Epidemiologi Obesitas Pada Anak

Obesitas adalah kelainan gizi yang paling umum terjadi pada anak-anak dan remaja di Amerika Serikat. Sekitar 21-24% anak dan remaja Amerika kelebihan berat badan, dan 16-18% lainnya mengalami obesitas; prevalensi obesitas paling tinggi di antara kelompok etnis tertentu. Obesitas pada masa kanak-kanak merupakan predisposisi resistensi insulin dan diabetes tipe 2, hipertensi, hiperlipidemia, penyakit hati dan ginjal, dan disfungsi reproduksi. Kondisi ini juga meningkatkan risiko obesitas onset dewasa dan penyakit kardiovaskular. 

Obesitas pada anak merupakan kelainan yang kompleks. Prevalensinya telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir sehingga banyak yang menganggapnya sebagai masalah kesehatan utama di negara maju. Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) menunjukkan bahwa prevalensi obesitas meningkat pada semua kelompok usia anak, baik jenis kelamin, maupun pada berbagai kelompok etnis dan ras. Banyak faktor, termasuk genetika, lingkungan, metabolisme, gaya hidup, dan kebiasaan makan, diyakini berperan dalam perkembangan obesitas. Namun, lebih dari 90% kasus bersifat idiopatik; kurang dari 10% dikaitkan dengan penyebab hormonal atau genetik.

Obesitas merupakan masalah kesehatan dunia yang semakin sering ditemukan di berbagai negara. Prevalensi overweight dan obes pada anak di dunia meningkat dari 4,2% di tahun 1990 menjadi 6,7% di tahun 2010, dan diperkirakan akan mencapai 9,1% di tahun 2020.1 Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 20132 didapatkan prevalensi obesitas pada anak balita di tahun 2007, 2010, dan 2013 berdasarkan berat badan menurut tinggi badan lebih dari Z score 2 menggunakan baku antropometri anak balita WHO 2005 berturut-turut 12,2%, 14,0%, dan 11,9%, serta anak berusia 5-12, 13-15, dan 16-18 tahun berturut-turut 8,8%, 2,5%, dan 1,6% berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur lebih dari Z score 2 menggunakan baku antropometri WHO 2007 untuk anak berumur 5-18 tahun.

Beberapa penelitian mengenai prevalensi obesitas pada anak dan remaja telah dilakukan di Jakarta, Bali, dan Semarang, yaitu Djer3 mendapatkan prevalensi anak obes di dua sekolah dasar negeri di Jakarta Pusat 9,6% dari 488 anak, Meilany4 mendapatkan prevalensi anak obes di tiga sekolah dasar swasta di Jakarta Timur 27,5% dari 2292 anak,  Susanti mendapatkan prevalensi obesitas pada anak sekolah dasar usia 10-12 tahun di lima wilayah DKI Jakarta 15,3% dari 600 anak,  Adhianto dkk. mendapatkan prevalensi obesitas 11% dari 552 anak berusia 11-17 tahun di kota Denpasar dan Badung,  Dewi dkk.mendapatkan prevalensi obesitas 15% dari 241 anak berusia 6-10 tahun di dua sekolah dasar negeri di Bali, dan Mexitalia dkk. mendapatkan prevalensi obesitas 10,6% dari 1157 anak usia 6-7 tahun di kota Semarang. Penelitian Multisenter 10 PPDSA di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada anak usia sekolah dasar rata-rata 12,3%.

Peningkatan prevalensi obesitas juga diikuti dengan peningkatan prevalensi komorbiditas, seperti peningkatan tekanan darah, aterosklerosis, hipertrofi ventrikel kiri, sumbatan jalan napas saat tidur (obstructive sleep apnea), asma, sindrom polikistik ovarium, diabetes melitus tipe-2, perlemakan hati, abnormalitas kadar lipid darah (dislipidemia), dan sindrom metabolik. Berbagai penelitian yang telah dilakukan di Indonesia juga mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda, yaitu anak dan remaja obes sudah mengalami komorbiditas seperti hipertensi, dislipidemia, peningkatan kadar SGOT dan SGPT, dan uji toleransi glukosa yang terganggu, prevalensi dislipidemia sebesar 45%
ditemukan pada anak obes usia sekolah dasar di Surakarta dan anak obes berisiko lebih tinggi mengalami dislipidemia dibandingkan anak tidak obes, kecepatan aliran ekspirasi puncak (peak expiratory flow rate/PEFR) anak obes lebih rendah dibandingkan anak tidak obes bahkan sebelum aktivitas fisis, gangguan emosional dan perilaku berdasarkan Child Behavior Checklist (CBCL) dan 17-item Pediatric Symptom Checklist (PSC17) berturut-turut ditemukan pada 28% dan 22% anak obes.

BACA:   Labeling Makanan dan Regulasi Yang Mengaturnya

Masalah terbanyak yang ditemukan adalah gangguan internalisasi seperti menarik diri, keluhan somatik, ansietas, ataupun depresi, sebesar 32,5% anak obes mengalami ketidakmatangan sosial, resistensi insulin ditemukan pada 47% anak laki-laki superobes berusia 5-9 tahun19 dan 38% remaja obes20 , remaja obes berisiko lebih tinggi mengalami defisiensi besi dibandingkan remaja tidak obes, ketebalan tunika intima media arteri karotis, kadar profil lipid, tekanan darah sistolik dan diastolik remaja obes lebih tinggi dibandingkan dengan remaja tidak obes, dan tiga penelitian yang dilakukan di Jakarta dan Manado mendapatkan prevalensi sindrom metabolik pada remaja obes berturut-turut 19,6%20 , 34%23 , dan 23%24 , sedangkan prevalensi sindrom metabolik pada anak laki-laki superobes sebesar 42%.

Penelitian tersebut dilakukan pada kurun waktu yang berbeda dan menggunakan kriteria sindrom metabolik yang berbeda. Berdasarkan data yang ditemukan pada Riskesdas 2013, beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai prevalensi anak dan remaja obes serta komorbiditas yang menyertai di Indonesia, dan kecenderungan anak obes menjadi dewasa obes yang diperberat dengan kejadian obesitas pada orangtua, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganggap perlu dibuat rekomendasi diagnosis, tata laksana, dan pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dokter spesialis anak dalam mendeteksi, mengelola, serta mencegah obesitas dan komorbiditas yang menyertainya.

Dengan menggunakan kriteria indeks massa tubuh (BMI), survei nasional terbaru menunjukkan bahwa 21-24% anak-anak dan remaja Amerika mengalami kelebihan berat badan dan 16-18% lainnya mengalami obesitas. Sebuah studi tahun 2012 mencatat prevalensi obesitas pada anak dan remaja sebesar 16,9% pada tahun 2009-2010, sebanding dengan angka prevalensi yang dilaporkan pada tahun 2007-2008. Temuan ini menunjukkan bahwa prevalensi kelebihan berat badan (BMI ≥ 85 persentil) anak-anak dan remaja di AS telah meningkat sebesar 50-60% dalam satu generasi, dan prevalensi obesitas meningkat dua kali lipat. Prevalensi obesitas pada orang Indian Amerika, Hawaii, Hispanik, dan kulit hitam 10-40% lebih tinggi dibandingkan orang kulit putih.

BACA:   Rekomendasi Diet dan Penanganan Kegemukan Pada Anak

Pelaporan data internasional mengenai obesitas pada anak bervariasi, dan keakuratannya mungkin kurang dari optimal; Namun, Eneli dan Dele Davies melaporkan bahwa di 77% negara yang dianalisis, tingkat prevalensi untuk anak-anak yang kelebihan berat badan paling sedikit 10%. Khususnya, tingkat tertinggi untuk anak-anak yang berisiko mengalami obesitas ditemukan di Malta (25,4%) dan Amerika Serikat (25,1%). Lituania (5,1%) dan Latvia (5,9%) memiliki tingkat terendah. Studi European Youth Heart baru baru ini menunjukkan bahwa anak-anak Swedia memiliki risiko yang lebih rendah untuk menjadi kelebihan berat badan atau obesitas pada masa remaja dibandingkan dengan anak-anak Estonia.

Perbedaan ras, jenis kelamin, dan usia dalam insiden

  • Ras dan etnis dikaitkan dengan peningkatan angka obesitas pada anak-anak dan remaja. Anak-anak prasekolah Puerto Rico, Amerika Kuba, dan Pribumi Amerika mengalami peningkatan insiden obesitas; Anak-anak usia sekolah kulit hitam, Pribumi Amerika, Puerto Rico, Meksiko, dan Hawaii memiliki tingkat obesitas tertinggi dalam kelompok usia ini. Sekitar 25% remaja kulit hitam mengalami obesitas. Rosen melaporkan bahwa hipoventilasi apnea tidur obstruktif (OSA / H) lebih sering terlihat pada anak-anak kulit hitam daripada anak-anak Hispanik atau kulit putih.  Amandel dan kelenjar gondok berada pada ukuran puncaknya, relatif terhadap ukuran orofaring, ketika anak-anak berusia 2-7 tahun.
  • Selama dekade kedua kehidupan, perempuan lebih cenderung mengalami obesitas daripada laki-laki, kecuali remaja kulit hitam, di antara mereka laki-laki lebih cenderung mengalami obesitas daripada perempuan. Meskipun jenis kelamin laki-laki dikaitkan dengan peningkatan insiden OSA pada orang dewasa, tidak ada perbedaan yang teridentifikasi pada anak-anak sebelum pubertas.
  • Obesitas pada remaja merupakan prediktor dari obesitas dewasa, dengan 80% remaja yang mengalami obesitas terus mengalami obesitas saat dewasa. Obesitas lebih mungkin terjadi selama periode kehidupan tertentu, seperti saat anak berusia 5-7 tahun dan selama masa remaja. Sebuah Studi Jantung Remaja Eropa baru-baru ini menunjukkan bahwa jenis kelamin pria memberikan risiko obesitas yang lebih tinggi pada masa remaja.
BACA:   Inilah Alasan Mengapa ASI Dapat Cegah Obesitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *