekin teh dalam makanan selama beberapa minggu mengurangi produk pembusukan dan meningkatkan asam organik dengan menurunkan pH. Perubahan ini dicapai pada pasien yang diberi tabung dengan memberikan 100 mg katekin teh (setara dengan secangkir teh hijau) tiga kali sehari dengan makanan selama 3 minggu. Ketika pemberian katekin berhenti, efeknya berbalik setelah 1 minggu. Katekin harus dipertimbangkan lebih lanjut dalam studi karsinogenesis usus besar.
  • Dalam studi MR klinis, saluran pencernaan secara signifikan meningkat setelah pemberian oral dari larutan teh hijau. Kepala pankreas jelas digambarkan dengan visualisasi dari dinding lambung dan bagian duodenum yang turun. Namun, visualisasi jejunum dan ileum tidak membaik, menunjukkan bahwa larutan teh hijau diencerkan oleh cairan usus di usus kecil. Karena hanya sejumlah kecil mangan (1500 ppm) yang disatukan dengan senyawa dengan berat molekul tinggi seperti pektin sudah cukup untuk menghasilkan peningkatan yang sangat baik pada saluran pencernaan, akan lebih baik untuk mengembangkan senyawa kimia murni sintetis, misalnya, yang terdiri dari polisakarida dan mangan, daripada menggunakan larutan teh hijau sebagai agen penambah gastrointestinal dalam studi MR.

 

Referensi

  • Marcel W L Koo 1, Chi H Cho. Pharmacological effects of green tea on the gastrointestinal system. Eur J Pharmacol. 2004 Oct 1;500(1-3):177-85. doi: 10.1016/j.ejphar.2004.07.023.
  • Y Hara. Influence of tea catechins on the digestive tract. J Cell Biochem Suppl. 1997;27:52-8.
  • Tingting Chen &Chung S. Yang. Biological fates of tea polyphenols and their interactions with microbiota in the gastrointestinal tract: implications on health effects. Published online: 26 Aug 2019 Critical Reviews in Food Science and Nutrition
  • Abdul-Lateef Molan 1, Zhuojian Liu, Ruby Tiwari. The ability of green tea to positively modulate key markers of gastrointestinal function in rats. Phytother Res. 2010 Nov;24(11):1614-9. doi: 10.1002/ptr.3145.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *