Bayi Rewel, Kolik dan Alergi pada bayi

 

Kolik Bayi, Nyeri Perut dan Alergi-Hipersensitifitas Makanan

Audi anak usia 5 tahun, sering mengeluh  nyeri perut. Ternyata saat bayi Audi juga sering mengalami keluhan kolik atau malam sering rewel, menjerit dan menangis saat usia di bawah 3 bulan. Keluhan kolik pada bayi ternyata berkelanjutan keluhan nyeri perut saat usia bertambah. Untuk keluhan nyeri perut, awalnya orangtua menganggap karena pura-pura. Karena keluhan tersebut hilang timbul secara cepat tanpa pengobatan. Gejala tersebut sudah dikonsultasikan pada beberapa dokter anak, dengan jawaban yang berbeda semuanya. Setelah dilakukan pemeriksaan EMG dan USGpun ternyata dalam keadaan normal. Dokter hanya mengatakan oh anak ibu hanya kekurangan Calsium dan mungkin juga karena stres. Benarkah karena kurang Kalsium padahal saat itu tidak dilakukan pemeriksaan elektrolit Kalsium. Benarkah karena stres ? Saat dikonsultasikan ke dokter anak lainnya, ternyata anak tersebut mengalami gangguan alergi gastrointestinal. Saat dilakukan penghindaran makanan tertentu ternyata gangguan tersebut menghilang. Benarkah alergi makanan berperanan sebagai penyebab ? Berbahayakah ?

Gangguan saluran cerna berulang seperti muntah, diare, nyeri perut, sulit BAB merupakan gejala penyakit yang sering dikeluhkan pada penderita anak yang melakukan rawat jalan. Gangguan fungsi saluran cerna berupa kolik dan nyeri perut meskipun tidak berbahaya tetapi merupakan gangguan yang sangat mengganggu.  Gangguan fungsional tersebut biasanya bersifat jangka panjang akan hilang timbul munculnya kadang sulit dideteksi penyebabnya.

Hingga saat ini ganggguan tersebut belum banyak terungkap jelas penyebabnya. Sehingga banyak kontroversi timbul dalam menyikapi gangguan ini.  Namun tampakmya misteri tersebut sudah mulai terkuak. Ternyata penderita alergi khususnya saluran cerna sering berkaitan dengan keluhan kolik dan nyeri perut pada anak. Banyak ahli berpendapat bahwa gangguan ini diduga penyebabnya adalah imaturitas (ketidakmatangan) saluran cerna, sehingga dengan pertambahan usia gangguan tersebut akan berkurang.

Banyak penelitian menunjukkan penyakit alergi tampaknya berperanan paling utama sebagai penyebab dalam  kasus tersebut. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali, terutama saluran cerna.  Gangguan organ tubuh seperti saluran cerna sering kurang perhatian sebagai target organ reaksi yang ditimbulkan dari alergi makanan. Selama ini yang dianggap sebagai target organ adalah kulit, asma dan hidung.

Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistim tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Fungsi organ tubuh yang sering terlibat dalam proses terjadinya alergi makanan adalah saluran cerna. Gejala gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan adalah muntah, diare, konstipasi, kolik, nyeri perut, sariawan dan sebagainya.

ALERGI MAKANAN DAN IMATURITAS SALURAN CERNA

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya  alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara  menunjukkan  penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Penyakit pernapasan dijumpai sekitar 25% dari semua kunjungan ke dokter umum dan sekitar 80% diantaranya menunjukkan gangguan berulang yang menjurus pada kelainan alergi. BBC  beberapa waktu yang lalu melaporkan penderita alergi di Eropa ada   kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat  30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari  9 juta orang

Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autis.

Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergi ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan rusaknya bahan penyebab alergi (denaturasi allergen). Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen (penyebab alergi) masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak saluran cerna masih imatur (belum matang). Sehingga sistim pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.

Saluran cerna adalah target awal dan utama pada proses terjadinya alergi makanan. Karena penyebab utama adalah imaturitas (keitidak matangan) saluran cerna maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan. Dengan pertambahan usia secara bertahap imaturitas saluran cerna akan semakin membaik hingga pada usia 5 atau 7 tahun. Hal inilah yang menjelaskan kenapa alergi makanan akan berkurang dengan pertambahan usia terutama di atas 5 atau 7 tahun.         

MANIFESTASI KLINIS KOLIK DAN NYERI PERUT   

  • Kolik adalah kondisi di mana bayi yang sehat menangis terus-menerus tanpa ada penyebab pasti. Selama bertahun-tahun terjadi perdebatan di dunia medis tentang penyebab kolik. Yang paling umum adalah teori perut kembung/gastrointestinal. Penelitian juga menyebutkan, rata-rata 1 dari 5 bayi menderita kolik. Ciri-ciri kolik, menangis 3 jam sehari, selama 3 hari dalam seminggu, dan lebih dari 3 minggu berturut-turut (atau, dengan kata lain, menangis tanpa henti!), terutama di malam hari. Sering susah buang angin, sampai muka merah padam, sering gumoh bahkan sampai muntah, pencernaan tampak bermasalah. Perut kembung kalau ditekan, tidur juga gelisah.
  • Gangguan kolik atau nyeru perut bisa timbul dalam derajat ringan sampai berat. Pada keadaan ringan biasanya ditandai bayi sering rewel, sering minta minum padahal bayi tidak haus. Pada keadaan ini bila dipaksa minum bisa timbul muntah karena perut sudah penuh. Pada keadaan berat biasanya ditandai seperti kesakitan, menjerit atau menangis terus menerus tanpa sebab selama lebih 30 menit. Gangguan ini biasanya lebih sering terjadi pada malam. Gangguan inilah yang mengakibatkan bayi sering tidak bisa tidur malam hari dan siang hari jam tidurnya sangat panjang. Gangguan kolik diduga karena perut bayi mengalami nyeri dan sakit. Penelitian yang dilakukan penulis, bayi yang mempunyai gejala kolik saat usia 2 hingga 7 tahun beresiko terjadi keluhan sakit perut yang berulang. Pada penderita kolik beresiko terjadi gangguan nyeri perut saat timbul demam.
  • Penderita kolik pada bayi biasanya pada usia besar sangat berpotensi terjadi keluhan  nyeri perut berulang. Kadang nyeri perut ini seperti rasa buang air besar tetapi saat di kloset anak tidak jadi buang air besar. Pada anak yang belum bisa bicara atau mengungkapkan keluhan biasanya ditandai dengan sering memegang perut. Nyeri biasanya bersifat hilang timbul dan berlangsung sebentar. Seringkali keluhan ini dianggap anak pura-pura sakit karena keluhan berlangsung sebentar dan hilang timbul. Gangguan ini juga ditandai dengan posisi tidur ”nungging” saat malam atau pagi hari. Posisi tersebut adalah posisi alamiah anak untuk mengatasi rasa tidak nyaman di perutnya.

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

Manifestasi klinis lain yang sering dikaitkan dengan penderita alergi pada bayi.

  • Kulit sensitif. Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Lidah. Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
  • Napas Berbunyi (Hipersekresi bronkus). Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak segera setelah lahir. Sesak bayi baru lahir saat usia 03 hari, biasanya akan membaik paling lama 7-10 hari. disertai kelenjar thimus membesar (TRDN (Transient respiratory ditress Syndrome) /TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS). Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah. Keluhan ini sering dianggap infeksi paru atau terminum air ketuban.
  • Hidung Sensitif. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata Sensitif. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi atau kedua sisi.
  • Keringat Berlebihan. Sering berkeringat berlebihan, meski menggunakan AC keringat tetap banyak terutama di dahi
  • Berat Badan Berlebihan atau kurang. Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Saluran kencing. Kencing warna merah atau oranye (orange) denagna sedikit bentukan kristal yang menempel di papok atau diapers . Hal ini sering dianggap inmfeksi saluran kencing, saat diperiksa urine seringkali normal bukan disebabkan karena darah.
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Gangguan Hormonal. Mempengaruhi gangguan hormonal berupa keputihan/keluar darah dari vagina, timbul jerawat warna putih. timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan. Pada bayi berusia di atas 6 bulan dengan keluhan sering mual, BAB ngeden atau sulit, BAB > 3 kali seringkali mengakibatkan kesulitan makan atau makan hanya sedikit yang mengakibatkan gangguan kenaikkan berat badan dan sering mengalami daya tahan tubuh menurun sejak usia 6 bulan. Pada usia sebelum 6 bulan kenaikkan pesat tetapi setelah usia 6 bulan kenaikkan relatif datar. Pada penderita hipersensitifitas non alergi (non atopi) biasa nya ghangguan berat badan dan sulit makan lebih tidak ringan dan timbul sejak usia sebelum 6 bulan tetapi setelah 6 bulan lebih buruk

PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kakuBreath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menarik puting susu ibu dengan gusi atau gigi, menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut. Tampak gampang seperti gemes atau menggeram
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas bermain, memainkan mainan, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Bila minum susu sering terhenti dan teralih perhatiannya dengan sesuatu yang menarik tetapi hanya sebentar
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Sering berteriak dibandingkan mengiceh terutama saat usia 6 bulan
  • GANGGUAN MOTORIK KASAR, GANGGUAN KESEIMBANGAN DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
  • GANGGUAN ORAL MOTOR: KETERLAMBATAN BICARA: Kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik. GANGGUAN MENGUNYAH DAN MENELAN: Gangguan makan makanan padat, biasanya bayi pilih-pilih makanan hanya bisa makanan cair dan menolak makanan yang berserat. Pada usia di atas 9 bulan yang seharusnya dicoba makanan tanpa disaring tidak bisa harus di blender terus sampai usia di atas 2 tahun.
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Memperberat ADHD dab Autis. Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTIS (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). Tetapi alergi bukan penyebab Autis tetapi hanya memperberat. Penderita alergi dengan otak yang normal atau tidak punya bakat Autis tidak akan pernah menjadi Autis.
Gejala alergi pada bayi selain makanan justru paling sering seringkali diperberat saat sakit atau terjadi oleh infeksi  berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus ringan ini lebih sulit dikenali. Biasanya hanya berupa badan sumer teraba hangat hanya di kepala, telapak tangan dan badan bila diukur suhu normal. Biasanya disertai bersin, batuk sekali-sekali dan pada anak bayi tertentu nafas bunyi grok-grok.  Flu pada bayi jarang sekali menimbulkan hidung meler biasanya hanya basah sedikit di sekitar hidung atau batuk sekali-sekali karena refleks batuk pada bayi basih belum sempurna.  Bahkan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi.Pada keadaan sakit seperti itu biasanya ada kontak yang sakit flu, demam, batuk atau infeksi virus ringan lainnya di dalam di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidak menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan yang dialami oleh penderita dewasa berupa badan ngilu, terasa pegal,nyeri tenggorokan atau kadang disertai  sakit kepala. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap “gejala mau flu tidak jadi”, masuk angin, kurang tidur, panas dalam atau kecapekan

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan,  terlambat makan nasi tim saring, bila ada makanan yang berserat sedikit tidak mau atau dikeluarkan dari mulut.  Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. Pada kasus seperti ini biasanya berat badan mulai tidak baik saat usia 4-6 bulan saat diberi susu tambahan atau makanan tambahan baru.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS, biasanya sering terjadi pada bayi yang pada malam hari sering minta minum susu karena rewel, selama ini hal tersebut dianggap kehausan atau minum susu padahal ada yang tidak nyaman (biasanya di saluran cerna, coba perhatikan gejala gangguan saluran cerna pada bayi alergi)
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali). Pada bayi pemberian ASI ekslusif seharusnya sebelum usia 6 bulan tidak akan mengalami sakit batuk, pilek atau diare tetap[i pada kasus ini beberapa kali mengalaminya. Biasanya sering terjadi infeksi semakin lebih mudah tertular setelah usia 6 bulan.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA

Kolik Pada Bayi, Nyeri Perut, Alergi dan Infeksi Virus

  • Gangguan fungsional saluran cerna berupa kolik pada bayi atau nyeri perut pada anak terebut akan berlangsung lama dan keluhan berlangsung hilang timbul. Selain karena alergi makanan gangguan tersebut dapat juga diperberat atau dipicu karena adanya infeksi virus.  Pada bayi dan anak adalah saat anak terkena infeksi saluran napas atas seperti nafas bunyi grok-grok (hipersekresi bronkus), bersin, batuk ringan, badan hangat teraba di tangan atau kepala tetapi saat diukur suhu normal, muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna. Biasanya disertai manifestasi kulit kemerahan (bruntusan,rash, seperti biang keringat di dahi, kulit merah di punggung dan dada yang mengelupas saat penyembuhan dan gangguan terakhir ini sering dikira karena terkena minyak telon atau obat gosok lainnya). Infeksi ringan yang biasanya disebabkan karena infeks virus ini seringkali diabaikan atau tidal terdeteksi oleh para klinisi karena gangguannya sangat ringan. Hal inilah yang sering salah diagnosis atau overdiagnosis nyeri perut dianggap karena alergi susu sapi padahal sebelumnya minum susu sapi sudah 2-6 bulan tidak mengalami gangguan apapun.  Alasan klinisi tentang gejala yang timbul baru terjadi kemudian itu dianggap karena  sensitisasi  butuh waktu juga tidak benar. Karena, untuk sensitisasi tidak perlu waktu yang demikian lama, dan biasanya bayi sudah tersensitisasi susu sapi sejak usia dalam kehamilan. Banyak kasus pada penderita tersebut setelah dilakukan provokasi atau dicoba susu sapi ternyata memang tidak mengalami gangguan sedikitpun
  • Pada keadaan infeksi virus inilah biasanya kolik atau nyeri perut berlangsung hebat.  Sehingga kadangkala gangguan fungsional ini sulit dibedakan dengan kelainan radang usus buntu. Bila tidak cermat kadangkala sering terjadi ”overdiagnosis” dan ”overtreatment” gangguan usus buntu artinya belum tentu mengalami usus buntu tetapi didiagnosis dan dioperasi sebagai usus buntu. Sehingga pada penderita dengan riwayat kolik dan sering nyeri perut apabila divonis usus buntu bila diagnosis belum jelas sebaiknya melakukan pendapat kedua atau ”second opinion” segera ke dokter lainnya.

KOMPLIKASI

  • Bila terjadi gangguan saluran cerna, komplikasi yang sering terjadi adalah mudah sakit (infeksi berulang) kesulitan makanan, merangsang fungsi  otak dan perilaku anak.
  • Infeksi berulang pada anak adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang anak khususnya infeksi saluran napas akut. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif  jarang terjadi.
  • Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala Autis dan ADHD.
  • Gangguan pencernaan inilah yang bisa mengakibatkan rangsangan atau gangguan ke otak meningkat. Gangguan ke otak itu sendiri banyak menimbulkan keluhan perkembangan dan perilaku pada anak. Sehingga sekecil apapun gangguan pencernaan tersebut timbul berulang maka harus diwaspadai lebih dini. Hal itu akan diungkap selanjutnya lebih jelas.
  • Hal tersebut dapat dilihat pada tampilan klinis bayi atau anak. Saat terjadi serangan kolik dan nyeri perut maka tampak aktifitas, agresifitas dan emosionalitas bayi dan anak tampak meningkat. Hal ini dapat dilihat pada bayi timbul manifestasi bila minum tidak sabaran dan selalu menangis keras. Tampak agresifitas bayi meningkat sehingga berperilaku menggigit puting ibu sehingga sering lecet. Bayi juga akan tampak lebih aktif hal ini ditandai dengan gerakan tangan dan kaki pada bayi sangat banyak. Gejala tersebut seringkali disertai peningkatan ”head banging”, ditandai dengan kepala bayi sering mendongak atau menekuk ke atas dan mata sering melirik ke atas. Pada anak yang lebih besar ditandai dengan emosi meningkat, keras kepala, negatifisme meningkat. Aktifitas anak lebih meningkat, tidak bisa diam bergerak terus, memanjat melompat dan berlari tidak tentu arah. Begitu juga agresifitas anak meningkat ditandai dengan anak sering menggigit, memukul atau melempar barang.

DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN DAN NYERI PERUT ATAU KOLIK

Bila tanda dan gejala  nyeri perut pada anak tersebut terjadi pada anak anda dan disertai salah satu gangguan saluran cerna serta beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin kolik pada bayi dan nyeri perut pada anak pada anak harus dicurigai disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis kolik pada bayi, nyeri perut pada anak yang disebabkan  alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab kolik dan nyeri perut tersebut harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis  dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah melakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan nyeri perut dan kolik tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan. Ternyata saat gangguan nyeri perut atau kolik berkurang juga disertai gejala agresifitas, aktifitas dan emosionalitas  juga berkurang.
  • Tes kulit alergi yang banyak dilakukan para ahli alergi untuk mencari penyebab alergi memang cukup sensitif, tetapi ternyata spesifitasnya tidak tinggi. Sehingga sering terjadi ”false negatif” artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Banyak reaksi simpang makanan karena alergi sering terjadi reaksi lambat. Pada tes kulit memang cukup sensitif pada reaksi alergi tipe cepat, tetapi reaksi tipe lambat sulit terdeteksi.
  • Sedangkan tes alergi lainnya masih sangat kontroversi dan belum terbukti secara klinis, sehingga tidak dianjurkan sebagai alat diagnosis. Tetapi ternyata pemeriksaan alergi tersebut masih banyak digunakan oleh beberapa klinisi dan praktisi medis lainnya. Pemeriksaan tersebut diantaranya adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Hair Analysis Testing in Allergy,  Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests

PENANGANAN

  • Bila nyeri perut dan kolik pada bayi bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya
  • Pemicu tersering gangguan tersebut sering selama ini dianggap karena alergi susu sapi tetapi justru paling sering adalah infeksi virus atau flu ringan pada bayi yang sering tidak terdeteksi dan diabaikan oleh dokter sekalipun. Bila hal itu penyebabnya maka setelah 5 hari akan membaik. Tetapi akan timbul lagi bila terkena infeksi virus lagi bila di rumah ada yang sakit lagi
  • Bila kolik pada bayi bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya. Saat ibu memberikan ASI maka makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh.
  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengan gangguan  kolik  adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna penghilang rasa sakit dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Bayi
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.

Referensi

  • Sampson HA, Anderson JA. Summary and recommendations: classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30 :S87 –S94
  • Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. AGA technical review on the evaluation of food allergy in gastrointestinal disorders. Gastroenterology.2001; 120 :1026 –1040.
  • Lake AM, Whitington PF, Hamilton SR. Dietary protein-induced colitis in breast-fed infants. J Pediatr.1982; 101 :906 –910.
  • Machida H, Smith A, Gall D, Trevenen C, Scott RB. Allergic colitis in infancy: clinical and pathologic aspects. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :22 –26
  • Odze RD, Bines J, Leichtner AM, Goldman H, Antonioli DA. Allergic proctocolitis in infants: a prospective clinicopathologic biopsy study. Hum Pathol.1993; 24 :668 –674
  • Wilson NW, Self TW, Hamburger RN. Severe cow’s milk induced colitis in an exclusively breast-fed neonate. Case report and clinical review of cow’s milk allergy. Clin Pediatr (Phila).1990; 29 :77 –80
  • Pumberger W, Pomberger G, Geissler W. Proctocolitis in breast fed infants: a contribution to differential diagnosis of haematochezia in early childhood. Postgrad Med J.2001; 77 :252 –254
  • Anveden HL, Finkel Y, Sandstedt B, Karpe B. Proctocolitis in exclusively breast-fed infants. Eur J Pediatr.1996; 155 :464 –467
  • Pittschieler K. Cow’s milk protein-induced colitis in the breast-fed infant. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1990; 10 :548 –549
  • Vanderhoof JA, Murray ND, Kaufman SS, et al. Intolerance to protein hydrolysate infant formulas: an underrecognized cause of gastrointestinal symptoms in infants. J Pediatr.1997; 131 :741 –744
  •  Winter HS, Antonioli DA, Fukagawa N, Marcial M, Goldman H. Allergy-related proctocolitis in infants: diagnostic usefulness of rectal biopsy. Mod Pathol.1990; 3 :5 –10
  • Goldman H, Proujansky R. Allergic proctitis and gastroenteritis in children. Clinical and mucosal biopsy features in 53 cases. Am J Surg Pathol.1986; 10 :75 –86
  • Wyllie R. Cow’s milk protein allergy and hypoallergenic formulas. Clin Pediatr (Phila).1996; 35 :497 –500
  • Kuitunen P, Visakorpi J, Savilahti E, Pelkonen P. Malabsorption syndrome with cow’s milk intolerance: clinical findings and course in 54 cases. Arch Dis Child.1975; 50 :351 –356
  • Iyngkaran N, Yadav M, Boey C, Lam K. Severity and extent of upper small bowel mucosal damage in cow’s milk protein-sensitive enteropathy. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1988; 8 :667 –674
  • Walker-Smith JA. Cow milk-sensitive enteropathy: predisposing factors and treatment. J Pediatr.1992; 121 :S111 –S115
  • Iyngkaran N, Robinson MJ, Prathap K, Sumithran E, Yadav M. Cows’ milk protein-sensitive enteropathy. Combined clinical and histological criteria for diagnosis. Arch Dis Child.1978; 53 :20 –26
  • Yssing M, Jensen H, Jarnum S. Dietary treatment of protein-losing enteropathy. Acta Paediatr Scand.1967; 56 :173 –181
  • Hauer AC, Breese EJ, Walker-Smith JA, MacDonald TT. The frequency of cells secreting interferon-gamma and interleukin-4,–5, and -10 in the blood and duodenal mucosa of children with cow’s milk hypersensitivity. Pediatr Res.1997; 42 :629 –638
  • Kokkonen J, Haapalahti M, Laurila K, Karttunen TJ, Maki M. Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age. J Pediatr.2001; 139 :797 –803
  • Powell GK. Milk- and soy-induced enterocolitis of infancy. J Pediatr.1978; 93 :553 –560
  • Powell G. Food protein-induced enterocolitis of infancy: differential diagnosis and management. Compr Ther.1986; 12 :28 –37
  • Sicherer SH, Eigenmann PA, Sampson HA. Clinical features of food protein-induced enterocolitis syndrome. J Pediatr.1998; 133 :214 –219
  • Vandenplas Y, Edelman R, Sacre L. Chicken-induced anaphylactoid reaction and colitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :240 –241
  • Nowak-Wegrzyn A, Sampson HA, Wood RA, Sicherer SH. Food protein-induced enterocolitis syndrome caused by solid food proteins. Pediatrics.2003; 111 :829 –835
  • Murray K, Christie D. Dietary protein intolerance in infants with transient methemoglobinemia and diarrhea. J Pediatr.1993; 122 :90 –92
  •  Powell GK. Enterocolitis in low-birth-weight infants associated with milk and soy protein intolerance. J Pediatr.1976; 88 :840 –844
  • Gryboski J. Gastrointestinal milk allergy in infancy. Pediatrics.1967; 40 :354 –362
  •  Lake AM. Food protein-induced colitis and gastroenteropathy in infants and children. In: Metcalfe DD, Sampson HA, Simon RA, eds. Food Allergy: Adverse Reactions to Foods and Food Additives. Boston, MA: Blackwell Scientific Publications; 1997:277–286
  • Halpin TC, Byrne WJ, Ament ME. Colitis, persistent diarrhea, and soy protein intolerance. J Pediatr.1977; 91 :404 –407
  • Jenkins H, Pincott J, Soothill J, Milla P, Harries J. Food allergy: the major cause of infantile colitis. Arch Dis Child.1984; 59 :326 –329
  • Benlounes N, Candalh C, Matarazzo P, Dupont C, Heyman M. The time-course of milk antigen-induced TNF-alpha secretion differs according to the clinical symptoms in children with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol.1999; 104 :863 –869
  • Osterlund P, Jarvinen KM, Laine S, Suomalainen H. Defective tumor necrosis factor-alpha production in infants with cow’s milk allergy. Pediatr Allergy Immunol.1999; 10 :186 –190
  • Chung HL, Hwang JB, Park JJ, Kim SG. Expression of transforming growth factor beta1, transforming growth factor type I and II receptors, and TNF-alpha in the mucosa of the small intestine in infants with food protein-induced enterocolitis syndrome. J Allergy Clin Immunol.2002; 109 :150 –154
  • Busse P, Sampson HA, Sicherer SH. Non-resolution of infantile food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES). J Allergy Clin Immunol.2000; 105 :S129 (abstr)

wp-1559363691580..jpg

Intervensi Diet Sebagai Terapi dan Diagnosis Berbagai Gangguan Fungsional Pada Bayi

wp-1494982593833.

Intervensi Diet Sebagai Terapi dan Diagnosis Berbagai Gangguan Fungsional Pada Bayi

Challenge Tes (Eliminasi Provokasi Makanan) : Diagnosis Pasti Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan

Audi Yudhasmara, Widodo judarwanto

Food allergy is a matter of concern because it affects about 0.5-3.8% of the paediatric population and 0.1-1% of adults, and as well may cause life-threatening reactions. Skin prick testing with food extracts and with fresh foods, the measurement of food-specific IgE, elimination diets and a double-blind, placebo-controlled food challenge are the main diagnostic procedures; many non-validated procedures are available, creating confusion among patients and physicians. Oral food challenges are indicated for the diagnosis of food allergy and the double-blind, placebo-controlled oral food challenge is considered the gold standard diagnostic method in patient with suspected food allergy and food hypersensitivity.

Meski masih banyak diperdebatkan tetapi berbagai fakta ilmiah berupa laporan kasus dan penelitian ilmiah menunjukkan berbagai gangguan tubuh dan sistem tubuh terutama gangguan fungsional tubuh yang belum dapat dipastikan penyebabnya seringkali berkaitan dengan reaksi akibat  makanan yang dikonsumsi. Diagnosis alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi hingga dewasa dan dengan eliminasi provokasi makanan. Intervensi diet atau Challenge test adalah untuk mencari penyebab dan memastikan bahwa berbagai gangguan penyakit yang ada berkaitan dengan alergi dan hipersensitifitas makanan sekaligus memperbaiki atau mengurangi gangguan yang ada.

 Latar Belakang :

    • Tidak semua gangguan asma, gangguan kulit adalah alergi makanan. Bila tidak diperantarai oleh Imunoglobulin E biasanya di sebut hipersensitifitas Makanan.
    • Untuk mendiagnosis dan memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Tes alergi tidak bisa memastikan penyebab alergi makanan karena meski sensitifitasnya baik tetapi spesifitasnya terhadap alergi makanan rendah.
    • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Modifikasi Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka” atau disebut sebagai Intervensi Diet atau challenge Test.
    • Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan , maka dapat dipastikan penyebabnya adalah penyebab berbagai gangguan yang ada adalah berkaitan dengan  alergi makanan dan hipersensitifitas makanan.
    • Gangguan metabolisme tubuh, gangguan endokrin, gangguan autoimun dan berbagai gangguan genetik lainnya (seperti Lupus, rematoid artritis, AUTISM, ADHD, Psoriasi, Vitiligo, dan lain-lain) ternyata menurut penelitian kekambuhan gangguan  diperberat oleh alergi dan hipersensitifitas makanan. Pada gangguan tersebut alergi makanan dan hipersensitifitas makanan bukan sebagai penyebab tetapi hanya sebagai faktor yang memperberat.
    • Berbagai gangguan fungsional khususnya gangguan saluran cerna dan susunan sataf pusat sering berkaitan dengan gangguan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan. Ciri khasnya biasanya terdapat keluhan berulang seringkali dokter mengatakan kedaan tubuhnya normal karena dalam pemeriksaan darah, USG, endoskopi, CT scan, EEG semuanya normal. Karakteristik lainnya adalah penggunaan obat jangka panjang tanpa bisa menjelaskan penyebabnya atau tanpa disertai gangguan organ tubuh.
    • Banyak kontroversi dan perbedaan pendapat tentang pengaruh makanan dan gangguan fungsi tubuh karena dasar penilaian yang bebeda. Pada penelitian yang menunjang dilakukan dengan intervensi eliminasi provokasi makanan dan pengamatan secara klinis. Tetapi bagi penentangnya biasanya melakukan penelitian dengan penilaian laboratorium atau tes alergi tanpa dilakukan intervensi eliminasi provokasi.
    • Kontroversi pihak yang tidak sependapat dengan alergi dan hipersensitifitas makanan berkaitan dengan berbagai gangguan tubuh karena hanya mengamati kaitan makanan dengan berbagai riwayat yang ada hanya dengan anamnesa (mengetahui riwayat gangguan penderita), tes alergi ataupun berbagai pemeriksaan alergi lainnya tanpa melakukan challenge test dengan benar.
    • Bila anak anda mengalami gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, biasanya salah satu orangtua ada yang mengalami juga (biasanya anak dan orangtua dengan nwajah yang sama). Bila ini terjadi tidak ada salahnya lakukan intervensi diet dengan saat yang sama karena akan mempermudah pelaksaannnya dalam penyajian makanan.

Program Intervensi Diet atau “Modifikasi Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka” atau Challenge test

    1. LANGKAH PERTAMA : identifikasi berbagai gangguan yang ada pada tubuh anda dan anak anda
    2. LANGKAH KE DUA : identifikasi minimal satu gejala yang ada dalam gangguan fungsi saluran cerna yang selama ini kadang tidak disadari
    3. LANGKAH KE TIGA : Lakukan program intervensi diet atau eliminasi provokasi atau  Challenge test dengan hanya mengkonsumsi makanan yang relatif aman dan menghindari beberapa makanan yang dicurigai sebagai penyebab selama 3 minggu.
    4. LANGKAH KE EMPAT : lakukan evaluasi dengan cermat berbagai gangguan yang ada dan cermati berbagai faktor yang berpengaruh , biasanya akan membaik secara bersamaan
    5. LANGKAH KE LIMA  : Bila ingin mengetahui penyebabnya lakukan provokasi satu persatu makanan yang dicurigai mulai dari daftar makanan step 2 terus ke high risk intervention.
    6. LANGKAH KE ENAM : lakukan diet pemeliharaan (maintenance dietary) dengan melakukan tahapan dan jenis khusus tidap harinya

wp-1516371452267..jpg

LANGKAH PERTAMA : identifikasi berbagai gangguan yang ada pada tubuh dan sistem organ tubuh

 Berbagai Gangguan Pada Bayi
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Hipereaktifitas Bronkus (Napas bunyi  grok-grok), kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat sesaat (sering dikira anemia atau kurang darah), sering teraba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan karena bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis atau mulut seperti mencari p[uting atau reflek menghisap tinggi bila bibir disentuh seperti minta minum, hal ini  belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang. Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu dan napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 BERBAGAI GANGGUAN PERILAKU, MOTORIK DAN GANGGUAN FUNGSI SUSUNAN SARAF PUSAT LAINNYA
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam dan EEG normal). , jittery anak mudah kaget atau gemetar seperti kedinginan
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  pada bayi : Mata sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. 
  • GANGGUAN TIDUR :  Pada bayi : malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum.
  • AGRESIF MENINGKAT Pada Bayi :  sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”). Pada Anak Lebih besar : mudah memukul, menggigit, mencubit. Pada dewasa : mudah memukul atau menampar orang lain, berlaku kasar terhadap anak , istri atau suami.
  • GANGGUAN KONSENTRASI: bayi cepat cepat bosan pada mainan atau sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,
  • EMOSI TINGGI : mudah marah, sering berteriak, bila menangis sangat keras, sering berteriak dalam bicara
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu). Rasa perabaan sensoris kaki sangat sensitif (bila lantai kotor sedikit atau berpasir  sering geli dan harus pakai sandal), kadang pilih pilih sepatu atau sering menolak beri dipasang sepatu
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, seringkali pilih bila makan hanya suka makan krispi, kerupuk atau yang renyah (sayur hanya wortel, brokoli, kentang, bayam). Tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur tertentu, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. pada dewaqsa seringkali makan sangt cepat tanpa dikunyah

Bila bayi anda mengalamai berbagai gangguan tersebut minimal 3 gejala yang ada sangat mungkin dicurigai bahwa alergi makanan dan hipersensitifitas makanan berkaitan dengan gejala yang dialami . Setelah itu lakukan langkah kedua  dengan  melakukan pengamatan adakah gejala gangguan fungsional saluran cerna yang ada seperti di bawah ini  

wp-1516370059739..jpg

LANGKAH KE DUA : Identifikasi minimal satu gejala yang ada dalam gangguan fungsi saluran cerna yang selama ini kadang tidak disadari

 BERBAGAI GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA PADA BAYI
.
PADA BAYI :  GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, SERING REWEL ATAU GELISAH MALAM HARI (kolik) sering dianggap haus minta minum, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis, tali pusat lama keringnya dan lepasnya lama. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

Bila bayi anda mengalami minimal 1 gejala tersebut di atas maka anda mengalkami gangguan fungsi saluran pencernaan yang selama ini dianggap normal. Sangat mungkin berbagai gangguan yang ada pada anda di atas dipengaruhi oleh alergi atau hipersenitifitas makanan.

Bila Langkah Pertama dan Langkah kedua  : saat identifikasi  awal terdapat gangguan minimal 3 tanda dan gejala dan 1 gejala pada gangguan saluran cerna maka selanjutnya masuk ke LANGKAH KETIGA

LANGKAH KE TIGA : Lakukan program intervensi diet atau eliminasi provokasi atau  Challenge test dengan hanya mengkonsumsi makanan yang relatif aman dan menghindari beberapa makanan yang dicurigai sebagai penyebab selama 3 minggu. Intervensi diet ini bukan dilakukan untuk jangka panjang tetapi hanya dalam 3 minggu. Langkah intervensi diet yang haruis dilakukan adalah :

 KONSUMSILAH SELAMA 3 MINGGU MAKANAN YANG RELATIF AMAN SEPERTI DIBAWAH INI
  • Bayi : Neocate, Pepti Junior, Pregestimil, Panenteral, Vitalac BL, bubur instan Nestle Beras Merah(ekonomis),  kentang, Tepung Beras Putih (Rose Brand), NASI, Bubur tepung organik Gasol (beras merah, kentang, ubi, beras putih, beras hitam), Snack : Biscuit Baby Choice rasa original, biskuit merek Modern,  kentang goreng (goreng sendiri dari kentang beku olahan jangan yang di KFC atau McD karena minyaknya mengandung ayam. tahu,  Semua oraan Sapi, Kambing, Babi (non muslim) dagningnya, hati, otak, sumsum, kaki dan sebagainya. Tofu (original,plain)  BUAH :
  • Apel, pepaya, Alpukat, Pear, Jambu, buah naga. Agar-agar plaIN, NanHA, Soya(Isomil dll), Susu Sapi : Pediasure biasa, Sustagen, KLIM, CHILMIL non Platinum, SGM atau Ensure, Enercal.
  • Margarin (Blue Band, Palmbom dll, Mentega dihindari karena margarin berbeda dengan mentega), kentang, ubi. BISCUIT BERAS :  Modern, Fantastic, MI : bihun, misoa, Indomie rasa soto mi/bakso tanpa bumbu. Bakso, tempe, Sayur : kacang panjang, bayam, wortel, kedelai, taoge,. bincis,  kedelai, sawi, dll.  Ikan air tawar (Mujair, Lele, Belut, Mas, Patin,Gurame), Madu. Berbagai bumbu dapur herbal : garam, gula, bawang,merah dan lain-lain
HINDARILAH SELAMA 3 MINGGU MAKANAN YANG DICURIGAI SEBAGAI PENYEBAB SEPERTI DI BAWAH INI
  • Untuk bayi : biskuit dan Bubur Bayi Instan( termasuk Goodmil bubur untuk alergi rasa ayam)
  • Telor ( Mi telor, roti, donat) Gula merah, Sayur Brokoli, bayam merah, Labu, Jagung,  Makaroni,  Ikan Salmon, Tuna,  Bandeng. Buah Jeruk, Pisang,  Kacang hijau, Kecap manis, Ayam, Itik, Burung Dara, Beras Ketan.
  • COKLAT, Kacang-kacangan : Kacang Tanah/Hijau/Merah/Mente.
  • Ikan Laut kecil: Cumi, Udang, Kepiting, Kembung,Tenggiri, Teri (termasuk kerupuk ikan, kerupuk udang atau sambel erasi).
  • Buah-buahan terutama Melon, Semangka, Timun Mas, Mangga, Duku, Tomat, Nanas, Durian, Anggur, Nangka, Leci  dan sejenisnya.
  • KEJU, Mentega atau Butter (margarin boleh karena margarin bukan mentega). Telor Ayam, taoco, saos tiram, saos tomat. Agar-agar berwarna, Yakult, Vitacam, Yoghurt, kerupuk udang, bawang putih dll
 Catatan Penting :

  1. Harus dilakukan secara disiplin dan ketat.
  2. Bila anak masih menyusui ibu hamil sebaiknya menghindari makanan laut udang, cumi, ikan teri , sambel terasi, kerupuk udang dll (kecuali salmon, bandeng, asarden dan ikan tuna boleh), hindari kacang tanah, kacanghijau, kacang merah (diganti kacang kedelai boleh), hindari Coklat, Keju (susu sapi boleh)
  3. Pemberian diet pada anak dan ibu hamil tidak akan kurang gizi karena makanan yang dihindari memang bergizi tetapi ada penggantinya yang juga tidak kalah bergizi dan hal ini hanya dilakukan dalam 3 minggu  Misalnya tomat diganti wortel, kacang tanah diganti kacang kedelai dll.
  4. Amati dengan cermat berbagai tanda dan gejala yang ada sebelum dilakukan dan setelah intervensi. Kalau perlu dengan memakai buku harian dengan mencatat pola makanan dan gejala yang menyertai setiap hari.
  5. Pemberian makanan tertentu yang terkandung dalam makanan lain  juga dihindari, seperti makan nasi goreng di chinesse food dihindari karena ada saos tiram, minyaknya bekas udang,
  6. Cermati kemungkinan pelanggaran pemberian makanan seperti pemberian makanan oleh orang lain tanpa sepengetahuan orangtua : misalnya disuapi sedikit makanan ke mulut oleh neneknya, Makan di sekolah dengan makanan pemberian pihak sekolah atau ulang tahun, sebaiknya stop makan di sekolah dengan membawa makanan bekal dari rumah.
  7. Pemilihan susu :
  • Pada bayi dengan alergi berat bisa menggunakan sementara susu hidrolisat ekstensif (neocate, pregestimil atau peptijunior).
  • Pada bayi dan anak dengan gangguan BAB tidak tiap hari, atau sulit BAB atau berat badan yang kurus pemilihan awal susu menggunakan susu hidrolisat parsial VITALAC BL.
  • Pada anak atau bayi dengan riwayat sesak sebaiknya sementara menggunakan soya, kecuali terdapat gangguan sulit BAB gunakan Vitalac BL.
  • Pada penderita kecurigaan intoleransi gluten sebaiknya menghindari tepung terigu (roti, biskuti dll), khususnya pada penderita celiac, dicurigai Autism, ADHD,  atau BB sangat kurus tidak pernah gemuk.
  • Pada orang dewasa bila ada riwayat tidak cocok susu sebaiknya menggunakan susu panenteral
  • Pada penderita alergi yang berat (multipel allergy) atau pada bayi bisa menggunakan basic diet elminasi hanya  Susu Neocate, Pepaya (hawai), kentang, Tepung Beras Putih (Rose Brand), Tofu (original), Buncis, Nasi, Daging Kambing

LANGKAH KE EMPAT : lakukan evaluasi dengan cermat berbagai gangguan yang ada dan cermati berbagai faktor yang berpengaruh , biasanya akan membaik secara bersamaan

 EVALUASI DAN MONITORING YANG HARUS DILAKUKAN
1. Identifikasi Keberhasilan atau ketidak berhasilannya

  • BERHASIL : Bila berbagai gejala gangguan saluran cerna yang ada akan membaik dan berbagai gangguan tubuh lainnya tanda dan gejalanya berkurang atau bahkan hilang.
  • TIDAK BERHASIL : Bila berbagai gejala gangguan saluran cerna yang ada akan membaik sementara atau tidak membaik dan berbagai gangguan tubuh lainnya tanda dan gejalanya tidak berkurang

2. Cari penyebab ketidak berhasilannya, biasanya karena :

  • Tidak disiplin dan tidak ketat dalam penghindaran makanan,
  • Terdapat kesalahan yang tersembunyi yang tidak disadari : ada beberapa jenis makanan yang masih dikonsumsi meski hanya sedikit. Kesalahan tersembunyi ini di antaranya adalah : orang lain (nenek atau orang lain) menyodorkan makanan sedikit ke mulut meski sedikit tetap berpengaruh, makan di sekolah, makan di restoran masakan cina, kandungan dalam makanan yang tidak disadari terdapat jenis yang seharusnya dihindari.
  • Mengalami infeksi virus terkena infeksi seperti demam, atau tidak demam tetapi hanya hangat teraba di tagan atau kepala bila diperiksa suhu niormal, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya. Pada orang dewasa gejalanya infeksi virus kadang hanya pegal, linu sering dianggap kecapekan.  (baca : Infeksi Virus Memicu Terjadinya Manifestasi Alergi). Ciri khas yang terjadi bila gangguan alergi tidak ringan seperti : nyeri perut hebat, gangguan maag kambuh berat, asma kambuh, mata bengkak, biduran, mulut bengkak, bintik merah kecil luas, atau gangguan kulit yang luas biasanya penyebabnya dipicu oleh infeksi virus, flu atau infeksi virus  saluran napas lainnya.
BILA BERHASIL MAKA BISA DIPASTIKAN BAHWA BERBAGAI GEJALA YANG ADA SELAMA INI SANGAT DIPENGARUHI OLEH ALERGI MAKANAN DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN. atau  ANDA DAN ANAK ANDA MENGALAMI GANGGUAN ALERGI MAKANAN ATAU HIPERSENSITIFITAS MAKANAN YANG SELAMA INI TIDAK ANDA SADARI MENGANGGU BERBAGAI ORGAN TUBUH LAINNYA. Selanjutanya ikuti LANGKAH KELIMA
BILA TIDAK BERHASIL  dengan berbagai kesalahan danm penyebab yang ada tersebut di atas maka program intervensi diet ini harus ada ulangi lagi mulai awal dan lakukan lagi selama 3 minggu.
BILA TIDAK BERHASIL tanpa disertai kesalahan atau faktor penyebab yang ada maka ALERGI MAKANAN DAN HIPERSENSITIFITS MAKANAN TIDAK BERPENGARUH TERHADAP BRBAGAI GANGGUAN YANG ADA, Sebaiknya anda atau anak anda berkonsultasi dengan dokter  lebih jauh sangat mungkin terdapat gangguan organ atau gangguan non fungsional dalam tubuh.

LANGKAH KE LIMA  : Bila ingin mengetahui penyebabnya lakukan provokasi satu persatu makanan yang dicurigai mulai dari daftar makanan step 2 terus ke high risk intervention.

  • Dilakukan trial and error satu persatu makanan dan diamati gejala yang timbul sambil diamati berbagi faktor yang berpengaruh
  • Melakukan provokasi makanan harus dilakukan dalam keadaan sehat tidak rewel malam, nafsu makan baik, berat badan naik, tidak panas, batuk, pilek dan tidak ada gangguan saluran cerna atau gangguan alergi dan hipersensitifitas lainnya.

LANGKAH KE ENAM : lakukan diet pemeliharaan (maintenance dietary) dengan melakukan tahapan dan jenis khusus tiap harinya

 Bila dalam keadaan sehat seperti  tidak rewel malam, nafsu makan baik, berat badan naik, tidak panas, batuk, pilek dan tidak ada gangguan lainnya pada usia tertentu atau orang dewasa boleh dicopba konsumsi makanan beresiko.

DIETARY  INTERVENTION : STEP TWO
Bubur Bayi Instan( termasuk Goodmil rasa ayam),Telor itik, Gula merah,Sayur Brokoli, bayam merah, Labu, Jagung,  Makaroni, Mi telor, Ikan Salmon, Tuna,  Bandeng. Buah Jeruk, Pisang,  Kacang hijau, Kecap manis, Ayam, Itik, Burung Dara, Beras Ketan
HIGH RISK DIETARY  INTERVENTION
COKLAT, Kacang-kacangan : Kacang Tanah/Hijau/Merah/Mente  Ikan Laut kecil: Cumi, Udang, Kepiting, Kembung,Tenggiri, Teri, Buah-buahan terutama Melon, Semangka, Timun Mas, Mangga, Duku, Tomat, Nanas, Durian, Anggur, Nangka, Leci  dan sejenisnya. KEJU, Mentega (Butter). Telor Ayam, taoco, saos tiram, saos tomat. Agar-agar berwarna, Yakult, Vitacam, Yoghurt, kerupuk udang dll
  • Pada anak usia di atas 1 tahun daftar makanan  DIETARY  INTERVENTION : STEP TWO boleh dikonsumsi 1 -2 kali perminggu, di atas usia 3-5 tahun boleh dikonsumsi 2-3 kali perminggu.  Pada usia di atas usia 2-5 tahun daftar makanan HIGH RISK DIETARY  INTERVENTION boleh dikonsumsi 1-2 kali per bulan. Dengan semakin bertambahnya usia permasalahan alergi berkurang dapat dikonsumsi lebih sering.
  • Pada saat sakit , ujian sekolah (berkaitan dengan mengganggu konsentrasi), batuk lama, makan minum kurang, berat badan sulit naik,  sulit makan dan timbul gejala alergi lainya sebaiknya harus kembali ke diet eliminasi awal selama 2-3 minggu dan makanan yang beresiko ditunda lagi.

 End Point :

  • Intervensi Diet/Challenge Tes atau Eliminasi Provokasi adalalah diagnosis pasti untuk memngetahui seseorang mengalami alergi makanan dan hipersensitifitas makanan. Tes alergi dan pemeriksaan lainnya belum memastikan penyebab alergi atau hipersensitifitas makanan.
  • Penderita yang harus dicurigai mengalami gangguan alergi makanan dan hipersensitifitas makanan adalah yang mengalami gangguan fungsi saluran cerna
  • Ketidakberhasilan intervensi diet ini tidak disiplin dan tidak ketat dalam menghindari makanan pantangan atau karena terganggu Infeksi saluran napas atau infeksi virus lain yang tidak disadari
  • Berdasarkan berbagai penelitian selain mengakibatkan gangguan fungsional organ tubuh ternyata juga memperberat berbagai gangguan organik dan gangguan auto imun, gangguan endokrin dan metabolisme dan berbagai gangguan genetik lainnya.
  • Kekawatiran tentang kekurangan gizi saat melakukan tes eliminasi ini sebenarnya tidak berdasar, karena setiap makanan yang sementara dihindari selalu ada makanan pengganti yang tidak kalah gizinya. Justru setelah dilakukan intervensi diet bila dilakukan secara benar dan tanpa dipengaruhi faktor infeksi maka keberhasilannya ditandai dengan berat badan yang meningkat. bila BB tidak meningkat sebagai faktor penentu ketidak berhasilan program intervensi diet.
  • Bila dalam melakukan Intervensi Diet/Challenge Tes atau Eliminasi Provokasi dengan benar dan berhasil maka penderita harus percaya faktanya bahwa selama ini berbagai gangguan yang ada disebabkan karena reaksi simpang makanan. Meski berbagai pendapat menentang atau tidak mempercayainya. Pihak yang tidak sependapat ini harus dimaklumi karena untuk memastikan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan tidak mudah.
  • Intervensi Diet/Challenge Tes atau Eliminasi Provokasi hanya dilakukan selama 3 minggu bukan selamanya setelah itu dilakukan provokasi makanan atau mantenance diet.

Daftar Pustaka

wp-1516379436463..jpg

wp-1559363691580..jpg

Urtikaria, Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa

Urtikaria, Bukan Sekedar Alergi Makanan Biasa

Widodo Judarwanto. Jakarta Indonesia.

Urtikaria atau biduran adalah penyakit alergi yang sangat mengganggu dan membuat penderita atau dokter kadang frustasi. Frustasi karena pada keadaan tertentu gangguan ini sering hilang timbul tanpa dapat diketahui secara pasti penyebabnya. Kesulitan mencari penyebab ini terjadi karena faktor yang berpengaruh sangat banyak dan sulit dipastikan. Secara umum yang mendasari utama biasanya adalah penderita memang punya bakat alergi kulit yang didasari oleh alergi makanan dan dipicu oleh hilang timbulnya infeksi virus dalam tubuh (gejalanya demam, sumeng atau tanpa demam, pilek, badan pegal  (sering dikira kecapekan), batuk atau gangguan saluran cerna).

Bila dalam keadaan sehat pengaruh alergi makanan sangat ringan atau bila tidak cermat seperti tanpa gejala. Tetapi hal yang ringan bila tidak dikenali ditambah berbagai faktor resiko dan bila terjadi infeksi virus maka urtikaria baru akan timbul. Sayangnya alergi makanan sebagai penyakit mendasari ini tidak bisa dipastikan dengan tes alergi, karena tes alergi spesifitasnya rendah bila untuk mencari penyebab alergi makanan. Hal inilah yang membuat penanganan urtikaria lebih sulit lagi, khususnya dalam mencari penyebabnya. Pemberian obat jangka panjang adalah bentuk kegagalan mencari penyebabnya. Bila urtikaria ini sudah terjadi jangka panjang maka bila penderita mengalami serangan flu atau infeksi virus ringan saja akan dapat memicu kekambuhannya.

Urtikaria

  • Urtikaria merupakan penyakit yang sering ditemukan, diperkirakan 3,2-12,8% dari populasi pernah mengalami urtikaria.
  • Urtikaria adalah erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa gatal. Urtikaria dapat berlangsung secara akut, kronik, atau berulang.
  • Urtikaria akut biasanya berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari (kurang dari 6 minggu) dan umumnya penyebabnya dapat diketahui. Urtikaria kronik, yaitu urtikaria yang berlangsung lebih dari 6 minggu, dan urtikaria berulang biasanya tidak diketahui pencetusnya dan dapat berlangsung sampai beberapa tahun. Urtikaria kronik umumnya ditemukan pada orang dewasa.
  • Urtikaria juga dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, yaitu imunologi, anafilaktoid dan penyebab fisik. Reaksi imunologi dapat diperantarai melalui reaksi hipersensitivitas tipe I, tipe II atau III. Sedangkan reaksi anafilaktoid dapat disebabkan oleh angioedema herediter, aspirin, zat yang menyebabkan lepasnya histamin seperti zat kontras, opiat, pelemas otot, obat vasoaktif dan makanan (putih telur, tomat, lobster). Secara fisik, urtikaria dapat berupa dermatografia, cold urticaria, heat urticaria, solar urticaria, pressure urticaria, vibratory angioedema, urtikaria akuagenik dan urtikaria kolinergik.

MEKANISME TERJADINYA PENYAKIT

  • Pada gangguan urtikaria menunjukkan adanya dilatasi pembuluh darah dermal di bawah kulit dan edema (pembengkakan) dengan sedikit infiltrasi sel perivaskular, di antaranya yang paling dominan adalah eosinofil. Kelainan ini disebabkan oleh mediator yang lepas, terutama histamin, akibat degranulasi sel mast kutan atau subkutan, dan juga leukotrien dapat berperan.
  • Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel, terutama eosinofil, keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit lokal. Cairan serta sel yang keluar akan merangsang ujung saraf perifer kulit sehingga timbul rasa gatal. Terjadilah bentol merah yang gatal.
  • Bila pembuluh darah yang terangsang adalah pembuluh darah jaringan subkutan, biasanya jaringan subkutan longgar, maka edema yang terjadi tidak berbatas tegas dan tidak gatal karena jaringan subkutan mengandung sedikit ujung saraf perifer, dinamakan angioedema. Daerah yang terkena biasanya muka (periorbita dan perioral).
    Urtikaria disebabkan karena adanya degranulasi sel mast yang dapat terjadi melalui mekanisme imun atau nonimun.
  • Degranulasi sel mast dikatakan melalui mekanisme imun bila terdapat antigen (alergen) dengan pembentukan antibodi atau sel yang tersensitisasi. Degranulasi sel mast melalui mekanisme imun dapat melalui reaksi hipersensitivitas tipe I atau melalui aktivasi komplemen jalur klasik.
  • Faktor infeksi pada tubuh diantaranya infeksi viru (demam, batuk dan pilek) merupakan faktor pemicu pada urtikaria yang paling sering terjadi namun sering diabaikan
  • Beberapa macam obat, makanan, atau zat kimia dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast. Zat ini dinamakan liberator histamin, contohnya kodein, morfin, polimiksin, zat kimia, tiamin, buah murbei, tomat, dan lain-lain. Masih belum jelas mengapa zat tersebut hanya merangsang degranulasi sel mast pada sebagian orang saja, tidak pada semua orang.
  • Faktor fisik seperti cahaya (urtikaria solar), dingin (urtikaria dingin), gesekan atau tekanan (dermografisme), panas (urtikaria panas), dan getaran (vibrasi) dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast.
  • Latihan jasmani (exercise) pada seseorang dapat pula menimbulkan urtikaria yang dinamakan juga urtikaria kolinergik. Bentuknya khas, kecil-kecil dengan diameter 1-3 mm dan sekitarnya berwarna merah, terdapat di tempat yang berkeringat. Diperkirakan yang memegang peranan adalah asetilkolin yang terbentuk, yang bersifat langsung dapat menginduksi degranulasi sel mast.
  • Faktor psikis atau stres pada seseorang dapat juga menimbulkan urtikaria. Bagaimana mekanismenya belum jelas.

MANIFESTASI KLINIS

  • Klinis tampak bentol (plaques edemateus) multipel yang berbatas tegas, berwarna merah dan gatal. Bentol dapat pula berwarna putih di tengah yang dikelilingi warna merah. Warna merah bila ditekan akan memutih. Ukuran tiap lesi bervariasi dari diameter beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk sirkular atau serpiginosa (merambat).
  • Tiap lesi akan menghilang setelah 1 sampai 48 jam, tetapi dapat timbul lesi baru.
  • Pada dermografisme lesi sering berbentuk linear, pada urtikaria solar lesi terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Pada urtikaria dingin dan panas lesi akan terlihat pada daerah yang terkena dingin atau panas. Lesi urtikaria kolinergik adalah kecil-kecil dengan diameter 1-3 milimeter dikelilingi daerah warna merah dan terdapat di daerah yang berkeringat. Secara klinis urtikaria kadang-kadang disertai angioedema yaitu pembengkakan difus yang tidak gatal dan tidak pitting dengan predileksi di muka, daerah periorbita dan perioral, kadang-kadang di genitalia. Kadang-kadang pembengkakan dapat juga terjadi di faring atau laring sehingga dapat mengancam jiwa.

Udara dingin dan debu bukan penyebab

Selama ini penderita menganggap bahwa penyebab urtikaria adalah udara dingin dan debu. Padahal udara dingin hanya sebagai faktor yang memperberat. Sedangkan debu bisa mengganggu kulit dengan bentuk yang berbeda, bila penyebabnya debu hanya timbul 2-6 jam setelah itu menghilang. Debu sebagai penyebab hanya dalam jumlah banyak seperti   rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, bila bongkar-bongkar kamar, bila terdapat karpet tebal yang permanen, bila masuk gudang, boneka atau baju yang lama disimpan dallam gudang atau lemari.

wp-1558138971413..jpgFaktor Resiko Yang memperberat Urtikaria :

  • INFEKSI (panas, batuk, pilek)
  • AKTIFITAS MENINGKAT (menangis, berlari, tertawa keras)
  • UDARA DINGIN
  • UDARA PANAS
  • STRES
  • GANGGUAN HORMONAL: (kehamilan, menstruasi)

Faktor pemicu tidak akan berpengaruh bila penyebab utama alergi tidak ada. Artinya, bila penyebabnya alergi makanan tidak ada atau dikendalikan maka udara dingin, udara panas, stres, infeksi virus,  dan lain sebagainya tidak akan berpengaruh. Jadi, udara dingin dan faktor pemicu lainnya hanya memperberat bukan penyebab utama.

Infeksi Memicu Timbulnya Urticaria

  • Infeksi khususnya infeksi virus demam, batuk, pilek, muntaber dapat memicu gejala urticaria semakin meningkat. Infeksi bakteri, virus atau lainnya sering memicu timbulnya gejala alergi. Hal ini misalnya dapat dilihat saat anak demam tinggi misalnya karena faringitis akut (infeksi tenggorokan) sering disertai timbul gejala alergi lainnya seperti asma (sesak), mata bengkak, biduran, kulit timbul bercak merah, diare, muntah atau nyeri perut padahal yang infeksi adalah tenggorokan. Pada anak yang mengalami nyeri perut saat demam biasanya dalam keadaan sehatpun pernah mengalami riwayat sakit perut berulang. Demikian juga timbal diare, muntah, kulit timbul ruam saat demam, biasanya penderita memang punya riwayat saluran pencernaan atau kulit yang sensitif (alergi).Keadaan ini membuat pengenalan tanda, gejala alergi dan mencari penyebab alergi menjadi lebih rumit.
  • Widodo Judarwanto telah melakukan penelitian ternyata pada 1650 anak yang  berobat di Children Allergy Clinic saat mengalami tanda dan gejala alergi dan asma sebagian besar atau sekitar 88% timbul diawali dan disertai  infeksi virus. Ternyata saat infeksi virus tersebut manifestasi alergi lebih berat. Saat timbul manifestasi alergi yang berat biasanya sebagian besar penderita saat sehat atau 1-2 minggu sebelum sakit mengalami gejala alergi ringan yang tidak disadari. Dalam penelitian selanjutnya ternyata saat dilakukan pengendalian alergi dengan eliminasi provokasi makanan ternyata saat timbul infeksi virus gejala alergi dan asma tersebut tidak timbul lagi.
  • Seringkali keadaan infeksi sebagai pemicu urticaria ini tidak terdeteksi atau diabaikan. Sehingga seringkali terjadi kesalahan diagnosis memvonis penyebab alergi adalah susu, debu atau makanan tertentu. Hal ini juga sebagai penyebab tersering terjadi overdiagnosis alergi susu sapi pada bayi Ketika minum susu sapi selama 3-6 bulan tidak mengalami tanda dan gejala alergi. Teteapi setelah itu terdapat gangguan berak darah, gangguan kulit, batuk datau pilek dianggap karena alergi susu sapi.
  • Dalam keadaan demam tersebut biasanya penderita alergi tampak kelihatan lebih aktif, impulsif (banyak omong), hiperaktif, emosi meningkat dan lebih agresif. Hal inilah yang sering diasumsikan oleh orang tua kita dahulu bahwa bila anak demam atau sakit artinya karena mau pintar. Pendapat tersebut tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena memang pada penderita alergi bila sakit tampak peningkatan atau perubahan beberapa perilaku tersebut di atas. Hal ini diduga saat infeksi atau sakit terjadi gangguan saluran cerna sehingga stimulasi ke otak semakin meningkat sehingga gejala atau tampilan perilakun serta intelectual anak juga terdapat perubahan.Keadaan ini mengakibatkan sulit membedakan antara alergi dan infeksi. Secara sepintas membedakan alergi dan infeksi sangat mudah. Tetapi, faktanya banyak penderita bahkan dokter sering sulit membedakan antara alergi dan infeksi. Apalagi saat terkena infeksi tidak harus disertai demam.
  • Saat terkena infeks berat seperti DBD atau demam berdarah Dengue gejala alergi atau hipersensitifitas tubuh sangat terganggu.  Biasanya penderita alergi yang sebelumnya sering mengalami riwayat mual, nyeri perut, mimisan, sakit kepala, batuk ringan, kulit sensitif saat mengalami infeksi DBD gangguan  mual, muntah, nyeri perut, mimisan, sakit kepala, batuk ringan, kulit sensitif akan terjadi lebih berat dan lebih hebat. Atau dibalik, penderita DBD yang mengalami keluhan mual, nyeri perut, sakit kepala, mimisan yang hebat biasanya saat sehat sebelumnya mengalami riwayat manifestasi alergi atau hipersensitif yang tidak disadari. Penderita dengan kulitr sensitif saat terkena DBD mengalami manifestasi kulit yang berlebihan. Pada anak ini sering dikelirukan dengan penyakit campak. Sehingga pada beberapa kasus penderita DBD awalnya sering dikira sakit campak.

Tanda dan Gejala Infeksi

Infeksi yang dimaksud disini adalah bebagai serangan infeksi yang mengganggu tubuh  baik berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Infeksi ini berupa radang tenggorok (faringitis akut), Radang amandel (tosilitis akut), Infeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya yang tidak khas. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus lebih sulit dikenali. Bahklan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi. Pada bayi seringkali kontak infeksi virus tersebut tertular oleh kontak y6ang sakit di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidajk menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan inilah yang sering dialami oleh penderita dewasa. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap gejala masuk angin, panas dalam atau kecapekan.

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami orang dewasa adalah :

  • Sakit kepala.
  • Nyeri tenggorokan, tenggorokan kering
  • Batuk ringan, bersin  atau pilek.
  • Mual atau muntah
  • Badan kedinginan, terasa hangat di muka dan kepala
  • Badan lesu
  • Myalgia.
  • Manifestasi Ringan Infeksi Virus tidak khas : pada sebagian kasus gangguan infeksi virus ini mengakibatkan gejala yang tidak khas dan sangat ringan. Badan, otot dan tulang (khususnya tulang punggung, kaki dan tangan) ngilu dan nyeri.  Timbul hidung buntu, pilek ringan , nyer tenggorok ringan tetapi hanya terjadi dalam 1-2 hari kemudian membaik. keadaan ini sering dianggap “mau flu tidak jadi”. Gangguan ringan dan tidak khas inilah yang selama ini tidak disadari oleh penderita bahkan oleh dokter sekalipun. Seringkali gangguan ini  oleh penderita bahkan sebagian dokter sering dianggap karena kecapekan, kurang tidur, panas dalam, masuk angin atau terlalu lama menggendong bayi.

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami anak adalah :

  • Mialgia. Badan, otot dan tulang (khususnya tulang punggung, kaki dan tangan) sakit minta dipijat
  • Batuk, bersin  atau pilek.
  • Mual atau muntah, kadang disertai diare ringan.
  • Badan kedinginan, terasa hangat di telapak tangan,  muka dan kepala (suhu tidak tinggi kurang dari 38C)
  • Badan lesu
  • Sakit kepala.
  • Nyeri tenggorokan, tenggorokan kering

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami bayi adalah :

  • Infeksi virus saluran napas pada bayi seringkali tanpa disertai demam, pilek atau batuk yang keras
  • Bayi lebih rewel dibandingkan biasanya, sering dianggap haus atau minta minum
  • Batuk hanya sekali-sekali atau dikira tersedak.
  • Bersin lebih sering
  • Napas bunyi grok-grok(hiperreaktifitas bronkus)  lebih keras dibandingkan biasanya
  • Mual atau muntah lebih sering dibandingkan biasanya, kadang disertai diare ringan atau bahkan sulit BAB.
  • Teraba hangat di telapak tangan,  muka dan kepala (suhu tidak tinggi kurang dari 38C)
  • Gangguan alergi kulit lebih hebat dibandingkan biasanya
  • Terdapat rash kulit virus yang khas terutam,a timbul di dada atau di perut : bintik merah terang, halus, sangat kecil, rata dan  tidak timbul
  • Biasanya di rumah juga ada yang mengalami sakit infeksi saluran napas atau gejala infeksi virus ringan yang tidak khas.  (lihat gejala infeksi virus pada orang dewasa di atas)

1557032304580-8.jpgDIAGNOSIS

  • Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan inspeksi kulit yaitu adanya lesi khas berupa bentol berwarna merah, berbatas tegas, gatal, memutih bila ditekan. Yang sulit adalah mencari etiologinya.
  • Untuk menemukan etiologi perlu dilakukan anamnesis yang teliti dan terinci serta pemeriksaan fisis lengkap. Anamnesis terhadap faktor lingkungan seperti debu, tungau debu rumah, binatang peliharaan, tumbuh-tumbuhan, karpet, sengatan binatang, serta faktor makanan termasuk zat warna, zat pengawet, obat-obatan, faktor fisik seperti dingin, panas, cahaya dan sebagainya perlu ditelusuri.
  • Pemeriksaan fisis yang menunjukkan bentuk khas dapat diduga penyebabnya seperti lesi linear, lesi kecil-kecil di daerah berkeringat, dan lesi hanya pada bagian tubuh yang terbuka. Bila dari anamnesis dan pemeriksaan fisis belum dapat ditegakkan etiologinya, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang.

Bagaimana mendeteksi bahwa Makanan berperanan dalam urtikaria

Alergi makanan dapat dicurigai ikut berperanan dalam gangguan urtikaria bila terdapat gangguan saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :

  • Pada Bayi :  bayi mengalami Gastrooesepageal Refluks,  Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada Anak dan dewasa : Keluhan muntah sejak bayi berkurang tetapi masih ada. Pada usia dewasa masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. MUAL pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering NYERI PERUT. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “Maag”.

DIAGNOSIS BANDING

  • Angioedema herediter Kelainan ini merupakan kelainan yang jarang tidak disertai urtikaria. Pada kelainan ini terdapat edema subkutan atau submukosa periodik disertai rasa sakit dan terkadang disertai edema laring. Edema biasanya mengenai ekstremitas dan mukosa gastrointestinalis yang sembuh setelah 1 sampai 4 hari. Pada keluarga terdapat riwayat penyakit yang serupa. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan kadar komplemen C4 dan C2 yang menurun dan tidak adanya inhibitor C1-esterase dalam serum.
  • Sengatan serangga multipel Pada sengatan serangga akan terlihat titik di tengah bentol, yang merupakan bekas sengatan serangga.

1557032467733-8.jpg

PENGOBATAN

  • Pengobatan yang paling utama adalah ditujukan pada penghindaran faktor penyebab dan pengobatan simtomatik.
  • Bila berbagai gangguan urtikaria disertai gangguan saluran cerna maka gangguan tersebut biasanya berkaitan dengan reaksi alergi atau hipersensitifitas makanan. Bila hal itu terjdi maka sebaiknya dilakukan intervensi eliminasi provokasi makanan lihat dan baca eliminasi provokasi makanan untuk anak balita dan eliminasi dan provokasi makanan untuk dewasa
  • Pada urtikaria akut generalisata dan disertai gejala distres pernafasan, asma atau edema laring, mula-mula diberi larutan adrenalin 1% dengan dosis 0,01 ml/kgBB subkutan (maksimum 0,3 ml), dilanjutkan dengan pemberian antihistamin penghambat H1 (lihat bab tentang medikamentosa). Bila belum memadai dapat ditambahkan kortikosteroid.
  • Pada urtikaria akut lokalisata cukup dengan antihistamin penghambat H1.
  • Urtikaria kronik biasanya lebih sukar diatasi. Idealnya adalah tetap identifikasi dan menghilangkan faktor penyebab, namun hal ini juga sulit dilakukan. Untuk ini selain antihistamin penghambat H1 dapat dicoba menambahkan antihistamin penghambat H2. Kombinasi lain yang dapat diberikan adalah antihistamin penghambat H1 non sedasi dan sedasi (pada malam hari) atau antihistamin penghambat H1 dengan antidepresan trisiklik. Pada kasus berat dapat diberikan antihistamin penghambat H1 dengan kortikosteroid jangka pendek.
  • Bila pada penderita terjadi gangguan saluran cerna (seperti gejala yang tersebut di atas) maka sangat mungkin alergi makanan ikut berperanan memperberat gangguan urtikaria yang ada.  Untuk menanganinya lakukan eliminasi makanan beresiko (lihat topik mencari penyebab alergi makanan)  dalam waktu 3 minggu secara ketat dan dilakukan evaluasi

PROGNOSIS

  • Pada umumnya prognosis urtikaria adalah baik, dapat sembuh spontan atau dengan obat.
  • Tetapi karena urtikaria merupakan bentuk kutan anafilaksis sistemik, dapat saja terjadi obstruksi jalan nafas karena adanya edema laring atau jaringan sekitarnya, atau anafilaksis sistemik yang dapat mengancam jiwa.

 DAFTAR PUSTAKA

  • Zuberbier T, Maurer M. Urticaria: current opinions about etiology, diagnosis and therapy. Acta Derm Venereol. 2007;87(3):196-205.
  • Irinyi B, Szeles G, Gyimesi E, Tumpek J, Heredi E, Dimitrios G, et al. Clinical and laboratory examinations in the subgroups of chronic urticaria. Int Arch Allergy Immunol. 2007;144(3):217-25.
  • Chang S, Carr W. Urticarial vasculitis. Allergy Asthma Proc. Jan-Feb 2007;28(1):97-100.
  • Guldbakke KK, Khachemoune A. Etiology, classification, and treatment of urticaria. Cutis. Jan 2007;79(1):41-9.
  • Smith PF, Corelli RL. Doxepin in the management of pruritus associated with allergic cutaneous reactions. Ann Pharmacother. May 1997;31(5):633-5.
  • Beltrani VS. Urticaria: reassessed. Allergy Asthma Proc. May-Jun 2004;25(3):143-9.
  • Pollack CV Jr, Romano TJ. Outpatient management of acute urticaria: the role of prednisone. Ann Emerg Med. Nov 1995;26(5):547-51.
  • Powell RJ, Du Toit GL, Siddique N, Leech SC, Dixon TA, Clark AT, et al. BSACI guidelines for the management of chronic urticaria and angio-oedema. Clin Exp Allergy. May 2007;37(5):631-50.
  • Kulthanan K, Jiamton S, Thumpimukvatana N, Pinkaew S. Chronic idiopathic urticaria: prevalence and clinical course. J Dermatol. May 2007;34(5):294-301.
  • Brown NA, Carter JD. Urticarial vasculitis. Curr Rheumatol Rep. Aug 2007;9(4):312-9.
  • Zuberbier T, Bindslev-Jensen C, Canonica W, Grattan CE, Greaves MW, Henz BM, et al. EAACI/GA2LEN/EDF guideline: management of urticaria. Allergy. Mar 2006;61(3):321-31.
  • Lin RY, Curry A, Pesola GR, Knight RJ, Lee HS, Bakalchuk L, et al. Improved outcomes in patients with acute allergic syndromes who are treated with combined H1 and H2 antagonists. Ann Emerg Med. Nov 2000;36(5):462-8.
  • Jáuregui I, Ferrer M, Montoro J, Dávila I, Bartra J, del Cuvillo A, et al. Antihistamines in the treatment of chronic urticaria. J Investig Allergol Clin Immunol. 2007;17 Suppl 2:41-52.

Urtikaria, Bukan Sekedar Alergi Biasa ?

Urtikaria atau biduran adalah penyakit alergi yang sangat mengganggu dan membuat penderita atau dokter kadang frustasi. Frustasi karena pada keadaan tertentu gangguan ini sering hilang timbul tanpa dapat diketahui secara pasti penyebabnya. Kesulitan mencari penyebab ini terjadi karena faktor yang berpengaruh sangat banyak dan sulit dipastikan. Secara umum yang mendasari utama biasanya adalah penderita memang punya bakat alergi kulit yang didasari oleh alergi makanan dan dipicu oleh hilang timbulnya infeksi virus dalam tubuh (gejalanya demam, sumeng atau tanpa demam, pilek, badan pegal  (sering dikira kecapekan), batuk atau gangguan saluran cerna).

Bila dalam keadaan sehat pengaruh alergi makanan sangat ringan atau bila tidak cermat seperti tanpa gejala. Tetapi hal yang ringan bila tidak dikenali ditambah berbagai faktor resiko dan bila terjadi infeksi virus maka urtikaria baru akan timbul. Sayangnya alergi makanan sebagai penyakit mendasari ini tidak bisa dipastikan dengan tes alergi, karena tes alergi spesifitasnya rendah bila untuk mencari penyebab alergi makanan. Hal inilah yang membuat penanganan urtikaria lebih sulit lagi, khususnya dalam mencari penyebabnya. Pemberian obat jangka panjang adalah bentuk kegagalan mencari penyebabnya. Bila urtikaria ini sudah terjadi jangka panjang maka bila penderita mengalami serangan flu atau infeksi virus ringan saja akan dapat memicu kekambuhannya.

Urtikaria

  • Urtikaria merupakan penyakit yang sering ditemukan, diperkirakan 3,2-12,8% dari populasi pernah mengalami urtikaria.
  • Urtikaria adalah erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa gatal. Urtikaria dapat berlangsung secara akut, kronik, atau berulang.
  • Urtikaria akut biasanya berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari (kurang dari 6 minggu) dan umumnya penyebabnya dapat diketahui. Urtikaria kronik, yaitu urtikaria yang berlangsung lebih dari 6 minggu, dan urtikaria berulang biasanya tidak diketahui pencetusnya dan dapat berlangsung sampai beberapa tahun. Urtikaria kronik umumnya ditemukan pada orang dewasa.
  • Urtikaria juga dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, yaitu imunologi, anafilaktoid dan penyebab fisik. Reaksi imunologi dapat diperantarai melalui reaksi hipersensitivitas tipe I, tipe II atau III. Sedangkan reaksi anafilaktoid dapat disebabkan oleh angioedema herediter, aspirin, zat yang menyebabkan lepasnya histamin seperti zat kontras, opiat, pelemas otot, obat vasoaktif dan makanan (putih telur, tomat, lobster). Secara fisik, urtikaria dapat berupa dermatografia, cold urticaria, heat urticaria, solar urticaria, pressure urticaria, vibratory angioedema, urtikaria akuagenik dan urtikaria kolinergik.

MEKANISME TERJADINYA PENYAKIT

  • Pada gangguan urtikaria menunjukkan adanya dilatasi pembuluh darah dermal di bawah kulit dan edema (pembengkakan) dengan sedikit infiltrasi sel perivaskular, di antaranya yang paling dominan adalah eosinofil. Kelainan ini disebabkan oleh mediator yang lepas, terutama histamin, akibat degranulasi sel mast kutan atau subkutan, dan juga leukotrien dapat berperan.
  • Histamin akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah di bawah kulit sehingga kulit berwarna merah (eritema). Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan dan sel, terutama eosinofil, keluar dari pembuluh darah dan mengakibatkan pembengkakan kulit lokal. Cairan serta sel yang keluar akan merangsang ujung saraf perifer kulit sehingga timbul rasa gatal. Terjadilah bentol merah yang gatal.
  • Bila pembuluh darah yang terangsang adalah pembuluh darah jaringan subkutan, biasanya jaringan subkutan longgar, maka edema yang terjadi tidak berbatas tegas dan tidak gatal karena jaringan subkutan mengandung sedikit ujung saraf perifer, dinamakan angioedema. Daerah yang terkena biasanya muka (periorbita dan perioral).
    Urtikaria disebabkan karena adanya degranulasi sel mast yang dapat terjadi melalui mekanisme imun atau nonimun.
  • Degranulasi sel mast dikatakan melalui mekanisme imun bila terdapat antigen (alergen) dengan pembentukan antibodi atau sel yang tersensitisasi. Degranulasi sel mast melalui mekanisme imun dapat melalui reaksi hipersensitivitas tipe I atau melalui aktivasi komplemen jalur klasik.
  • Faktor infeksi pada tubuh diantaranya infeksi viru (demam, batuk dan pilek) merupakan faktor pemicu pada urtikaria yang paling sering terjadi namun sering diabaikan
  • Beberapa macam obat, makanan, atau zat kimia dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast. Zat ini dinamakan liberator histamin, contohnya kodein, morfin, polimiksin, zat kimia, tiamin, buah murbei, tomat, dan lain-lain. Masih belum jelas mengapa zat tersebut hanya merangsang degranulasi sel mast pada sebagian orang saja, tidak pada semua orang.
  • Faktor fisik seperti cahaya (urtikaria solar), dingin (urtikaria dingin), gesekan atau tekanan (dermografisme), panas (urtikaria panas), dan getaran (vibrasi) dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast.
  • Latihan jasmani (exercise) pada seseorang dapat pula menimbulkan urtikaria yang dinamakan juga urtikaria kolinergik. Bentuknya khas, kecil-kecil dengan diameter 1-3 mm dan sekitarnya berwarna merah, terdapat di tempat yang berkeringat. Diperkirakan yang memegang peranan adalah asetilkolin yang terbentuk, yang bersifat langsung dapat menginduksi degranulasi sel mast.
  • Faktor psikis atau stres pada seseorang dapat juga menimbulkan urtikaria. Bagaimana mekanismenya belum jelas.

MANIFESTASI KLINIS

  • Klinis tampak bentol (plaques edemateus) multipel yang berbatas tegas, berwarna merah dan gatal. Bentol dapat pula berwarna putih di tengah yang dikelilingi warna merah. Warna merah bila ditekan akan memutih. Ukuran tiap lesi bervariasi dari diameter beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk sirkular atau serpiginosa (merambat).
  • Tiap lesi akan menghilang setelah 1 sampai 48 jam, tetapi dapat timbul lesi baru.
  • Pada dermografisme lesi sering berbentuk linear, pada urtikaria solar lesi terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Pada urtikaria dingin dan panas lesi akan terlihat pada daerah yang terkena dingin atau panas. Lesi urtikaria kolinergik adalah kecil-kecil dengan diameter 1-3 milimeter dikelilingi daerah warna merah dan terdapat di daerah yang berkeringat. Secara klinis urtikaria kadang-kadang disertai angioedema yaitu pembengkakan difus yang tidak gatal dan tidak pitting dengan predileksi di muka, daerah periorbita dan perioral, kadang-kadang di genitalia. Kadang-kadang pembengkakan dapat juga terjadi di faring atau laring sehingga dapat mengancam jiwa.

Udara dingin dan debu bukan penyebab

Selama ini penderita menganggap bahwa penyebab urtikaria adalah udara dingin dan debu. Padahal udara dingin hanya sebagai faktor yang memperberat. Sedangkan debu bisa mengganggu kulit dengan bentuk yang berbeda, bila penyebabnya debu hanya timbul 2-6 jam setelah itu menghilang. Debu sebagai penyebab hanya dalam jumlah banyak seperti   rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, bila bongkar-bongkar kamar, bila terdapat karpet tebal yang permanen, bila masuk gudang, boneka atau baju yang lama disimpan dallam gudang atau lemari.

Faktor Resiko Yang memperberat Urtikaria :

  • INFEKSI (panas, batuk, pilek)
  • AKTIFITAS MENINGKAT (menangis, berlari, tertawa keras)
  • UDARA DINGIN
  • UDARA PANAS
  • STRES
  • GANGGUAN HORMONAL: (kehamilan, menstruasi)

Faktor pemicu tidak akan berpengaruh bila penyebab utama alergi tidak ada. Artinya, bila penyebabnya alergi makanan tidak ada atau dikendalikan maka udara dingin, udara panas, stres, infeksi virus,  dan lain sebagainya tidak akan berpengaruh. Jadi, udara dingin dan faktor pemicu lainnya hanya memperberat bukan penyebab utama.

Infeksi Memicu Timbulnya Urticaria

  • Infeksi khususnya infeksi virus demam, batuk, pilek, muntaber dapat memicu gejala urticaria semakin meningkat. Infeksi bakteri, virus atau lainnya sering memicu timbulnya gejala alergi. Hal ini misalnya dapat dilihat saat anak demam tinggi misalnya karena faringitis akut (infeksi tenggorokan) sering disertai timbul gejala alergi lainnya seperti asma (sesak), mata bengkak, biduran, kulit timbul bercak merah, diare, muntah atau nyeri perut padahal yang infeksi adalah tenggorokan. Pada anak yang mengalami nyeri perut saat demam biasanya dalam keadaan sehatpun pernah mengalami riwayat sakit perut berulang. Demikian juga timbal diare, muntah, kulit timbul ruam saat demam, biasanya penderita memang punya riwayat saluran pencernaan atau kulit yang sensitif (alergi).Keadaan ini membuat pengenalan tanda, gejala alergi dan mencari penyebab alergi menjadi lebih rumit.
  • Widodo Judarwanto telah melakukan penelitian ternyata pada 1650 anak yang  berobat di Children Allergy Clinic saat mengalami tanda dan gejala alergi dan asma sebagian besar atau sekitar 88% timbul diawali dan disertai  infeksi virus. Ternyata saat infeksi virus tersebut manifestasi alergi lebih berat. Saat timbul manifestasi alergi yang berat biasanya sebagian besar penderita saat sehat atau 1-2 minggu sebelum sakit mengalami gejala alergi ringan yang tidak disadari. Dalam penelitian selanjutnya ternyata saat dilakukan pengendalian alergi dengan eliminasi provokasi makanan ternyata saat timbul infeksi virus gejala alergi dan asma tersebut tidak timbul lagi.
  • Seringkali keadaan infeksi sebagai pemicu urticaria ini tidak terdeteksi atau diabaikan. Sehingga seringkali terjadi kesalahan diagnosis memvonis penyebab alergi adalah susu, debu atau makanan tertentu. Hal ini juga sebagai penyebab tersering terjadi overdiagnosis alergi susu sapi pada bayi Ketika minum susu sapi selama 3-6 bulan tidak mengalami tanda dan gejala alergi. Teteapi setelah itu terdapat gangguan berak darah, gangguan kulit, batuk datau pilek dianggap karena alergi susu sapi.
  • Dalam keadaan demam tersebut biasanya penderita alergi tampak kelihatan lebih aktif, impulsif (banyak omong), hiperaktif, emosi meningkat dan lebih agresif. Hal inilah yang sering diasumsikan oleh orang tua kita dahulu bahwa bila anak demam atau sakit artinya karena mau pintar. Pendapat tersebut tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena memang pada penderita alergi bila sakit tampak peningkatan atau perubahan beberapa perilaku tersebut di atas. Hal ini diduga saat infeksi atau sakit terjadi gangguan saluran cerna sehingga stimulasi ke otak semakin meningkat sehingga gejala atau tampilan perilakun serta intelectual anak juga terdapat perubahan.Keadaan ini mengakibatkan sulit membedakan antara alergi dan infeksi. Secara sepintas membedakan alergi dan infeksi sangat mudah. Tetapi, faktanya banyak penderita bahkan dokter sering sulit membedakan antara alergi dan infeksi. Apalagi saat terkena infeksi tidak harus disertai demam.
  • Saat terkena infeks berat seperti DBD atau demam berdarah Dengue gejala alergi atau hipersensitifitas tubuh sangat terganggu.  Biasanya penderita alergi yang sebelumnya sering mengalami riwayat mual, nyeri perut, mimisan, sakit kepala, batuk ringan, kulit sensitif saat mengalami infeksi DBD gangguan  mual, muntah, nyeri perut, mimisan, sakit kepala, batuk ringan, kulit sensitif akan terjadi lebih berat dan lebih hebat. Atau dibalik, penderita DBD yang mengalami keluhan mual, nyeri perut, sakit kepala, mimisan yang hebat biasanya saat sehat sebelumnya mengalami riwayat manifestasi alergi atau hipersensitif yang tidak disadari. Penderita dengan kulitr sensitif saat terkena DBD mengalami manifestasi kulit yang berlebihan. Pada anak ini sering dikelirukan dengan penyakit campak. Sehingga pada beberapa kasus penderita DBD awalnya sering dikira sakit campak.

Tanda dan Gejala Infeksi

Infeksi yang dimaksud disini adalah bebagai serangan infeksi yang mengganggu tubuh  baik berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Infeksi ini berupa radang tenggorok (faringitis akut), Radang amandel (tosilitis akut), Infeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya yang tidak khas. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus lebih sulit dikenali. Bahklan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi. Pada bayi seringkali kontak infeksi virus tersebut tertular oleh kontak y6ang sakit di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidajk menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan inilah yang sering dialami oleh penderita dewasa. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap gejala masuk angin, panas dalam atau kecapekan.

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami orang dewasa adalah :

  • Sakit kepala.
  • Nyeri tenggorokan, tenggorokan kering
  • Batuk ringan, bersin  atau pilek.
  • Mual atau muntah
  • Badan kedinginan, terasa hangat di muka dan kepala
  • Badan lesu
  • Myalgia.
  • Manifestasi Ringan Infeksi Virus tidak khas : pada sebagian kasus gangguan infeksi virus ini mengakibatkan gejala yang tidak khas dan sangat ringan. Badan, otot dan tulang (khususnya tulang punggung, kaki dan tangan) ngilu dan nyeri.  Timbul hidung buntu, pilek ringan , nyer tenggorok ringan tetapi hanya terjadi dalam 1-2 hari kemudian membaik. keadaan ini sering dianggap “mau flu tidak jadi”. Gangguan ringan dan tidak khas inilah yang selama ini tidak disadari oleh penderita bahkan oleh dokter sekalipun. Seringkali gangguan ini  oleh penderita bahkan sebagian dokter sering dianggap karena kecapekan, kurang tidur, panas dalam, masuk angin atau terlalu lama menggendong bayi.

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami anak adalah :

  • Mialgia. Badan, otot dan tulang (khususnya tulang punggung, kaki dan tangan) sakit minta dipijat
  • Batuk, bersin  atau pilek.
  • Mual atau muntah, kadang disertai diare ringan.
  • Badan kedinginan, terasa hangat di telapak tangan,  muka dan kepala (suhu tidak tinggi kurang dari 38C)
  • Badan lesu
  • Sakit kepala.
  • Nyeri tenggorokan, tenggorokan kering

Tanda dan gejala umum infeksi virus yang di alami bayi adalah :

  • Infeksi virus saluran napas pada bayi seringkali tanpa disertai demam, pilek atau batuk yang keras
  • Bayi lebih rewel dibandingkan biasanya, sering dianggap haus atau minta minum
  • Batuk hanya sekali-sekali atau dikira tersedak.
  • Bersin lebih sering
  • Napas bunyi grok-grok(hiperreaktifitas bronkus)  lebih keras dibandingkan biasanya
  • Mual atau muntah lebih sering dibandingkan biasanya, kadang disertai diare ringan atau bahkan sulit BAB.
  • Teraba hangat di telapak tangan,  muka dan kepala (suhu tidak tinggi kurang dari 38C)
  • Gangguan alergi kulit lebih hebat dibandingkan biasanya
  • Terdapat rash kulit virus yang khas terutam,a timbul di dada atau di perut : bintik merah terang, halus, sangat kecil, rata dan  tidak timbul
  • Biasanya di rumah juga ada yang mengalami sakit infeksi saluran napas atau gejala infeksi virus ringan yang tidak khas.  (lihat gejala infeksi virus pada orang dewasa di atas)

1557032304580-8.jpgDIAGNOSIS

  • Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan inspeksi kulit yaitu adanya lesi khas berupa bentol berwarna merah, berbatas tegas, gatal, memutih bila ditekan. Yang sulit adalah mencari etiologinya.
    Untuk menemukan etiologi perlu dilakukan anamnesis yang teliti dan terinci serta pemeriksaan fisis lengkap. Anamnesis terhadap faktor lingkungan seperti debu, tungau debu rumah, binatang peliharaan, tumbuh-tumbuhan, karpet, sengatan binatang, serta faktor makanan termasuk zat warna, zat pengawet, obat-obatan, faktor fisik seperti dingin, panas, cahaya dan sebagainya perlu ditelusuri.
    Pemeriksaan fisis yang menunjukkan bentuk khas dapat diduga penyebabnya seperti lesi linear, lesi kecil-kecil di daerah berkeringat, dan lesi hanya pada bagian tubuh yang terbuka. Bila dari anamnesis dan pemeriksaan fisis belum dapat ditegakkan etiologinya, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang.

Bagaimana mendeteksi bahwa Makanan berperanan dalam urtikaria

Alergi makanan dapat dicurigai ikut berperanan dalam gangguan urtikaria bila terdapat gangguan saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :

  • Pada Bayi :  bayi mengalami Gastrooesepageal Refluks,  Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada Anak dan dewasa : Keluhan muntah sejak bayi berkurang tetapi masih ada. Pada usia dewasa masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. MUAL pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering NYERI PERUT. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “Maag”.

DIAGNOSIS BANDING

  • Angioedema herediter Kelainan ini merupakan kelainan yang jarang tidak disertai urtikaria. Pada kelainan ini terdapat edema subkutan atau submukosa periodik disertai rasa sakit dan terkadang disertai edema laring. Edema biasanya mengenai ekstremitas dan mukosa gastrointestinalis yang sembuh setelah 1 sampai 4 hari. Pada keluarga terdapat riwayat penyakit yang serupa. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan kadar komplemen C4 dan C2 yang menurun dan tidak adanya inhibitor C1-esterase dalam serum.
  • Sengatan serangga multipel Pada sengatan serangga akan terlihat titik di tengah bentol, yang merupakan bekas sengatan serangga.

1557032467733-8.jpg

PENGOBATAN

  • Pengobatan yang palin utama adalah ditujukan pada penghindaran faktor penyebab dan pengobatan simtomatik.
  • Pada urtikaria akut generalisata dan disertai gejala distres pernafasan, asma atau edema laring, mula-mula diberi larutan adrenalin 1% dengan dosis 0,01 ml/kgBB subkutan (maksimum 0,3 ml), dilanjutkan dengan pemberian antihistamin penghambat H1 (lihat bab tentang medikamentosa). Bila belum memadai dapat ditambahkan kortikosteroid.
  • Pada urtikaria akut lokalisata cukup dengan antihistamin penghambat H1.
  • Urtikaria kronik biasanya lebih sukar diatasi. Idealnya adalah tetap identifikasi dan menghilangkan faktor penyebab, namun hal ini juga sulit dilakukan. Untuk ini selain antihistamin penghambat H1 dapat dicoba menambahkan antihistamin penghambat H2. Kombinasi lain yang dapat diberikan adalah antihistamin penghambat H1 non sedasi dan sedasi (pada malam hari) atau antihistamin penghambat H1 dengan antidepresan trisiklik. Pada kasus berat dapat diberikan antihistamin penghambat H1 dengan kortikosteroid jangka pendek.
  • Bila pada penderita terjadi gangguan saluran cerna (seperti gejala yang tersebut di atas) maka sangat mungkin alergi makanan ikut berperanan memperberat gangguan urtikaria yang ada.  Untuk menanganinya lakukan eliminasi makanan beresiko (lihat topik mencari penyebab alergi makanan)  dalam waktu 3 minggu secara ketat dan dilakukan evaluasi\
  • Bila gangguan urtikaria tersebut disertai gangguan saluran cerna biasanya keluhannya muncul berkaitan dengan reaksi alergi atau hipersensitifitas makanan. Bila hal itu terjadi maka sebaiknya dilakukan intervensi eliminasi provokasi makanan lihat dan baca eliminasi dan provokasi makanan pada Balita  dan eliminasi dan provokasi makanan pada dewasa

wp-1559363439264..jpgwp-1559363691580..jpg

Alergi Ayam, Gejala dan Penanganannya

Alergi Ayam, Gejala dan Penanganannya

Ayam rendah lemak, protein tinggi adalah tambahan sehat untuk diet. Kecuali jika alergi terhadapnya. Alergi ayam lebih sering jaranhg didengar, tetapi kondisi in sebenarnya lebih sering terjadi hingga dapat menyebabkan gejala yang tidak nyaman atau bahkan berbahaya pada beberapa orang. Ketika  memiliki alergi, sistem kekebalan tubuh  secara keliru mengidentifikasi alergen sebagai zat berbahaya. Sistem kekebalan tubuh Anda kemudian menciptakan antibodi yang disebut immunoglobulin E (IeG) untuk menyerang zat tersebut. Respons ini dapat menyebabkan berbagai gejala, mulai dari yang ringan hingga yang parah. Alergi ayam dapat terjadi pada orang-orang dari segala usia. Anda mungkin alergi terhadap ayam saat masih anak-anak dan tumbuh lebih besar. Anda mungkin juga alergi terhadap ayam hidup atau daging ayam setelah bertahun-tahun tidak memiliki reaksi alergi. Beberapa orang dengan alergi ayam alergi terhadap ayam mentah tetapi tidak dimasak.

wp-11..jpgGejala
Jika Anda alergi terhadap ayam, Anda mungkin mengalami gejala langsung setelah terpapar, atau gejala dapat muncul hingga beberapa jam kemudian. Gejala alergi ayam meliputi:

  • Ptiriasis Alba (kulit putih seperti panu di pipi atau di badan)
  • mata gatal, bengkak, atau berair
  • pilek, hidung gatal
  • bersin
  • sulit bernafas
  • gatal, sakit tenggorokan
  • batuk atau mengi
  • teriritasi, kulit merah, atau ruam seperti eksim
  • kulit yang gatal
  • gatal-gatal
  • mual
  • muntah
  • keram perut
  • diare
  • anafilaksis
  • Gejala  dapat berkisar dari ketidaknyamanan ringan hingga parah. Mereka dapat memburuk atau berkurang dengan paparan. Gejala akan hilang setelah tidak lagi berhubungan dengan ayam.

Faktor risiko

  • Penderita asma atau eksim,  mungkin memiliki alergi makanan, termasuk alergi terhadap ayam. Penderita ini juga mungkin berisiko alergi ayam jika alergi terhadap: telor, ikan laut, keju, kacang, udang, cumi dan ikan laut lainnya
  • Beberapa orang yang alergi terhadap ayam juga alergi terhadap telur. Ini dikenal sebagai sindrom burung-telur. Orang yang memiliki sindrom burung-telur alergi terhadap zat yang ditemukan dalam kuning telur dan pada albumin serum ayam. Jika Anda memiliki sindrom burung-telur, Anda mungkin juga memiliki peningkatan risiko alergi terhadap parkit.
  • Jika alergi terhadap ayam, mungkin juga alergi terhadap kotoran ayam hidup, bulu ayam, dan debu bulu ayam. Sensitivitas ini dapat meluas ke bulu dan kotoran jenis unggas lain juga, seperti kalkun

komplikasi

  • Anda mungkin salah mengira alergi ayam karena pilek. Ini karena beberapa gejala, seperti pilek dan sakit tenggorokan, adalah sama. Anda juga mungkin mengalami kesulitan perut karena tubuh Anda mencoba menghilangkan alergen dari sistem Anda.
  • Komplikasi yang paling parah adalah anafilaksis. Ini adalah reaksi serius seluruh tubuh yang memerlukan perhatian medis segera.
  • Gejala anafilaksis meliputi:
  1. detak jantung yang cepat
  2. penurunan tekanan darah secara tiba-tiba
  3. palpitasi jantung
  4. kesulitan bernafas
  5. mengi
  6. pembengkakan saluran udara tenggorokan
  7. bicara cadel
  8. lidah bengkak
  9. bibir bengkak
  10. semburat biru di sekitar bibir, ujung jari, atau jari kaki
  11. hilang kesadaran
  12. Jika Anda pernah mengalami reaksi anafilaksis, dokter Anda akan meresepkan
  13. EpiPen untuk Anda bawa setiap saat.. EpiPen adalah bentuk epinefrin (adrenalin) yang dapat disuntikkan sendiri. Ini dapat menyelamatkan hidup Anda jika terjadi keadaan darurat alergi. Itu tidak menghilangkan perlunya dukungan medis tindak lanjut. Hubungi dokter Anda jika Anda perlu menggunakan Epipen untuk anafilaksis.

1557032467733-8.jpgPenanganan

  • Jika Anda alergi terhadap ayam, Anda ingin menghindarinya dalam segala hal yang Anda makan.
  • Hindari hidangan yang mengandung kaldu ayam, bahan umum dalam sup. Ayam juga menjadi populer sebagai pengganti daging merah, jadi Anda mungkin menemukannya digiling seperti daging hamburger. Pastikan bakso, cabai, dan meatloaf yang dimakan bebas ayam sebelum mengkonsumsi
  • Jika Anda alergi terhadap bulu ayam, selimut atau bantal yang mengandung bulu angsa dapat memicu reaksi alergi baik di rumah maupun selama perjalanan.

Referensi

  1.  “Allergy to chicken meat without sensitization to egg proteins”(PDF)www.jacionline.org. 1997.
  2. Zacharisen, Michael C. (1 July 2006). “Severe allergy to chicken meat”. WMJ105 (5): 50–52. PMID 16933414.
  3. Hemmer, Wolfgang; Klug, Christoph; Swoboda, Ines (30 November 2018). “Update on the bird-egg syndrome and genuine poultry meat allergy”. Allergo Journal International25 (3): 68–75. doi:10.1007/s40629-016-0108-2. PMC 4861744. PMID 27340614.
  4. “Man’s Sudden Food Allergy Was a Medical Mystery for Months”. Washingtonpost.com. Retrieved 2018-11-30.
  5. ^ Hemmer, W.; Klug, C.; Swoboda, I. (2016). “Update on the bird-egg syndrome and genuine poultry meat allergy”. Allergo Journal International25 (3): 68–75. doi:10.1007/s40629-016-0108-2. PMC 4861744. PMID 27340614.
  6. “Anaphylactic Reactions to Novel Foods” (PDF)pediatrics.aappublications.org. 2017.
  7. Zacharisen, M. C. (2006). “Severe allergy to chicken meat”. WMJ105 (5): 50–2. PMID 16933414.
  8. Hemmer, W.; Klug, C.; Swoboda, I. (2016). “Update on the bird-egg syndrome and genuine poultry meat allergy”. Allergo Journal International25 (3): 68–75. doi:10.1007/s40629-016-0108-2. PMC 4861744. PMID 27340614.
  9. Zacharisen, M. C. (2006). “Severe allergy to chicken meat”. WMJ105 (5): 50–2. PMID 16933414.
  10. Hemmer, W.; Klug, C.; Swoboda, I. (2016). “Update on the bird-egg syndrome and genuine poultry meat allergy”. Allergo Journal International25 (3): 68–75. doi:10.1007/s40629-016-0108-2. PMC 4861744. PMID 27340614.

10 Gejala Alergi Pada Bayi Yang Sering Dianggap Normal

10 Gejala Alergi Pada Bayi Yang Sering Dianggap Normal

  1. HIPERSENSITIF SALURAN CERNA :Sebagian besar bahkan mungkin hampir 90% bayi prematur mengalami hipersensitifitas saluran cerna, sedangkan sekitar 30-40 persen bayi normal juga mengalami keadaan ini dengan variasi yang berbeda Hipersensitifitas saluran cerna mempunyai berbagai vatiasi karakteristik keluhan. Gastrooesephagealrefluks/GER)  Sering MUNTAH/gumoh), kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB TIDAK TIAP HARI. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Beberapa bayi mengalami keadaan sering mulet dan sering “ngeden”. Bila keadaan ini sudah terjadi sejak dalam kandungan maka beberapa bayi  beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Pada gangguan hipersensitif saluran cerna juga menampilkan produksi sir liur berlebihan. Hal ini sering ditandai lidah bayi sering dijulurkan berulang-ulang dan bayi sering menyembur-nyrmbur mulutnya. Pada keadaan saluran cerna sensitif juga sering menimbulkan keadaan lidah sering timbul putih, bibir kering atau sebagian bayi mengalami bibir yang berwarna gelap.
  1. KULIT SENSITIF : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  1. HIPERSENSITIF SALURAN NAPAS :Saluran napas berbunyi berisik seperti bunyi  grok-grok. dimana keadaan ini sering disebut Hipereaktifitas Bronkus, Keadaan ini kadang disertai batuk ringan. Keadaan ini sering terjadi pada anak alergi atau sensitif saluran napas. Pada beberapa bayi saat lahir mengalami sesak disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). Gangguan TRDN sering salah diagnosis dianggap sebagai tertelan air ketuban atau karena infeksi pasru atau pnemoni kongenital. Dalam penelitian anak yang mengalami TRDN beresiko mengalami gejala asma sebelum usia ptra sekolah
  1. HIDUNG SENSITIF : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena satu sisi hidung buntu,”KEPALA PEYANG”.
  1. MATA : Neonatal opsthalmica dengan tampilan mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi biasanya terjadi rekasi inflamasi dan penyumbatan pada saluran pada kelenjar air mata atau obstruksi duktur nasolakerimalis. Pada umumnya tidak perlu antibiotika dan tidak perlu operasi. Pada beberapa bayi yang mengalami bakat alergi saat dikendalikan alergi ternyata gangguan tersebut mengmbaik
  1. KELENJAR: Pembesaran kelenjar di leher dan kepala. Terutama di belakang kepala. Hal ini biasanya akan meningkat saat terjadi flu (badan anget, nafas grok-grok, bersin) atau saat gangguan alergi kulit meningkat.
  1. PEMBULUH DARAH.  Hipersensitif pembuluh darah tepi. Telapak kaki dan tangan pucat dan teraba dingin dan pucat, keringat berlebihan. Keadaan ini sering dikelirukan dengan keadaan anemia. UMembedakannya bila gangguan tersebut hilangb timbul atau kadang merah atau kadang pucat biasanya bukan karena anemia. tetapi bila keadaan tersebut pucat terus tanpa memerah dalam seharian maka bisa diurigai sebagai anemia.
  1. KENCING: sering, ngeden, warna merah orange tetapi bukan darah. Hal ini sering dianggap normal. Tetapi sebagian klinisi lain mencurigainya sebagai infeksi saluran kencing
  1. GANGGUAN HORMONAL :keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  1. PERSARAFAN : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spell)

.

HINGGA KINI BANYAK GANGGUAN TERSEBUT DI ATAS MASIH BELUM TERUNGKAP JELAS APA PENYEBABNYA. SEHINGGA BANYAK TIMBUL PENDAPAT BERBEDA UNTUK MENDUGA PENYEBABNYA. SERINGKALI JUGA DIANGGAP  MANIFESTASI NORMAL

TERNYATA BEBERAPA GANGGUAN TERSEBUT SERING TERJADI PADA PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIF SALURAN CERNA. GANGGUAN TERSEBUT HILANG TIMBUL SECARA BERSAMAAN BERKAITAN DENGAN KONSUMSI SUSU, MAKANAN IBU BILA ANAK MINUM ASI ATAU KARENA DIPICU INFEKSI VIRUS SALURAN NAPAS ATAS

SETELAH MENGALAMI SENDIRI DAN MENDENGAR KESAKSIAN ORANGTUA LAINNYA KITA MUNGKIN BARU AKAN PERCAYA FAKTA BAHWA TERNYATA HIPERSENSITIFITAS MAKANAN DAN ALERGI MAKANAN DEMIKIAN MENGGANGGU

BILA MASALAH TERSEBUT DIABAIKAN DAN DIANGGAP NORMAL MAKA SERINGKALI BERDAMPAK :

  • MENGACAUKAN PROGRAM ASI EKSLUSIF DAN MENIMBULKAN PROBLEM MINUM ASI : BAYI tampak minum berlebihan, BERAT BERLEBIHAN karena bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu, atau mulutnya seperti mencari ASI atau dot  belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
  • KESULITAN MAKAN DAN  BERAT BADAN SULIT NAIK , Gangguan saluran cerna atau hipersensitif aluran cerna dapat menimbulkan gangguan kesulitan makan dan gangguan kenaikkan berat badan terutama setelah usia 4 – 6 bulan. Sering kali pada usia tersebut mulai terjadi karena sudah mulai diberikan makanan tambahan baru. Pada umumnya anak dengan alergi makanan atau hipersensitif saluran cerna sering mengalami amsalah kesehatan saat mengkonsumsi makanan tambahan baru bila jenis asupan makanan dapat menganggu saluran cernanya.
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : Pada anak dengan hipersensitif saluran cerna teriutama dengan keluhan mual, muntah dan sulit BAB sering mengalami daya tahan tubuh menurun. Hal ini terjadi karena mekanisme pertahanan tubuh khususnya produksi imunoglobulin tertentu banyak diproduksi di oragan tubuh tersebut. Gangguan daya tahan tubuh menurun adalah mudah mengalami sakit demam, batuk, dan pilek berulang. hilang timbul dan berkepanjangan. Biasanya kekerapan terjadi  1-2 kali setiap bulan). Pada kasus seperti ini sebaiknya tidak terlalu cepat dan mudah minum antibiotika karena penyebab infeksi yang paling seringadalah virus yang akan sembuh sendiri dlam waktu 5 hari.  Karena terlalu sering sering sakit pada penderita ini sering mengalami Tonsilitis kronis (amandel), Nyeri telinga, infeksi telinga (Otitis media Akut atau congekan) dan sinusitis pada anak di atas usia 5 tahun. Hindari operasi amandel yang tidak perlu ataui tidak sesuai indokasi. Waspadai dan hindari efek samping pemakaian obat terlalu sering..
  • Mudah beresiko Infeksi Saluran Kencing. Pada anak dengan hipersensitif kulit dalam bebebarapa penelitian sering dialporkan mudah mengalami udainfeksi saluran kencing.  Pada kasus infeksi saluran kencing berulang dengan keadaan saluran kemih yang normal ternyata saat alergi dikenadlikan maka gangguan tersebut bisa membaik. Pada penderita hipersensitif kulit sering mengalami sensitif kulit di sekitar kelamin sering kemerahan. Keadaan ini bila berulang bisa terjadi tempat masuknya bakteri kedalam saluran kemih.
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ” ) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC.  BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • SEBALIKNYA PADA KELOMPOK ANAK TERTENTU PADA USIA TERTENTU MAKAN BERLEBIHAN SEHINGGA BERESIKO KEGEMUKAN atau OBESITAS.
wp-11..jpg
BILA MASALAH TERSEBUT DIABAIKAN DAN DIANGGAP NORMAL JUGA SERINGKALI BERESIKO DISERTAI GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU :

  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  Pada bayi tampak mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spell). Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membenturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. Pada anak Balita tampak anak tidak bisa diam bergerak terus.  ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat, main mobil-mobilan dll.
  • GANGGUAN TIDUR MALAM : tidur larut malam, bolak-balik ujung ke ujung,“nungging”, berbicara, tertawa,berteriak saat tidur, sering terbangun duduk saat tidur,mimpi buruk, “beradu gigi”(bruxism)
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK SEBENARNYA CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”, ”pincang” sesaat
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.  Pada sebagian anak terjadi TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).

1517273824990-3.jpg

  • Bila gangguan tersebut disertai gangguan saluran cerna pada bayi maka alergi makanan harus dicermati sebagai penyebab utama gangguan tersebut.
  • Berbagai gangguan itu bisa terjadi bersama dalam beberapa organ tubuh minimal 3 bagian organ tubuh. Gangguan itu bisa muncul ringan atau tidak ringan. Bila ringan biasanya penyebabnya karena alergi makanan. Saat terdapat alergi makanan bila dipicu infeksi virus (flu, common cold) maka gangguan tersebut akan bertambah berat biasanya muncul dalam 5 hari dan akan berkurang, tetapi kemudian bila makanan dan infeksi virus masih ada maka gangguan itu akan hilang timbul terus.
  • Infeksi yang dimaksud disini adalah bebagai serangan infeksi yang mengganggu tubuh baik berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Infeksi ini berupa radang tenggorok (faringitis akut), Radang amandel (tosilitis akut), Infeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya yang tidak khas. Pada Bayi gejalanya hanya bersin atau batu sekali sekali seperti tersedak atau pura pura. Gejala khas yang lain adalah badan bayi terba hamgat tetapi saat diukur normal. Hangat ditampilkan dengan diraba tangan, perut  (punggung) dan dahi teraba salah satu ada yang lebih hangat
  • Gejala infeksi virus yang ringan biasanya terdapat kontak oranh di sekitarnya seperti bapak, ibu atau saudara kandung. Gejala ringan, tidak khas dan cepat mmebaik ini sering dianggap gejala masuk angin, panas dalam atau kecapekan.

1557032467733-8.jpg

wp-1559363691580..jpg

PENGARUH DIET IBU BAGI BAYI DENGAN RIWAYAT ALERGI

1558490879015.jpgPENGARUH DIET IBU BAGI BAYI DENGAN RIWAYAT ALERGI

CASE PREVIEW

Seorang ibu cemas karena Sandika, putra pertama berumur 1 bulan sering rewel, muntah, sering ngeden, napas grok-grok, kulitnya bruntusan dan banyak gejala lainnya. Bebrgai obat pernah diberikan dokyter tenyata gejala dan tanda gangguan tersebut tyetap hilang timbul. Tetapi saat seorang dokter menganjurkan menghindari makan tertentu, keluhan si bayi membaik. Ternyata konsumsi makanan ibu sangat berpengaruh terhadap bayinya saat menyusui.

DIET IBU MENYUSUI SANGAT BERPENGARUH TERHADAP BAYI

Pemberian nutrisi atau gizi yang baik amatlah penting selama kehamilan. Setiap jenis makanan yang dikonsumsi ibu akan berpengaruh sangat penting bagi bayi yang disusuinya. Bila nutrisi ibu kualitas gizi yang ada baik dan cukup maka kualitas ASI yang diberikan pada bayipun akan semakin baik.

Namun sebaliknya ternyata bila terdapat jenis makanan tertentu yang dikonsumsi ibu akan dapat melalui ASI yang dapat mengganggu bayi. Tetapi tidak semua bayi akan mengalami hal demikian. Biasanya hal ini terjadi pada bayi yang mengalami riwayat dan gejala alergi yang terjadi sejak lahir.

APAKAH ALERGI PADA BAYI ITU ?

  • Alergi termasuk gangguan yang menjadi permasalahan kesehatan penting pada usia anak. Gangguan ini ternyata dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak.
  • Melihat demikian luas dan banyaknya pengaruh alergi yang mungkin bisa terjadi, maka deteksi dan pencegahan alergi sejak dini sebaiknya dilakukan. Gejala serta faktor resiko alergi dapat dideteksi sejak lahir, bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Alergi makanan tidak terjadi pada semua orang, tetapi sebagian besar orang mempunyai potensi menjadi alergi. Tampaknya sebagian besar orang bila dicermati pernah mengalami reaksi alergi. Namun sebagian lainnya tidak pernah mengalami reaksi alergi. Terdapat 3 faktor penyebab terjadinya alergi makanan, yaitu faktor genetik, imaturitas usus, pajanan alergi yang kadang memerlukan faktor pencetus. Pada bayi biasanya imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna masih sering terjadi, hal inilah yang menjadi penyebab utama tingginya kejadian alergi di usia anak.
  • Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pengontrol internal. Berbagai sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan inflamasi.

BAGAIMANA GEJALA KLINIS ALERGI PADA BAYI ?

  • Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma. Bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai gatal dan bercak merah di kulit. Bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya. Sistem
  • Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses inflamasi kronis yang kompleks.

Manifestasi klinis yang sering dikaitkan dan diperberat karena reaksi alergi pada bayi.

  • GANGGUAN SALURAN CERNA : Gastrooesephageal Refluks, sering muntah, gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering rewel, gelisah dan kolik terutama malam hari. Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari. Kotoran berwarna hijau, gelap dan berbau tajam. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat. Lidah sering timbul putih (seperti jamur) dan air liur berlebihan (drooling atau ngiler). Bibir tampak kering mengelupas.
  • GANGGUAN KULIT : sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • GANGGUAN SALURAN NAPAS ; Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
    Sering berkeringat (berlebihan). Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun).>
  • PROBLEM MINUM ASI : sering menangis (karena perut tidak nyaman) seperti minta minum sehingga berat badan lebih karena minum berlebihan. Sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang. Sering menggigit puting (agresif) sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi, karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

Beberapa gangguan perilaku yang sering dikaitkan dan

diperberat oleh reaksi alergi pada bayi.

  • GANGGUAN NEUROLOGIS RINGAN : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus fisiologis). Kejang tanpa disertai
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
  • Usia kurang dari 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.Usia kurang dari 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri. Sering bergerak, sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR (biasanya malam hari) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tiba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF DAN EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap mainan dan bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa memperhatikan. Tidak kerasan dalam ruangan yang sempit seperti box bayi dan ruangan sempit. Sering minta keluar ke tempat yang luas atau luar
  • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI :Pada pola perkembangan motorik normal adalah bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan. Gangguan mengunyah atau menelan, tidak mau makan berserat seperti sayur dan daging atau terlambat kemampuan makan nasi tim (normal usia 9 bulan).
  • KETERLAMBATAN BICARA: Tidak mengeluarkan kata umur <>
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). TETAPI ALERGI BUKAN PENYEBAB AUTISM ATAU ADHD tetapi HANYA MEMPERBERAT

APAKAH YANG PALING MENGGANGGU AKIBAT YANG DITIMBULKAN PADA BAYI ?

  • Gangguan saluran cerna dan kulit akan paling sering terjadi. Saluran cerna paling mudah terjadi atau sangat mengganggu saat usia di bawah 3 bulan, dengan pertambahan usia akan semakin berkurang terutama setelah usia 2-7 tahun.

DIET JENIS APAKAH YANG DAPAT MENGGANGGU BAYI

  • Hingga saat ini untuk mencari penyebab alergi adalah merupakan kesulitan terbesar dalam penanganan penyakit alergi. Hal ini terjadi karena tes alergi yang direkomendasikan seperti tes kulit dan tes dan RAST spesifik, meskipun sangat sensitif tetapi spesifitasnya tidak terlalu tinggi. Sehingga masih belum memastikan penyebab alergi makanan. Memastikan penyebab alergi makanan atau gold standard (baku emas) adalah dengan DBPCFC (eliminasi provokasi makanan). Hal ini akan lebih terasa sulit pada penderita alergi yang berkaitan dengan pemberian ASI
  • Jenis makanan yang berpengaruh terhadap ASI1. Beresiko tinggi mengganggu bayi melalui pemberian ASI adalah ikan laut, kacang tanah, keju dan beberapa jenis buah termasuk durian, mangga, melon dan tomat. Sebaiknya makanan ini ditunda setelah usia 3-6 bulan.2. Sedangkan makanan yang beresiko sedang atau rendah adalah salmon, bandeng, telor, susu, ayam, jeruk, pisang dan sebagainya. Pada beberapa bayi mungkin mengganggu, tetapi pada umumnya tidak mengganggu. Sehingga pada banyak kasus makanan ini relatif aman, tetapi pada kasus tertentu yang berat terutama kolik, makanan ini harus dicermati.3. Jenis makanan yang relatif paling aman adalah : daging sapi, semua ikan air tawar (lele, gurami, patin dsbnya), sayur-sayuran, kacang kedelai, buah apel, alpukat, pir, pepaya.

APAKAH KUALITAS ASI AKAN TERGANGGU BILA IBU DIET MAKAN PENYEBAB ALERGI ?
Anggapan yang banyak terjadi adalah kulitas asi akan menurun bila ibu harus diet makanan. Sebenarnya pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Hal itu dapat terjadi bila ibu hanya menghindari makanan penyebab alergi tanpa mencari makanan penggantinya. Tetapi bila ibu mencari makanan pengganti, maka pendapaty tersebut sepenuhnya tidak benar. Contohnya : ibu tidak boleh makan ikan lauttetapi mungkin ikan salmon boleh, kacang tanah jangan tetapi kacang kedelai boleh dan seterusnya.
Seingkali ibu heran makanannya sudah aman ternyata tetap masih saja timbul gejala alergi tersebut. Hal ini terjadi karena ibu harus menghindari udang tetapi tetap makan krupuk udang atau terasi, sudah menghindari ikan laut tetapi makan ikan teri dan lain sebagainya.

ALERGI SULIT DIBEDAKAN DENGAN INFEKSI

  • PENYEBAB GEJALA ALERGI TERNYATA BUKAN HANYA MAKANAN, TETAPI KEJADIAN INFEKSI DAPAT MEMICU TIMBULNYA GEJALA ALERGI. Sehingga kadang ibu heran makanan sudah relatif aman tetapi ternyata masih saja gejala alergi tersebut timbul. Hal ini terjadi karena seringkali inbfeksi virus ringan seperti flu, dan sebaginya bila tidak cermat sulit terdeteksi. Karena, saat flu bayi tidak seperti anak besar pileknya tidak keluar banyak dan batuknya jarang karena refleks batuknya belum sempurna.
  • Untuk memastikan adanya infeksi biasanya disertai tampilan adanya bintik merah halus di kulit dada bayi atau bila dalam beberapa hari sebelumnya ada kontak orang dewasa yang sakit dengan gejala sakit tenggorok, pilek, demam, meriang, atau badan lemas dan nyeri seperti masuk angin dan kecapekan.

DAFTAR PUSTAKA

Clifford TJ, Campbell MK, Speechley KN, Gorodzinsky F. Infant colic: empirical evidence of the absence of an association with source of early infant nutrition. Arch Pediatr Adolesc Med. 2002;156 :1123 –1128Clifford TJ, Campbell MK, Speechley KN, Gorodzinsky F. Sequelae of infant colic: evidence of transient infant distress and absence of lasting effects on maternal mental health. Arch Pediatr Adolesc Med. 2002;156 :1183 –1188Hill DJ, Hosking CS. Infantile colic and food hypersensitivity. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2000;30(suppl) :S67 –S76Räihä H, Lehtonen L, Huhtala V, Saleva K, Korvenranta H. Excessively crying infant in the family: mother-infant, father-infant and mother-father interaction. Child Care Health Dev. 2002;28 :419 –429Barr RG. Colic and crying syndromes in infants. Pediatrics. 1998;102 :1282 –1286Miller-Loncar C, Bigsby R, High P, Wallach M, Lester B. Infant colic and feeding difficulties. Arch Dis Child. 2004;89 :908 –912Barr RG. Changing our understanding of infant colic. Arch Pediatr Adolesc Med. 2002;156 :1172 –1174Miller AR, Barr RG. Infantile colic: is it a gut issue? Pediatr Clin North Am. 1991;38 :1407 –1423Jakobsson I, Lothe L, Ley D, Borschel MW. Effectiveness of casein hydrolysate feedings in infants with colic. Acta Paediatr. 2000;89 :18 –21Lucassen PL, Assendelft WJ, Gubbels JW, van Eijk JT, Douwes AC. Infantile colic: crying time reduction with a whey hydrolysate: a double-blind, randomized, placebo-controlled trial. Pediatrics. 2000;106 :1349 –1354Jakobsson I, Lindberg T. Cow’s milk proteins cause infantile colic in breast-fed infants: a double-blind crossover study. Pediatrics. 1983;71 :268 –271.Evans RW, Fergusson DM, Allardyce RA, Taylor B. Maternal diet and infantile colic in breast-fed infants. Lancet. 1981;1 :1340 –1342Hill DJ, Hudson IL, Sheffield LJ, Shelton MJ, Menahem S, Hosking CS. A low allergen diet is a significant intervention in infantile colic: results of a community-based study. J Allergy Clin Immunol. 1995;96 :886 –892Barr RG, Kramer MS, Boisjoly C, Vey-White L, Pless IB. Parental diary of infant cry and fuss behaviour. Arch Dis Child. 1988;63 :380 –387Wessel MA, Cobb SC, Jackson EB, et al. Paroxysmal fussing in infancy: sometimes called “colic. ” Pediatrics. 1954;14 :421 –434Fleiss JL. Statistical Methods for Rates and Proportions. 2nd ed. New York, NY: John Wiley & Sons; 1981Machtinger S, Moss R. Cow’s milk allergy in breast-fed infants: the role of allergen and maternal secretory IgA antibody. J Allergy Clin Immunol. 1986;77 :341 –347Jakobsson I, Lindberg T, Benediktsson B, Hansson BG. Dietary bovine ß-lactoglobulin is transferred to human milk. Acta Paediatr Scand. 1985;74 :342 –345Sorva R, Mäkinen-Kiljunen S, Juntunen-Backman K. ß-Lactoglobulin secretion in human milk varies widely after cow’s milk ingestion in mothers of infants with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol. 1994;93 :787 –792Kilshaw PJ, Cant AJ. The passage of maternal dietary proteins into human breast milk. Int Arch Allergy Appl Immunol. 1984;75 :8 –15Vadas P, Wai Y, Burks W, Perelman B. Detection of peanut allergens in breast milk of lactating women. JAMA. 2001;285 :1746 –1748Chirdo FG, Rumbo M, Anon MC, Fossati CA. Presence of high levels of non-degraded gliadin in breast milk from healthy mothers. Scand J Gastroenterol. 1998;33 :1186 –1192Järvinen KM, Mäkinen-Kiljunen S, Suomalainen H. Cow’s milk challenge through human milk evokes immune responses in infants with cow’s milk allergy. J Pediatr. 1999;135 :506 –512Harris MJ, Petts V, Penny R. Cow’s milk allergy as a cause of infantile colic: immunofluorescent studies on jejunal mucosa. Aust Paediatr J. 1977;13 :276 –281Lothe L, Lindberg T, Jakobsson I. Macromolecular absorption in infants with infantile colic. Acta Paediatr Scand. 1990;79 :417 –421Kalliomäki M, Laippala P, Korvenranta H, Kero P, Isolauri E. Extent of fussing and colic type crying preceding atopic disease. Arch Dis Child. 2001;84 :349 –350Iacono G, Carroccio A, Montalto G, et al. Severe infantile colic and food intolerance: a long-term prospective study. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 1991;12 :332 –335Lothe L, Ivarsson SA, Ekman R, Lindberg T. Motilin and infantile colic: a prospective study. Acta Paediatr Scand. 1990;79 :410 –416Liu J, Qiao X, Zian W, Hou X, Hayes J, Chen JD. Motilin in human milk and its elevated plasma concentration in lactating women. J Gastroenterol Hepatol. 2004;19 :1187 –1191[CrossRef][ISI][Medline]Shenassa ED, Brown MJ. Maternal smoking and infantile gastrointestinal dysregulation: the case of colic. Pediatrics. 2004;114 (4). Available at: www.pediatrics.org/cgi/content/full/114/4/e497Savino F, Brondello C, Cresi F, Oggero R, Silvestro L. Cimetropium bromide in the treatment of crisis in infantile colic. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2002;34 :417 –419Lucassen PL, Assendelft WJ, Gubbels JW, van Eijk JT, van Geldrop WJ, Neven AK. Effectiveness of treatments for infantile colic: systematic review. BMJ. 1998;316 :1563 –1569Mofidi S. Nutritional management of pediatric food hypersensitivity. Pediatrics. 2003;111 :1645 –1653.

1558498326641.jpg

 

Tanda dan Gejala Alergi Makanan

Dalam dekade terakhir ini ada kecenderungan kasus alergi pada anak meningkat. Masalah alergi akan menjadi masalah yang cukup dominan kesehatan  di masa yang akan datang. Penyakit infeksi tampaknya akan semakin berkurang karena semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan pencegahan penyakit infeksi. Kasus alergi pada anak belum banyak diperhatikan secara baik dan benar baik oleh para orang tua atau sebagian kalangan dokter sekalipun.

Penderita yang datang ke dokter spesialis anak atau Pusat Pelayanan Kesehatan Anak lainnya tampaknya semakin didominasi oleh kelainan alergi pada anak.  Ada kecenderungan bahwa diagnosis alergi ini belum banyak ditegakkan. Pada umumnya tanda dan gejala alergi itu sendiri masih banyak yang belum diungkapkan oleh para dokter. Sehingga penanganan penderita alergi  belum banyak dilakukan secara benar dan paripurna. Beberapa orang tua yang mempunyai anak alergi sering terlihat putus asa karena penyakit tersebut sering kambuh dan terulang. Padahal anak sudah berkali-kali minum obat bahkan antibiotika yang paling ampuh sekalipun. Ditandai dengan seringnya berpindah-pindah dokter anak karena sakit yang diderita anaknya tidak kunjung membaik.

     Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang pernah diketahui. Sebelumnya kita sering mendengar dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Alergi pada anak  sangat beresiko untuk mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

     Resiko dan tanda alergi dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan sejak dalam kandunganpun kadang-kadang sudah dapat terdeteksi. Alergi itu dapat dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan Pertumbuhan dan perkembangan Anak secara optimal.

wp-1559363520581..jpgDEFINISI ALERGI    

  • Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan system tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan.  Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasaranya adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV.
  • Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologik. Batasan lebih jelas dibuat oleh American Academy of Allergy and immunology,The National Institute of Allergy and infections disease  yaitu
  • Reaksi simpang makanan (Adverse food reactions) Istilah umum untuk reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap alergi makanan (hipersensitifitas) atau intoleransi makanan.
  • Allergy makanan (Food Allergy) Alergi makanan adalah reaksi imunologik yang menyimpang. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe 1.
  • Intoleransi Makanan (Food intolerance) Intoleransi makanan adalah reaksi makanan nonimunologik dan merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan karena kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh Salmonella, Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju, kafein pada kopi atau kelainan pada pejamu sendiri seperti defisiensi lactase, maltase  atau respon idiosinkrasi pada pejamu

Menurut cepat timbulnya reaksi maka alergi terhadap makanan dapat berupa reaksi cepat (Immediate Hipersensitivity/rapid onset reaction) dan reaksi lambat (delayed onset reaction).

  • Immediate Hipersensitivity atau reaksi cepat terjadi berdasarkan reaksi hipersensitifitas tipe I (Gell& Coombs). Terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan atau terhirup pajanan alergi.
  • Delayed Hipersensitivity atau reaksi lambat terdapat 3 kemungkinan, yaitu terjadi berdasarkan reaksi hipersensitifitas tipe I fase lambat, reaksi hipersensitifitas  tipe III dan reaksi hipersensitifitas tipe  IV.  Terjadi lebih dari 8 jam setelah terpapar allergen.
  • Reaksi tipe III dihubungkan dengan bukti ditemukannya IgG terhadap susu dalam sirkulasi anak yang alergi susu. Sedangkan reaksi tipe IV secara invitro terbukti dengan reaksi selular terhadap fraksi protein susu melalui uji stimulasi limfosit, uji tranformasi blast dan uji hambatan migrasi leukosit.
  • Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pengeluaran mediator  yang mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma bronchial, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya.

 

Tanda dan gejala Alergi makanan

Disamping tanda dan gejala alergi yang berkaitan dengan organ tubuh manusia, terdapat beberapa tanda umum pada penderita alergi. Menurut Richard Mackarness tahun 1992 berpendapat terdapat 5 gejala kunci pada alergi dewasa adalah :

  1. Berat badan yang berlebihan atau sebaliknya berat badan kurang.
  2. Kelelahan terus menerus dalam beberapa saat dan tidak lenyap walaupun telah beristirahat.
  3. Terjadi pembengkakan di sekitar mata, tangan, abdomen, pergelangan kaki.
  4. Denyut jantung yang cepat dan berdebar-debar, khususnya setelah makan
  5. Keringat yang berlebihan walupun tidak berolahraga.

Kriteria tersebut berlaku bila dokter tidak menemukan penyebab atau gangguan penyakit lain yang mengakibatkan gejala tersebut.

      Adapun manifestasi klinik alergi pada dewasa dapat dilihat pada tabel 1.  Bila terdapat 3 gejala atau lebih pada beberapa organ, tanpa diketahui penyebab pasti keluhan tersebut maka kecurigaan mengalami reaksi alergi semakin besar.

Tanda dan Gejala Alergi pada orang dewasa.

ORGAN/SISTEM TUBUH GEJALA DAN TANDA
1 Sistem Pernapasan
  • Batuk, pilek, bersin, sesak (astma), napas pendek, wheezing,
  • banyak lendir di saluran napas atas (mucus bronchial atau hipersekresi bronkus)
  • Rattling  dan vibration dada.
2 Sistem Pembuluh  Darah dan jantung
  • Palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka ke merahan),
  • nyeri dada,
  • colaps, pingsan, tekanan darah rendah,
  • denyut jantung meningkat, skipped beats, hot flashes, pallor;
  • tangan hangat, kedinginan, tingling,
  • redness or blueness of hands; faintness;
  • pseudo-heart attack pain ; nyeri dada depan,  tangan kiri, bahu, leher, rahang hingga menjalar di pergelangan tangan
3 Sistem Pencernaan
  • Nyeri perut, sering diare, kembung, muntah, sulit berak, sering buang angin (flatus), mulut berbau, kelaparan, haus, saliva (liur) meningkat,
  • Sariawan atau canker sores,
  • metallic taste in mouth, stinging tongue, nyeri gigi,
  • burping atau sendawa
  • retasting foods,
  • ulcer symptoms,
  • heartburn, indigestion, nausea, vomiting, gangguan mengunyah dan menelan, abdominal rumbling (perut berbunyi kerucuk2)
  • Nyeri dada sering dianggap pseudo-heart attack pain atau asma. Bila ringan gangguannya hanya sering menarik nafas dalam (sesak ringan), saat tidak tingan bisa nyeri dada atau sesak pada dada
  • konstipasi, Berak sulit, keras, berdarah, BAB tidak tiap hari, jangka panjang beresiko wasir atau ambein.
  • spastic colitis, “emotional colitis,” gall bladder colic, cramps, diarrhea, passing gas, timbul lendir atau darah dari rektum, anus gatal atau panas.
4 Kulit
  • Sering gatal, dermatitis, urticaria (biduran)
  • Urticaria papula
  • Ptiriasis alba (putih seperti panu)
  • bengkak di bibir, lebam biru (seperti bekas terbentur) bekas hitam seperti digigit nyamuk.
  • Kulit  kaki dan tangan kering tapi wajah berminyak.
  • Sering berkeringat.
  • Kulit sekitar kuku tangan dan kaki sering bengkak, terkelupas. pada keadaan lanjut bisa terjadi infeksi kuku bahkan bisa terjadi kuku terlepas.. pada panderita ini biasanya mudah terjadi ingrowing nail atau bengkak pada tepi kuku
5 Telinga Hidung Tenggorokan
  • Hidung : Hidung buntu, bersin, hidung gatal, pilek, post nasal drip, epitaksis, tidur mendengkur, mendengus
  • Tenggorok :  tenggorokan nyeri/kering/gatal,  palatum gatal, suara parau/serak, batuk pendek (berdehem),
  • Telinga : telinga terasa penuh/ bergemuruh / berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri telinga dengan gendang telinga kemerahan atau normal, gangguan pendengaran hilang timbul,  terdengar suara lebih keras, akumulasi cairan di telinga tengah, pusing, gangguan keseimbangan.  Pembesaran kelenjar di sekitar leher dan kepala belakang bawah
6 Sistem Saluran Kemih dan kelamin
  • Sering kencing, nyeri kencing;
  • Infeksi saluran kencing berulang karena pada ujung kelamin sering merah sehingga mudah terkontaminasi bakteri
  • tidak bisa mengontrol kandung kemih, bedwetting (sering kencing malam hari),
  • mengompol pada anak usia 5-10 tahun
  • vaginal discharge;
  • genitalia gatal/bengkak/kemerahan/nyeri;
  • nyeri bila berhubungan kelamin
7 Sistem Susunan Saraf Pusat
  • Sering sakit kepala, migrain, short lost memory (lupa nama orang, barang sesaat), floating (melayang), kepala terasa penuh atau membesar.’
  • Perilaku : impulsif, sering marah, mood swings, compulsively sleepy, drowsy, groggy, confused, dizzy, imbalance, staggering gait, slow, sluggish, dull, lack of concentration, depressed, crying; tense, angry, irritable, anxious, panic, stimulated, aggressive, overactive, frightened, restless, manic, hyperactive with learning disability, jittery, convulsions, head feels full or enlarged, floating sensation, poor memory, misreading or reading without comprehension, variation in penmanship legibility; hallucinations, delusions, paranoia, bicara gagap; claustrophobia, paralysis, catatonic state, perceptual dysfunction, typical symptoms of mental retardation.
  • Sensitive dan mudah marah, impulsif (bila tertawa atau bicara berlebihan), overaktif, deperesi, terasa kesepian merasa seperti terpisah dari orang lain, kadang lupa nomor, huruf dan nama sesaat, lemas (flu like symtomp)
8 Sistem Hormonal
  • Kulit berminyak (atas leher), kulit kering (bawah leher),
  • Keringat berbau
  • Keputihan
  • Nafsu makan meningkat sering lapar
  • endometriosis, Premenstrual Syndrome,
  • kemampuan sex menurun,
  • Chronic Fatique Symptom (sering lemas),
  • Gampang marah, Mood swing, sering terasa kesepian,
  • rambut rontok, alopecia
9 Jaringan otot dan tulang
  • Nyeri tulang, nyeri otot, nyeri sendi:
  • Fatigue, kelemahan otot, nyeri, bengkak, kemerahan local pada sendi; stiffness,
  • joint deformity;
  • arthritis soreness,
  • nyeri dada, otot bahu tegang, otot leher tegang, spastic umum
  • limping gait
  • gerak terbatas
10 Gigi dan mulut
  • Nyeri gigi atau gusi tanpa adanya infeksi pada gigi (biasanya berlangsung dalam 3 atau 7 hari).
  • Gusi sering berdarah.
  • Mulut berbaubibir kering dan mudah berdarah. lidah putih atau kotor atau berpulau (geographic tongue)
  • Sering sariawan. Diujung mulut, mulut dan bibir sering kering,
  • sindrom oral dermatitis.
  • Munncul benjolan di gusi seperti abses tetapi bukan infeksi (biasanya nyeri ringan dan cenderung tidak nyeri)
11 Mata
  • nyeri di dalam atau samping mata, mata berair,
  • sekresi air mata berlebihan, warna tampak lebih terang, kemerahan dan
  • edema palpebra (mata bengkak) dan gatal
  • Kadang mata kabur, diplopia, kadang kehilangan kemampuan visus sementara,
  • Beresiko mata silindris atau minus usia muda
  • hordeolum atau bintitan pada kelopak mata
  • Keratokonjungtivitis alergi
  • Konjungtivitis alergi

 Keluhan alergi sering sangat misterius, sering berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu. Kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan depannya diare selanjutrnya sulit makan hingga berminggu-minggu.  Bagaimana keluhan  yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). 

Reaksi alergi merupakan manifestasi klinis yang disebabkan karena proses alergi pada seseorang anak yang dapat menggganggu semua sistem tubuh dan organ tubuh anak.. Organ tubuh atau sistem tubuh tertentu mengalami gangguan atau serangan lebih banyak dari organ yang lain. Mengapa berbeda, hingga saat ini masih belum banyak terungkap. Gejala tergantung dari organ atau sistem tubuh , bisa terpengaruh bisa melemah. Jika organ sasarannya paru bisa menimbulkan batuk atau sesak, bila pada kulit terjadi dermatitis atopik. Tak terkecuali otakpun dapat terganggu oleh reaksi alergi. Apalagi organ terpeka pada manusia adalah otak. Sehingga dapat dibayangkan banyaknya gangguan yang bisa  terjadi.

Menurut penulis, dalam pengamatannya pada 732 anak penderita alergi pada usia bawah 5 tahun juga menemukan sedikit kesamaan pada gejala umum pada penderita alergi yaitu :

  1. Berat badan yang lebih (terutama di bawah umur 2 tahun) atau sebaliknya berat badan yang kurang.
  2. Keringat yang berlebihan.
  3. Telapak tangan, telapak kaki dan kepala sering teraba hangat (suhu di bawah 38).
  4. Anak tampak lebih aktif  atau banyak bergerak dibandingkan anak lainnya (di bawah usia 2 tahun).
  5. Pembesaran kelenjar limfe terutama di daerah sekitar belakang kepala bawah dan leher.

Kondisi tersebut harus tanpa disertai penyakit lain yang dapat menyebabkan manifestasi yang sama.

MANIFESTASI YANG SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI PADA BAYI BARU LAHIR HINGGA 1 TAHUN

ORGAN/SISTEM TUBUH GEJALA DAN TANDA
1 Sistem Pernapasan
  • Bayi lahir dengan sesak (Transient Tachipneu Of The newborn),
  • cold-like respiratory congestion (napas berbunyi/grok-grok).
2 Sistem Pencernaan
  • sering rewel/colic malam hari, hiccups (cegukan), sering “ngeden”, sering mulet, meteorismus,  muntah, sering flatus,
  • berak berwarna hitam atau hijau, berak timbul warna darah. Lidah sering berwarna putih. Hernia umbilikalis, scrotalis atau inguinalis.
3 Telinga Hidung Tenggorok
  • Sering bersin, Hidung berbunyi, kotoran hidung berlebihan. Cairan telinga berlebihan. Tangan sering menggaruk atau memegang telinga.
3 Sistem Pembuluh  Darah dan jantung
  • Palpitasi, flushing (muka ke merahan), nyeri dada, colaps, pingsan, tekanan darah rendah
4 Kulit
  • Erthema toksikum.
  • Dermatitis atopik, diapers dermatitis
  • urticaria, insect bite,  berkeringat berlebihan.
5 Sistem Saluran Kemih
  • Sering kencing, nyeri kencing (pipis sering bergigik bahu dan badanya), kencing ngeden
  • Infeksi saluran kencing berulang karena pada ujung kelamin sering merah sehingga mudah terkontaminasi bakteri
6 Sistem Susunan Saraf Pusat
  • Sensitif, sering kaget dengan rangsangan suara/cahaya, gemetar, bahkan hingga kejang.
7 Mata
  • Mata berair, mata gatal, kotoran mata berlebihan, bintil pada mata,
  • Obstruksi duktus lakrimalis (mata belekan atau sering berair satu atau dua sisi mata,
  • sekresi air mata berlebihan, warna tampak lebih terang, kemerahan
  • edema palpebra (mata bengkak) dan gatal

 

MANIFESTASI YANG SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI PADA ANAK USIA LEBIH 1 TAHUN

ORGAN/SISTEM TUBUH GEJALA DAN TANDA
1 Sistem Pernapasan
  • Batuk, pilek, bersin, mimisan, hidung buntu, sesak(astma), sering menggerak-gerakkan /mengusap-usap hidung
2 Sistem Pencernaan
  • Nyeri perut, sering buang air besar (>3 kali/perhari), gangguan  buang air besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak berwarna hitam atau hijau, berak ngeden), kembung, muntah, sulit berak, sering flatus, sariawan, mulut berbau.
3 Telinga Hidung Tenggorok
  • Hidung : Hidung buntu, bersin, hidung gatal, pilek, post nasal drip, epitaksis, salam alergi, rabbit nose, nasal creases
  • Tenggorok :  tenggorokan nyeri/kering/gatal,  palatum gatal, suara parau/serak, batuk pendek (berdehem)
  • Telinga : telinga terasa penuh/ bergemuruh/berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri telinga dengan gendang telinga kemerahan atau normal, gangguan pendengaran hilang timbul,  terdengar suara lebih keras, akumulasi cairan di telinga tengah, pusing, gangguan keseimbangan.
3 Sistem Pembuluh  Darah dan jantung
  • Palpitasi, flushing (muka ke merahan), nyeri dada, colaps, pingsan, tekanan darah rendah,
4 Kulit
  • Sering gatal, dermatitis, urticaria (biduran)
  • Urticaria papula
  • Ptiriasis alba (putih seperti panu)
  • bengkak di bibir, lebam biru (seperti bekas terbentur) bekas hitam seperti digigit nyamuk.
  • Kulit  kaki dan tangan kering tapi wajah berminyak.
  • Sering berkeringat.
  • Kulit sekitar kuku tangan dan kaki sering bengkak, terkelupas. pada keadaan lanjut bisa terjadi infeksi kuku bahkan bisa terjadi kuku terlepas.. pada panderita ini biasanya mudah terjadi ingrowing nail atau bengkak pada tepi kuku
5 Sistem Saluran Kemih dan kelamin
  • Nyeri, urgent atau sering kencing, nyeri kencing, bed wetting (ngompol); tidak mampu mengintrol kandung kemih;
  • mengeluarkan cairan di vagina; gatal, bengkak atau nyeri pada alat kelamin. Sering timbul infeksi saluran kencing
6 Sistem Susunan Saraf Pusat
  • GANGGUAN NEUROLOGI ANATOMIS FUNGSIONAL  : Sering sakit kepala, migrain, kejang gangguan tidur.
  • NEUROLOGI FUNGSIONAL Gangguan perilaku : emosi berlebihan, agresif, impulsive, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan koordinasi, hiperaktif hingga autisme.
6 Jaringan otot dan tulang
  • Nyeri tulang, nyeri otot, bengkak di leher
7 Mata
  • Mata berair, mata gatal, sering belekan, bintil pada mata. Allergic shiner (kulit di bawah mata tampak ke hitaman).

GANGGUAN SALURAN PERNAPASAN

  • Kasus alergi pada saluran napas pada anak tampaknya yang paling sering  ditemukan. Manifestasi klinisnya berupa  keluhan batuk, pilek, tanpa,atau dengan disertai sesak. Keluhan tersebut biasanya terjadi pada malam atau pagi hari. Biasanya keluhan tersebut lama sembuhnya  meskipun sudah diobati.
  • Resiko alergi pada saluran napas pada anak sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak lahir, yaitu pada awal kelahiran tampak sering bersin, mata sering belekan,  berair dan cold like respiratory congestion atau suara napas terdengar grok-grok. Hal ini sering dikira karena pembersihan jalan napas waktu lahir kurang bersih, padahal penyebabnya adalah  produksi cairan yang berlebihan di saluran napas (hipersekresi bronkus). Biasanya bunyi napas tersebut akan hilang setelah usia 3 bulan. Bila pada bayi terdapat tanda dan gejala tersebut maka orang tua harus waspada nantinya anak tersebut akan beresiko untuk alergi pada saluran napas terutama pada umur 6 hingga 3 tahun.
  • Anak yang sering batuk pilek karena alergi pada usia di bawah 2 tahun, biasanya akan semakin berkurang di atas 2 tahun. Beberapa anak keluhan alergi menghilang di atas usia 5 hingga 7 tahun.
  • Alergi pada pernapasan  sering ditimbulkan oleh adanya pencetus seperti hirupan, kontak dan makanan. Pada bayi dan anak makanan adalah sebagai pencetus yang utama sedangkan pada orang dewasa/tua pengaruh makanan semakin berkurang. Pencetus lainnya adalah hirupan seperti debu, serbuk sari bunga, bulu binatang, tungau (pada kasur kapuk).

TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN

  • Manifestasi klinis alergi pada Telinga Hidung Tenggorok berupa  rinitis, hidung gatal, bersin dan faringitis. Kadang dijumpai tenggorokan atau palatum terasa gatal dan post nasal drip. Bila keluhan sering terjadi dan berlanjut akan menyebabkan komplikasi  sinusitis, epistaksis, deviasi septum nasi, tonsillitis kronis atau faringitis kronis. 
  • Ciri khas pada anak biasanya dijumpai tanda hidung kelinci (rabbit nose) yaitu anak sering menggerak-gerakkan hidung, sering menggosok-gosok hidung (salam alergi), mata sering gatal, belekan dan sering berair, di bawah kelopak mata tampak tanda kehitaman (allergic shiner). Bila tidur sering ngorok, atau napas dengan mulut, kadang juga timbul suara serak atau parau. Sering timbul benjolan kelenjar di leher dan belakang kepala.

GANGGUAN SALURAN CERNA

  •  Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur system pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.
  • Karena etiologis utama adalah imaturitas saluran pencernaan maka  gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan.
  • Pada bayi baru lahir hingga usia 3 tahun biasanya ditandai  sering rewel, colic/menangis terus menerus tanpa sebab pada malam hari, hiccups (cegukan), sering “ngeden”, sering mulet, meteorismus,  muntah, sering flatus,  berak berwarna hitam atau hijau, berak timbul warna darah. Pada lidah sering ditemukan  berwarna putih. Gangguan buang air besar dapat berupa sulit buang air besar (tidak setiap hari)  atau malahan sering buang air besar .
  • Pada yang lebih besar dapat berupa nyeri perut berulang, sering buang air besar (>3 kali/perhari), gangguan  buang air besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak berwarna hitam atau hijau, berak ngeden) kembung, muntah, sulit berak, sering flatus, sariawan, mulut berbau dan lidah sering kotor (geographic tongue).
  • Gangguan pada saluran cerna biasanya sering disertai oleh gangguan kulit dan rhinitis. Biasanya keluhan gangguan saluran cerna bersamaan dengan gangguan kulit.

GANGGUAN MULUT DAN GIGI

  • Mulut adalah termasuk salah satu bagian dari sistem saluran cerna. Bila saluran cerna terganggu karena alergi makanan biasanya tampak juga gangguan pada organ tubuh di daerah mulut di antaranya lidah, gigi dan bagian di rongga mulut lainnya.
  •  Pada bayi lidah sering tampak kotor berwarna putih, gejala ini mirip gangguan moniliasis (like moniliasis symptoms)  sejenis jamur pada mulut. Bedanya pada alergi warna putih hanya tipis dan tidak terlalu tebal, namun pada moniliasis tampak lebih tebal. Bila gangguan tersebut karena jamur biasanya dengan obat tetes mulut jamur akan cepat membaik, namun bila karena alergi biasanya diberi obat jamur tetap tidak akan membaik dan tetap sering timbul. Bila karena alergi sebaiknya tidak perlu diberi obat jamur, namun cukup dibersihkan dengan kasa basah.
  • Pada anak yang lebih besar gangguan alergi bisa menimbulkan sariawan atau luka  (aphtous ulcer) pada lidah dan mulut yang sering berulang. Biasanya juga disertai lidah kotor mirip gambaran pulau-pulau (geographic tounge).
  • Gangguan lain adalah timbulnya nyeri gigi atau gusi yang bukan di sebabkan karena infeksi atau gigi berlubang. Gangguan ini biasanya sering dianggap sebagai impacted tooth (gigi yang tumbuhnya miring).

GANGGUAN KULIT

  • Tanda dan gejala alergi pada kulit biasanya sudah dapat di deteksi sejak lahir. Bayi yang baru lahir apabila sejak dalam kandungan sudah terpapar oleh pencetus alergi tampak terdapat bintil  dan bercak kemerahan dan kusam pada kulit dahi dan wajah, kadang disertai timbulnya beberapa papul warna putih di hidung. Apabila pencetus alergi tersebut berlangsung terus maka sering. Pada bayi sering timbul dermatitis atopi di pipi, daerah popok (dermatitis diapers)  dan telinga, kadang dijumpai dermatitis seboroikum  atau timbul kerak di kulit kepala. Sering juga timbul bintik kemerahan di sekitar mulut. Kadang timbul furunkel di kepala dan badan. Sering urticaria, miliaria, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman seperti bekas terbentur, bercak ke hitam seperti bekas digigit nyamuk.
  • Perbedaan lokasi alergi kulit sesuai dengan  usia tertentu. Pada bayi sering lokasi alergi sekitar wajah dan daerah popok, pada usia anak  lokasi tersebut biasanya berpindah pada darerah lengan dan tungkai. Sedangkan pada anak yang lebih besar atau usia dewasa lokasi alergi kulit biasanya pada pelipatan dalam antara lengan atas dan bawah atau pelipatan dalam antara tungkai atas dan bawah

 

GANGGUAN  SALURAN KEMIH DAN KELAMIN

  • Ternyata gangguan saluran kemih juga sering dialami pada penderita alergi, yaitu sering kencing, nyeri kencing, bed wetting (ngompol) dan terdapat kecenderungan infeksi saluran kemih. Pada alat kelamin terdapat keluhan gatal, nyeri atau bengkak.

GANGGUAN MATA

  • Mata juga merupakan bagian yang sensitif dari tubuh, sehingga organ tersebut juga sering mendapat gangguan karena alergi. Pada bayi baru lahir hingga bayi terjadi mata sering berair, timbul kotoran mata biasanya satu sisi dan kadangkala periorbita tampak edema ringan. Gangguan pada bayi ini biasanya bersamaan dengan kebiasaan  rinitis dan bersin sehingga berkaitan dengan  obstruksi duktus lakrimalis.
  • Pada anak yang lebih besar sering diserta mata gatal, allergic shiner berupa daerah kehitaman di bawah mata, penonjolan di garis mata bawah. Kadang timbul nyeri di dalam atau samping mata, palpebra edema, kemerahan, twitching serta  drooping.
  • Jenis penyakit alergi pada mata bisa  ringan sampai berat. Penyakit yang ringan adalah seasonal and perennial allergic conjunctivitis (SAC, PAC), sedangkan yang berat serta mengancam gangguan penglihatan adalah Kerato konjungtivitis vernalis (vernal keratoconjunctivitis /VKC) dan Keratokonjungtivitis atopi (atopic keratoconjunctivitis/AKC).
  • Storfer dkk tahun 2000, melaporkan  terdapat kecenderungan terjadi myopia 2 kali lebih besar, dalam pengamatan pada 2.720 anak penderita alergi dan asma.

GANGGUAN OTAK ATAU SISTEM SUSUNAN SARAF PUSAT

  • GANGGUAN SUSUNAN SARAF PUSAT                    
  • Gangguan susunan saraf pusat dapat menimbulkan gangguan neuro anatomi berupa sakit kepala, migraine atau vertigo. Sedangkan gangguan neuroanatomi fungsional dapat terjadi gangguan perilaku berupa gangguan emosi, motorik berlebihan, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan koordinasi, gangguan belajar dan sebagainya.
  • Trotzky tahun 1994, dan banyak peniliti lainnya mengemukakan bahwa keluhan sakit kepala, vertigo dan migraine dapat disebabkan karena  alergi makanan atau bahan makanan kimiawi  lainnya.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • UJI KULIT ALERGI Uji kulit dapat dilakukan dengan uji gores (scratch test), uji tusuk (prick test) dan uju suntik intradermal (intrademal test). Dapat dilakukan sebagai pemeriksaan penyaring dengan menggunkan ekstrak allergen yang ada di lingkungan penderita seperti debu, bulu kucing, susu, telur, coklat, kacang dan lain-lain. Uji kulit sangatlah terbatas nilai diagnostiknya, karena hanya bisa mendiagnosis alergi makanan tipe 1 (tipe cepat). Hasil uji kulit bukanlah hasil ahkir atau penentu diagnosis.
  • DARAH TEPI Hitung jenis leukosit dapat menyingkirkan kemungkinan penyakit infeksi dan bila eosinofil >5% atau 500/ml  condong ke alergi. Hitung leukosit < 5000/ml disertai neutropenia <30% seringkali ditemukan pada alergi makanan. emoglobin dan hematokrit sering rendah pada alergi susu sapi.
  • FOTO TORAKS Foto radiologist toraks dikerjakan untuk menyingkirkan kemungkinan benda asing, neoplasma atau tuberkulosis.
  • IgE TOTAL DAN SPESIFIK Pemeriksaan IgE total dengan PRIST (Paper radioimmunosorbent test) atau yang sepadan, berguna untuk menentukan status alergi penderita.. Harga normal bayi hingga usia 20 tahun adalah 100 u/ml, bila lebih dari 30 u/ml pada umumnya menunjukkan bahwa penderita adalah atopi atau mengalami infeksi parasit atau keadaan  depresi imun selular. Pemeriksaan IgE spesifik biasanya dilakukan dengan RAST (Radio Allergosorbent Test) IgE spesifik terhadap makanan tertentu dapat dipakai sebagai p[rediksi adnaya reaksi alergi tipe cepat atau lambat terhadap makanan tersebut.
  • PEMERIKSAAN PENUNJANG LAINNYA Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang lainnya yang jarang dikerjakan adalah pemeriksaan lemak tinja, immunoglobulin, antibody monoclonal dalam sirkulasi, pelepasan histamine oleh basofil (Basofil histamine release assay/BHR), kompleks imun dan imunitas seluler, Intestinal mast cell histamine release (IMCHR), provokasi intra gastral melalui endoskopi, biopsy usus setelah dan sebelum pemberian makanan.

DIAGNOSISwp-1465382852646.jpg

  • Diagnosis alergi makanan dibuat bbukan berdasarkan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan  eliminasi dan provokasi.
  • Jenis alergi makanan di tiap Negara berbeda tergantung usia dan kebiasaan makan makanan tertentu. Alergi makanan pada bayi di Amerika Serikat terbanyak disebabkan karena protein susu sapi, sereal, telur, ikan dan kedelai. Pada usia lebih tua coklat, kacang tanah lebih berperanan.

PROVOKASI MAKANAN SECARA BUTA (DOUBLE BLIND PLACEBO CONTROL FOOD CHALENGE = DBPCFC)

  • Berbagai klinik alergi berbeda dlam melakukan eliminasi dan provokasi. Cara tersering dipakai adalah provokasi makanan secara buta. Makanan penderita dieliminasi selama 2-3 minggu dalam diet sehari-hari. Setelah 3 minggu bila keluhannya menghilang maka dilanjutkan dengan provokasi makanan yang dicurigai.
  •  Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat. Disebut allergen bila dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala alergi.

Daftar Pustaka

  1. Reingardt D, Scgmidt E. Food Allergy.Newyork:Raven Press,1988.
  2. Walker-Smith JA, Ford RP, Phillips AD. The spectrum of gastrointestinal allergies to food. Ann Allergy 1984;53:629-36.

 

Referensi Pilihan Alergi Makanan Pada Anak

Reaksi makanan yang merugikan adalah istilah umum untuk setiap respons yang tidak diinginkan terhadap konsumsi makanan. Reaksi makanan yang merugikan dapat dibagi menjadi alergi makanan, yang dimediasi secara imunologis, dan semua reaksi lainnya, yang bersifat nonimunologis.

Alergi makanan terkait IgE mempengaruhi sekitar 3% dari populasi dan memiliki efek parah pada kehidupan sehari-hari pasien — manifestasi terjadi tidak hanya pada saluran pencernaan tetapi juga mempengaruhi sistem organ lainnya. Studi kohort kelahiran telah menunjukkan bahwa sensitisasi alergi terhadap alergen makanan berkembang sejak dini. Mekanisme patogenesis meliputi ikatan silang sel mast dan IgE yang terikat basofil dan pelepasan mediator inflamasi segera, serta inflamasi alergi fase akhir dan kronis, yang dihasilkan dari aktivasi sel T, basofil, dan eosinofil. Para peneliti telah mulai mengkarakterisasi fitur molekuler alergen makanan dan telah mengembangkan tes berbasis chip untuk beberapa alergen. Ini telah memberikan informasi tentang reaktivitas silang di antara berbagai sumber alergen makanan, mengidentifikasi alergen makanan penyebab penyakit, dan membantu kami memperkirakan tingkat keparahan dan jenis reaksi alergi pada pasien. Pemahamanan tentang struktur alergen makanan sebagai penyebab penyakit telah memungkinkan para peneliti untuk merekayasa vaksin sintetis dan rekombinan.

Reaksi makanan yang merugikan sering terjadi dan sering dianggap oleh pasien sebagai alergi. Namun, reaksi nonimunologis terhadap makanan lebih umum daripada alergi makanan sejati.

Alergi makanan disebabkan oleh respons imunologis yang abnormal setelah paparan (biasanya tertelan) terhadap makanan. Ada beberapa jenis alergi makanan, masing-masing dengan fitur klinis dan patofisiologis yang berbeda. Alergi makanan secara luas dikategorikan ke dalam proses mediated immunoglobulin E (IgE) atau non-IgE yang dimediasi. Beberapa kelainan, seperti dermatitis atopik atau kelainan gastrointestinal eosinofilik (EGID), memiliki karakteristik dari kedua mekanisme tersebut.

Ada beberapa mekanisme di mana orang mengalami reaksi negatif terhadap makanan yang juga disebut intoleransi makanan. Reaksi ini dapat dianggap beracun atau tidak beracun. Di antara reaksi tidak beracun, yang tidak dimediasi oleh kekebalan tubuh, seperti yang melibatkan enzim cacat (mis., amina vasoaktif) atau reaksi terhadap zat-zat tertentu (misalnya intoleransi laktosa), jauh lebih umum daripada reaksi yang dimediasi kekebalan. Namun demikian, reaksi yang dimediasi kekebalan mempengaruhi jutaan orang, bertanggung jawab atas morbiditas yang signifikan dan biaya perawatan kesehatan, dan dapat menyebabkan reaksi parah yang mengancam jiwa yang menyebabkan kematian. Alergi makanan didefinisikan oleh panel ahli dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular sebagai “efek kesehatan yang merugikan yang timbul dari respons imun spesifik yang terjadi secara berulang pada paparan untuk makanan tertentu. ”Respons ini pada dasarnya terdiri dari semua jenis reaksi yang dimediasi kekebalan, termasuk yang disebabkan oleh sistem imun adaptif dan bawaan

Referensi Pilihan Alergi Makanan Pada Anak

  1. Metcalfe D.D., Sampson H.A., Simon R.A. 3rd ed. Blackwell Science; Malden, MA: 2003. Food allergy: adverse reactions to foods and food additives.
  2. Bischoff S.C., Sellge G. 3rd ed. Blackwell Science; Malden, MA: 2003. Immune mechanisms in food-induced disease; pp. 14–37. (Food allergy: adverse reactions to foods and food additives).
  3. Sicherer S.H., Sampson H.A. Food allergy: epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment. J Allergy Clin Immunol. 2014;133:291–307.
  4. Longo G., Berti I., Burks A.W. IgE-mediated food allergy in children. Lancet. 2013;382:1656–1664.
  5. NIAID-Sponsored Expert Panel, Boyce JA, Assa’ad A, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: report of the NIAID-sponsored expert panel. J Allergy Clin Immunol 2010; 126:S1.
  6. Sampson HA, Aceves S, Bock SA, et al. Food allergy: a practice parameter update-2014. J Allergy Clin Immunol 2014; 134:1016.
  7. Burks AW, Tang M, Sicherer S, et al. ICON: food allergy. J Allergy Clin Immunol 2012; 129:906.
  8. Sehgal VN, Rege VL. An interrogative study of 158 urticaria patients. Ann Allergy 1973; 31:279.
  9. Champion RH, Roberts SO, Carpenter RG, Roger JH. Urticaria and angio-oedema. A review of 554 patients. Br J Dermatol 1969; 81:588.
  10. Jovanovic M, Oliwiecki S, Beck MH. Occupational contact urticaria from beef associated with hand eczema. Contact Dermatitis 1992; 27:188.
  11. Delgado J, Castillo R, Quiralte J, et al. Contact urticaria in a child from raw potato. Contact Dermatitis 1996; 35:179.
  12. Fisher AA. Contact urticaria from handling meats and fowl. Cutis 1982; 30:726, 729.
  13. Bock SA. Prospective appraisal of complaints of adverse reactions to foods in children during the first 3 years of life. Pediatrics 1987; 79:683.
  14. Bock SA, Atkins FM. Patterns of food hypersensitivity during sixteen years of double-blind, placebo-controlled food challenges. J Pediatr 1990; 117:561.
  15. Bock SA. Natural history of severe reactions to foods in young children. J Pediatr 1985; 107:676.
  16. Bruijnzeel-Koomen C, Ortolani C, Aas K, et al. Adverse reactions to food. European Academy of Allergology and Clinical Immunology Subcommittee. Allergy 1995; 50:623.
  17. Roberts G, Lack G. Relevance of inhalational exposure to food allergens. Curr Opin Allergy Clin Immunol 2003; 3:211.
  18. Sampson HA. Adverse reactions to foods. In: Middleton’s allergy: Principles and practice, 6th ed, Adkinson NF, Yunginger JW, Busse WW, et al (Eds), Mosby, St. Louis, MO 2003. p.1619.
  19. Crowe SE, Perdue MH. Gastrointestinal food hypersensitivity: basic mechanisms of pathophysiology. Gastroenterology 1992; 103:1075.
  20. Bush RK, Taylor SL, Hefle SL. Adverse reactions to food and drug additives. In: Middleton’s allergy: Principles and practice, 6th ed, Adkinson NF, Yunginger JW, Busse WW, et al (Eds), Mosby, St. Louis, MO 2003. p.1645.
  21. Sampson HA, Muñoz-Furlong A, Campbell RL, et al. Second symposium on the definition and management of anaphylaxis: summary report–Second National Institute of Allergy and Infectious Disease/Food Allergy and Anaphylaxis Network symposium. J Allergy Clin Immunol 2006; 117:391.
  22. Niggemann B, Beyer K. Factors augmenting allergic reactions. Allergy 2014; 69:1582.
  23. Lee SK, Kniker WT, Cook CD, Heiner DC. Cow’s milk-induced pulmonary disease in children. Adv Pediatr 1978; 25:39.
  24. Sicherer SH, Sampson HA. Food hypersensitivity and atopic dermatitis: pathophysiology, epidemiology, diagnosis, and management. J Allergy Clin Immunol 1999; 104:S114.
  25. Sampson HA, McCaskill CC. Food hypersensitivity and atopic dermatitis: evaluation of 113 patients. J Pediatr 1985; 107:669.
  26. Lucendo AJ, Molina-Infante J, Arias Á, et al. Guidelines on eosinophilic esophagitis: evidence-based statements and recommendations for diagnosis and management in children and adults. United European Gastroenterol J 2017; 5:335.
  27. Choi SJ, Jang YJ, Choe BH, et al. Eosinophilic gastritis with gastric outlet obstruction mimicking infantile hypertrophic pyloric stenosis. J Pediatr Gastroenterol Nutr 2014; 59:e9.
  28. Du Toit DF. Auriculo-temporal nerve. Clinicopathological relevance to facial-maxillary practice. SADJ 2003; 58:62.
  29. Nozawa A., Okamoto Y., Movérare R. Monitoring Ara h 1, 2 and 3-sIgE and sIgG4 antibodies in peanut allergic children receiving oral rush immunotherapy. Pediatr Allergy Immunol. 2014;25:323–328.
  30. Sato S., Yanagida N., Ogura K. Clinical studies in oral allergen-specific immunotherapy: differences among allergens. Int Arch Allergy Immunol. 2014;164:1–9.
  31. Prescott S.L., Bouygue G.R., Videky D. Avoidance or exposure to foods in prevention and treatment of food allergy? Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2010;10:258–266.
  32. Fisher H.R., du Toit G., Lack G. Specific oral tolerance induction in food allergic children: is oral desensitisation more effective than allergen avoidance?: a meta-analysis of published RCTs. Arch Dis Child. 2011;96:259–264.
  33. Bischoff S., Crowe S.E. Gastrointestinal food allergy: new insights into pathophysiology and clinical perspectives. Gastroenterology. 2005;128:1089–1113.
  34. Worm M., Eckermann O., Dölle S. Triggers and treatment of anaphylaxis: an analysis of 4,000 cases from Germany, Austria and Switzerland. Dtsch Arztebl Int. 2014;111:367–375
  35. Kaddu S, Smolle J, Komericki P, Kerl H. Auriculotemporal (Frey) syndrome in late childhood: an unusual variant presenting as gustatory flushing mimicking food allergy. Pediatr Dermatol 2000; 17:126.
  36. Johnson IJ, Birchall JP. Bilatral auriculotemporal syndrome in childhood. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 1995; 32:83.
  37. Reese I, Ballmer-Weber B, Beyer K, et al. Vorgehen Bei Verdacht auf Unvertraglichkeit gegenuber oral aufgenommenem Histamin. Allergo J 2012; 21:22.
  38. De Silva D., Geromi M., Panesar S.S. Acute and long-term management of food allergy: systematic review. Allergy. 2014;69:159–167.
  39. Boyce J.A., Assa’ad A., Burks A.W. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: summary of the NIAID-Sponsored Expert Panel Report. J Allergy Clin Immunol. 2010;126:1105–1118.
  40. Von Pirquet C. Allergie. Mnch Med Wochenschrift. 1906;30:1457–1458.
  41. Coombs R.R.A., Gell P.G.H. Classification of allergic reactions responsible for clinical hypersensitivity and disease. In: Gell P.G.H., Coombs R.R.A., Lachmann P.J., editors. 3rd ed. Blackwell Scientific Publications; Oxford: 1975. pp. 761–781. (Clin aspects immunol).
  42. Stapel S.O., Asero R., Ballmer-Weber B.K. Testing for IgG4 against foods is not recommended as a diagnostic tool: EAACI Task Force Report. Allergy. 2008;63:793–796. [
  43. Bock S.A. AAAAI support of the EAACI position paper on IgG4. J Allergy Clin Immunol. 2010;125:1410
  44. Schuppan D., Junker Y., Barisani D. Celiac disease: from pathogenesis to novel therapies. Gastroenterology. 2009;137:1912–1933. [PubMed] [Google Scholar]
  45. Caubet J.C., Ford L.S., Sickles L. Clinical features and resolution of food protein-induced enterocolitis syndrome: 10-year experience. J Allergy Clin Immunol. 2014;134:382–389. [PubMed] [Google Scholar]
  46. Junker Y., Zeissig S., Kim S.J. Wheat amylase trypsin inhibitors drive intestinal inflammation via activation of toll-like receptor 4. J Exp Med. 2012;209:2395–2408.
  47. Kurakevich E., Hennet T., Hausmann M. Milk oligosaccharide sialyl(α2,3)lactose activates intestinal CD11c+ cells through TLR4. Proc Natl Acad Sci U S A. 2013;110:17444–17449.
  48. Ruiter B., Shreffler W.G. Innate immunostimulatory properties of allergens and their relevance to food allergy. Semin Immunopathol. 2012;34:617–632.
  49. Catassi C., Bai J.C., Bonaz B. Non-celiac gluten sensitivity: the new frontier of gluten related disorders. Nutrients. 2013;5:3839–3853.
  50. Burney P.G., Potts J., Kummeling I. The prevalence and distribution of food sensitization in European adults. Allergy. 2014;69:365–371.
  51. Lack G. Update on risk factors for food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2012;129:1187–1197.
  52. Gray C.L., Levin M.E., Zar H.J. Food allergy in South African children with atopic dermatitis. Pediatr Allergy Immunol. 2014;25:572–579. [PubMed] [Google Scholar]
  53. Baumann S., Lorentz A. Obesity-a promoter of allergy? Int Arch Allergy Immunol. 2013;162:205–213.
  54. Marrs T., Bruce K.D., Logan K. Is there an association between microbial exposure and food allergy? A systematic review. Pediatr Allergy Immunol. 2013;24:311–320.
  55. Martino D., Joo J.E., Sexton-Oates A. Epigenome-wide association study reveals longitudinally stable DNA methylation differences in CD4+ T cells from children with IgE-mediated food allergy. Epigenetics. 2014;9:998–1006.
  56. Strachan D.P. Hay fever, hygiene, and household size. BMJ. 1989;299:1259–1260.
  57. Alm J.S., Swartz J., Björkstén B. An anthroposophic lifestyle and intestinal microflora in infancy. Pediatr Allergy Immunol. 2002;13:402–411.
  58. Thorburn A.N., Macia L., Mackay C.R. Diet, metabolites, and “Western-lifestyle” inflammatory diseases. Immunity. 2014;40:833–842.
  59. Valenta R. The future of antigen-specific immunotherapy of allergy. Nat Rev Immunol. 2002;2:446–453.
  60. Valenta R., Ball T., Focke M. Immunotherapy of allergic disease. Adv Immunol. 2004;82:105–153.
  61. Han Y., Kim J., Ahn K. Food allergy. Korean J Pediatr. 2012;55:153–158.
  62. Ortolani C., Ispano M., Pastorello E. The oral allergy syndrome. Ann Allergy. 1988;61:47–52.
  63. Ebner C., Birkner T., Valenta R. Common epitopes of birch pollen and apples-studies by Western and Northern blot. J Allergy Clin Immunol. 1991;88:588–594.
  64. Valenta R., Kraft D. Type 1 allergic reactions to plant-derived food: a consequence of primary sensitization to pollen allergens. J Allergy Clin Immunol. 1996;97:893–895.
  65. Bartnikas L.M., Gurish M.F., Burton O.T. Epicutaneous sensitization results in IgE-dependent intestinal mast cell expansion and food-induced anaphylaxis. J Allergy Clin Immunol. 2013;131:451–460
  66. Noti M., Kim B.S., Siracusa M.C. Exposure to food allergens through inflamed skin promotes intestinal food allergy through the thymic stromal lymphopoietin-basophil axis. J Allergy Clin Immunol. 2014;133:1390–1399
  67. Asero R., Antonicelli L. Does sensitization to foods in adults occur always in the gut? Int Arch Allergy Immunol. 2011;154:6–14.
  68. Breiteneder H., Mills E.N. Molecular properties of food allergens. J Allergy Clin Immunol. 2005;115:14–23.
  69. Astwood J.D., Leach J.N., Fuchs R.L. Stability of food allergens to digestion in vitro. Nat Biotechnol. 1996;14:1269–1273.
  70. Groschwitz K.R., Hogan S.P. Intestinal barrier function: molecular regulation and disease pathogenesis. J Allergy Clin Immunol. 2009;124:3–20.
  71. Irvine A.D., McLean W.H., Leung D.Y. Filaggrin mutations associated with skin and allergic diseases. N Engl J Med. 2011;365:1315–1327.
  72. Perrier C., Corthésy B. Gut permeability and food allergies. Clin Exp Allergy. 2011;41:20–28
  73. Johansen F.E., Pekna M., Norderhaug I.N. Absence of epithelial immunoglobulin A transport, with increased mucosal leakiness, in polymeric immunoglobulin receptor/secretory component-deficient mice. J Exp Med. 1999;190:915–922.
  74. Karlsson M.R., Johansen F.E., Kahu H. Hypersensitivity and oral tolerance in the absence of a secretory immune system. Allergy. 2010;65:561–570.
  75. Grammatikos A.P. The genetic and environmental basis of atopic diseases. Ann Med. 2008;40:482–495.
  76. Paul W.E. Interleukin 4/B cell stimulatory factor 1: one lymphokine, many functions. FASEB J. 1987;1:456–461.
  77. Romagnani S. The Th1/Th2 paradigm. Immunol Today. 1997;18:263–266.
  78. Vercelli D., Geha R.S. Regulation of isotype switching. Curr Opin Immunol. 1992;4:794–797.
  79. Henderson L.L., Larson J.B., Gleich G.J. Maximal rise in IgE antibody following ragweed pollination season. J Allergy Clin Immunol. 1975;55:10–15.
  80. Naclerio R.M., Adkinson N.F., Jr., Moylan B. Nasal provocation with allergen induces a secondary serum IgE antibody response. J Allergy Clin Immunol. 1997;100:505–510.
  81. Niederberger V., Ring J., Rakoski J. Antigens drive memory IgE responses in human allergy via the nasal mucosa. Int Arch Allergy Immunol. 2007;142:133–144.
  82. Mojtabavi N., Dekan G., Stingl G. Long-lived Th2 memory in experimental allergic asthma. J Immunol. 2002;169:4788–4796.
  83. Kulig M., Bergmann R., Klettke U. Natural course of sensitization to food and inhalant allergens during the first 6 years of life. J Allergy Clin Immunol. 1999;103:1173–1179.
  84. Katelaris C.H., Lee B.W., Potter P.C. Prevalence and diversity of allergic rhinitis in regions of the world beyond Europe and North America. Clin Exp Allergy. 2012;42:186–207
  85. Strobel S., Mowat A.M. Oral tolerance and allergic responses to food proteins. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2006;6:207–213.
  86. Chehade M., Mayer L. Oral tolerance and its relation to food hypersensitivities. J Allergy Clin Immunol. 2005;115:3–12.
  87. Zhou Y., Kawasaki H., Hsu S.C. Oral tolerance to food-induced systemic anaphylaxis mediated by the C-type lectin SIGNR1. Nat Med. 2010;16:1128–1133.
  88. Platzer B., Baker K., Vera M.P. Dendritic cell-bound IgE functions to restrain allergic inflammation at mucosal sites. Mucosal Immunol. 2014 http://dx.doi.org/10.1038/mi.2014.85 Epub ahead of print.
  89. Smith M., Tourigny M.R., Noakes P. Children with egg allergy have evidence of reduced neonatal CD4(+)CD25(+)CD127(lo/-) regulatory T cell function. J Allergy Clin Immunol. 2008;121:1460–1466.
  90. Karlsson M.R., Rugtveit J., Brandtzaeg P. Allergen-responsive CD4+CD25+ regulatory T cells in children who have outgrown cow’s milk allergy. J Exp Med. 2004;199:1679–1688.
  91. Brandtzaeg P. Food allergy: separating the science from the mythology. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. 2010;7:380–400.
  92. Egger C., Horak F., Vrtala S. Nasal application of rBet v 1 or non-IgE-reactive T-cell epitope-containing rBet v 1 fragments has different effects on systemic allergen-specific antibody responses. J Allergy Clin Immunol. 2010;126:1312–1315.
  93. Linhart B., Bigenzahn S., Hartl A. Costimulation blockade inhibits allergic sensitization but does not affect established allergy in a murine model of grass pollen allergy. J Immunol. 2007;178:3924–3931.
  94. Marth K., Wollmann E., Gallerano D. Persistence of IgE-associated allergy and allergen-specific IgE despite CD4+ T cell loss in AIDS. PLoS One. 2014;9:e97893.
  95. Lupinek C., Marth K., Niederberger V. Analysis of serum IgE reactivity profiles with microarrayed allergens indicates absence of de novo IgE sensitizations in adults. J Allergy Clin Immunol. 2012;130:1418–1420.
  96. Hatzler L., Panetta V., Lau S. Molecular spreading and predictive value of preclinical IgE response to Phleum pratense in children with hay fever. J Allergy Clin Immunol. 2012;130:894–901.
  97. Durham S.R., Gould H.J., Thienes C.P. Expression of epsilon germ-line gene transcripts and mRNA for the epsilon heavy chain of IgE in nasal B cells and the effects of topical corticosteroid. Eur J Immunol. 1997;27:2899–2906.
  98. Eckl-Dorna J., Pree I., Reisinger J. The majority of allergen-specific IgE in the blood of allergic patients does not originate from blood-derived B cells or plasma cells. Clin Exp Allergy. 2012;42:1347–1355.
  99. Burks A.W., Jones S.M., Wood R.A. Oral immunotherapy for treatment of egg allergy in children. N Engl J Med. 2012;367:233–243.
  100. Burton O.T., Darling A.R., Zhou J.S. Direct effects of IL-4 on mast cells drive their intestinal expansion and increase susceptibility to anaphylaxis in a murine model of food allergy. Mucosal Immunol. 2013;6:740–750.
  101. Charlesworth E.N., Hood A.F., Soter N.A. Cutaneous late-phase response to allergen. Mediator release and inflammatory cell infiltration. J Clin Invest. 1989;83:1519–1526. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
    84.
  102. .N., Kagey-Sobotka A., Schleimer R.P. Prednisone inhibits the appearance of inflammatory mediators and the influx of eosinophils and basophils associated with the cutaneous late-phase response to allergen. J Immunol. 1991;146:671–676.
  103. Rothenberg M.E. Biology and treatment of eosinophilic esophagitis. Gastroenterology. 2009;137:1238–1249
  104. Noti M., Wojno E.D., Kim B.S. Thymic stromal lymphopoietin-elicited basophil responses promote eosinophilic esophagitis. Nat Med. 2013;19:1005–1013.
  105. Chu D.K., Jimenez-Saiz R., Verschoor C.P. Indigenous enteric eosinophils control DCs to initiate a primary Th2 immune response in vivo. J Exp Med. 2014;211:1657–1672.
  106. Novak N., Bieber T., Kraft S. Immunoglobulin E-bearing antigen-presenting cells in atopic dermatitis. Curr Allergy Asthma Rep. 2004;4:263–269.
  107. van Neerven R.J., Knol E.F., Ejrnaes A. IgE-mediated allergen presentation and blocking antibodies: regulation of T-cell activation in allergy. Int Arch Allergy Immunol. 2006;141:119–129.
  108. Haselden B.M., Kay A.B., Larché M. Immunoglobulin E-independent major histocompatibility complex-restricted T cell peptide epitope-induced late asthmatic reactions. J Exp Med. 1999;189:1885–1894.
  109. Campana R., Mothes N., Rauter I. Non-IgE-mediated chronic allergic skin inflammation revealed with rBet v 1 fragments. J Allergy Clin Immunol. 2008;121:528–530.
  110. Reekers R., Beyer K., Niggemann B. The role of circulating food antigen-specific lymphocytes in food allergic children with atopic dermatitis. Br J Dermatol. 1996;135:935–941.
  111. Reisinger J., Triendl A., Küchler E. IFN-gamma-enhanced allergen penetration across respiratory epithelium augments allergic inflammation. J Allergy Clin Immunol. 2005;115:973–981.
  112. bner C., Hirschwehr R., Bauer L. Identification of allergens in fruits and vegetables: IgE cross-reactivities with the important birch pollen allergens Bet v 1 and Bet v 2 (birch profilin) J Allergy Clin Immunol. 1995;95:962–969.
  113. Kazemi-Shirazi L., Pauli G., Purohit A. Quantitative IgE inhibition experiments with purified recombinant allergens indicate pollen-derived allergens as the sensitizing agents responsible for many forms of plant food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2000;105:116–125.
  114. Kleine-Tebbe J., Vogel L., Crowell D.N. Severe oral allergy syndrome and anaphylactic reactions caused by a Bet v 1- related PR-10 protein in soybean, SAM22. J Allergy Clin Immunol. 2002;110:797–804.
  115. Bohle B., Zwölfer B., Heratizadeh A. Cooking birch pollen-related food: divergent consequences for IgE- and T cell-mediated reactivity in vitro and in vivo. J Allergy Clin Immunol. 2006;118:242–249.
  116. Reekers R., Busche M., Wittmann M. Birch pollen-related foods trigger atopic dermatitis in patients with specific cutaneous T-cell responses to birch pollen antigens. J Allergy Clin Immunol. 1999;104:466–472.
  117. Muraro A., Werfel T., Hoffmann-Sommergruber K. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69:1008–1025.
  118. Nermes M., Salminen S., Isolauri E. Is there a role for probiotics in the prevention or treatment of food allergy? Curr Allergy Asthma Rep. 2013;13:622–630.
  119. Bertelsen R.J., Brantsaeter A.L., Magnus M.C. Probiotic milk consumption in pregnancy and infancy and subsequent childhood allergic diseases. J Allergy Clin Immunol. 2014;133:165–171
  120. Osborn D.A., Sinn J.K. Prebiotics in infants for prevention of allergy. Cochrane Database Syst Rev. 2013;3:CD006474.
  121. Rowe A.H. Abdominal food allergy: its history, symptomatology, diagnosis and treatment. Cal West Med. 1928;29:317–322.
  122. Lieberman J.A., Sicherer S.H. Diagnosis of food allergy: epicutaneous skin tests, in vitro tests, and oral food challenge. Curr Allergy Asthma Rep. 2011;11:58–64.
  123. Gellerstedt M., Bengtsson U., Niggemann B. Methodological issues in the diagnostic work-up of food allergy: a real challenge. J Investig Allergol Clin Immunol. 2007;17:350–356.
  124. Kvenshagen B.K., Jacobsen M. The value of mucosal allergen challenge for the diagnosis of food allergy. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2013;13:268–272.
  125. Fiocchi A., Schünemann H.J., Brozek J. Diagnosis and rationale for action against cow’s milk allergy (DRACMA): a summary report. J Allergy Clin Immunol. 2010;126:1119–1128.
  126. Larché M., Akdis C.A., Valenta R. Immunological mechanisms of allergen-specific immunotherapy. Nat Rev Immunol. 2006;6:761–771.
  127. Edwards H.E. Oral desentitization in food allergy. Can Med Assoc J. 1940;43:234–236.
  128. Valenta R., Ferreira F., Focke-Tejkl M. From allergen genes to allergy vaccines. Annu Rev Immunol. 2010;28:211–241.
  129. Linhart B., Valenta R. Vaccines for allergy. Curr Opin Immunol. 2012;24:354–360
  130. Zuidmeer-Jongejan L., Fernandez-Rivas M., Poulsen L.K. FAST: towards safe and effective subcutaneous immunotherapy of persistent life-threatening food allergies. Clin Transl Allergy. 2012;2:5.
  131. Altmann F. The role of protein glycosylation in allergy. Int Arch Allergy Immunol. 2007;142:99–115.
  132. Uthoff H., Spenner A., Reckelkamm W. Critical role of preconceptional immunization for protective and nonpathological specific immunity in murine neonates. J Immunol. 2003;171:3485–3492.
  133. Flicker S., Gadermaier E., Madritsch C. Passive immunization with allergen-specific antibodies. Curr Top Microbiol Immunol. 2011;352:141–159.
  134. von Berg A., Filipiak-Pittroff B., Krämer U. Allergies in high-risk schoolchildren after early intervention with cow’s milk protein hydrolysates: 10-year results from the German Infant Nutritional Intervention (GINI) study. J Allergy Clin Immunol. 2013;131:1565–1573.
  135. Vriezinga S.L., Auricchio R., Bravi E. Randomized feeding intervention in infants at high risk for celiac disease. N Engl J Med. 2014;371:1304–1315.
  136. Du Toit G., Roberts G., Sayre P.H. Identifying infants at high risk of peanut allergy: the Learning Early About Peanut Allergy (LEAP) screening study. J Allergy Clin Immunol. 2013;131:135–143
  137. Flicker S., Linhart B., Wild C. Passive immunization with allergen-specific IgG antibodies for treatment and prevention of allergy. Immunobiology. 2013;218:884–891.
  138. Jones S.M., Burks A.W., Dupont C. State of the art on food allergen immunotherapy: oral, sublingual, and epicutaneous. J Allergy Clin Immunol. 2014;133:318–323.
  139. Szépfalusi Z., Bannert C., Ronceray L. Preventive sublingual immunotherapy in preschool children: first evidence for safety and pro-tolerogenic effects. Pediatr Allergy Immunol. 2014;25:788–795.
  140. Vickery B.P., Scurlock A.M., Kulis M. Sustained unresponsiveness to peanut in subjects who have completed peanut oral immunotherapy. J Allergy Clin Immunol. 2014;133:468–475.
  141. Rancitelli P., Hofmann A., Burks A.W. Vaccine approaches for food allergy. Curr Top Microbiol Immunol. 2011;352:55–69.\
  142. Fernández-Rivas M., Bolhaar S., González-Mancebo E. Apple allergy across Europe: how allergen sensitization profiles determine the clinical expression of allergies to plant foods. J Allergy Clin Immunol. 2006;118:481–488.
  143. Vereda A., van Hage M., Ahlstedt S. Peanut allergy: clinical and immunologic differences among patients from 3 different geographic regions. J Allergy Clin Immunol. 2011;127:603–607.
  144. Amoah A.S., Obeng B.B., Larbi I.A. Peanut-specific IgE antibodies in asymptomatic Ghanaian children possibly caused by carbohydrate determinant cross-reactivity. J Allergy Clin Immunol. 2013;132:639–647.
  145. Hochwallner H., Schulmeister U., Swoboda I. Microarray and allergenic activity assessment of milk allergens. Clin Exp Allergy. 2010;40:1809–1818.
  146. Constantin C., Quirce S., Poorafshar M. Micro-arrayed wheat seed and grass pollen allergens for component-resolved diagnosis. Allergy. 2009;64:1030–1037.
  147. Radauer C., Nandy A., Ferreira F. Update of the WHO/IUIS Allergen Nomenclature Database based on analysis of allergen sequences. Allergy. 2014;69:413–419.
  148. Valenta R. Biochemistry of allergens and recombinant allergens. In: Kay A.B., Kaplan A.P., Bousquet J., editors. 2nd ed. Wiley-Blackwell; Hoboken, NJ: 2008. pp. 895–912. (Allergy and allergic diseases. Volume 1).
  149. Breiteneder H, Mills C. Food allergens – molecular and immunological characteristics. In: Metcalfe DD, Sampson HA, Simon RA, et al, eds. Food allergy: adverse reactions to foods and food additives. 5th ed. Chichester, UK: John Wiley & Sons Ltd.
  150. Gieras A., Focke-Tejkl M., Ball T. Molecular determinants of allergen-induced effector cell degranulation. J Allergy Clin Immunol. 2007;119:384–390.
  151. Christensen L.H., Holm J., Lund G. Several distinct properties of the IgE repertoire determine effector cell degranulation in response to allergen challenge. J Allergy Clin Immunol. 2008;122:298–304.
  152. Dema B., Suzuki R., Rivera J. Rethinking the role of immunoglobulin E and its high-affinity receptor: new insights into allergy and beyond. Int Arch Allergy Immunol. 2014;164:271–279.
  153. MacGlashan D., Jr., Lichtenstein L.M., McKenzie-White J. Upregulation of FcepsilonRI on human basophils by IgE antibody is mediated by interaction of IgE with FcepsilonRI. J Allergy Clin Immunol. 1999;104:492–498.
  154. Yamaguchi M., Sayama K., Yano K. IgE enhances Fc epsilon receptor I expression and IgE-dependent release of histamine and lipid mediators from human umbilical cord blood-derived mast cells: synergistic effect of IL-4 and IgE on human mast cell Fc epsilon receptor I expression and mediator release. J Immunol. 1999;162:5455–5465
  155. Yunginger J.W., Ahlstedt S., Eggleston P.A. Quantitative IgE antibody assays in allergic diseases. J Allergy Clin Immunol. 2000;105:1077–1084.
  156. Ahrens R., Osterfeld H., Wu D. Intestinal mast cell levels control severity of oral antigen-induced anaphylaxis in mice. Am J Pathol. 2012;180:1535–1546.
  157. Reber L.L., Marichal T., Mukai K. Selective ablation of mast cells or basophils reduces peanut-induced anaphylaxis in mice. J Allergy Clin Immunol. 2013;132:881–888.
  158. Hagel A.F., deRossi T., Zopf Y. Mast cell tryptase levels in gut mucosa in patients with gastrointestinal symptoms caused by food allergy. Int Arch Allergy Immunol. 2013;160:350–355.
  159. Canonica G.W., Ansotegui I.J., Pawankar R. A WAO – ARIA – GA2LEN consensus document on molecular-based allergy diagnostics. World Allergy Organ J. 2013;6:17.
  160. Hiller R., Laffer S., Harwanegg C. Microarrayed allergen molecules: diagnostic gatekeepers for allergy treatment. FASEB J. 2002;16:414–416.
  161. Lupinek C., Wollmann E., Baar A. Advances in allergen-microarray technology for diagnosis and monitoring of allergy: the MeDALL allergen-chip. Methods. 2014;66:106–119.
  162. Valenta R., Campana R., Marth K. Allergen-specific immunotherapy: from therapeutic vaccines to prophylactic approaches. J Intern Med. 2012;272:144–157.
  163. Focke M., Swoboda I., Marth K. Developments in allergen-specific immunotherapy: from allergen extracts to allergy vaccines bypassing allergen-specific immunoglobulin E and T cell reactivity. Clin Exp Allergy. 2010;40:385–397.
  164. Valenta R., Linhart B., Swoboda I. Recombinant allergens for allergen-specific immunotherapy: 10 years anniversary of immunotherapy with recombinant allergens. Allergy. 2011;66:775–783.
  165. Larché M. T cell epitope-based allergy vaccines. Curr Top Microbiol Immunol. 2011;352:107–119.
  166. Linhart B., Valenta R. Mechanisms underlying allergy vaccination with recombinant hypoallergenic allergen derivatives. Vaccine. 2012;30:4328–4335.
  167. Focke-Tejkl M., Valenta R. Safety of engineered allergen-specific immunotherapy vaccines. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2012;12:555–563.
  168. Swoboda I., Bugajska-Schretter A., Linhart B. A recombinant hypoallergenic parvalbumin mutant for immunotherapy of IgE-mediated fish allergy. J Immunol. 2007;178:6290–6296.
  169. Swoboda I., Balic N., Klug C. A general strategy for the generation of hypoallergenic molecules for the immunotherapy of fish allergy. J Allergy Clin Immunol. 2013;132:979–981.
  170. Liu AH, Jaramillo R, Sicherer SH, Wood RA, Bock SA, Burks AW, et al. National prevalence and risk factors for food allergy and relationship to asthma: results from the National Health and Nutrition Examination Survey 2005–2006. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(4):798–806.e13.
  171. Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, Roberts G, Beyer K, Bindslev-Jensen C, et al. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69(8):1008–1025.
  172. Johansson SG, Hourihane JO, Bousquet J, Bruijnzeel-Koomen C, Dreborg S, Haahtela T, et al. A revised nomenclature for allergy. An EAACI position statement from the EAACI nomenclature task force. Allergy. 2001;56(9):813–824.

DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN

  • Chafen JJ, Newberry SJ, Riedl MA, Bravata DM, Maglione M, Suttorp MJ, et al. Diagnosing and managing common food allergies: a systematic review. JAMA. 2010;303(18):1848–1856
  • Simons FE, Ardusso LR, Bilo MB, Dimov V, Ebisawa M, El-Gamal YM, et al. 2012 Update: World Allergy Organization Guidelines for the assessment and management of anaphylaxis. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2012;12:389–399.
  • Simons FE, Ardusso LR, Bilo MB, El-Gamal YM, Ledford DK, Ring J, et al. World Allergy Organization anaphylaxis guidelines: summary. J Allergy Clin Immunol. 2011;127:587–593
  • Allen KJ, Koplin JJ. The epidemiology of IgE-mediated food allergy and anaphylaxis. Immunol Allergy Clin North Am. 2012;32:35–50.
  • Maleki SJ. Food processing: effects on allergenicity. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2004;4:241–245.
  • Nowak-Wegrzyn A, Bloom KA, Sicherer SH, Shreffler WG, Noone S, Wanich N, et al. Tolerance to extensively heated milk in children with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol. 2008;122:342–347
  • Commins SP, Platts-Mills TA. Anaphylaxis syndromes related to a new mammalian cross-reactive carbohydrate determinant. J Allergy Clin Immunol. 2009;124:652–657.
  • Commins SP, Platts-Mills TA. Allergenicity of carbohydrates and their role in anaphylactic events. Curr Allergy Asthma Rep. 2010;10:29–33.
  • Sampson HA, Albergo R. Comparison of results of skin tests, RAST, and double-blind, placebo-controlled food challenges in children with atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol. 1984;74:26–33.
  • Roberts G, Lack G. Diagnosing peanut allergy with skin prick and specific IgE testing. J Allergy Clin Immunol. 2005;115:1291–1296
  • Sporik R, Hill DJ, Hosking CS. Specificity of allergen skin testing in predicting positive open food challenges to milk, egg and peanut in children. Clin Exp Allergy. 2000;30:1540–1546.
  • Verstege A, Mehl A, Rolinck-Werninghaus C, Staden U, Nocon M, Beyer K, et al. The predictive value of the skin prick test weal size for the outcome of oral food challenges. Clin Exp Allergy. 2005;35(9):1220–1226
  • Peters RL, Gurrin LC, Allen KJ. The predictive value of skin prick testing for challenge-proven food allergy: a systematic review. Pediatr Allergy Immunol. 2012;23:347–352
  • Bernstein IL, Li JT, Bernstein DI, Hamilton R, Spector SL, Tan R, et al. Allergy diagnostic testing: an updated practice parameter. Ann Allergy Asthma Immunol. 2008;100(3 suppl 3):S1–S148
  • Bock SA, Lee WY, Remigio L, Holst A, May CD. Appraisal of skin tests with food extracts for diagnosis of food hypersensitivity. Clin Allergy. 1978;8:559–564.
  • Spergel JM, Brown-Whitehorn TF, Cianferoni A, Shuker M, Wang ML, Verma R, et al. Identification of causative foods in children with eosinophilic esophagitis treated with an elimination diet. J Allergy Clin Immunol. 2012;130:461–467.
  • NIAID-Sponsored Expert Panel. Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: report of the NIAID-sponsored expert panel. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(6 suppl):S1–S58.
  • Fleischer DM, Burks AW. Pitfalls in food allergy diagnosis: serum IgE testing. J Pediatr. 2015;166(1):8–10.
  • Fleischer DM, Bock SA, Spears GC, Wilson CG, Miyazawa NK, Gleason MC, et al. Oral food challenges in children with a diagnosis of food allergy. J Pediatr. 2011;158:578–583.
  • Boyano Martinez T, Garcia-Ara C, Diaz-Pena JM, Munoz FM, Garcia Sanchez G, Esteban MM. Validity of specific IgE antibodies in children with egg allergy. Clin Exp Allergy. 2001;31:1464–1469.
  • Garcia-Ara C, Boyano-Martinez T, Diaz-Pena JM, Martin-Munoz F, Reche-Frutos M, Martin-Esteban M. Specific IgE levels in the diagnosis of immediate hypersensitivity to cows’ milk protein in the infant. J Allergy Clin Immunol. 2001;107:185–190.
  • Garcia-Ara MC, Boyano-Martinez MT, Diaz-Pena JM, Martin-Munoz MF, Martin-Esteban M. Cow’s milk-specific immunoglobulin E levels as predictors of clinical reactivity in the follow-up of the cow’s milk allergy infants. Clin Exp Allergy. 2004;34:866–870.
  • Perry TT, Matsui EC, Kay Conover-Walker M, Wood RA. The relationship of allergen-specific IgE levels and oral food challenge outcome. J Allergy Clin Immunol. 2004;114:144–149.
  • Sampson HA. Utility of food-specific IgE concentrations in predicting symptomatic food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2001;107:891–896.
  • Sampson HA, Ho DG. Relationship between food-specific IgE concentrations and the risk of positive food challenges in children and adolescents. J Allergy Clin Immunol. 1997;100:444–451
  • Boyano-Martinez T, Garcia-Ara C, Diaz-Pena JM, Martin-Esteban M. Prediction of tolerance on the basis of quantification of egg white-specific IgE antibodies in children with egg allergy. J Allergy Clin Immunol. 2002;110:304–309
  • Celik-Bilgili S, Mehl A, Verstege A, Staden U, Nocon M, Beyer K, et al. The predictive value of specific immunoglobulin E levels in serum for the outcome of oral food challenges. Clin Exp Allergy. 2005;35:268–273
  • Ballmer-Weber BK, Fernandez-Rivas M, Beyer K, Defernez M, Sperrin M, Mackie AR, et al. How much is too much? Threshold dose distributions for 5 food allergens. J Allergy Clin Immunol. 2015;135(4):964–971
  • Patel BY, Volcheck GW. Food Allergy: Common Causes, Diagnosis, and Treatment. Mayo Clin Proc. 2015;90(10):1411–1419.
  • Saarinen KM, Pelkonen AS, Mäkelä MJ, Savilahti E. Clinical course and prognosis of cow’s milk allergy are dependent on milk-specific IgE status. J Allergy Clin Immunol. 2005;116(4):869–875
  • Santos AF, Douiri A, Bécares N, Wu SY, Stephens A, Radulovic S, et al. Basophil activation test discriminates between allergy and tolerance in peanut-sensitized children. J Allergy Clin Immunol. 2014;134(3):645–652
  • Valenta R, Lidholm J, Niederberger V, Hayek B, Kraft D, Gronlund H. The recombinant allergen-based concept of component-resolved diagnostics and immunotherapy (CRD and CRIT) Clin Exp Allergy. 1999;29:896–904
  • Dang TD, Tang M, Choo S, Licciardi PV, Koplin JJ, Martin PE, et al. Increasing the accuracy of peanut allergy diagnosis by using Ara h 2. J Allergy Clin Immunol. 2012;129:1056–1063
  • Nicolaou N, Poorafshar M, Murray C, Simpson A, Winell H, Kerry G, et al. Allergy or tolerance in children sensitized to peanut: prevalence and differentiation using component-resolved diagnostics. J Allergy Clin Immunol. 2010;125:191–197.
  • Lieberman P, Glaumann S, Batelson S, Borres MP, Sampson HA, Nilsson C. The utility of peanut components in the diagnosis of IgE-mediated peanut allergy among distinct populations. J Allergy Clin Immunol Pract. 2013;1:75–82.
  • Asarnoj A, Moverare R, Ostblom E, Poorafshar M, Lilja G, Hedlin G, et al. IgE to peanut allergen components: relation to peanut symptoms and pollen sensitization in 8-year-olds. Allergy. 2010;65:1189–1195.
  • Masthoff LJ, Mattsson L, Zuidmeer-Jongejan L, Lidholm J, Andersson K, Akkerdaas JH, et al. Sensitization to Cor a 9 and Cor a 14 is highly specific for a hazelnut allergy with objective symptoms in Dutch children and adults. J Allergy Clin Immunol. 2013;132:393–399.
  • Vereda A, van Hage M, Ahlstedt S, Ibañez MD, Cuesta-Herranz J, van Odijk J, et al. Peanut allergy: Clinical and immunologic differences among patients from 3 different geographic regions. J Allergy Clin Immunol. 2011;127:603–607.
  • Ott H, Baron JM, Heise R, Ocklenburg C, Stanzel S, Merk HF, et al. Clinical usefulness of microarray-based IgE detection in children with suspected food allergy. Allergy. 2008;63:1521–1528.
  • Nicolaou N, Custovic A. Molecular diagnosis of peanut and legume allergy. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2011;11:222–228.
  • Sicherer SH. Food allergy: when and how to perform oral food challenges. Pediatr Allergy Immunol. 1999;10:226–234.
  • David TJ. Anaphylactic shock during elimination diets for severe atopic eczema. Arch Dis Child. 1984;59:983–986.
  • Sampson HA, Gerth van Wijk R, Bindslev-Jensen C, Sicherer S, Teuber SS, Burks AW, et al. Standardizing double-blind, placebo-controlled oral food challenges: American Academy of Allergy, Asthma & Immunology-European Academy of Allergy and Clinical Immunology PRACTALL consensus report. J Allergy Clin Immunol. 2012;130:1260–1274. [PubMed] [Google Scholar]

Manifestasi Klinis dan Penanganan Intoleransi Protein Pada Bayi dan Anak

Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto

wp-1559363691580..jpgBanyak protein makanan dapat bertindak sebagai antigen pada manusia. Protein susu sapi paling sering terlibat sebagai penyebab intoleransi makanan selama masa bayi. Protein kedelai menempati urutan kedua sebagai antigen pada bulan-bulan pertama kehidupan, terutama pada bayi dengan intoleransi susu sapi primer yang ditempatkan pada formula kedelai. Sejak usia sekolah, intoleransi protein telur menjadi lebih umum.

Beberapa reaksi klinis terhadap protein makanan telah dilaporkan pada anak-anak dan orang dewasa. Hanya beberapa di antaranya yang memiliki patogenesis yang dimediasi alergi imunoglobulin E (IgE) yang jelas. Untuk alasan ini, istilah “intoleransi protein makanan” biasanya lebih disukai daripada “alergi protein makanan”, untuk memasukkan semua reaksi spesifik yang menyinggung protein makanan, terlepas dari patogenesisnya.  Pada anak-anak, gejala GI umumnya paling umum, dengan frekuensi berkisar antara 50-80%, diikuti oleh gejala kulit (20-40%), dan gejala pernapasan (4-25%).

Patofisiologi

  • Alergen makanan utama adalah glikoprotein yang larut dalam air (berat molekul [MW], 10.000-60.000) yang tahan terhadap panas, asam, dan enzim. Banyak alergen makanan telah diidentifikasi, tetapi susu, telur, kacang tanah, kacang pohon, ikan, kedelai, gandum, dan kerang-kerangan krustasea merupakan 90% dari reaksi signifikan.  Semua makanan ini mengandung protein dengan berat molekul kecil, banyak epitop, kelarutan dalam air, residu glikosilasi, dan relatif tahan terhadap panas dan pencernaan.
  • Susu sapi mengandung lebih dari 20 fraksi protein. Dalam dadih, 4 kasein (yaitu, S1, S2, S3, S4) dapat diidentifikasi yang menyumbang sekitar 80% dari protein susu. 20% protein yang tersisa, pada dasarnya protein globular (misalnya, laktalbumin, laktoglobulin, serum albumin sapi), terkandung dalam whey. Kasein sering dianggap imunogenik buruk karena strukturnya yang fleksibel dan tidak padat. Secara historis, laktoglobulin telah diterima sebagai alergen utama dalam intoleransi protein susu sapi. Namun, polisensitisasi terhadap beberapa protein diamati pada sekitar 75% pasien yang alergi terhadap protein susu sapi.
  • Protein yang paling sering dan paling intensif dikenali oleh IgE spesifik adalah laktoglobulin dan fraksi kasein. Namun, semua protein susu tampaknya merupakan alergen yang potensial, bahkan yang ada dalam susu dalam jumlah kecil (misalnya, serum sapi albumin, imunoglobulin, laktoferin). Pada setiap alergen, banyak epitop dapat dikenali dari keberadaan IgE spesifik. Protein susu sapi yang diperkenalkan dengan diet ibu dapat ditransfer ke ASI. Banyak penelitian telah berfokus pada keberadaan laktoglobulin sapi di seluruh laktasi manusia. Saluran GI permeabel untuk antigen utuh. Penyerapan antigen adalah proses endositosis yang melibatkan lisosom intraseluler.
  • Protein susu sapi yang diperkenalkan dengan diet ibu dapat ditransfer ke ASI. Banyak penelitian telah berfokus pada keberadaan laktoglobulin sapi di seluruh laktasi manusia.
  • Penelitian telah menunjukkan bahwa alergen makanan diangkut dalam jumlah besar melintasi epitel dengan mengikat ke permukaan sel IgE / CD23, yang membuka gerbang bagi alergen diet utuh untuk transcytose melintasi sel-sel epitel yang melindungi protein antigenik dari degradasi lisosomal pada enterosit.
  • Beberapa antigen dapat bergerak melalui celah antar sel; Namun, penetrasi antigen melalui penghalang mukosa biasanya tidak terkait dengan gejala klinis. Dalam keadaan normal, paparan antigen makanan melalui saluran GI menghasilkan respons imunoglobulin A (IgA) lokal dan dalam aktivasi limfosit CD8 + penekan yang berada di jaringan limfoid terkait usus (toleransi oral). Penyerapan antigen telah ditemukan meningkat pada anak-anak dengan gastroenteritis dan dengan alergi susu sapi.
  • Sejumlah penelitian telah melibatkan integritas kulit dan penghalang mukosa dalam melindungi dari sensitisasi. Pada beberapa anak yang secara genetik rentan, atau karena alasan lain yang belum diketahui, toleransi oral tidak berkembang, dan mekanisme imunologis dan inflamasi yang berbeda dapat diperoleh. Apakah mekanisme nonimunologis dapat berperan dalam pengembangan intoleransi spesifik terhadap protein makanan masih diperdebatkan.
  • Beberapa bukti menunjukkan bahwa penurunan paparan mikroba selama masa bayi dan anak usia dini menghasilkan pematangan sistem imun pasca kelahiran yang lebih lambat melalui pengurangan jumlah sel Tregregulator dan kemungkinan keterlambatan perkembangan untuk keseimbangan optimal antara TH1 dan TH2. kekebalan, yang sangat penting untuk ekspresi klinis alergi dan asma (hipotesis kebersihan). Variasi genetik dalam reseptor untuk produk bakteri kemungkinan terkait dengan sensitisasi alergi. Di sisi lain, infeksi usus dapat meningkatkan permeabilitas paracellular, memungkinkan penyerapan protein makanan tanpa pemrosesan epitel. Sebagai akibatnya, paparan infeksi dapat menjadi faktor penting dalam patogenesis alergi protein makanan.
  • Intoleransi protein makanan dapat dimediasi IgE atau non-IgE. Produksi lokal dan distribusi sistemik IgE reaginic spesifik memainkan peran penting dalam reaksi yang dimediasi IgE terhadap protein makanan.
  • Studi morfologis telah menunjukkan peran limfosit T GI (yaitu, limfosit intraepitel) dalam patogenesis alergi makanan GI. Peran patogenetik eosinofil pada penyakit GI eosinofilik yang diinduksi makanan belum didefinisikan. Bukti luas menggambarkan terjadinya antibodi protein makanan immunoglobulin G (IgG). Namun, peran aktual mereka dalam patogenesis gejala yang relevan secara klinis, paling tidak, diragukan.
  • Faktor yang berpotensi penting dalam respons sistem kekebalan terhadap antigen makanan tertentu adalah mikrobiota. Pada manusia, perbedaan flora usus anak alergi dan non alergi telah diamati.

Reaksi yang tidak dimediasi imun atau non Immune-mediated (bukan alergi makanan)

Reaksi yang tidak dimediasi kekebalan meliputi yang berikut:

  • Gangguan proses pencernaan-penyerapan
  • Malabsorpsi glukosa-galaktosa
  • Kekurangan laktase
  • Defisiensi sukrase-isomaltase
  • Kekurangan enterokinase
  • Reaksi farmakologis
  • Tiram dalam keju tua
  • Histamin (misalnya, dalam stroberi, kafein)
  • Reaksi idiosinkratik
  • Aditif makanan
  • Pewarna makanan
  • Kesalahan metabolisme bawaan
  • Fenilketonuria
  • Intoleransi fruktosa herediter
  • Tirosinemia
  • Galaktosemia
  • Intoleransi protein lisinurik

Reaksi yang dimediasi kekebalan atau Immune-mediated (Alergi Makanan)
Reaksi yang dimediasi kekebalan (alergi makanan) meliputi:

  • Dimediasi IgE (hasil radioallergosorbent positif atau hasil tes skin prick)
  • Sindrom alergi oral
  • Hipersensitivitas GI segera
  • Kadang-kadang dimediasi IgE
  • Esofagitis eosinofilik
  • Gastritis eosinofilik
  • Gastroenteritis eosinofilik

Non-IgE-mediated – Entitas yang diinduksi protein makanan (misalnya enterokolitis, enteropati, proktokolitis, konstipasi kronis)

Epidemiologi

  • Amerika Serikat. Dalam survei nasional alergi anak, tingkat prevalensi alergi susu sapi pada 1997-1999 dilaporkan 3,4%, sedangkan tingkat prevalensi alergi protein kedelai adalah 1,1%. Selama periode 10 tahun 1997-2006, tingkat alergi makanan meningkat secara signifikan di antara anak-anak usia prasekolah dan yang lebih tua. Tren ini berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Menurut data dari Pusat Statistik Kesehatan Nasional, prevalensi alergi makanan meningkat menjadi 5,1% pada 2009-2011 dan meningkat dengan meningkatnya tingkat pendapatan.
  • Insidensi alergi makanan pada anak-anak telah diperkirakan bervariasi pada 0,3-8%, dan insidensinya menurun dengan bertambahnya usia. Alergi makanan mempengaruhi 6-8% bayi yang berusia kurang dari 2 tahun. Dalam sebuah kohort dari 1.749 bayi baru lahir dari kotamadya Odense di Denmark yang secara prospektif dipantau untuk pengembangan intoleransi protein susu sapi selama tahun pertama kehidupan, kejadian 1 tahun sebesar 2,2% dilaporkan.
  • Berbagai insiden intoleransi spesifik telah dilaporkan di berbagai negara. Apakah perbedaan ini disebabkan oleh faktor genetik atau budaya tidak jelas.
  • Untuk mengevaluasi prevalensi alergi makanan di antara berbagai negara di Eropa, proyek EuroPrevall diluncurkan pada Juni 2005. Selanjutnya, proyek EuroPrevall-INCO telah dikembangkan untuk mengevaluasi prevalensi alergi makanan di Cina, India, dan Rusia.
  • Kematian / Morbiditas. Sebagian besar kasus intoleransi protein makanan dapat diatasi dengan manajemen diet. Beberapa kasus reaksi anafilaksis yang parah terhadap protein makanan telah dilaporkan. Sebuah laporan dari Inggris menunjukkan kejadian 0,22 kasus parah per 100.000 anak per tahun (15% kasus fatal atau hampir fatal).
  • Ras, Tidak ada kecenderungan ras telah diamati.
  • Jenis Kelamin.  Tidak ada kecenderungan jenis kelamin yang diketahui, tetapi laki-laki sedikit lebih sering terkena gastroenteritis eosinofilik.
  • Usia. Intoleransi protein makanan gastrointestinal terutama merupakan masalah pada masa bayi dan anak usia dini. Alergi atau intoleransi susu sapi biasanya berkembang pada awal masa bayi. Pada sebagian besar kasus, timbulnya gejala terkait erat dengan waktu pengenalan susu formula berdasarkan susu sapi.
  • Dalam sebuah studi prospektif dari Norwegia, prevalensi dermatitis atopik dalam 2 tahun pertama adalah 18,6% tanpa perbedaan yang signifikan antara anak-anak prematur dan anak cukup bulan. Reaksi yang merugikan terhadap makanan ditemukan pada 15,8% (prevalensi serupa pada anak prematur dan aterm). Cara persalinan tidak mempengaruhi prevalensi dermatitis atopik.
  • Sebuah studi prospektif yang tidak dipilih menunjukkan bahwa 42% bayi yang mengalami intoleransi protein susu sapi menunjukkan gejala dalam 7 hari (70% dalam 4 minggu) setelah pengenalan susu sapi.  Intoleransi protein susu sapi telah didiagnosis pada 1,9-2,8% populasi umum bayi berusia 2 tahun atau lebih muda di berbagai negara di Eropa utara, tetapi kejadiannya turun menjadi sekitar 0,3% pada anak-anak yang lebih tua dari 3 tahun.
  • Intoleransi protein umumnya diyakini terjadi pada usia 5 tahun, ketika sistem kekebalan mukosa bayi matang dan anak menjadi toleran secara imunologis terhadap protein susu; pada sebagian besar anak-anak yang terkena, gejala sembuh pada usia 1-2 tahun. Namun, intoleransi protein susu sapi dapat bertahan atau mungkin awalnya bermanifestasi pada anak yang lebih tua, menunjukkan ciri endoskopi dan fitur histopatologis; kadang kala terjadi pada orang dewasa.
  • Studi menunjukkan peningkatan persistensi alergi makanan (meskipun kemungkinan dipengaruhi oleh bias seleksi); penjelasan yang mungkin telah difokuskan pada intoleransi kacang.

wp-11..jpg

Manifestasi klinis

  • Riwayat. Sejumlah gejala dapat menjadi konsekuensi dari intoleransi protein makanan. Manifestasi GI adalah presentasi klinis yang paling umum, biasanya tanpa keterlibatan sistem organ lainnya. Sebagian besar kasus intoleransi protein makanan pada populasi anak terjadi pada bulan-bulan pertama kehidupan sebagai konsekuensi dari intoleransi protein susu sapi.
  • Riwayat khasnya adalah bayi berusia di bawah 6 bulan yang diberi makan selama beberapa minggu dengan susu formula dan yang kemudian mengalami diare dan, pada akhirnya, muntah. Dalam kasus sindrom enterocolitis yang umum, bayi dapat mengalami dehidrasi dan menurunkan berat badan. Pada enteropati susu sapi yang jarang terjadi, sindrom malabsorpsi berkembang, dengan kegagalan pertumbuhan dan hipoalbuminemia. Di sisi lain, sindrom proctocolitis yang diinduksi makanan umum ditandai dengan diare pada bayi yang sehat tanpa penurunan berat badan.
  • Reaksi alergi makanan dapat dibagi menjadi reaksi onset cepat, yang terjadi dalam satu jam setelah konsumsi makanan dan biasanya diperantarai imunoglobulin E (IgE) (misalnya, ruam kulit, urtikaria, angioedema, mengi, anafilaksis), dan reaksi onset lambat , yang membutuhkan waktu berjam-jam atau berhari-hari untuk berkembang dan biasanya tidak dimediasi oleh IgE.

Gejala intoleransi protein makanan yang paling umum dan spesifik adalah sebagai berikut:

Gejala Gastrointestinal atau saluran cerna.

  • Sindrom alergi oral: Sindrom alergi oral adalah bentuk alergi kontak yang dimediasi IgE yang hampir secara eksklusif terbatas pada orofaring dan paling sering dikaitkan dengan konsumsi berbagai buah dan sayuran segar. Sindrom alergi oral terutama menyerang orang dewasa yang memiliki alergi serbuk sari (terutama ragweed, birch, dan mugwort) dan disebabkan oleh reaktivitas silang antibodi IgE serbuk sari dengan protein di beberapa buah dan sayuran segar. Gejalanya meliputi gatal; pembakaran; dan angioedema pada bibir, lidah, langit-langit, dan tenggorokan. Gambaran klinis biasanya berumur pendek, tetapi gejalanya mungkin lebih menonjol setelah musim ragweed.
  • Hipersensitivitas GI segera: GI anafilaksis didefinisikan sebagai reaksi GI yang dimediasi IgE yang sering menyertai manifestasi alergi pada organ lain, seperti kulit atau paru-paru. Sampel biopsi menunjukkan penurunan yang signifikan dalam sel mast yang dapat stainable dan histamin jaringan setelah tantangan. Reaksi biasanya terjadi dalam beberapa menit hingga 2 jam setelah konsumsi makanan. Dalam 1-2 jam, pasien mengalami mual, sakit perut, dan muntah. Setelah 2 jam, diare terjadi. Reaksi subklinis telah dijelaskan pada anak-anak dengan eksim atopik dan alergi makanan. Nafsu makan yang buruk, penambahan berat badan yang buruk, dan nyeri perut yang intermiten sering merupakan gejala.
  • Esofagitis eosinofilik
    • Eosinofilia esofagus yang bertahan meskipun terapi antireflux tradisional dapat menunjukkan tanda esofagitis alergi.
    • Esofagitis eosinofilik ditemukan pada awal 1990-an pada orang dewasa yang menderita disfagia dan pada anak-anak yang mengeluhkan gejala refluks berat yang refrakter terhadap terapi, keduanya terkait dengan infiltrasi yang didominasi eosinofil.
    • Esofagitis eosinofilik terjadi pada anak-anak dan orang dewasa tetapi jarang terjadi pada bayi dan ditandai dengan esofagitis kronis, dengan atau tanpa refluks. Anak-anak yang terkena mengalami berbagai gejala, yang sebagian besar tergantung pada usia.
    • Anak-anak muda dari 2 tahun sering hadir dengan penolakan makanan, lekas marah, muntah, dan sakit perut.
    • Anak-anak yang lebih tua, remaja, dan orang dewasa datang dengan muntah yang sebentar-sebentar, mulas, disfagia untuk makanan padat, atau impaksi makanan spontan dan kegagalan untuk merespon obat refluks konvensional.
    • Pada anak yang lebih besar, disfagia, anoreksia, dan rasa kenyang dini dapat membantu membedakan gastroenteritis eosinofilik dari refluks gastroesofageal dan berkorelasi dengan keparahan temuan histologis dan endoskopi.
    • Kadang-kadang, striktur esofagus berkembang, tampaknya karena dismotilitas esofagus.
    • Esofagitis eosinofilik adalah penyakit kronis, dengan kurang dari 10% populasi mengembangkan toleransi terhadap alergi makanan.
    • Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa esofagitis eosinofilik memiliki warisan genetik yang kuat.
  • Gastritis eosinofilik
    • Gastritis eosinofilik yang responsif terhadap diet eliminasi terkadang dilaporkan.
    • Pada anak-anak biasanya terlokalisasi di antrum dan / atau fundus,  dengan eosinofilia di tempat lain di saluran GI.
    • Gejala dan tanda-tanda bervariasi, tetapi mereka adalah yang biasa untuk gastritis dari berbagai etiologi, seperti muntah postprandial, sakit perut, anoreksia, rasa kenyang dini, dan kegagalan untuk berkembang.
    • Sekitar setengah dari pasien ini memiliki fitur atopik. Penyakit ini sangat responsif terhadap terapi pembatasan makanan pada anak-anak.
  • Gastroenteritis eosinofilik: Gastroenteritis eosinofilik adalah penyakit yang tidak jelas yang secara patologis ditandai oleh infiltrasi eosinofil di mukosa saluran GI. Sindrom ini telah dilaporkan pada anak-anak dari segala usia. Diagnosis memerlukan gejala yang berhubungan dengan saluran GI dan sampel biopsi yang menunjukkan infiltrasi eosinofilik. Sayangnya, tidak ada garis yang jelas yang dapat ditarik untuk membedakan gastroenteritis eosinofilik dari penyakit GI lainnya dan dari infiltrasi eosinofilik nonpathologis dari usus bagian bawah. Penyakit gastrointestinal eosinofilik tampaknya mendahului penyakit radang usus pada beberapa bagian anak-anak.
  • Food protein–induced enterocolitis syndrome (FPIES)
    • Food protein–induced enterocolitis syndrome (FPIES) menggambarkan gejala kompleks dari muntah yang banyak dan diare yang didiagnosis pada masa bayi, melibatkan usus kecil dan usus besar.
    • Sindrom enterocolitis yang disebabkan oleh makanan terjadi paling sering pada bulan-bulan pertama kehidupan. Sebagian besar kasus diamati pada bayi di bawah 3 bulan.
    • Susu sapi dan protein kedelai paling sering bertanggung jawab.
    • Gejalanya meliputi muntah dan diare yang berkepanjangan. Presentasi tipikal bersifat akut. Muntah umumnya terjadi 1-3 jam setelah menyusui, dan diare terjadi 5-8 jam setelah menyusui. Namun, beberapa anak memiliki perjalanan kronis, ditandai dengan diare yang berkepanjangan, kegagalan untuk berkembang, dan muntah sesekali.
    • Deskripsi spesifik dari temuan histologis tidak tersedia karena diagnosis dapat dibuat secara klinis. Beberapa spesimen usus kecil menunjukkan cedera vili ringan dengan infiltrasi inflamasi, sedangkan spesimen kolon mengungkapkan abses crypt dan infiltrat inflamasi difus.
    • Sindrom enterocolitis yang serupa telah dilaporkan pada bayi yang lebih tua dan anak-anak sebagai konsekuensi dari intoleransi terhadap protein makanan yang berbeda (misalnya, telur, ikan, kacang-kacangan, kacang tanah, protein lainnya). Beras dapat menyebabkan kasus enterocolitis yang parah.
    • Temuan tes IgE spesifik makanan biasanya negatif ; pengujian patch atopy sedang diselidiki. Tantangan makanan oral tetap menjadi standar diagnostik dalam gangguan ini.  Analisis jus lambung dapat membantu diagnosis.
    • Selama studi tindak lanjut prospektif jangka panjang, sebagian besar pasien dengan sindrom enterocolitis yang diinduksi protein makanan infantil kehilangan intoleransi terhadap susu sapi pada usia 14-16 bulan (tingkat toleransi, 72,7%).  Dalam kohort 160 anak-anak, usia rata-rata untuk toleransi adalah 4,7 tahun untuk beras, 5,1 tahun untuk susu tanpa adanya IgE spesifik susu, dan 6,7 tahun untuk kedelai; tidak ada subjek dengan IgE spesifik susu yang terdeteksi yang toleran terhadap susu selama penelitian.
  • Enteropati yang diinduksi protein makanan:
    • Protein susu sapi dan protein kedelai dapat menyebabkan sindrom diare kronis yang tidak biasa, penurunan berat badan, dan kegagalan tumbuh, mirip dengan yang muncul pada penyakit seliaka. Muntah hadir hingga dua pertiga pasien. Temuan biopsi usus kecil mengungkapkan enteropati derajat variabel dengan hipotrofi vili. Atrofi mukosa total, secara histologis tidak dapat dibedakan dari penyakit seliaka, adalah temuan yang sering. Protein usus dan kehilangan darah dapat memperburuk hipoalbuminemia dan anemia yang sering diamati pada sindrom ini. Enteropati yang diinduksi makanan non-seleli kurang sering dan kurang parah dalam 25 tahun terakhir. Kasus yang lebih baru menggambarkan pasien yang mengalami lesi usus yang tidak merata. Biasanya, sindrom ini mempengaruhi bayi di bulan-bulan pertama kehidupan.

Enteropati sensitif-gluten:

  • Enteropati kehilangan protein: Enteropati kehilangan protein adalah temuan umum pada anak-anak dengan intoleransi protein susu sapi. Beberapa bayi dapat mengalami gejala kehilangan protein yang jelas setelah pemberian susu sapi. Telah disarankan bahwa infiltrasi sel mast berhubungan dengan peningkatan permeabilitas usus dan kehilangan protein.

Proctocolitis yang diinduksi oleh makanan:

  • Proctocolitis yang diinduksi oleh makanan: Proctocolitis yang diinduksi oleh makanan biasanya terjadi pada beberapa bulan pertama kehidupan; biasanya dianggap sebagai reaksi alergi yang tidak dimediasi non IgE terhadap protein makanan, bahkan jika beberapa penelitian telah mengusulkan mekanisme patogenetik yang berbeda. [29, 30, 31] Susu sapi dan protein kedelai paling sering bertanggung jawab, tetapi 60% bayi yang dilaporkan mendapat ASI eksklusif. Dalam sebagian besar kasus terakhir, diet ibu yang ketat (termasuk menghilangkan semua produk berbasis susu sapi dari makanan mereka) dapat menyelesaikan masalah. Alergen lain, terutama telur, dapat menjadi agen penyebab pada bayi yang tidak sesuai. [32] Gejalanya meliputi diare dan darah di tinja. Bayi yang terkena dampak umumnya tampak sehat dan mengalami kenaikan berat badan normal. Onset perdarahan bertahap dan awalnya tidak menentu selama beberapa hari. Kemudian berkembang menjadi bercak darah di sebagian besar tinja, yang dapat menimbulkan kecurigaan robekan anal internal. Lesi usus umumnya terbatas pada usus besar distal. Entitas ini, bahkan jika tidak dirawat, biasanya sembuh dalam 6 bulan hingga 2 tahun. Endoskopi tidak dianjurkan, kecuali ada gejala berat. Durasi proktokolitis alergi tampaknya tidak menyebabkan memburuknya status gizi bayi.
  • Konstipasi kronis karena intoleransi susu sapi:
    • Konstipasi kronis sebagai satu-satunya gejala intoleransi terhadap susu sapi dijelaskan pada tahun 1993. Namun, sembelit kronis tidak dianggap sebagai fitur intoleransi susu sapi sampai tahun 1998, ketika sebuah penelitian Italia berhipotesis bahwa intoleransi terhadap susu sapi dapat menyebabkan lesi perianal yang parah dengan rasa sakit saat buang air besar dan sembelit pada anak-anak.
    • Kolitis alergi, dengan resolusi gejala setelah mengeluarkan susu dari makanan, kemudian ditunjukkan pada 4 bayi baru lahir dengan sembelit. Oleh karena itu, pada subkelompok kecil anak-anak dengan konstipasi, intoleransi protein susu sapi dapat menjadi penyebab gejala.
  • Kolik infantil
    • Kolik infantil adalah nama umum yang diberikan pada pola menangis atau rewel berkepanjangan pada bayi, bahkan jika patofisiologi dari perilaku yang menyusahkan ini belum dijelaskan. Sejumlah teori tentang patogenesis telah dipublikasikan, dan banyak, pendekatan terapi yang seringkali bertentangan, telah dikemukakan.
    • Intoleransi susu sapi telah terlibat sebagai penyebab kolik, setidaknya pada beberapa bayi yang diberi susu formula. Beberapa penelitian telah menyarankan bahwa diet eliminasi yang menggantikan susu formula sapi dengan formula berbasis kedelai atau protein-hidrolisat dapat meringankan gejala kolik kekanak-kanakan dalam persentase kasus yang signifikan. Pada bayi-bayi ini, tantangan dengan protein susu sapi biasanya menyebabkan terulangnya krisis menangis. Bayi-bayi yang merespons diet eliminasi biasanya adalah mereka dengan krisis menangis yang berkepanjangan, dan mereka sering memiliki riwayat alergi keluarga. Paling sering, tanda-tanda lain dari intoleransi protein susu sapi terjadi pada minggu-minggu atau bulan-bulan berikutnya.
    • Studi termasuk populasi bayi yang dipilih melaporkan persentase tanggapan terhadap diet eliminasi setinggi 89%. Satu studi buta menunjukkan bahwa 18% bayi dengan kolik membaik dengan susu formula kedelai, sedangkan 0% membaik pada penelitian buta lainnya. Selain itu, pada sebagian besar bayi yang responsif, durasi efeknya tidak berkelanjutan, meskipun diet eliminasi terus menerus. Bagaimanapun, intoleransi protein makanan sejati hanya dapat ditunjukkan pada subkelompok kecil bayi dengan kolik.
  • Dismotilitas alergi: Pada anak-anak yang lebih tua, intoleransi protein susu dapat menyebabkan nyeri perut kronis, dengan temuan endoskopi hiperplasia limfonodular.
  • Multiple food protein intolerance pada bayi: Beberapa bayi tidak toleran terhadap protein susu sapi, kedelai, formula yang dihidrolisis secara luas, dan berbagai protein makanan lainnya. Sebagian besar anak-anak ini mengalami gejala ketika mereka hanya menerima ASI. Gejala-gejala timbul setelah makan dengan formula bayi lengkap unsur asam amino berbasis unsur.

Gejala dermatologis

  • Gejalanya meliputi urtikaria, angioedema, ruam, dan eksim atopik.
  • Dermatitis atopik adalah salah satu gejala intoleransi protein yang paling umum. Sekitar sepertiga dari anak-anak dengan dermatitis atopik memiliki diagnosis alergi protein susu sapi dan intoleransi protein susu sapi, menurut tes diet eliminasi dan tantangan, dan sekitar 20-40% anak-anak muda dari 1 tahun dengan intoleransi protein menderita dermatitis atopik. Sebagian besar anak-anak dengan dermatitis atopik dan intoleransi protein mengembangkan toleransi total dalam beberapa tahun.
  • Eritema umbilikal dan periumbilikalis telah dikaitkan dengan intoleransi protein susu sapi dalam kelompok 384 bayi Italia; tanda aneh ini diamati pada 36 kasus (9,4%), menghilang dalam minggu kedua pada diet eliminasi, dan muncul kembali dalam 24 jam setelah tantangan.

1557032467733-8.jpgPenanganan medis

  • Pengobatan definitif intoleransi protein makanan adalah penghapusan ketat makanan yang menyinggung dari diet.
  • Menyusui adalah pilihan pertama pada bayi tanpa intoleransi laktosa. Ibu harus menghilangkan susu sapi (dan akhirnya telur dan ikan atau makanan yang terlibat lainnya) dari makanannya.
  • Sebanyak 50% anak-anak yang terkena intoleransi protein susu sapi mengalami intoleransi protein kedelai jika diberi makan dengan formula berbasis kedelai. Karena itu, formula berbasis kedelai tidak boleh digunakan untuk pengobatan intoleransi protein susu sapi. Gunakan hidrolisat protein susu lengkap pada bayi yang tidak bisa disusui. Formula terhidrolisis parsial sama sekali tidak diindikasikan pada anak-anak dengan intoleransi protein susu sapi. Kadang-kadang, anak-anak dapat mengembangkan intoleransi terhadap formula terhidrolisis lengkap. Dalam kasus ini, gunakan formula berbasis asam amino, yang sekarang tersedia secara luas dan seimbang dalam elemen dan vitamin.
  • Gastroenteritis eosinofilik dapat menunjukkan perbaikan klinis dan histologis setelah terapi kortikosteroid oral. Steroid topikal, diberikan sebagai kortikosteroid inhalasi, juga menunjukkan efek yang menguntungkan.
  • Rekomendasi konsensus untuk esofagitis eosinofilik pada anak-anak dan orang dewasa oleh sekelompok ahli multidisiplin [43] dan pedoman manajemen oleh ESPGHAN [40] setuju bahwa pengobatan melibatkan terapi diet dari 3 rejimen yang mungkin: penggunaan formula berbasis asam amino yang ketat, pembatasan diet berdasarkan pada tes alergi, atau pembatasan diet berdasarkan menghilangkan antigen makanan yang paling mungkin.
  • Diet unsur (formula berbasis asam amino) dan diet eliminasi 6 makanan (menarik susu sapi, gandum, telur, kedelai, kacang-kacangan dan ikan / makanan laut selama 6 minggu) tampaknya menjadi pengobatan yang lebih manjur. Namun, tingkat pembatasan yang tinggi (dan kebutuhan akan beberapa endoskopi) membuat banyak pasien tidak bersemangat. Strategi baru, dimulai dengan diet eliminasi 2-makanan (tanpa susu hewani dan sereal yang mengandung gluten), diikuti oleh 4-makanan (susu hewani, sereal yang mengandung gluten, telur, kacang-kacangan), dan akhirnya oleh 6-makanan eliminasi diet jika gagal, mungkin bisa ditoleransi dengan lebih baik.
  • Steroid topikal yang tertelan (fluticasone propionate atau oral vises budesonide selama minimal 4 minggu dan maksimal 12 minggu) harus dipertimbangkan sebagai pilihan pengobatan baik sendiri atau dalam kombinasi dengan diet eliminasi.  Pengobatan dengan kromolin natrium, antagonis reseptor leukotrien, agen anti-TNF, antibodi terhadap imunoglobulin E (IgE), atau interleukin (IL) -5 (reslizumab) dan agen imunosupresif tidak dapat direkomendasikan untuk pengobatan pada anak-anak dengan esofagitis eosinofilik.
  • pemberian alergen makanan sebagai imunoterapi membawa risiko lebih besar dari reaksi alergi yang merugikan dan berpotensi parah dibandingkan dengan pemberian alergen inhalan.  Berdasarkan sebagian besar pada pengalaman klinis yang diterbitkan dalam uji coba Eropa, kesan umum adalah bahwa paparan alergen makanan melalui rute oral atau sublingual kurang berisiko dibandingkan melalui rute subkutan, tetapi persepsi ini belum secara jelas ditunjukkan.
  • Terapi anti-imunoglobulin E (IgE) manusiawi monoklonal rekombinan telah disetujui untuk pengobatan asma dengan alergi lingkungan yang terkait, tetapi responsnya dapat berbeda dengan alergi makanan.
  • Formula 9-ramuan berdasarkan pengobatan tradisional Tiongkok saat ini sedang diselidiki sebagai pengobatan untuk alergi makanan.
  • Meskipun probiotik mungkin memiliki peran dalam pengobatan alergi makanan dengan mempromosikan integritas penghalang usus, menekan respon inflamasi usus, dan mendorong produksi IgA dan respon imun tolerogenik, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pendekatan seperti itu efektif untuk menginduksi toleransi dalam pengaturan klinis.
  • Bukti terkini menunjukkan bahwa pengobatan probiotik tidak mengubah arah alami alergi makanan.  Namun, 4 anak yang diobati dengan Lactobacillus rhamnosus tanpa pembatasan makanan menunjukkan resolusi gejala mereka dalam 7-28 hari.

Terapi medis

  • Kortikosteroid inhalasi topikal atau oral dan intranasal digunakan untuk mengobati gejala dermatologis atau pernapasan yang terkait dengan intoleransi protein. Antihistamin dan bronkodilatator inhalasi digunakan sebagaimana mestinya untuk kasus ringan hipersensitivitas langsung. Pada reaksi anafilaksis yang parah, epinefrin intramuskuler bisa menyelamatkan jiwa.
  • Kortikosteroid. Obat golongan  ini memiliki sifat anti-inflamasi dan menyebabkan efek metabolisme yang mendalam dan bervariasi. Mereka memodifikasi respons kekebalan tubuh terhadap beragam rangsangan.
  • Triamcinolone topikal (Aristocort)
  • Mengobati dermatosis inflamasi yang responsif terhadap steroid. Mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan membalikkan permeabilitas kapiler.
  • Hidrokortison topikal (Cortaid, Dermacort, Westcort, CortaGel). Derivatif adrenokortikosteroid cocok untuk aplikasi pada kulit atau membran mukosa eksternal. Memiliki efek mineralokortikoid dan glukokortikoid yang mengakibatkan aktivitas anti-inflamasi.
  • Kortikosteroid, Inhalansia. Beclomethasone, dihirup (Qvar, Qvar RediHaler). Menghambat mekanisme bronkokonstriksi. Menghasilkan relaksasi otot polos langsung. Dapat menurunkan jumlah dan aktivitas sel-sel inflamasi, yang pada gilirannya mengurangi hiperresponsif dan inflamasi jalan napas.

Referensi

  1. Guandalini S, Newland C. Differentiating food allergies from food intolerances. Curr Gastroenterol Rep. 2011 Oct. 13(5):426-34.

  2. [Guideline] Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, Wood RA, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: report of the NIAID-sponsored expert panel. J Allergy Clin Immunol. 2010 Dec. 126(6 Suppl):S1-58.
  3. Chin S, Vickery BP. Pathogenesis of food allergy in the pediatric patient. Curr Allergy Asthma Rep. 2012 Dec. 12 (6):621-9.
  4. DePaolo RW, Abadie V, Tang F, Fehlner-Peach H, Hall JA, Wang W. Co-adjuvant effects of retinoic acid and IL-15 induce inflammatory immunity to dietary antigens. Nature. 2011 Mar 10. 471(7337):220-4.
  5. Björkstén B, Sepp E, Julge K, Voor T, Mikelsaar M. Allergy development and the intestinal microflora during the first year of life. J Allergy Clin Immunol. 2001 Oct. 108 (4):516-20.
  6. Jackson KD, Howie LD, Akinbami LJ. Trends in allergic conditions among children: United States, 1997-2011. NCHS Data Brief. 2013 May. 1-8.
  7. Assa’ad A. Eosinophilic gastrointestinal disorders. Allergy Asthma Proc. 2009 Jan-Feb. 30(1):17-22.
  8. Hill DJ, Hosking CS, Heine RG. Clinical spectrum of food allergy in children in Australia and South-East Asia: identification and targets for treatment. Ann Med. 1999 Aug. 31(4):272-81.
  9. Wong GW, Mahesh PA, Ogorodova L, et al. The EuroPrevall-INCO surveys on the prevalence of food allergies in children from China, India and Russia: the study methodology. Allergy. 2009 Nov 4.
  10. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2010 Feb. 125(2 Suppl 2):S116-25.
  11. Straumann A, Aceves SS, Blanchard C, Collins MH, Furuta GT, Hirano I. Pediatric and adult eosinophilic esophagitis: similarities and differences. Allergy. 2012 Apr. 67(4):477-90.
  12. Ozdemir O, Mete E, Catal F, Ozol D. Food intolerances and eosinophilic esophagitis in childhood. Dig Dis Sci. 2009 Jan. 54(1):8-14.
  13. Ko HM, Morotti RA, Yershov O, Chehade M. Eosinophilic gastritis in children: clinicopathological correlation, disease course, and response to therapy. Am J Gastroenterol. 2014 Aug. 109 (8):1277-85.
  14. Caldwell JM, Collins MH, Stucke EM, Putnam PE, Franciosi JP, Kushner JP, et al. Histologic eosinophilic gastritis is a systemic disorder associated with blood and extragastric eosinophilia, TH2 immunity, and a unique gastric transcriptome. J Allergy Clin Immunol. 2014 Nov. 134 (5):1114-24.
  15. Mutalib M, Blackstock S, Evans V, Huggett B, Chadokufa S, Kiparissi F, et al. Eosinophilic gastrointestinal disease and inflammatory bowel disease in children: is it a disease continuum?. Eur J Gastroenterol Hepatol. 2015 Jan. 27 (1):20-3.
  16. Järvinen KM, Nowak-Węgrzyn A. Food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES): current management strategies and review of the literature. J Allergy Clin Immunol Pract. 2013 Jul-Aug. 1 (4):317-22.
  17. Mehr SS, Kakakios AM, Kemp AS. Rice: a common and severe cause of food protein-induced enterocolitis syndrome. Arch Dis Child. 2009 Mar. 94(3):220-3.
  18. Fogg MI, Brown-Whitehorn TA, Pawlowski NA, Spergel JM. Atopy patch test for the diagnosis of food protein-induced enterocolitis syndrome. Pediatr Allergy Immunol. 2006 Aug. 17(5):351-5.
  19. Sicherer SH. Food protein-induced enterocolitis syndrome: case presentations and management lessons. J Allergy Clin Immunol. 2005 Jan. 115(1):149-56.
  20. Hwang JB, Song JY, Kang YN, et al. The significance of gastric juice analysis for a positive challenge by a standard oral challenge test in typical cow”s milk protein-induced enterocolitis. J Korean Med Sci. 2008 Apr. 23(2):251-5.
  21. Hwang JB, Sohn SM, Kim AS. Prospective follow-up oral food challenge in food protein-induced enterocolitis syndrome. Arch Dis Child. 2009 Jun. 94(6):425-8.
  22. Caubet JC, Ford LS, Sickles L, Järvinen KM, Sicherer SH, Sampson HA, et al. Clinical features and resolution of food protein-induced enterocolitis syndrome: 10-year experience. J Allergy Clin Immunol. 2014 Aug. 134 (2):382-9.
  23. Maloney J, Nowak-Wegrzyn A. Educational clinical case series for pediatric allergy and immunology: allergic proctocolitis, food protein-induced enterocolitis syndrome and allergic eosinophilic gastroenteritis with protein-losing gastroenteropathy as manifestations of non-IgE-mediated cow’s milk allergy. Pediatr Allergy Immunol. 2007 Jun. 18(4):360-7.
  24. Ohtsuka Y, Jimbo K, Inage E, Mori M, Yamakawa Y, Aoyagi Y, et al. Microarray analysis of mucosal biopsy specimens in neonates with rectal bleeding: is it really an allergic disease?. J Allergy Clin Immunol. 2012 Jun. 129 (6):1676-8.
  25. Kaya A, Toyran M, Civelek E, Misirlioglu E, Kirsaclioglu C, Kocabas CN. Characteristics and Prognosis of Allergic Proctocolitis in Infants. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2015 Jul. 61 (1):69-73.
  26. Camargo LS, Silveira JA, Taddei JA, Fagundes U Neto. Allergic proctocolitis in infants: analysis of the evolution of the nutritional status. Arq Gastroenterol. 2016 Oct-Dec. 53 (4):262-266.
  27. Walker WA. Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age: a new entity or a spectrum of mucosal immune responses with age. J Pediatr. 2001 Dec. 139(6):765-6.
  28. Iacono G, Cavataio F, Montalto G, et al. Intolerance of cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med. 1998 Oct 15. 339(16):1100-4.
  29. Floch MH, Walker WA, Madsen K, Sanders ME, Macfarlane GT, Flint HJ, et al. Recommendations for probiotic use-2011 update. J Clin Gastroenterol. 2011 Nov. 45 Suppl:S168-71.
  30. Liacouras CA, Furuta GT, Hirano I, Atkins D, Attwood SE, Bonis PA. Eosinophilic esophagitis: updated consensus recommendations for children and adults. J Allergy Clin Immunol. 2011 Jul. 128(1):3-20.e6; quiz 21-2.
  31. Molina-Infante J, Gonzalez-Cordero PL, Arias A, Lucendo AJ. Update on dietary therapy for eosinophilic esophagitis in children and adults. Expert Rev Gastroenterol Hepatol. 2017 Feb. 11 (2):115-123.
  32. Wang J, Sampson HA. Food allergy: recent advances in pathophysiology and treatment. Allergy Asthma Immunol Res. 2009 Oct. 1(1):19-29.
  33. Martin VJ, Shreffler WG, Yuan Q. Presumed Allergic Proctocolitis Resolves with Probiotic Monotherapy: A Report of 4 Cases. Am J Case Rep. 2016 Aug 29. 17:621-4.

wp-1559363691580..jpg

FAKTA MEDIS DI KLINIK: Gangguan Kenaikkan Berat Badan Pada Penderita Alergi Usia 3 Tahun

FAKTA MEDIS DI KLINIK: Gangguan Kenaikkan Berat Badan Pada Penderita Alergi Usia 3 Tahun

LAPORAN KASUS:

Anak Gavriel  usia 3 tahun, sejak usia 6 bulan berat badannya cenderung sulit naik, setelah usia 9-12 bulan mulai timbul keluhan sulit makan hilang timbul. 3 tahun sudah berkali kali berkunjung ke beberapa dokter untuk memeriksakan permasalahan anaknya dengan keluhan utama berat badan yang sulit naik. Berat badan sulit naik setelah usia 6 bulan. Padahal saat sebelum usia 6 bulan  Beratnya normalnya bahkan sebelumnya usia 3 bulan beratnya berlebihan. Saat ditanyakan ke beberapa dokter sebagian selalu mengatakan beratnya sulit naik adalah biasa karena anak aktif atau masa masanya. Karena masih kurang yakin dengan pendapat tersebut melakukan second opnion ke dokter lainnya. Selain itu setiap malam dan pagi hari bangun tidur sering mengalami batuk dan pilek yang tak kunjung hilang selama 3 bulan, Telah berbagai dokter dikunjungi baik dokter anak, dokter ahli gizi bahkan sudah berbagai vitamin nafsu makan dan susu yang diiklankan sebagai penambah berat badan ternyata hasilnya nihil juga. Hanya berdasarkan selembar hasil foto rontgen seorang dokter dengan berani memvonis TBC. Setelah itu diadviskan untuk dilakukan penanganan alergi dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan sulit makan tersebut membaik dan berat badan naik.

Tanda Dan Gejala Gangguan Sulit Makan pada anak anda

  • Usia Bayi : saat usia 0-6 bulan kemampuan minum hanya 60-75 cc sekali minum, 6 – 1 tahun hanya 90 cc sekali minum. Minum ASI hanya sebentar (10 menit) tapi sering, produksi ASI sering sisa. Usia 0-4 bulan kenaikkan Berat badan setiap bulan hanya naik < 800 gram. Kenaikan berat badan lebih jelek setelah usia 4-6 bulan.
  • Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak dan menepis suapan dari orangtua atau sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut.
  • Makan berlama-lama  dan memainkan makanan.
  • Kesulitan menelan hanya mau makan makanan cair, lumat dan tidak berserat.
  • Gangguan mengunyah menelan :  Tidak menyukai variasi banyak makanan. Sering pilih-pilih makanan. Makanan yang disukai adalah makanan yang gampang dikunyah seperti telor, mi, krupuk, biskuit, brokoli, wortel. tetapi makanan yang berserat seperti daging sapi, sayur, atau nasi lebih tidak disukai.

Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang disebabkan karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

(Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
  2. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
  • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
 
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
KOMPLIKASI  SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : MUDAH SAKIT PANAS, BATUK, PILEK  (INFEKSI BERULANG) ; 1-2 kali setiap bulan). SEBAIKNYA TIDAK  TERLALU  MUDAH  MINUM ANTIBIOTIKA. PENYEBAB TERSERING INFEKSI BERULANG ADALAH VIRUS YANG SEBENARNYA TIDAK PERLU ANTIBIOTIKA.
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu  
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN

Bila tanda dan gejala gangguan sulit makan dan gangguan kenaikkan berat badan tersebut terjadi pada anak anda dan disertai salah satu gangguan saluran cerna serta beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin gangguan makan dan gangguan kenaikkan berat badan pada anak disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan. Penyebab lain yang paling sering selain alergi dan hipersensitifitas makanan adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek, diare atau muntah dan infeksi lainnya

Memastikan Diagnosis
  • Diagnosis gangguan makan dan gangguan kenaikkan berat badan yang disebabkan  alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergitetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Beberapa klinik alergi melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

 PENATALAKSANAAN 

  • Penanganan kesulitan makan dan gangguan kenaikkan berat badan yang disebabkan  karena alergi makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara, tetapi umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

Obat

  • Pengobatan gangguan sulit makan karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Konsumsi obat-obatan, vitamin, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat berat badan naik, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menangani sulit makan pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

DAFTAR PUSTAKA     

  • Motala, C: New perspectives in the diagnosis of food allergy. Current Allergy and Clinical Immunology, September/October 2002, Vol 15, No. 3: 96-100
  • Judarwanto Widodo, Penanganan Kesulitan makan Pada Anak dengan Gastrointestinal Hipersensitifitas makanan. Diajukan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak Nasional, Yogjakarta 2004.
  • Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.
  • Carruth BR, Ziegler PJ, Gordon A, Barr SI.. Prevalence of picky eaters among infants and toddlers and their caregivers’ decisions about offering a new food. J Am Diet Assoc. 2004 Jan;104(1 Suppl 1):s57-64.
  • Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
  • Agus Firmansyah.Aspek.  Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update, 2003.
  • Reau NR, Senturia YD, Lebailly SA, Christoffel KK.. Infant and toddler feeding patterns and problems: normative data and a new direction. Pediatric Practice Research Group.J Dev Behav Pediatr. 1996 Jun;17(3):149-53.
  • Berg, Frances., ed. Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis. Hettinger, ND: Healthy Weight Institute, 402 S. 14th St., Hettinger, ND 58639, 1996.
  • Chatoor I, Ganiban J, Hirsch R, Borman-Spurrell E, Mrazek DA.. Maternal characteristics and toddler temperament in infantile anorexia. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2000 Jun;39(6):743-51.
  • Carruth BR, Skinner J, Houck K, Moran J 3rd, Coletta F, Ott D.. The phenomenon of “picky eater”: a behavioral marker in eating patterns of toddlers.
    J Am Coll Nutr. 1998 Apr;17(2):180-6.
  • Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA: Gürze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support groups.
     

,,,

Alergi Kulit Pada bayi dan Gangguan Lain Yang Menyertai

Dermatitis atopik (DA) atau Alergi kulit adalah penyakit kulit reaksi inflamasi yang didasari oleh faktor herediter dan faktor lingkungan, bersifat kronik residif dengan gejala eritema, papula, vesikel, kusta, skuama dan pruritus yang hebat. Bila residif biasanya disertai infeksi, atau alergi, faktor psikologik, atau akibat bahan kimia atau iritan. Dermatitis atopik atau eksema adalah peradangan kronik kulit yang kering dan gatal yang umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak. Eksema dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur.  Penyakit ini dialami sekitar 10-20% anak. Umumnya episode pertama terjadi sebelum usia 12 bulan dan episode-episode selanjutnya akan hilang timbul hingga anak melewati masa tertentu. Sebagian besar anak akan sembuh dari eksema sebelum usia 5 tahun. Sebagian kecil anak akan terus mengalami eksema hingga dewasa.

Penyakit ini dinamakan dermatitis atopik oleh karena kebanyakan penderitanya memberikan reaksi kulit yang didasari oleh IgE dan mempunyai kecenderungan untuk menderita asma, rinitis atau keduanya di kemudian hari yang dikenal sebagai allergic march. Walaupun demikian, istilah dermatitis atopik tidak selalu memberikan arti bahwa penyakit ini didasari oleh interaksi antigen dengan antibodi. Nama lain untuk dermatitis atopik adalah eksema atopik, eksema dermatitis, prurigo Besnier, dan neurodermatitis.

Diperkirakan angka kejadian di masyarakat adalah sekitar 1-3% dan pada anak < 5 tahun sebesar 3,1% dan prevalensi DA pada anak  meningkat 5-10% pada 20-30 tahun terakhir. Sangat mungkin peningkatan prevalensi ini berasal dari faktor lingkungan, seperti  bahan makanan olahan, atau benda asing lainnya. Ada dugaan bahwa peningkatan ini juga disebabkan perbaikan prosedur diagnosis dan pengumpulan data.

Tanda dan gejala alergi dan hipersensitif kulit pada bayi:wp-1465171420401.jpg

  • Umumnya gejala DA timbul sebelum bayi berumur 6 bulan, dan jarang terjadi di bawah usia 8 minggu. Dermatitis atopik dapat menyembuh dengan bertambahnya usia, tetapi dapat pula menetap bahkan meluas dan memberat sampai usia dewasa. Terdapat kesan bahwa makin lama dan makin berat dermatitis yang diderita semasa bayi makin besar kemungkinan dermatitis tersebut menetap sampai dewasa, sehingga perjalanan penyakit dermatitis atopik sukar diramalkan.
  • Terdapat tiga bentuk klinis dermatitis atopik, yaitu bentuk infantil, bentuk anak, dan bentuk dewasa.Bentuk infantil Secara klinis berbentuk dermatitis akut eksudatif dengan predileksi daerah muka terutama pipi dan daerah ekstensor ekstremitas. Bentuk ini berlangsung sampai usia 2 tahun.
  • Predileksi pada muka lebih sering pada bayi yang masih muda, sedangkan kelainan pada ekstensor timbul pada bayi sel sudah merangkak. Lesi yang paling menonjol pada tipe ini adalah vesikel dan papula, serta garukan yang menyebabkan krusta dan terkadang infeksi sekunder.
  • Gatal merupakan gejala yang mencolok sel bayi gelisah dan rewel dengan tidur yang terganggu. Pada sebagian penderita dapat disertai infeksi bakteri maupun jamur.
  • Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok.
  • Kerak di daerah rambut.
  • Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk.
  • Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang.
  • Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.

Gangguan lain Yamg Menyertai

  • Saluran Napas HIPERAKKTIFITAS BRONKUS : Napas grok-grok,kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan ). Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu)  Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah.
  • Hidung. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
  • Sering berkeringat (berlebihan)
  • Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Gangguan Hormonal. Gangguan hormonal yang menyertai pada penderita alergi  : Jaringan kulit di sekitar daerah vagina, disebut labia, mungkin terlihat bengkak akibat paparan estrogen. Terdapat cairan putih (discharge) dari vagina. Ini disebut leukorea fisiologis. Ada juga mungkin sejumlah kecil perdarahan dari vagina. Keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, Pembesaran payudara, Kerontokan rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
  • Pada usia setelah usia 6 bulan sebagian besar bayi dengan alergi dan hipersensitifitas saluran cerna bila tidak dikendalikan dengan baik sering mengalami kesulitan makan dan gangguan kenaikkan berat badan dan kekebalan tubuh menurun sehingga mudah terkena sakit demam, batuk atau pilek. Dalam keadaan tersebut seringkali sulit dibedakan dengan gangguan TB paru.Sehingga bayi dengan alergi saluran cerna sering menerima overdiagnosis TB padahal bukan mengalami infeksi tersebut. Bila anak dengan alergi saluean cerna dengan gangguan kenaikkan berat badan didiagnosis TB sebaiknya dilakukan second opinion dengan dokter lainnya.

PERUBAHAN DAN GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI  PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO FUNGSIONAL: Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.  Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.  Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI)gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan.
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
  • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN  sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
  • Gangguan Oral Motor. Gangguan mengunyah menelan, Belum bisa makan yang berserat, seharusnya 9 bulan nasi tim tidak disaring belum bisa. Seharusnya setelah usia 1 tahun makan nasi tetapi belum bisa mengunyah., KETERLAMBATAN BICARA Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, , kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya  usia lebih 2 tahun membaik.
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti  ADHD (hiperaktif) dan AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). TETAPI ALERGI BUKAN PENYEBAB AUTISM ATAU ADHD

Kenali Gejala Alergi Pada Bayi

Kenali Tanda dan gejala Alergi Pada Bayi

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat. Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
  • Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • HIPERAKKTIFITAS BRONKUS : Napas grok-grok,kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu)  Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah.
  • Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
  • Sering berkeringat (berlebihan)
  • Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Mempengaruhi gangguan hormonal :keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
  • PERUBAHAN DAN GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI  PENDERITA ALERGI PADA BAYI

    • GANGGUAN NEURO FUNGSIONAL: Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kakuBreath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
    • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN  Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.  Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.  Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
    • GANGGUAN TIDUR  (biasanya MALAM-PAGI)gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
    • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
    • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan.
    • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
    • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN  sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
    • KETERLAMBATAN BICARA:  Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, , kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya  usia lebih 2 tahun membaik.
    • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
    • Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti  ADHD (hiperaktif) dan AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). TETAPI ALERGI BUKAN PENYEBAB AUTISM ATAU ADHD

    Kenali Gangguan Alergi dan Hipersensitifitas Saluran Cerna Pada Bayi dan Dampak Yang Menyertai

    Kenali Gangguan Saluran Cerna Pada Bayi dan Dampak Yang Menyertai

    Tampaknya 1 di antaranya 3 manusia sehat mengalami hipersensitif saluran cerna. Hal ini akan lebih sering lagi pada anak usia di bawah 5 tahun mungkin sekitar 30-40% anak mengalami hipersensitifitas saluran cerna. Karena sebagian besar pada anak terjadi imaturitas atau ketidak matangan saluran cerna.Gangguan hipersensitif saluran cerna sering di anggap normal dan sering diistilahkan berbagai hal oleh para dokter seperti Gastrooesephageal Refluks, Dispepsia, Stomach Discomfort, lambung kecil, katub lambung belum sempurna, kekurangan enzim, penyerapan tidak bagus, alergi susu sapi atau berbagai istilah lainnya. berbagai istilah tersebut kadangkala disebut berbeda oleh beberapa dokter pada pasien yang sama.

    Gangguan hipersensitif saluran cerna ini sering didiagnosis berlebihan seperti alergi susu sapi, amuba, disentri, penyakit Hisrchprung, usus buntu atau berbagai gangguan lainya

    Hipersensitif saluran cerna ini biasanya hanya merupakan gangguan fungsional dan selama ini dianggap normal. Tetapi ternyata bila dicermati gangguan ini sering disertai secara bersamaan dengan berbagai gangguan organ tubuh lainnya yang sangat mengganggu. Gangguan tersebut sering disertai gangguan pertumbuhan berat badan, gangguan perilaku dan gangguan perkembangan lainnya.

    Tanda dan Gejala Hipersensitif Saluran Cerna Pada Bayi

    • Gastrooesepageal Refluks, Sering MUNTAH/ gumoh,
    • Kembung,“cegukan”,Sering Hiccup atau cegukanBuang angin keras dan sering
    • Sering rewel gelisah atau kolik menagis berkepanjangan dan menangis keras melengkin lebih dari 15 menit. Biasanya terjadi karena perutnya tidak nyaman atau sakit. Keluhan ini timbul terutama mulai sore hari hingga malam hari dan puncaknya saat dini hari atau saat subuh. Nyeri perut atau malam gelisah ini biasanya akan berkurang setelah usia 3 bulan
    • BAB lebih 3 kali perhari, feses cair, terdapat seperti biji cabe, sering berak sedikit sedikit tapi sering
    • Berak Darah
    • BAB tidak tiap hari, Feses warna hijau,hitam dan berbau, disertai ngeden
    • Sering “ngeden. Biasanya disertai Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis atau hidrokel.
    • Air liur berlebihan.Mulut sensitif: Lidah sering timbul putih kadang sulit dibedakan dengan jamur (candidiasis) atau memang kadang juga disertai infeksi jamur.
    • Lidah atau mulut sering timbul putih, bibir kering dan kadang kehitaman sebagian. Bibir tampak kering atau kadang pada beberapa bayi bibir bagian tengah berwarna lebih gelap atau biru.
    • Produksi air liur meningkat, sehingga sering “ngeces (“drooling”) biasanya disertai bayi sering menjulurkan lidah keluar atau menyembur-nyemburkan ludah dari mulut.

    Gangguan Yang Menyertai

    • Kulit sensitif. Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal,
    • Pembesaran kelenjar di kepala belakang.
    • Kotoran telinga berlebihan kadang keluar cairan telinga sedikit dan sedikit berbau.
    • Kuning Timbul kuning tinggi atau kuning bayi baru lahir berkepanjangan seharusnya setelah 2 minggu menghilang sering disebut Breastfeeding Jaundice (kuning karena ASI mengandung hormon pregnandiol). Seringkali jadi pertanyaan mengapa sebagian besar bayi dengan ASI tidak mengalami kuning berkepanjangan. Setelah usia 6 telapak tangan dan kaki kadang berwarna kuning, sampai saat ini seringkali dianggap karena terlalu banyak makan wortel atau kelebihan vitamin A padahal selama ini hipotesa itu hanya sekedar dugaaan dan belum pernah dibuktikan dengan pemeriksaan darah. Kuning berkepanjangan meningkat pada bayi bisa sering terjadi pada bayi dengan gangguan saluran cerna dengan keluhan obstipasi (sering ngeden/mulet) dan konstipasi. Bila dicermati saat gangguan saluran cerna meningkat kuning semkai terlihat jelas dan sebaliknya saat saluran cerna membaik kuning menghilang.
    • Napas Berbunyi (Hipersekresi bronkus).Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )Sesak Saat Baru lahir. Sesak segera setelah lahir. Sesak bayi baru lahir hingga saat usia 3 hari, biasanya akan membaik paling lama 7-10 hari. Disertai kelenjar thimus membesar (TRDN Transient respiratory ditress Syndrome) /TTNB). Bila berat seperti pari-paru tidak mengembang (Like RDS). Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah. Keluhan ini sering dianggap infeksi paru atau terminum air ketuban.
    • Hidung Sensitif. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
    • Mata Sensitif. Neonatal Ophtalmika atau obstruksi duktus lakrimalis : Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata(belekan) salah satu sisi atau kedua sisi. Dalam keadaan ini tetes mata atau antibiotika tetes mata tidak banyak berpengaruh karena memang bukan karena infeksi.Keringat Berlebihan. Sering berkeringat berlebihan, meski menggunakan AC keringat tetap banyak terutama di dahi
    • Berat Badan Berlebihan atau kurang.Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurangSaluran kencing. Kencing warna merah atau oranye (orange) denagna sedikit bentukan kristal yang menempel di papok atau diapers . Hal ini sering dianggap inmfeksi saluran kencing, saat diperiksa urine seringkali normal bukan disebabkan karena darah.
    • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
    • Gangguan Hormonal. Mempengaruhi gangguan hormonal berupa keputihan/keluar darah dari vagina, timbul jerawat warna putih. timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
    • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan karena bayi sering menangis dianggap haus. Haus palsu adalah tampilan bayi sering menangis, mulutnya sering seperti mau ngempeng atau mencari puting tampak sucking refleks berlebihan dirangsang pipinya sedikit sudah seperti mencari puting. Hal itu belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang. Pada bayi alergi yang sering rewel seringkali saluran cernanya sedikit sakit sehingga bila ada perasaan tidak nyaman bayi akan sering seperti ngempeng atau minta digendong. Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu dan napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
    • KESULITAN MAKAN dan BERAT BADAN SULIT NAIK Pada anak dengan gangguan fungsi saluran cerna sering mengalami kesulitan makan dan berat badan sulit naik terutama setelah usia 4- 6 bulan. Hal ini terjadi karena pada saat usia tersebut mulai diberi makanan tambahan baru. Bila terdapat makan yang tidak cocok terjadi reaksi simpang makanan mengakibatkan sensitif saluran cerna. Bila hal ini terjadi maka gangguan sulit makan dan berat badan tidak naik mulait terjadi
    • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : mudah terkena infeksi batuk, pilek, berulang dan berkepanjangan . Dalam keadaan seperti ini sebaiknya tidak perlu terburu-buru minum antibiotika karena penyebab paling sering adalah infeksi virus yang akan sembuh sendiri dalam 5 hari. Karena sering sakit berakibat Otitis media atau keluar cairan dari telinga
    • OVERDIAGNOSIS TUBERKULOSIS (TB)pada anak dengan sensitif saluran cerna sering mengalami sulit makan, gangguan kenaikkan berat badan dan mudah sakit. Beberapa manifestasi tersebut sering mirip gejala penyakit TB (bahasa awam flrks) seheingga mengalami overdiagnosis dan overtreatment TB. Minum obat jangka panjang TB padahal tidak menderita penyakit tersebut. Hal ini sering terjadi karena gejala TB mirip berbagai penyakit lainnya
    • GANGGUAN NEUROFUNGSIONAL: Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi. Gangguan itu seka=lama ini dianggap karena haus atau minta minum susu.
    • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menarik puting susu ibu dengan gusi atau gigi, menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut. Tampak gampang seperti gemes atau menggeram
    • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas bermain, memainkan mainan, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Bila minum susu sering terhenti dan teralih perhatiannya dengan sesuatu yang menarik tetapi hanya sebentar
    • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Sering berteriak dibandingkan mengiceh terutama saat usia 6 bulan
    • GANGGUAN MOTORIK KASAR, GANGGUAN KESEIMBANGAN DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
    • GANGGUAN ORAL MOTOR:KETERLAMBATAN BICARA: Kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik.
    • GANGGUAN MENGUNYAH DAN MENELAN:Gangguan makan makanan padat, biasanya bayi pilih-pilih makanan hanya bisa makanan cair dan menolak makanan yang berserat. Pada usia di atas 9 bulan yang seharusnya dicoba makanan tanpa disaring tidak bisa harus di blender terus sampai usia di atas 2 tahun.
    • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan seperti anak besar, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.

    Penyebab dan Pemicu

    • Genetik Hipersensitif saluran cerna biasa terjadi karena secara genetik atau bakat alamiah. Biasanya faktor keturunan sangat berperananan. Faktor fenotipe atau kesamaan wajah misalnya orangtua, anak atau saudara yang mempunyai wajah sama biasanya akan mengalami gangguan hieprsensitif saluran cerna yang sama.
    • Gangguan saluran cerna yang dialami oleh orangtua yang wajahnya sama atau suadara kandung yang wajahnya sama seperti mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. Sering mengalami mual terutama pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan.Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering sendawa atau “glegekan”, sering kembung, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering nyeri perut. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “Maag”, dyspepsia atau Iritable Bowel Syndrome
    • Gangguan Fungsional Gangguan fungsi saluran cerna ini biasanya hanyalah gangguan fungsional bukan gangguan organik atau organ saluran cernanya normal dan baik-baik saja. Sehingga bila dilakukan pemeriksaan USG, CT Scan, endoskopi atau pemeriksaan penunjang lainnya pada umumnya normalGangguan Organik Penyebab gangguan saluran cerna lainnya yang jarang adalah gangguan organik seperti stenosis pilorik, sumbatan usus, intususepsi, invaginasi, penyakit Hirshprung, infeksi pencernaan atau gangguan organik lainnya. Biasanya gangguan organik yang terjadi lebih berat seperti berak darah berlebihan dalam 1-3 hari semakin sering, muntah berlebihan lebih 5-7 kali kadang disetai muntah warna hijau, kembung berlebihan hingga perut sangat keras dan besar.Alergi dan Hipersensitifitas Makanan
    • Gangguan hipersensitif saluran cerna sering terjadi pada penderita alergi makanan, hipersensitif makanan, penyakit celiak dan gangguan reaksi simpang makanan lainnya. Gangguan hipersensitif saluran cerna tersebut akan hilang timbul sering disebabkan karena pengaruh beberapa makanan yang menggganggu atau reaksi simpang makanan. Alergi makanan harus dicurigai sebagai penyebab gangguan manifestasi alergi selama ini bila terdapat gangguan saluran cerna. Tetapi sayangnya gangguan saluran cerna tersebut sangat ringan dan dianggap biasa sehingga lepas dari pengamatan penderita ataupun bahkan seorang dokter ahli. Bila hal ini terjadi maka seringkali terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi penyebab alergi. Sehingga sering overdiagnosis, bahwa penyebab alergi adalah debu dan udara dingin, padahal alergi makanan sangat mungkin berperanan penting.Dianggap Bagian Terpisah Penderita sensitif saluran cerna biasanya tidak hanya mengalami satu gejala saja, misalnya disertai gelala alergi lainnya seperti asma, hidung, dermatitis (alergi kulit). Penderita sensitif saluran cerna biasanya terganggu beberapa organ tubuhnya khususnya saluran cernanya secara bersamaan meski dalam bentuk ringan. Tetapi sayang dalam praktek sehari-hari untuk menilai gangguan alergi sebagian dokter seringkali hanya memandang satu keluhan saja dalam penanganan sebuah penyakit. Misalnya dokter kulit hanya melihat gangguan dermatitis padahal saluran cernanya bermasalah juga karena alergi. Sedangkan dokter ahli pernapasan atau paru hanya memandang sesak atau hipersekresi bronkus atau napas berbunyi grok-grok sebagai masalah utama, padahal penderita asma atau sensitif saluran napas juga sering mengalami gangguan saluran cerna seperti Gastrooesephageal Refluks, mual, muntah atau seringatau sebaliknya sulit BAB. Demikian juga ahli THT hanya melihat gangguan cairan telinga bayi yang dipicu alergi, tetapi tidak melihat keluhan sensitif saluran cerna. Sebaliknya dokter ahli saluran cerna hanya melihat keluhan saluran cerna tersendiri padahal keluhan saluran napas, rinitis dan dermatitis (alergi kulit) yang menyertai adalah termasuk kesatuan dalam gangguan penyakit itu.Infeksi virus atau infeksi lain Selama ini setiap gangguan alergi atau sensitif saluran cerna pada bayi sering divonis sebagai alergi susu sdapi atau alergi makanan. Padahal seringkali justru infeksi virus memicu atau memperberat gangguan yang sudah ada sebelumnya. Infeksi virus atau infeksi lain yang terjadi di luar saluran cerna tetapi dapat mengganggu saluran cerna. Gejala infeksi virus kadang ringan seperti badan hangat, sakit kepala, badan pegal atau kecapekan, batuk dan pilek. Karena ringannya keluhan selama ini infeksi virus tersebut dianggap sebagai masuk angin, terlalu capek, mau flu tidak jadi atau panas dalam. Justru saat ke dokter penyebab tersering dan lebih berat adalah infeksi virus bukan alergi. Sebaliknya justru alergi timbul lebih ringan dan penderita tidak ke dokter. Sehingga sering asma kambuh lagi saat flu, sinusitis kambuh lagi saat flu, nyeri perut atau gejala maag timbul saat flu atau sesak timbul lagi saat batuk yang keras dan demam. Tetapi sayangnya penderita bahkan dokter sekalipun kadang sulit membedakan antara virus dan alergi. Seringkali gejala alergi disebut infeksi sebaliknya infeksi virus dianggap sebagai alergi.

    Penanganan:

    • Bila terdapat satu atau beberapa gangguan hipersensitif saluran cerna dan disertai beberapa gejala laian yang menyertai maka sangat mungkin gangguan saluran cerna tersebut berkaitan sebagai faktor penyebab atau pemicu. Misalnya saat bayi kolik seringkali terjadi keluhan kulit sensitif atau gangguan buang air besar atau muntah lebih sering, nafas grok-grok, bersin dan pilek.
    • Bila disertai infeksi virus ringan yang kadang bila tidak dicermati seperti normal, maka keluhan terebut akan membaik setelah 5 hari. Namun bila bayi daya tahan tubuh tidak bagus dan di sekitarnya ada orangtua atau orang yang mudah sakit maka gangguan tersebut akan hilang timbul berkepanjangan
    • Lakukan diet elminasi provokasi makanan selama 3 minggu untuk mendiagnosis dan memperbaiki saluran cerna. Lihat dan baca Intervensi Diet (Eliminasi Provokasi Makanan) Sebagai Terapi dan Diagnosis Berbagai Gangguan Fungsional Tubuh Manusia. Bila bayi minum ASI sebaiknya harus diperhatikan dan dilakukan intervensi makanan ibu yang dikonsumsi
    • Bila setelah dalam 3 minggu berbagai gangguan tersebut membaik maka dapat dipastikan bahwa gangguan sensitif saluran cerna tersebut berkaitan dengan berbagai gangguan yang ada.Obat-obatan untuk berbagai gangguan tersebut hanya bersifat sementara. Setelah itu gangguan tersebut akan hilang timbul berulang terus. Bahkan seringkali berbagai obat kadang tidak berpengaruh

    1558498326641.jpg

    Tanda dan Gejala Alergi dan Hipersensitifitas Salura Cerna Pada Bayi

    TAMPILAN KLINIS YANG SERING MENYERTAI GANGGUAN ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS PADA BAYI

    GANGGUAN SALURAN CERNA : 

    • Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”,
    • Sering buang angin, sering “ngeden /mulet”
    • Sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari),
    • Sering buang air besar (> 3 kali perhari), berak sedikit sedikit sering ,”kecipirit”
    • Tidak BAB tiap hari
    • Feses warna hijau, kafang gelap, bau rajam dan bulat bulat, kadang seperti biji cabe
    • BERAK DARAH.
    • Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
    • Lidah sering timbul putih (seperti jamur).
    • Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
    • Gejala ”Haus Palsu”Beberapa gejala pada bayi yang timbul bukan karena rasa haus dan lapar dapat disebut gejala palsu. Gejala ini seringkali timbul karena ada yang dirasakan tidak nyaman pada tubuh bayi. Gejala yang timbul biasanya tampak bayi bila minum susu terburu-buru, tidak sabar, seringkali minta minum (kurang dari 11/2 jam) atau sering ngempeng. Keadaan ”Gejala Haus Palsu” ini seringkali mengakibatkan kegagalan program ASI eksklusif. Ibu sering merasa letih dan kurang tidur karena tampak bayi sering minta minum dan hanya terus ”ngempeng” (tidak menyedot) puting susu. Akhirnya karena kondisi tersebut keputusan pemberian susu formula dilakukan. Ketidaknyamanan pada bayi ini seringkali terjadi karena rasa sakit atau gangguan pada saluran cerna bayi. Keadaan ini sering terjadi karena imaturitas saluran cerna pada bayi masih belum sempurna. Biasanya dengan pertambahan usia terutama di atas usia 3 bulan gangguan ini akan membaik.
    • Gangguan saluran cerna karena alergi ini biasanya semakin meningkat saat malam hari. Pola diurnal malam hari ini juga terjadi pada gangguan alergi lainnya seperti napas grok-grok, batuk, asma, hidung buntu dan sebagainya. Pola ini juga berkaitan mengapa bayi sering rewel malam hari dan mengapa bayi lebih sering minta minum malam hari. Gangguan saluran cerna ini disertai lidah timbul putih seperti jamur dan bibir kering. Gangguan saluran cerna tersebut seringkali disertai gangguan hidung dan kulit. Meskipun sangat jarang sebagai penyebab tetapi popok basah, kedinginan atau udara panas bisa mengakibatkan ”gejala haus palsu” ini timbul.Selain ”Gejala Haus Palsu” juga didapatkan ”Tanda Haus Palsu’. ”Tanda Haus Palsu’, adalah gerakan dan tanda pada bayi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan rasa haus pada bayi tetapi dianggap bayi kurang minum. Tanda tersebut diantaranya adalah ”Reflek sucking” (bila disentuh pipi mulut mengikuti tangan seperti ingin dihisap) yang berlebihan, lidah sering menjulur-julur, memasukkan tangan ke mulut, timbul gerakan mengecap pada mulut bayi dan sebagainya. Tanda tersebut bukan merupakan rasa haus, dapat dilihat setelah minum banyak tanda tersebut masih sering dilakukan oleh bayi.Pada keadaan ”Gejala Haus Palsu” dan ”Tanda Haus Palsu” biasanya bayi mengalami ”overfeeding”. ”Overfeeding” adalah bayi mendapatkan jumlah ASI melebihi kebutuhan normal nutrisi pada bayi, sehingga berat badan bayi tampak meningkat pesat. Biasanya berat badan bayi bertambah melebihi 750 gram dalam 2 minggu atau

    https://youtu.be/kVFxy9UaaF4

    Gangguan Lain yang Menyertai

    • Hipereaktifitas Bronkus : Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
    • Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB) sering dianggap tertelan air ketuban atau paru-paru belum matang padahal biasanya ketidak matangan paru hanya terjadi saat usia kehamilan di bawah 35 minggu. BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS/HMD ) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu)  Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah.
    • Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
    • Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata(belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
    • Sering berkeringat (berlebihan)
    • Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
    • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
    • Mempengaruhi gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih

    GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA BAYI

    •  GANGGUAN NEUROFUNGSIONAL : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
    • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia <> 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
    • GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
    • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
    • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan
    • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.
    • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
    • KETERLAMBATAN BICARA: Tidak mengeluarkan kata umur 15 bulan
    • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan seperti orang dewasa, lebih dominan berteriak daripada mengoceh
    • Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). TETAPI ALERGI BUKAN PENYEBAB AUTISM ATAU ADHD.

    Sulit BAB, Konstipasi dan Alergi Makanan

    wp-1465151793105.jpg

    Gangguan Sulit Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak

    Karena Pengaruh Alergi atau Hipersensitif Makanan

     
    Ilustrasi Kasus
    • Yudha, laki-laki usia 2 tahun sejak lahir hingga sekarang , sering mengalami gangguan sulit buang air besar. Kadang BAB setiap 2-3 hari sekali bahkan pernah seminggu tidak buang air besar. Berbagai obat sudah diberikan mulai pencahar minum hingga lewat anus tidak banyak membantu. Adivis untuk makan buah, sayur, serat dan minum air putih banyak sudah dilakukan tetapi hasilnya nihil. Bahkan setelah usia 9 bulan anusnya tampak timbul tonjolan  daging.   Setelah itu berganti-ganti dokter,  terdapat salah seorang dokter mengadviskan untuk dilakukan penanganan alergi dan hipersensitifitas makanan dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan gangguan buang air besarnya membaik.

    Amati Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak  pada bayi dan anak anda

    • Sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Buang air besar tidak tiap hari bahkan 2 – 7 hari sekali.
    • Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)

    Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

    (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

    wp-1465151793105.jpg

    • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
    • Pada anak yang lebih besar :
    1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.
    2. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)
    3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
    MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :
    • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
    • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
    • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
    • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
    • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
    • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
    • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
    • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
    • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
     
    MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
    • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
    • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
    • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
    • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
    • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
    • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki atau kadang  tangan, sering minta dipijat terutama saat malam hari. Kadang nyeri dada
    • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam  ngompol 2-3 kali)
    • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
    • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
    • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat  berbau.
    • FATIQUE :  mudah lelah, sering minta gendong
     
    GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
    • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
    • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
    • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
    • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
    • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
    • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
    • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (mudah silau), perabaan telapak kaki dan tangan sensitif  (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik, tidak suka memegang bulu, boneka dan bianatang berbulu)
    • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa  makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
    • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
    • AUTIS dan ADHD (Alergi dan hipersensititas makanan bukan penyebab Autis atau ADHD tetapi hanya memperberat gejalanya)
    KOMPLIKASI  SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA ANAK
    • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali)
    • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu  atau mengalami Infeksi Telinga
    • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING. 
    • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
    • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  
    • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
    • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
     Bila tanda dan gejala  Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi)  pada anak tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan tersebut maka sangat mungkin Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) pada anak disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.
    Penyebab lain yang memperberat  Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya
     
     
     
      
    Memastikan Diagnosis
    • Diagnosis Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak yang disebabkan  alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
    • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
    • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
    • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
    • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
    • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

     PENATALAKSANAAN 

    • Penanganan Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak  karena alergi dan hipersensitifitas makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
    • Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
    • Obat-obatan simtomatis seperti pencahar, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dlamkeadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

    Obat

    • Pengobatan Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
    • Konsumsi obat-obatan saluran cerna atau pencahar, pola makan serat, buah dan air putih banyak, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk menangani Gangguan Buang Air Besar (Konstipasi) Pada Anak tidak akan berhasil selama penyebab utama  alergi dan hipersensitifitas makanan tidak diperbaiki.

    DAFTAR PUSTAKA     

    • Iacono G, Cavataio F, Montalto G, et al. Intolerance of cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1998; 339 :1100 –1104[Abstract/Free Full Text]
    • Bloom DA. Allergic colitis: a mimic of Hirschsprung disease. Pediatr Radiol.1999; 29 :37 –41[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Chin KC, Tarlow MJ, Allfree AJ. Allergy to cow’s milk presenting as chronic constipation. BMJ.1983; 287 :1593
    • Daher S, Sole D, de Morais MB. Cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1999; 340 :891[Free Full Text]
    • Iacono G, Carroccio A, Cavataio F, et al. Chronic constipation as a symptom of cow milk allergy. J Pediatr.1995; 126 :34 –39[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Shah N, Lindley K, Milla P. Cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1999; 340 :891 –892
    • Vanderhoof JA, Perry D, Hanner TL, Young RJ. Allergic constipation: association with infantile milk allergy. Clin Pediatr (Phila).2001; 40 :399 –402
    • Iacono G, Carroccio A, Cavataio F, Montalto G, Cantarero MD, Notarbartolo A. Chronic constipation as a symptom of cow milk allergy. J Pediatr.1995; 126 :34 –39
    • Iacono G, Cavataio F, Montalto G, et al. Intolerance of cow’s milk and chronic constipation in children. N Engl J Med.1998; 339 :1100 –1104
    • Daher S, Tahan S, Sole D, et al. Cow’s milk protein intolerance and chronic constipation in children. Pediatr Allergy Immunol.2001; 12 :339 –342
    • Terr AI, Salvaggio JE. Controversial concepts in allergy and clinical immunology. In: Bierman CW, Pearlman DS, Shapiro GG, Busse WW, eds. Allergy, Asthma, and Immunology From Infancy to Adulthood. Philadelphia, PA: WB Saunders; 1996:749–760
    • Zeiger RS, Sampson HA, Bock SA, et al. Soy allergy in infants and children with IgE-associated cow’s milk allergy. J Pediatr.1999; 134 :614 –622
    • Bellioni-Businco B, Paganelli R, Lucenti P, Giampietro PG, Perborn H, Businco L. Allergenicity of goat’s milk in children with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol.1999; 103 :1191 –1194
    • Sampson HA, Anderson JA. Summary and recommendations: classification of gastrointestinal manifestations due to immunologic reactions to foods in infants and young children. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30 :S87 –S94
    • Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. AGA technical review on the evaluation of food allergy in gastrointestinal disorders. Gastroenterology.2001; 120 :1026 –1040.
    • Lake AM, Whitington PF, Hamilton SR. Dietary protein-induced colitis in breast-fed infants. J Pediatr.1982; 101 :906 –910.
    • Machida H, Smith A, Gall D, Trevenen C, Scott RB. Allergic colitis in infancy: clinical and pathologic aspects. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :22 –26
    • Vandenplas Y, Belli D, Benhamou PH, et al. Current concepts and issues in the management of regurgitation of infants: a reappraisal. Acta Paediatr.1996; 85 :531 –534[Web of Science][Medline]
    • Vandenplas Y, Belli D, Benhamou P, et al. A critical reappraisal of current management practices for infant regurgitation: recommendation of a working party. Eur J Pediatr.1997; 156 :343 –357[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • ESPGAN Working group. Diagnostic criteria for food allergy with predominantly intestinal symptoms. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1992; 14 :108 –112[Web of Science][Medline]
    • Thomson M. Disorders of the esophagus and stomach in infants. Baillières Clin Gastroenterol.1997; 11 :547 –557[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Bock SA. Prospective appraisal of complaints of adverse reaction to foods in children during the first 3 years of life. Pediatrics.1987; 79 :683 –688[Abstract/Free Full Text]
    • Bishop JM, Hill DJ, Hosking CS. Natural history of cow milk allergy: clinical outcome. J Pediatr.1990; 116 :862 –867[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Gerrard JW, McKenzie J, Golubott N, et al. Cow’s milk allergy: prevalence and manifestations in an unselected series of newborns. Acta Paediatr Scand.1973; 234 :1
    • Host A. Cow’s milk protein allergy and intolerance in infancy. Some clinical, epidemiological and immunological aspects. Pediatr Allergy Immunol.1994; 5(suppl 5) :1 –36[Medline]
    • Kjellman NI. Atopic disease in seven-year-old children. Incidence in relation to family history. Acta Paediatr Scand.1977; 66 :465 –471[Web of Science][Medline]
    • Schrander JJ, van den Bogart JP, Forget PP, et al. Cow’s milk protein intolerance in infants under 1 year of age: a prospective epidemiological study. Eur J Pediatr.1993; 152 :640 –644[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Host A, Koletzko B, Dreborg S, et al. Dietary products used in infants for treatment and prevention of food allergy. Joint statement of the European Society for Paediatric Allergology and Clinical Immunology (ESPACI) Committee on Hypoallergenic Formulas and the European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) Committee on Nutrition. Arch Dis Child.1999; 81 :80 –84[Free Full Text]
    • Walker-Smith JA. Diagnostic criteria for gastrointestinal food allergy in childhood. Clin Exp Allergy.1995; 25(suppl 1) :S20 –S22[CrossRef]
    • Schrander JJ, Oudsen S, Forget PP. Follow up study of cow’s milk protein intolerant infants. Eur J Pediatr.1992; 151 :783 –785[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Cavataio F, Carroccio A, Iacono G. Milk-induced reflux in infants less than one year of age. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30 :S36 –S44
    • Buisseret PD. Common manifestations of cow’s milk allergy in children. Lancet.1978; 8059 :304 –305
    • Forget P, Arends JW. Cow’s milk protein allergy and gastro-oesophageal reflux. Eur J Pediatr.1985; 144 :298 –300[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • McLain BI, Cameron DJ, Barnes GL. Is cow’s milk protein intolerance a cause of gastro-oesophageal reflux in infancy? J Paediatr Child Health.1994; 30 :316 –318[Web of Science][Medline]
    • Kelly KJ, Lazenby AJ, Rowe PC, et al. Eosinophilic esophagitis attributed to gastroesophageal reflux: improvement with an amino acid-based formula. Gastroenterology.1995; 109 :1503 –1512[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Hill DJ, Cameron DJS, Francis DEM, et al. Challenge confirmation of late-onset reactions to extensively hydrolyzed formulas in infants with multiple food protein intolerance. J Allergy Clin Immunol.1995; 96 :386 –394[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • de Boissieu D, Matarazzo P, Dupont C. Allergy to extensively hydrolyzed cow milk protein in infants: identification and treatment with an amino acid based formula. J Pediatr.1997; 131 :744 –747[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Hill DJ, Heine RG, Cameron DJS, et al. Role of food protein intolerance in infants with persistent distress attributed to reflux esophagitis. J Pediatr.2000; 136 :641 –647[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • van Elburg RM, Uil JJ, de Monchy JG, et al. Intestinal permeability in pediatric gastroenterology. Scand J Gastroenterol Suppl.1992; 194 :19 –24[Medline]
    • Host A, Husby S, Gjesing B, et al. Prospective estimation of IgG, IgG subclass and IgE antibodies to dietary proteins in infants with cow milk allergy. Levels of antibodies to whole milk protein, BLG and ovalbumin in relation to repeated milk challenge and clinical course of cow milk allergy. Allergy.1992; 47 :218 –229[Web of Science][Medline]
    • Keller KM, Burgin-Wolff A, Lippold R, et al. The diagnostic significance of IgG cow’s milk protein antibodies re-evaluated. Eur J Pediatr.1996; 155 :331 –337[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Iacono G, Cavataio F, Montalto G. Persistent cow’s milk protein intolerance in infants: the changing faces of the same disease. Clin Exp Allergy.1998; 28 :817 –823[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Fries JH, Zizmor J. Roentgen studies of children with alimentary disturbances due to food allergy. Am J Dis Child.1937; 54 :1239 –1251[Abstract/Free Full Text]
    • Reimann HJ, Lewin J. Gastric mucosal reactions in patients with food allergy. Am J Gastroenterol.1988; 83 :1212 –1219[Web of Science][Medline]
    • Borrelli O, Schappi MG, Knafelz D, et al. Mast Cell-Nerve Interaction Is Critical for Food Allergic Intestinal Dysmotility. Presented at the 34th Annual Meeting of ESPGHAN; May 9–12, 2001; Geneva, Switzerland (abstr 04)
    • American Academy of Pediatrics, Committee on Nutrition. Hypoallergenic infants formulas. Pediatrics.2000; 106 :346 –349[Abstract/Free Full Text]
    • Halpern SR, Sellers WA, Johnson RB, et al. Development of childhood allergy in infants fed breast, soy or cow’s milk. Allergy Clin Immunol.1973; 51 :139 –151[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Johnstone DE, Roghmann KJ. Recommendation for soy infant formula: a review of the literature and a survey of pediatric allergists. Pediatr Asthma Allergy Immunol.1993; 7 :77 –88
    • Chandra RK. Five-year follow-up of high-risk infants with family history of allergy who were exclusively breast-fed or fed partial whey hydrolysate, soy, and conventional cow’s milk formulas. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1997; 24 :380 –388[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Kjellman NI, Johansson SG. Soy versus cow’s milk in infants with a biparental history of atopic disease: development of atopic disease and immunoglobulins from birth to 4 years of age. Clin Allergy.1979; 9 :347 –358[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Bock SA, Atkins FM. Patterns of food hypersensitivity during sixteen years of double-blind, placebo-controlled food challenges. J Pediatr.1990; 117 :561 –567[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Zeiger RS, Sampson HA, Bock SA. Soy allergy in infants and children with IgE-associated cow’s milk allergy. J Pediatr.1999; 134 :614 –622[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Sampson HA. The role of food allergy and mediator release in atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol.1988; 81 :635 –645[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Businco L, Bruno G, Giampietro PG, et al. Allergenicity and nutritional adequacy of soy protein formulas. J Pediatr.1992; 121 :S21 –S28[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • American Academy of Pediatrics, Committee on Nutrition. Soy protein-based formulas: recommendations for use in infant feeding. Pediatrics.1989; 83 :1068 –1069[Abstract/Free Full Text]
    • Gern JE, Yang E, Errard HM, et al. Allergic reactions to milk-contaminated “nondairy” products. N Engl J Med.1991; 324 :976 –979[Web of Science][Medline]
    • Lifschitz CH, Hawkins HK, Guerra C, et al. Anaphylactic shock due to cow’s milk protein hypersensitivity in a breast-fed infant. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1988; 7 :141 –144[Web of Science][Medline]
    • Businco L, Cantani A, Longhi AL, et al. Anaphylactic reactions to cow’s milk whey hydrolysate (Alpha-Re, Nestle) in infants with cow’s milk allergy. Ann Allergy.1989; 62 :333[Web of Science][Medline]
    • Ellis MH, Short JA, Heiner DC. Anaphylaxis after ingestion of a recently introduced hydrolyzed whey protein formula. J Pediatr.1991; 118 :74 –77[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Schwartz RH, Amonette MS. Cow milk protein hydrolysate infant formula not always “hypoallergenic.” J Pediatr.1991; 119 :839[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Saylor JD, Bahna SL. Anaphylaxis to casein hydrolysate formula. J Pediatr.1991; 118 :71 –74[CrossRef][Web of Science][Medline]Harrison CJ, Puntic WL, Durbin GM, et al. Case report: atypical allergic colitis in preterm infants. Acta Paediatr Scand.1991; 80 :1113 –1116[Web of Science][Medline]
    • Kelso JM, Sampson HA. Food protein-induced enterocolitis to casein hydrolysate formulas. J Allergy Clin Immunol.1993; 92 :909 –910[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Rosenthal E, Schlesinger Y, Birnhaum Y, et al. Intolerance to casein hydrolysate formula. Acta Paediatr Scand.1991; 80 :958 –960[Web of Science][Medline]
    • Ammar F, de Boissieu D, Dupont C. Allergy to protein hydrolysates. Report of 30 cases. Arch Pediatr.1999; 6 :837 –843[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Giampietro PG, Kjellman NIM, Oldaeus G, et al. Hypoallergenicity of an extensively hydrolyzed whey formula. Pediatr Allergy Immunol.2001; 12 :83 –86[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Sicherer SH, Noone SA, Koerner CB, et al. Hypoallergenicity and efficacy of an amino acid-based formula in children with cow’s milk and multiple food allergy. J Pediatr.2001; 138 :688 –693[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Lake AM. Beyond hydrolysates: use of L-amino acid formula in resistant dietary protein-induced intestinal disease in infants. J Pediatr.1997; 131 :658 –660[Web of Science][Medline]
    • Vanderhoof JA, Murray ND, Kaufman SS, et al. Intolerance to protein hydrolysate infant formulas: an underrecognized cause of gastrointestinal symptoms in infants. J Pediatr.1997; 131 :741 –744[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Makinen-Kiljunen S, Palosuo T. A sensitive enzyme-linked immunosorbent assay for determination of bovine ß-lactoglobulin in infant feeding formulas and in human milk. Allergy.1992; 47 :347 –352[Web of Science][Medline]
    • Carroccio A, Cavataio F, Montalto D, et al. Intolerance to hydrolysed cow’s milk proteins in infants: clinical characteristics and dietary treatment. Clin Exp Allergy.2000; 30 :1598 –1603[CrossRef]
    •  Isolauri E, Sutas Y, Makinen-Kiljunen S, et al. Efficacy and safety of hydrolyzed cow milk and amino acid-derived formulas in infants with cow milk allergy. J Pediatr.1995; 127 :550 –557[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Niggemann B, Binder C, Dupont C, et al. Prospective, controlled, multicenter study on the effect of an amino-acid-based formula in infants with cow’s milk allergy/intolerance and atopic dermatitis. Pediatr Allergy Immunol.2001; 12 :78 –82[CrossRef]
    • Vandenplas Y, Hauser B, Blecker U, et al. The nutritional value of a whey hydrolysate formula compared with a whey-predominant formula in healthy infants. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1993; 17 :92 –96[Web of Science][Medline]
    • McLeish CM, MacDonald A, Booth IW. Comparison of an elemental with a hydrolysed whey formula in intolerance to cow’s milk. Arch Dis Child.1995; 73 :211 –215[Abstract/Free Full Text]
    • Sampson HA, James JM, Bernheisel-Broadbent J. Safety of an amino acid-derived infant formula in children allergic to cow milk. Pediatrics.1992; 90 :463 –465[Abstract/Free Full Text]
    •  Isolauri E, Sutas Y, Salo MK, et al. Elimination diet in cow’s milk allergy: risk for impaired growth in young children. J Pediatr.1998; 132 :1004 –1009[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Jakobsson J, Lindberg T. A prospective study of cow’s milk protein intolerance in Swedish infants. Acta Paediatr.1979; 68 :853 –859[Web of Science]
    •  de Boissieu D, Matarazzo P, Rocchiccioli F, et al. Multiple food allergy: a possible diagnosis in breastfed infants. Acta Paediatr.1997; 86 :1042 –1046[Web of Science][Medline]
    • Isolauri E, Tabvanainen A, Peltola T, et al. Breast-feeding of allergic infants. J Pediatr.1999; 134 :27 –32[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Hill DJ, Heine RG, Cameron DJS, et al. The natural history of intolerance to soy and extensively hydrolyzed formulas in infants with multiple food protein intolerance. J Pediatr.1999; 135 :118 –121[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Walker-Smith JA, Murch SH. Gastrointestinal food allergy. In: Diseases of the Small Intestine in Childhood. 4th ed. Oxford, United Kingdom: Isis Medical Media; 1999:205–234
    • Oderda G, Dell’Olio D, Forni M, et al. Treatment of childhood peptic esophagitis with famotidine or alginate-antacid. Ital J Gastroenterol.1990; 22 :346 –349[Web of Science][Medline]
    • Dalzell AM, Searle JW, Patrick MK. Treatment of refractory ulcerative oesophagitis with omeprazole. Arch Dis Child.1992; 67 :641 –642[Abstract/Free Full Text]
    • Kato S, Ebina K, Fujii K, et al. Effect of omeprazole in the treatment of refractory acid-related diseases in childhood: endoscopic healing and twenty-four hour intragastric acidity. J Pediatr.1996; 128 :415 –421[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Israel DM, Hassall E. Omerprazole and other proton pump inhibitors: pharmacology, efficacy, and safety, with special reference to use in children. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1998; 27 :568 –579[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Deloukas P, Schuler GD, Gyapay G, et al. A physical map of 30,000 human genes. Science.1998; 282 :744 –746[Abstract/Free Full Text]
    • MacDonald SM, Pazebas WA, Jabs EW. Chromosomal localization of tumor protein, translationally-controlled 1 (TPT 1) encoding the human histamine releasing factor (HRF) to 13q12–q14. Cytogenet Cell Genet.1999; 84 :128 –129[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Bhattacharyya S, Leaves NI, Witshire S, et al. A high-density genetic map of the chromosome 13q14 atopy locus. Genomics.2000; 70 :286 –291[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Beyer K, Nickel R, Freidhoff L, et al. Association and linkage of atopic dermatitis with chromosome 13q12–14 and 5q31–33 markers. J Invest Dermatol.2000; 115 :906 –908[CrossRef][Web of Science][Medline]
    •  The Collaborative Study of Genetics of Asthma. A genome-wide search for asthma susceptibility loci in ethnically diverse populations. Nat Genet.1997; 15 :389 –392[CrossRef][Web of Science][Medline]
    •  Lukacs NW, Tekkanat KK, Berlin A, et al. Respiratory syncytial virus predispose to augmented allergic airway responses via il-13-mediated mechanisms. J Immunol.2001; 167 :1060 –1065[Abstract/Free Full Text]
    • McBride JT. Pulmonary function changes in children after respiratory syncytial virus infection in infancy. J Pediatr.1999; 135(2, pt 2) :28 –32[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Kalliomaki M, Salminen S, Arvilommi H, et al. Probiotics in primary prevention of atopic disease: a randomised placebo-controlled trial. Lancet.2001; 357 :1076 –1079[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Murch S. Toll of allergy reduced by probiotics. Lancet.2001; 357 :1057 –1059[CrossRef][Web of Science][Medline]
    •  Thorens J, Froehlich F, Schwizer W, et al. Bacterial overgrowth during treatment with omeprazole compared with cimetidine: a prospective, randomised double blind study. Gut.1996; 39 :54 –59[Abstract/Free Full Text]
    • Salminen S, von Wright A, Morelli L, et al. Demonstration of safety of probiotics: a review. Int J Food Microbiol.1998; 44 :93 –106[CrossRef][Web of Science][Medline]
    • Odze RD, Bines J, Leichtner AM, Goldman H, Antonioli DA. Allergic proctocolitis in infants: a prospective clinicopathologic biopsy study. Hum Pathol.1993; 24 :668 –674
    • Wilson NW, Self TW, Hamburger RN. Severe cow’s milk induced colitis in an exclusively breast-fed neonate. Case report and clinical review of cow’s milk allergy. Clin Pediatr (Phila).1990; 29 :77 –80
    • Pumberger W, Pomberger G, Geissler W. Proctocolitis in breast fed infants: a contribution to differential diagnosis of haematochezia in early childhood. Postgrad Med J.2001; 77 :252 –254
    • Anveden HL, Finkel Y, Sandstedt B, Karpe B. Proctocolitis in exclusively breast-fed infants. Eur J Pediatr.1996; 155 :464 –467
    • Pittschieler K. Cow’s milk protein-induced colitis in the breast-fed infant. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1990; 10 :548 –549
    • Vanderhoof JA, Murray ND, Kaufman SS, et al. Intolerance to protein hydrolysate infant formulas: an underrecognized cause of gastrointestinal symptoms in infants. J Pediatr.1997; 131 :741 –744
    • Winter HS, Antonioli DA, Fukagawa N, Marcial M, Goldman H. Allergy-related proctocolitis in infants: diagnostic usefulness of rectal biopsy. Mod Pathol.1990; 3 :5 –10
    • Goldman H, Proujansky R. Allergic proctitis and gastroenteritis in children. Clinical and mucosal biopsy features in 53 cases. Am J Surg Pathol.1986; 10 :75 –86
    • Wyllie R. Cow’s milk protein allergy and hypoallergenic formulas. Clin Pediatr (Phila).1996; 35 :497 –500
    • Kuitunen P, Visakorpi J, Savilahti E, Pelkonen P. Malabsorption syndrome with cow’s milk intolerance: clinical findings and course in 54 cases. Arch Dis Child.1975; 50 :351 –356
    • Iyngkaran N, Yadav M, Boey C, Lam K. Severity and extent of upper small bowel mucosal damage in cow’s milk protein-sensitive enteropathy. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1988; 8 :667 –674
    • Walker-Smith JA. Cow milk-sensitive enteropathy: predisposing factors and treatment. J Pediatr.1992; 121 :S111 –S115
    • Iyngkaran N, Robinson MJ, Prathap K, Sumithran E, Yadav M. Cows’ milk protein-sensitive enteropathy. Combined clinical and histological criteria for diagnosis. Arch Dis Child.1978; 53 :20 –26
    • Yssing M, Jensen H, Jarnum S. Dietary treatment of protein-losing enteropathy. Acta Paediatr Scand.1967; 56 :173 –181
    • Hauer AC, Breese EJ, Walker-Smith JA, MacDonald TT. The frequency of cells secreting interferon-gamma and interleukin-4,–5, and -10 in the blood and duodenal mucosa of children with cow’s milk hypersensitivity. Pediatr Res.1997; 42 :629 –638
    • Kokkonen J, Haapalahti M, Laurila K, Karttunen TJ, Maki M. Cow’s milk protein-sensitive enteropathy at school age. J Pediatr.2001; 139 :797 –803
    • Powell GK. Milk- and soy-induced enterocolitis of infancy. J Pediatr.1978; 93 :553 –560
    •  Powell G. Food protein-induced enterocolitis of infancy: differential diagnosis and management. Compr Ther.1986; 12 :28 –37
    • Sicherer SH, Eigenmann PA, Sampson HA. Clinical features of food protein-induced enterocolitis syndrome. J Pediatr.1998; 133 :214 –219
    • Vandenplas Y, Edelman R, Sacre L. Chicken-induced anaphylactoid reaction and colitis. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1994; 19 :240 –241
    • Nowak-Wegrzyn A, Sampson HA, Wood RA, Sicherer SH. Food protein-induced enterocolitis syndrome caused by solid food proteins. Pediatrics.2003; 111 :829 –835
    • Murray K, Christie D. Dietary protein intolerance in infants with transient methemoglobinemia and diarrhea. J Pediatr.1993; 122 :90 –92
    • Powell GK. Enterocolitis in low-birth-weight infants associated with milk and soy protein intolerance. J Pediatr.1976; 88 :840 –844
    • Gryboski J. Gastrointestinal milk allergy in infancy. Pediatrics.1967; 40 :354 –362
    • Lake AM. Food protein-induced colitis and gastroenteropathy in infants and children. In: Metcalfe DD, Sampson HA, Simon RA, eds. Food Allergy: Adverse Reactions to Foods and Food Additives. Boston, MA: Blackwell Scientific Publications; 1997:277–286
    • Halpin TC, Byrne WJ, Ament ME. Colitis, persistent diarrhea, and soy protein intolerance. J Pediatr.1977; 91 :404 –407
    • Jenkins H, Pincott J, Soothill J, Milla P, Harries J. Food allergy: the major cause of infantile colitis. Arch Dis Child.1984; 59 :326 –329
    • Benlounes N, Candalh C, Matarazzo P, Dupont C, Heyman M. The time-course of milk antigen-induced TNF-alpha secretion differs according to the clinical symptoms in children with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol.1999; 104 :863 –869
    • Osterlund P, Jarvinen KM, Laine S, Suomalainen H. Defective tumor necrosis factor-alpha production in infants with cow’s milk allergy. Pediatr Allergy Immunol.1999; 10 :186 –190
    • Chung HL, Hwang JB, Park JJ, Kim SG. Expression of transforming growth factor beta1, transforming growth factor type I and II receptors, and TNF-alpha in the mucosa of the small intestine in infants with food protein-induced enterocolitis syndrome. J Allergy Clin Immunol.2002; 109 :150 –154
    • Busse P, Sampson HA, Sicherer SH. Non-resolution of infantile food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES). J Allergy Clin Immunol.2000; 105 :S129 (abstr)
    • Hill DJ, Hosking CS. Infantile colic and food hypersensitivity. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 30(suppl) :S67 –S76
    • Lucassen PL, Assendelft WJ, Gubbels JW, van Eijk JT, van Geldrop WJ, Neven AK. Effectiveness of treatments for infantile colic: systematic review. Br Med J.1998; 316 :1563 –1569
    • Castro-Rodriguez JA, Stern DA, Halonen M, et al. Relation between infantile colic and asthma/atopy: a prospective study in an unselected population. Pediatrics.2001; 108 :878 –882
    • Sampson HA, McCaskill CC. Food hypersensitivity and atopic dermatitis: evaluation of 113 patients. J Pediatr.1985; 107 :669 –675
    •  Burks AW, James JM, Hiegel A, et al. Atopic dermatitis and food hypersensitivity reactions. J Pediatr.1998; 132 :132 –136
    •  D’Netto MA, Herson VC, Hussain N, et al. Allergic gastroenteropathy in preterm infants. J Pediatr.2000; 137 :480 –486
    • Talley NJ, Shorter RG, Phillips SF, Zinsmeister AR. Eosinophilic gastroenteritis: a clinicopathological study of patients with disease of the mucosa, muscle layer, and subserosal tissues. Gut.1990; 31 :54 –58
    • Caldwell JH, Mekhjian HS, Hurtubise PE, Beman FM. Eosinophilic gastroenteritis with obstruction. Immunological studies of seven patients. Gastroenterology.1978; 74 :825 –828
    • Dobbins JW, Sheahan DG, Behar J. Eosinophilic gastroenteritis with esophageal involvement. Gastroenterology.1977; 72 :1312 –1316
    • Orenstein SR, Shalaby TM, Di Lorenzo C, Putnam PE, Sigurdsson L, Kocoshis SA. The spectrum of pediatric eosinophilic esophagitis beyond infancy: a clinical series of 30 children. Am J Gastroenterol.2000; 95 :1422 –1430
    • Vitellas KM, Bennett WF, Bova JG, Johnston JC, Caldwell JH, Mayle JE. Idiopathic eosinophilic esophagitis. Radiology.1993; 186 :789 –793
    • Martino F, Bruno G, Aprigliano D, et al. Effectiveness of a home-made meat based formula (the Rezza-Cardi diet) as a diagnostic tool in children with food-induced atopic dermatitis. Pediatr Allergy Immunol.1998; 9 :192 –196
    • Van Rosendaal GM, Anderson MA, Diamant NE. Eosinophilic esophagitis: case report and clinical perspective. Am J Gastroenterol.1997; 92 :1054 –1056
    • Rothenberg ME, Mishra A, Collins MH, Putnam PE. Pathogenesis and clinical features of eosinophilic esophagitis. J Allergy Clin Immunol.2001; 108 :891 –894
    • Attwood SE, Smyrk TC, Demeester TR, Jones JB. Esophageal eosinophilia with dysphagia. A distinct clinicopathologic syndrome. Dig Dis Sci.1993; 38 :109 –116
    • Ruchelli E, Wenner W, Voytek T, Brown K, Liacouras C. Severity of esophageal eosinophilia predicts response to conventional gastroesophageal reflux therapy. Pediatr Dev Pathol.1999; 2 :15 –18
    • Lee RG. Marked eosinophilia in esophageal mucosal biopsies. Am J Surg Pathol.1985; 9 :475 –479
    • Walsh SV, Antonioli DA, Goldman H, et al. Allergic esophagitis in children: a clinicopathological entity. Am J Surg Pathol.1999; 23 :390 –396
    • Liacouras CA, Wenner WJ, Brown K, Ruchelli E. Primary eosinophilic esophagitis in children: successful treatment with oral corticosteroids. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1998; 26 :380 –385
    • Kelly KJ, Lazenby AJ, Rowe PC, Yardley JH, Perman JA, Sampson HA. Eosinophilic esophagitis attributed to gastroesophageal reflux: improvement with an amino-acid based formula. Gastroenterology.1995; 109 :1503 –1512
    • Spergel JM, Beausoleil JL, Mascarenhas M, Liacouras CA. The use of skin prick tests and patch tests to identify causative foods in eosinophilic esophagitis. J Allergy Clin Immunol.2002; 109 :363 –368
    • Faubion WAJ, Perrault J, Burgart LJ, Zein NN, Clawson M, Freese DK. Treatment of eosinophilic esophagitis with inhaled corticosteroids. J Pediatr Gastroenterol Nutr.1998; 27 :90 –93
    • Shirai T, Hashimoto D, Suzuki K, et al. Successful treatment of eosinophilic gastroenteritis with suplatast tosilate. J Allergy Clin Immunol.2001; 107 :924 –925
    • Neustrom MR, Friesen C. Treatment of eosinophilic gastroenteritis with montelukast. J Allergy Clin Immunol.1999; 104 :506
    • Sicherer SH, Noone SA, Koerner CB, Christie L, Burks AW, Sampson HA. Hypoallergenicity and efficacy of an amino acid-based formula in children with cow’s milk and multiple food hypersensitivities. J Pediatr.2001; 138 :688 –693
    • Ortolani C, Ispano M, Pastorello E, Bigi A, Ansaloni R. The oral allergy syndrome. Ann Allergy.1988; 61 :47 –52
    • Ortolani C, Pastorello EA, Farioli L, et al. IgE-mediated allergy from vegetable allergens. Ann Allergy.1993; 71 :470 –476
    • Farrell RJ, Kelly CP. Celiac sprue. N Engl J Med.2002; 346 :180 –188
    •  Ferguson A. Mechanisms in adverse reactions to food. The gastrointestinal tract. Allergy.1995; 50 :32 –38
    • Kelso JM, Sampson HA. Food protein-induced enterocolitis to casein hydrolysate formulas. J Allergy Clin Immunol.1993; 92 :909 –910
    • Frisner H, Rosendal A, Barkholt V. Identification of immunogenic maize proteins in a casein hydrolysate formula. Pediatr Allergy Immunol.2000; 11 :106 –110
    • Isolauri E, Sutas Y, Makinen KS, Oja SS, Isosomppi R, Turjanmaa K. Efficacy and safety of hydrolyzed cow milk and amino acid-derived formulas in infants with cow milk allergy. J Pediatr.1995; 127 :550 –557
    • Ventura A, Ciana G, Vinci A, Davanzo R, Giannotta A, Perini R. [Hypertrophic stenosis of the pylorus. Correlations with allergy to milk proteins and atopy] Pediatr Med Chir. 1987 Nov-Dec;9(6):679-83. Italia.

    Anakku Batuk Pilek Tidak Sembuh sembuh, Alergi Debu, Alergi Dingin atau Alergi Makanan

    wp-1585172378050.jpg

    Alergi Debu, Alergi Dingin atau Alergi Makanan Manakah Yang Benar ?

    • FAKTA : Di Swedia, pemakaian carpet berkurang tetapi kejadian alergi malah semakin meningkat, benarkah debu sebagai penyebab utama alergi ?
    • BENARKAH DEBU SEBAGAI PENYEBAB UTAMA  ALERGI BATUK, PILEK DAN SESAK ?

    ALERGI DEBU ATAU ALERGI DINGIN ATAU ALERGI MAKANAN : MANA YANG BENAR ?wp-1465151577660.jpg

    • BENARKAH PENYEBAB ALERGI KITA ADALAH DEBU? TETAPI MENGAPA ALERGI BATUK, PILEK, HIDUNG BUNTU DAN SESAK TIMBUL MALAM HARI? JUSTRU SAAT MALAM DAN PAGI DEBU TIDAK BANYAK, SIANG HARI JUSTRU DEBU LEBIH BANYAK MALAHAN KELUHAN BATUK, PILEK DAN SESAK TERSEBUT HILANG!
    • SERING PENDERITA MENGGANGGAP ALERGINYA KARENA DINGIN, tetapi saat di kantor, nonton film di bioskop, di mobil dengan udara AC sangat dingin tidak timbul gejala alergi. Atau saat tinggal atau berpergian di udara dingin seperti eropa atau amerika atau di puncak gejala alergi malah hilang. Udara dingin hanya memperberat saat penderita mengalami flu karena infeksi virus, dan hal ini akan terjadi pada semua orang meski bukan penderita alergi. Memang alergi sering timbul malam dan pagi hari, tetapi bukan karena dingin tetapi karena pengaruh hormon sirkadial tubuh saat tertentu akan memperberat gejala alergi.
    • SEDANGKAN ALERGI MAKANAN TIDAK PERNAH SEKALIPUN ANDA PIKIRKAN. WAJAR KARENA DOKTER ANDAPUN SELALU MENGANGGAP DEBU PENYEBAB ALERGI ANDA. HAL INI TERJADI KARENA UNTUK MENCARI PENYEBAB ALERGI MAKANAN SANGAT SULIT TIDAK BISA HANYA MELALUI TES ALERGI, TERUTAMA UNTUK MENILAI REAKSI TIPE LAMBAT DARI SUATU ALERGI MAKANAN
    • Faktor pencetus (pemicu) sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi.  Pencetus alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi makanan dikendalikan. Jadi yang dikendalikan lebih utama adalah penyebabnya. Bila penyebab dikendalikan pencetus tidak akan berpengaruh pada penderita alergi.
    • DEBU HANYA SEBAGAI PENYEBAB BILA DALAM JUMLAH BANYAK. Seperti rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, bila bongkar-bongkar kama, bila terdapat karpet tebal yang permanen, bila masuk gudang, boneka atau baju yang lama disimpan dallam gudang atau lemari.

    CASE ILUSTRATION :

    • Sandiaz, laki-laki 4 tahun setiap malam dan pagi hari bangun tidur sering mengalami batuk dan pilek yang tak kunjung hilang selama 3 bulan, Telah berbagai dokter dikunjungi baik dokter anak, dokter paru, dokter THT, dan berbagai obat antibiotika terbaik dan obat yang termahal pun sudah dikonsumsi hasilnya tetap tidak menunjukkan perubahan. Sebagian besar dokter menyatakan bahwa Sandiaz alergi debu ? Benarkah alergi debu ? Karena rasanya semua sudut rumah sudah super bersih tetapi keluhan alergi itu tetap saja timbul. Tetapi setelah diadviskan seorang dokter untuk menghindari sementara beberapa makanan penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan tersebut membaik.

    BACK GROUND

    • Seringkali dokter memvonis alergi pada keluhan batuk dan pilek yang berkepanjangan. Tetapi pada umumnya pasien tidak pernah mendapatkan informasi yang lengkap dari dokter apakah penyebab alergi tersebut. Hal ini terjadi karena memang untuk mencari penyebab alergi adalah merupakan kesulitan terbesar yang dialami oleh dokter dan juga penderita.
    • Paling tidak informasi dan anggapan yang sering timbul baik dari masyarakat awam dan beberapa dokter pasti menyebutkan debu sebagai penyebab. Saran untuk menghindari debu dan membersihkan semua ruangan rumah bahkan ditambah lagi memakai purifier udara dan AC paling canggihpun sudah diikuti tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Benarkah debu jadi penyebab ? Kalau bukan apakah memang benar alergi makanan sebagai penyebab alergi yang berkepanjangan tersebut?
    • Penatalaksanaan Alergi pada anak khususnya alergi pada saluran napas dan hidung sering sangat sulit dan tidak optimal. Hal ini terjadi karena sampai saat ini banyak klinisi kesulitan dalam mencari penyebab alergi.
    • Permasalahan ini terjadi karena banyak klinisi kesulitan dalam mencari penyebab alergi. Jadi fakta yang kita hadapi selama ini adalah hanyalah mengobati akibat penyakitnya tetapi tetapi tidak mencari akar permasalahan kenapa penyebab penyakit itu bisa timbul jangka panjang dan hilang timbul. Berbagai pemeriksaan alergi ternyata akurasi dan spesifitasnya sangat rendah. Hal inilah yang tampaknya menjadi penyebab utama mengapa kasus alergi sulit sekali dalam mengatasinya.
    • Pemeriksaan alergi berupa tes kulit, dan RAST sangat terbatas sebagai alat diagnosis.Sehingga sebaiknya tidak boleh menghindari makanan penyebab alergi berdasarkan karena tes kulit alergi. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi. Paling ideal dalam mencegah timbulnya alergi adalah menghindari pencetus atau penyebabnya. Hal ini memerlukan pengamatan yang cermat dan kerjasama yang baik antara dokter, pasien dan keluarga. Untuk mendapatkan hasil penanganan alergi yang optimal harus dipahami perbedaan antara penyebab dan pencetus alergi.

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINJYA ALERGI ADALAH  PENYEBAB DAN PEMICU ALERGI

    PENYEBAB ALERGI :

    • MAKANAN
    • HIRUPAN
    • KONTAK KULIT
    • OBAT-OBATAN

    PEMICU ALERGI :

    • INFEKSI (panas, batuk, pilek)
    • AKTIFITAS MENINGKAT (menangis, berlari, tertawa keras)
    • UDARA DINGIN
    • UDARA PANAS
    • MINUMAN DINGIN
    • STRES
    • GANGGUAN HORMONAL: (kehamilan, menstruasi)

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI : 

    • GENETIK (menurun dari orangtua)
    • IMATURITAS SALURAN CERNA (Ketidakmatangan saluran cerna)
    • PAPARAN (kontak terhadap penyebab alergi)

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADI ALERGI
    Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi terjadinya alergi makanan, yaitu faktor genetik, imaturitas usus, pajanan alergi yang kadang memerlukan faktor pencetus.

    • Faktor genetik. Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita . Bila ada orang tua, keluarga atau kakek/nenek yang menederita alergi kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak sejak dini. Bila ada salah satu orang tua yang menderita gejala alergi maka dapat menurunkan resiko pada anak sekitar 17 – 40%,. Bila ke dua orang tua alergi maka resiko pada anak meningkat menjadi 53 – 70%. Untuk mengetahui resiko alergi pada anak kita harus mengetahui bagaimana gejala alergi pada orang dewasa. Gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua organ tubuh dan sistem fungsi tubuh.
    • Imaturitas usus (KETIDAKMATANGAN USUS). Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen. Secra imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur system pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh.
    • Pajanan alergi . Pajanan alergi yang merangsang produksi IgE spesifik sudah dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan. Diketahui adanya IgE spesifik pada janin terhadap penisilin, gandum, telur dan susu. Pajanan juga terjadi pada masa bayi. Pemberian ASI eksklusif mengurangi jumlah bayi yang hipersensitif terhadap makanan pada tahun pertama kehidupan. Pemberian PASI meningkatkan angka kejadian alergi

    PENYEBAB ALERGI : 

    • Penyebab adalah faktor berpengaruh langsung terhadap timbulnya gejala alergi tersebut. Alergi pada pernapasan sering ditimbulkan oleh adanya penyebab seperti hirupan dan makanan. Pada bayi dan anak makanan adalah sebagai penyebab yang utama sedangkan pada orang dewasa/tua pengaruh makanan semakin berkurang. Penyebab lainnya adalah hirupan seperti debu, serbuk sari bunga, bulu binatang, tungau (pada kasur kapuk).
    • Pada berbagai gangguan alergi saluran napas terutama bila keluhannya timbul pada malam dan pagi hari tampaknya alergi makanan berperanan paling utama sebagai penyebab. Alergi makanan dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh. Tetapi pada kenyataan sehari-hari sebagian besar masyarakat bahkan sebagian klinisi masih sering menganggap debu sebagai biangkeladi penyebabnya. Masih banyak klinisi yang menyangsikan bahwa makanan sangat berperanan penting dalam penyebab berbagai alergi selama ini. Hal ini terjadi karena pada umumnya tes kulit alergi yang sering terdeteksi adalah debu dan tungau sedangkan makanan sering negatif. Hal ini terjadi karena pada tes kulit yang terdeteksi hanyalah penyebab alergi reaksi cepat atau kurang dari 8 jam. Sedangkan penyebab alergi yang masuk kategori reaksi lambat atau lebih dari 8 jam seperti sebagain besar makanan seringkali hasilnya negatif, Hal negatif ini bukan berarti penderita tidak alergi makanan. Pemeriksaan rutin tes kulit (skin test atau prick test) adalah merupakan pemeriksaan rutin yang dilakukan ahli alergi dalam penanganan penderita alergi. Meskipun pemeriksaan ini sensitifitas tinggi tetapi ternyata spesifitasnya agak rendah. Sehingga akurasi untuk menentukan penyebab alergi tidak terlalu tinggi.
    • Dalam sepuluh tahun terakhir ini dikenal beberapa pemeriksaan alergi alternatif atau sering disebut ”unproven”. Mengapa digolongkan alternatif atau ”unproven”, ternyata pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis. Bahkan spesifitas dan sensitifitasnya tidak terlalu tinggi atau tidak lebih baik dibandingkan tes kulit. Diantaranya adalah test Vega, tes mata iridosikik, tes rambut dan sebagainya. Para ahli alergi konvensional jarang menggunakan pemeriksaan tersebut, karena tidak terlalu akurat dan sensitif. Bahkan di Australia dan beberapa negara eropa tes ini dilarang oleh institusi alergi setempat, dan di negara tersebut tes tersebut tidak akan pernah di ganti oleh ansuransi, karena memang tidak terbukti secara ilmiah.

    Gangguan saluran cerna yang harus dicurigai bahwa seseorang mengalami gangguan Alergi Makanan atau hipersensitifitas makanan

    Alergi makanan dapat dicurigai sebagai penyebab gangguan manifestasi alergi selama ini bila terdapat gangguan saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang terjadi adalah :

    • Pada Bayi :  bayi mengalami Gastrooesepageal Refluks,  Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
    • Pada Anak dan Dewasa : Pada usia anak  keluhan muntah semakin berkurang tetapi masih sering mengalami mudah muntah bila menangis, berlari atau makan banyak atau bila naik kendaran bermotor, pesawat atau kapal. Sering mengalami MUAL pagi hari bila hendak gosok gigi atau sedang disuap makanan. Sering Buang Air Besar (BAB)  3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering GLEGEKAN, sering KEMBUNG, sering buang angin dan buang angin bau tajam. Sering NYERI PERUT. Pada penderita dewasa sering megalami gejala penyakit “Maag”.

    Bagaimana memastikan penyebab alergi ?

    • Untuk memastikan penyebab alergi makanan bukan dengan tes kulit. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
    • Bila terdapat gangguan saluran cerna seperti tersebut di atas , seharusnya anda curiga bahwa makanan adalah penyebab gangguan alergi anda selama ini. Untuk memastikan makanan penyebab alergi makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
    • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
    • ”Eliminasi Provokasi Makanan terbuka Sederhana” selain sebagai alat diagnosis ternyata dapat digunakan sebagai pendekatan terapi. Penderita disarankan untuk makanan yang aman dan menghindari makanan yang beresiko dalam 3 minggu. Setelah keluhan alergi tersebut membaik dilakukan ”provakasi” atau pemberian salah satu makanan tersebut setiap minggu. Bila keluhan tersebut timbul lagi, dan bila pengalaman tersebut terjadi dua kali atau lebih dapat dipastikan bahwa makanan tersebut sebagai penyebab alergi.
    • Berbagai ”kontroversi” dan pendapat negatif sering timbul dalam pendekatan diagnosis tersebut. Apakah bila melakukan program tersebut penderita tidak akan kurang gizi? Jawabannya, pasti tidak. Karena, beberapa jenis makanan yang dihindari tersebut ada pengganti makanan yang aman lainnya dengan kandungan gizi yang tidak jauh berbeda. Intervensi tersebut akan berpengaruh terhadap gizi anak bila hanya menghindari makanan tersebut tanpa mengetahui atau mengganti dengan makanan yang aman.Misalnya
      o buah jeruk bisa diganti apel dan sebagian besar sayuran.
      o Telor dan ayam sementara diganti daging sapi atau daging kambing.
      o Kacang tanah sementara diganti kacang kedelai,
      o Ikan laut sementara diganti ikan air tawar atau dalam usia di atas setahun dan alergi tidak berat dapat diganti ikan salmon.
    • Bahkan setelah tiga minggu mengikuti program tersebut, sebagian besar terjadi kenaikkan berat badan yang cukup bermakna. Karena selama ini makanan penyebab alergi tersebut meskipun bergizi ternyata sebagian besar juga mengganggu fungsi saluran cerna yang berakibat terjadi gangguan penyerapan dan kesulitan makan.
    • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.

    PEMERIKSAAN YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN

    • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah.
    • Bahkan organisasi profesi alergi dunia seperti tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang justru sering memperberat permasalahan alergi yang ada.
    • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test/Bioresonansi), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

    PENCETUS ALERGI

    • Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari,olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan.
    • Faktor hormonal juga memicu terjadinya alergi pada orang dewasa. Faktor gangguan kesimbangan hormonal itu berpengaruh sebagai pemicu alergi biasanya terjadi saat kehamilan dan menstruasi. Sehingga banyak ibu hamil mengeluh batuk lama, gatal-gatal dan asma terjadi terus menerus selama kehamilan. Demikian juga saat mentruasi seringkali seorang wanita mengeluh sakit kepala, nyeri perut dan sebagainya.
    • Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus maka keluhan atau gejala alergi yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul. Pencetus alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi makanan dikendalikan.
      Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa suatu ketika meskipun dingin, kehujanan, kelelahan atau aktifitas berlebihan seorang penderita asma tidak kambuh. Karena saat itu penderita tersebut sementara terhindar dari penyebab alergi seperti makanan, debu dan sebagainya. Namun bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi bila terkena dingin atau terkena pencetus lainnya keluhan alergi yang timbul lebih berat. Jadi pendapat tentang adanya alergi dingin mungkin keliru.
    • FAKTOR INFEKSI. Infeksi inilah yang paling sering dianggap sebagai pencetus alergi yang paling sering. Infeksi ini dapat berupa flu, demam, batuk, pilek atau infeksi apapun pada tubuh. Sehingga sering asma kambuh lagi saat flu, sinusitis kambuh lagi saat flu, atau sesak timbul lagi saat batuk yang keras dan demam.

    carpets-allergy

    BENARKAH DEBU SEBAGAI PENYEBAB DAN BERBAGAI

     KONTROVERSI LAINNYA

    • Debu yang paling sering dianggap sebagai penyebab alergi adalah debu rumah atau ”house dust”. Debu di luar rumah jarang dianggap sebagai penyebab alergi. Bahkan banyak orangtua menyangka bahwa batuk dan pilek berkepanjngan karena adanya proyek bangunan di sekitar rumah. Bila dicermati debu yang selama ini dianggap sebagai biang keladi penyebab alergi mungkin bisa diabaikan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa keluhan alergi seperti batuk dan pilek seringkali timbul saat malam dan pagi hari. Padahal saat malam dan pagi hari debu lebih sedikit. Reaksi alergi karena debu adalah reaksi cepat yang seharusnya lebih banyak timbul saat siang hari saat aktifitas. Fakta lain juga terjadi banyak orangtua yang telah membersihkan semua debu, boneka, karpet dan dipasang air condition plasma cluster tetapi ternyata gejala alergi batuk dan pilek tidak kunjung hilang.
    • Debu bisa dapat menimbulkan alergi bila dalam jumlah yang cukup besar seperti bila masuk gudang, rumah yang tidak ditinggali lebih dari seminggu, saat bongkar-bongkar kamar atau saat menyapu atau saat memakai atau mengambil barang yang sudah lama tersimpan lama di gudang atau lemari.
    • Gangguan karena debu termasuk reaksi cepat biasanya tidak berlangsung lama, begitu paparan debu tersebut hilang maka dalam beberapa saat keluhan tersebut akan menghilang. Bila gangguan tersebut berlangsung lama bisa dipastikan adalah reaksi lambat, keadaan seperti inilah tampaknya alergi makanan seringkali dapat dicurigai.

    KONTROVERSI PENYEBAB LAINNYA

    • Dingin atau AC sering juga dianggap biang keladi penyebabnya. Mungkin memang benar dingin sebagai pemicu atau memperberat gangguan yang sudah ada. Tetapi pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena banyak penderita alergi batuk saat tidur siang dengan AC yang sangat dingin tidak timbul gejala batuk tersebut. Hingga saat ini masih belum diketahui mengapa gejala alergi atau asma sering timbul saat malam hari. Diduga peranan hormonal sirkadial yang mengakibatkan fenomena gejala saat malam dan pagi hari lebih sering terjadi.
    • Fakta tersebut di atas lebih menunjukkan bahwa makanan sangat mungkin berperanan penting dalam berbagai kejadian alergi. Proses terjadinya alergi makanan sebagian besar menimbulkan reaksi lambat, gejala timbul setelah 6-8 jam terpapar makanan tertentu seperti ayam, telor, jeruk, coklat dan sebagainya. Sebagian kecil makanan menunjukkan reaksi cepat atau kurang dari 8 jam seperti ikan laut, kacang, mangga dan buah-buahn tertentu lainnya.
    • Bukti lain bahwa makanan sangat mungkin besar pengaruhnya karena pada penderita alergi saluran napas sering juga mengalami gangguan saluran cerna seperti mual , nyeri perut, BAB sulit, diare (BAB>3kali), konstipasi, mulut berbau, lidah berpulau atau berwarna putih dan sebagainya.
    • Kontroversi lain yang sering timbul bahwa makanan berminyak sering mengakibatkan batuk. Tetapi ternyata fakta yang terjadi adalah makanan berminyak yang mengganggu penderita alergi adalah minyak goreng yang terkandung makanan berpotensi alergi seperti minyak goreng bekas menggoreng ikan laut, kacang tanah atau ayam. Hal ini sering didapatkan pada makanan restoran atau jajanan luar lainnya karena sebagian besar minyak yang dipakai adalah minyak bekas menggoreng bahan lainnya atau ”minyak goreng bekas?” Atau, penderita makan bahan alergi yang digoreng seperti makan udang goreng dan sebagainya. Fakta lain terjadi bila penderita alergi makan makanan dengan minyak goreng yang baru atau bahan makanan yang digoreng relatif aman maka gejala alergi sering tidak timbul.

    KESIMPULAN

    • Diagnosis pasti alergi makanan hanya dipastikan dengan Double Blind Placebo Control Food Chalenge (DBPCFC). Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya. Seringkali hasil yang didapatkan tidak optimal karena keterbatasan pemeriksaan tersebut dan bukan merupakan baku emas atau gold Standard dalam menentukan penyebab alergi makanan.
    • Selain mengidentifikasi penyebab alergi makanan, penderita harus mengenali pemicu alergi.
    • Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi.  Pencetus alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi makanan dikendalikan.
    • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obatan anti alergi dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi. Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dapat dihindarkan.

    END POINT :

    • ALERGI MASIH MISTERIUS DAN BELUM BANYAK TERUNGKAP, SEHINGGA DIANTARA DOKTERPUN MASIH BANYAK TIMBUL KONTROVERSI .
      GANGGUAN ALERGI PADA KULIT BERLANGSUNG DALAM JANGKA PANJANG, DENGAN PERTAMBAHAN USIA ALERGI KULIT KARENA MAKANAN AKAN MEMBAIK ATAU BERKURANG. TETAPI SEKITAR 10-30% AKAN MENETAP MESKIPUN BERKURANG DIBANDINGKAN USIA ANAK.
    • PENANGANAN TERBAIK ALERGI ADALAH MENGIDENTIFIKASI PEMICU DAN MENGHINDARI PENYEBABNYA ”BUKAN DENGAN PEMBERIAN OBAT JANGKA PANJANG”. FAKTA YANG ADA MENUNJUKKAN MASIH BANYAK TERJADI PENGGUNAAN JANGKA PANJANG OBAT ANTI ALERGI. HAL INI ADALAH MERUPAKAN BUKTI KEGAGALAN MENCARI PENYEBAB ALERGI.
      KESULITAN PENANGANAN ALERGI KARENA SULITNYA MENCARI PENYEBAB ALERGI.
    • OPINI YANG TIMBUL BAIK MASYARAKAT ATAU SEBAGIAN BESAR DOKTER MASIH MENUNJUK DEBU SEBAGAI BIANG KELADI UTAMA PENYEBAB ALERGI. PADAHAL SERINGKALI BILA DICERMATI PENDAPAT TERSEBUT MUNGKIN TIDAK SEPENUHNYA BENAR. DEBU YANG SERING JADI PENYEBAB ALERGI HANYALAH DEBU RUMAH ”HOUSE DUST” BUKAN DEBU LUAR.
    • BANYAK KLINISI YANG MASIH MENYANGSIKAN BAHWA ALERGI MAKANAN BERPERANAN SANGAT PENTING DALAM BERBAGAI PENYEBAB ALERGI. ALERGI MAKANAN SERING DIABAIKAN SEBAGAI PENYEBAB KARENA SERING TIDAK TERDETEKSI DALAM PEMERIKSAAN.
    • PEMERIKSAAN TES KULIT SPESIFITASNYA SANGAT RENDAH SEHINGGA SERING MENGABURKAN PENYEBAB ALERGI. TES KULIT HASIL NEGATIF BUKAN BERARTI TIDAK MENDERITA ALERGI MAKANAN.
    • DEMIKIAN PULA PEMERIKSAAN ALERGI ”UNPROVEN” (PEMERIKSAN ALTERNATIF) SENSITIFITAS DAN SPESIFITASNYA LEBIH RENDAH. BELUM TERBUKTI SEVCARA ILMIAH SEBAGAI ALAT DIAGNOSIS. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test / Bioresonansi), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.
    • GOLD STANDART ATAU MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN ADALAH DENGAN DBFCFC, TETAPI KARENA CUKUP RUMIT, LAMA DAN MAHAL MAKA DAPAT DILAKUKAN DENGAN MODIFIKASI ELIMINASI MAKANAN TERBUKA SEDERHANA.
    • KONTROVERSI YANG TIMBUL ADALAH KEKAWATIRAN DALAM MELAKUKAN PROGRAM TERSEBUT AKAN BERPENGARUH TERHADAP PEMENUHAN GIZI ANAK. TIDAK PERLU KAWATIR KARENA SETIAP MAKANAN YANG DIHINDARI HARUS ADA PENGGANTINYA YANG KANDUNGAN GIZINYA TIDAK JAUH BERBEDA.
    • SETELAH MENDENGAR KESAKSIAN DARI PENDERITA ALERGI DAN MENGALAMI BAIK ANAK KITA ATAU TUBUH KITA SENDIRI, BARU KITA PERCAYA FAKTA YANG ADA BAHWA : ”TERNYATA MAKANAN SANGAT JAHAT MENGGANGGU TUBUH KITA”.

    DAFTAR PUSTAKA :

    • MacLennan AH, Wilson DH, Taylor AW. The escalating cost and prevalence of alternative medicine. Prev Med
    • Ernst E. Serious adverse effects of unconventional therapies for children and adolescents: a systematic review of recent evidence. Eur J Pediatr 2003; 162: 72-80.
    • Benson TE, Arkins JA. Cytotoxic testing for food allergy: evaluations of reproducibility and correlation. J Allergy Clin Immunol 1976; 58: 471-476.
    • Chinen J, Shearer WT. Advances in asthma, allergy and immunology series 2004: basic and clinical immunology. J Allergy Clin Immunol 2004; 114: 398-405.
    • Carter ER, Pulos E, Delaney J, et al. Allergy history does not predict skin test reactivity in asthmatic children. J Asthma 2000; 37: 685-690.
    • Simon A, Worthen DM, Mitas JA. An evaluation of iridology. JAMA 1979; 242: 1385-1387.
    • Ludtke R, Kunz B, Seeber N, Ring J. Test-retest-reliability and validity of the kinesiology muscle test. Complement Ther Med 2001; 9: 141-145.
    • Lewith GT, Kenyon JN, Broomfield J, et al. Is electrodermal testing as effective as skin prick tests for diagnosing allergies? A double blind, randomised block design study. BMJ 2001; 322: 131-13
    • Allergy: Conventional and alternative concepts. The Royal College of Physicians, London, in Clin Exp Allergy: 22 :suppl 3 ;Oct. 1992
    • American Academy of Allergy: Position statements – controversial techniques. J Allergy Clin Immunol 1981;67:333-338
    • Sethi TJ, Lessof MH, Kemeny DM, Lambourn E, Tobin S, Bradley A. How reliable are commercial allergy tests? Lancet 1987;i: 92-94.
    • Crook WG. The yeast connection. Jackson, Tennessee: Professional Books, 1984.
    • Candidiasis hypersensitivity syndrome. Executive committee of the American Academy of Allergy and Immunology. J. Allergy Clin Immunol 1986; 78:271-273.
    • Niggemann B, Gruber C. Side effects of complementary and alternative medicines. Allergy 2003 58(8) 707-16.
    • Ramsay H M, Goddard W, Gill S, Moss C. Herbal creams used for Atopic Eczema in Birmingham UK, illegally contain potent corticosteroids. Arch Dis Child 2003 85(12) 1056-7
    • Warner J. Allergy and the media. Pediatr Allergy Immunol 2005; 16: 189-90.
    • Lieberman P, Crawford L, Bjelland J et al. Controlled study of cytotoxic food test. JAMA 1975; 231:728-30.
    • Lay Advisory Committee. Allergy and allergy tests: A guide for patients and relatives. The Royal College of Pathologists (London) June 2002:1-10.
    • Atkinson W, Sheldon TA, Shaath N, Whorswell PJ. Food elimination based on IgG antibodies in Irritable Bowel Syndrome: a randomised controlled trial. GUT 2004;53:1459-1464
    • Kihlstrom A, Hedlin G, Pershagen G, Toye-Blomberg M, Harfast B, Lilya G. Immunoglobulin G4-antibodies to rBet v 1 and risk of sensitisation and atopic disease in the child. Clin Exp Allergy 2005; 35: 1542-49.
    • Garrow JS. Kinesiology and food allergy. Br Med J 1988; 296:1573-1574.
    • Katelaris CH, Weiner Jm, Heddle RJ, Stuckey MS, Yan KW. Vega testing in the diagnosis of allergic conditions. Med J Australia 1991; 155:113-114.
    • Lewith GS, Kenyon JN, Broomfield J, Prescott P, Goddard J, Holgate ST. Is electro dermal testing as effective as Skin Prick Testing for diagnosing allergies? A double blind randomised block design study. BMJ 2001; 322:131-134.

    wp-1510726155282..jpg

    //pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

    (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
    google_ad_client: “ca-pub-9605189757394577”,
    enable_page_level_ads: true
    });

    Susu Formula Khusus Bagi Bayi dan Anak yang Beredar Di Indonesia

    wp-1585172378050.jpg
    wp-1466649465920.jpg

    SUSU FORMULA KHUSUS ALERGI YANG BEREDAR DI INDONESIA

    Formula sintetis asam amino

    •  Neocate adalah sintetis asam amino 100% yang merupakan bahan dasar susu formula hipoalergenik. Rasa susu formula ini relatif lebih enak dan lebih bisa rasanya lebih bisa diterima oleh bayi pada umumnya, tetapi harganya sangat mahal.
    •  Neocate digunakan untuk mengatasi gejala alergi makanan persisten  dan berat. Seperti Multiple Food Protein Intolerance, alergy terhadap extensively hydrolysed formulae, alergi makanan dengan gangguan kenaikkan berat badan, alergi colitis, GER yang tidak berespon dengan  terapi standar. Multiple food protein intolerance atau MFPI didefinisikan sebagai intoleransi terhadap lebih dari 5 makanan utama termasuk EHF (extensive Hydrolysa Milk)  dan susu formula soya.
    • MFPA (Multiple food protein allergy) didefinisikan sebagai alergi lebih dari 1 makanan dasar seperti susu, tepung, telur dan kedelai. Susu ini juga digunakan sebagai placebo dalam DBPCFC untuk mendiagnosis alergi susu sapi

    SUSU SOYA (ISOLAT KEDELAI)

    •  Susu formula soya adalah salah satu susu formula pengganti bagi bayi dan anak yang mengalami alergi terhadap protein susu sapi. Susu formula soya juga bebas laktosa yang aman dipakai oleh bayi dan anak yang memerlukan diet bebas laktosa.
    • Soya menggunakan isolat protein kedelai sebagai bahan dasar. Isolat protein kedelai tersebut memiliki kandungan protein tinggi yang setara dengan susu sapi.
    • Seperti halnya pada ASI, kalsium dan fosfor pada susu formula soya memiliki perbandingan 2: 1 untuk menunjang pembentukan tulang dan gigi yang kuat. Susu formula ini juga ada yang mengandung asam lemak esensial, yaitu Omega 6 dan Omega 3 dengan rasio yang tepat sebagai bahan dasar pembentukan AA & DHA untuk tumbuh kembang otak yang optimal.
    •  Karbohidrat pada formula soya adalah maltodextrin, yaitu sejenis karbohidrat yang dapat ditoleransi oleh sistem pencernaan bayi yang terluka saat mengalami diare ataupun oleh sistem pencernaan bayi yang memang alergi terhadap susu sapi. Susu  formula soya (kedelai) kurang lebih sama manfaat nutrisinya dibandingkan formula hidrolisat ekstensif, tetapi lebih murah dan rasanya lebih familiar.
    • Pada penelitian yang dilakukan terhadap 170 bayi alergi susu sapi didapatkan susu soya bisa diterima oleh sebagian besar bayi dengan alergi susu sapi baik IgE dan Non IgE . Perkembangan IgE berkaitan dengan susu soya termasuk jarang.
    • Susu soya direkomendasikan untuk alternatif pilihan pertama pada penderita alergi susu sapi pada usia di atas 6 bulan. Tetapi bukan berarti penelitian ini merubah pemberian susu formula soya di bawah usia 6 bulan. Anak yang mengalami alergi susu sapi, ternyata didapatkan sekitar 30 – 40% mengalami alergi susu soya.

    SUSU EKSTENSIF HIDROLISAT LAINNYA

    • Alternatif pengganti pada alergi susu sapi adalah susu formula yang mengandung protein susu sapi hidrolisa (melalui pemrosesan khusus).
    • Susu formula ini rasanya  memang tidak begitu enak dan relatif lebih mahal.. Protein Whey sering lebih mudah di denaturasi (dirusak) oleh panas dibandingkan protein kasein yang lebih tahan terhadap panas. Sehingga proses denaturasi whey dapat diterima oleh penderita alergi susu sapi, seperti susu sapi evaporasi.  
    • European Society of Paediatric Allergy dan Clinical Immunology (ESPACI) mendefinisikan formula ekstensif hidrolisa adalah formula dengan bahan dasar protein hidrolisa dengan fragmen yang cukup kecil untuk mencegah terjadinya alergi pada anak.
    • Formula ekstensif hidrolisa akan memenuhi criteria klinis bila secara klinis dapat diterima 90% oleh penderita proven IgE-mediated alergi susu sapi (95% confidence interval) seperti yang direkomendasikan American Academy of Paediatrics Nutritional Committee.
    • Sejauh ini sekitar 10% penderita alergi susu sapi dapat menimbulkan reaksi terhadap susu formula ekstensif hidrolisa. Secara pasti penderita yang alergi terhadap formula ekstensif hidrolisa belum diketahui, diperkirakan lebih dari 19%. Pengalaman penggunaan hidrolisa kasein telah dilakukan hampir 50 tahun lebih,
    • Beberapa penelitian menunjukkan sangat efektif untuk penderita alergi susu sapi. Susu Hidrolisa kasein yang terdapat dipasaran adalah Pregestimil (Mead Johnson).  Sedangkan hidrolisa whey dalam waktu terakhir ini mulai dijadikan alternatif, dan tampaknya toleransi secara klinik hampir sama dengan hidrolisa kasein. Beberapa contoh susu hidrolisa whey adalah  Pepti- Junior (Nutricia). Protein Whey lebih mudah didenaturasi dengan suhu panas tetapi kasein sangat tahan panas

    SUSU PARSIAL HIDROLISA

    •  Susu formula parsial hidrolisa masih mengandung peptida cukup besar sehingga masih berpotensi untuk menyebabkan reaksi alergi susu sapi. Susu ini tidak direkomendasikan untuk pengobatan atau pengganti susu untuk penderita alergu susu sapi.
    • Susu hipoalergenik atau rendah alergi ini contohnya NAN HA, NUTRILON HA dan  Enfa HA. Susu ini direkomendasikan untuk penderita yang beresiko tinggi alergi sebelum menunjukkan adanya gejala alergi. Penelitian menunjukkan pemberian Formula hidrolisa Parsial mengurangi onset gejala alergi yang dapat ditimbulkan.
    • Kesalahan yang sering terjadi susu hipoalergenik bukan pengganti sebagai alergi susu sapi, tetapi hanya sebagai pencegahan. Banyak kasus ditemui anak dianggap atau dicurigai  alergi susu sapi lansung direkomendasikan hipoalergenik parsial.

    PARSIAL HIDROLISA DAN BEBAS LAKTOSA

    • Susu parsial hidrolisat lainnya adalah VITALAC BL atau susu Enfamil Gentle Care. Susu formula jenis ini relatif unik. Produsen susu formula khusus ini khabarnya awalnya mengkonsep untuk penggunaan hipoalergenik, tetapi karena berbagai hal maka dialihkan menjadai susu penderita sensitif pencernan seperti diare dan sebagainya.
    • Penelitian pendahuluan yang di lakukan Children Allergy Clinic didapatkan bahwa beberapa bayi yang tidak toleran atau tidak cocok dengan susu hipoalergenik parsial dengan menggunakan susu ini 80% dapat di toleransi dengan baik. Bahkan yang agak unik, pada beberapa kasus dengan susu ekstensif hidrolisat dibandingkan dengan penggunaan susu ini ternyata mempunyai respon yang lebih baik. Temuan awal ini mungkin adapat dilakukan penelitian lebih jauh tentang penggunaan susu vitalac BL sebagai alternatif penggunaan susu hipoalergenik.

    DIAGNOSIS ALERGI SUSU SAPI

    • Diagnosis alergi susu sapi adalah suatu diagnosis klinis berupa anamnesis yang cermat, mengamati tanda atopi pada pemeriksaan fisis, pemeriksaan imunoglobulin E total dan spesifik susu sapi.
    • Untuk memastikan alergi susu sapi harus menggunakan provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC yang menjadi gold standard atau baku emas. Namun cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic  melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
    • Anamnesis atau mengetahui riwayat gejala dilihat dari jangka waktu timbulnya gejala setelah minum susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi. Harus diketahui riwayat pemberian makanan lainnya termasuk diet ibu saat pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping lainnya. Harus diketahui juga gejala alergi asma, rinitis alergi, dermatitis atopik, urtikaria, alergi makanan, dan alergi obat pada keluarga (orang tua, saudara, kakek, nenek dari orang tua), dan pasien sendiri.
    • Gejala klinis pada kulit seperti urtikaria, dermatitis atopik, ras. Saluran napas: batuk berulang terutama pada malam hari, setelah latihan asma, rinitis alergi. Gangguan saluran cerna, muntah, diare, kolik dan obstipasi. Pemeriksaan fisik yang mungkin didapatkan hádala ada kulit tampak kekeringan kulit, urtikaria, dermatitis atopik allergic shiner’s, Siemen grease, geographic tongue, mukosa hidung pucat, dan wheezing (mengi).

    PITFALL DIAGNOSIS

    • Pitfall terjadi pada awal penentuan diagnosis dilakukan hanya berdasarkan data laboratorium baik  tes kulit atau IgE spesifik terhadap susu sapi. Padahal baku emas diagnosis adalah dengan melakukan menggunakan provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). Penelitian yang dilakukan penulis terungkap bahwa 25 anak dengan hasil IgE spesifik terhadap susu sapi positif, ternyata setelah dilakukan elimisasi provokasi terbuka sekitar 48% dapat toleran terhadap susu sapi “nutrien dense”, 40% toleran terhadap susu sapi evaporasi, 24% toleran terhadap susu formula sapi  biasa.
    • Pitfall diagnosis juga sering terjadi hanya berdasarkan anamnesa tanpa pemeriksaan penunjang dan DBPCFC. Bila anamnesis tidak cermat sering terjadi kesalahan karena faktor yang mempengaruhi gejala yang timbul bukan hanya protein susu sapi.  Reaksi simpang yang terjadi dapat juga diakibatkan oleh beberapa kandungan tambahan yang ada di dalam susu formula dan reaksi yang ditimbulkan karena diet ibu saat pemberian ASI. Faktor lain yang memicu timbulnya gejala adalah faktor terjadinya infeksi pada anak. Saat terjadi infeksi seperti batuk, pilek atau panas sering memicu timbulnya gejala alergi. Misalnya saat infeksi saluran napas akut pada penderita alergi sering disertai gejala diare, muntah dan dermatitis.
    • Terlalu cepat memastikan suatu anak menderita alergi susu sapi biasanya didasarkan ketidakcermatan dalam menganalisa permasalahan kesehatan pada penderita. Dalam menentukan kecurigaan apakah suatu anak mengalami alergi susu sapi diperlukan ketelitian dan kecermatan.  Bila anak minum PASI (Pengganti Air Susu Ibu) dan ASI (Air Susu Ibu), harus cermat dalam menentukan penyebab gangguan tersebut. Dalam kasus tersebut, PASI atau ASI dapat dicurigai sebagai penyebab alergi. Pada pemberian ASI, diet yang dimakan ibunya dapat mempengaruhi bayi. Bila pemberian PASI sebelumnya sudah berlangsung lebih dari 1 – 2 minggu tidak terdapat gangguan, kemungkinan susu formula sapi tersebut bukan sebagai penyebab alergi. Harus diperhatikan apakah diet ibunya sebagai penyebab alergi.
    • Kadang ada beberapa anak dengan susu formula sapi yang satu tidak cocok tetapi susu formula sapi lainnya bisa diterima. Hal inilah yang menunjukkan bahwa komposisi dan kandungan lain di dalam susu formula tersebut yang ikut berperanan. Faktor yang berpengaruh mungkin saja karena perbedaan dalam proses pembuatan bahan dasar susu sapi. Dengan pemanasan dan proses tertentu yang berbeda beberapa kandungan protein tertentu yang mengganggu akan menghilang.
    • Sebagian besar alergi susu sapi pada bayi adalah tipe cepat yang diperan oleh IgE dan gejala utama adalah ras kulit, eritema perioral, angioedema, urtikaria dan anafilaksis. Sedangkan bila gejala lambat pada saluran cerna berupa muntah, konstipasi dan diare dan gangguan kulit dermatitis herpertiformis biasanya bukan diperani oleh IgE.  Peranan Non IgE inilah biasanya disebabkan bukan oleh kandungan protein susu sapi.. Melihat berbagai jenis kandungan protein dalam susu sapi dan beberapa zat tambahan seperti AA, DHA, sumber komponen lemak (minyak safflower, minyak kelapa sawit, minyak jagung, minyak kedelai) atau aroma rasa (coklat, madu dan strawberi).  Masing masing kandungan tersebut mempunyai potensi berbeda sebagai penyebab alergi atau reaksi simpang dari susu formula..
    • Kandungan DHA dalam susu formula kadang dapat mengakibatkan gangguan pada anak tertentu berupa gangguan kulit. Sedangkan kandungan minyak kelapa sawit dapat mengakibatkan gangguan saluran cerna berupa konstipasi. Aroma rasa susu seperti coklat sering menimbulkan reaksi batuk atau kosntipasi. Begitu juga kandungan lemak tertentu, minyak jagung dan laktosa pada susu formula tersebut dapat mengakibatkan manifestasi yang hampir sama dengan alergi susu sapi.  Bila gangguan akibat susu formula tersebut hanya ringan mungkin penggantian susu sapi formula tanpa DHA atau susu sapi formula tertentu keluhannya dapat berkurang. Jadi bila ada keluhan dalam pemakaian susu sapi formula belum tentu harus diganti dengan susu soya atau susu hidrolisat. Tapi bila keluhannya cukup berat mungkin penggantian susu sapi formula tersebut perlu dipertimbangkan untuk pemberian susu soya atau hidrolisat protein.
    • Bayi atau anak yang sebelumnya telah mengkonsumsi salah satu jenis susu sapi dan tidak mengalami keluhan dalam  waktu lebih 2 minggu. Biasanya setelah itu tidak akan mengalami alergi susu yang sama dikemudian hari. Hal ini sering disalah artikan ketika anak mengalami gejala alergi, kemudian susunya diganti. Padahal sebelumnya anak telah beberapa bulan mengkonsumsi susu yang diganti tersebut tanpa keluhan. Sering terjadi saat terjadi gangguan terdapat faktor penyebab lainnya. Riwayat pemberian makanan lainnya atau adanya infeksi yang diderta anak saat itu dapat menimbulkan gejala yang sama. Kasus yang seperti ini menunjukkan bahwa kita harus cermat dan teliti dalam mencurigai apakah seorang anak alergi susu sapi atau bukan.
    • Pitfal penanganan yang sering terjadi adalah saat gejala alergi timbul, penderita paling sering direkomendasikan oleh para klinisi adalah pemberian susu partial hidrolisa. Padahal relkomendasi yang seharusnya diberikan adalah susu formula ekstensif hidrolisat atau susu soya, Pemberian partial hidrolisa secara klinis hanya digunakan untuk pencegahan alergi bagi penderita yang beresiko alergi yang belum timbul gejala. Meskipun demikian pada beberapa kasus gejala alergi ringan ternyata pemberian susu parsial hidrolisa bisa bermanfaat.
    • Pemberian obat anti alergi baik peroral atau topikal bukan merupakan jalan keluar yang terbaik untuk penanganan jangka panjang. Pemberian anti alergi jangka panjang merupakan bukti kegagalan dalam mengidentifikasi penyebab alergi.

    CARA PEMILIHAN SUSU PENDERITA ALERGI

    • Pemberian susu adalah merupakan masalah yang tersendiri pada penderita alergi. Untuk menentukan penderita alergi susu sapi pilihan utama adalah susu ektensif hidrolisat. Tetapi beberapa penderita juga bisa toleran terhadap susu soya. Beberapa bayi dengan gejala alergi yang ringan dapat mengkonsumsi susu hodrolisat parsial. Meskipun sebenarnya susu ini untuk pencegahan alergi bukan untuk pengobatan.
    • Secara klinis dan laboratoris seringkali sulit untuk memastikan anak menderita alergi susu sapi. Tidak mudah untuk menentukan pemilihan susu yang terbaik untuk anak tersebut. Seringkali sulit memastikan apakah seseorang alergi susu sapi atau intoleransi atau bereaksi terhadap kandungan tertentu dari kandungan yang ada di dalam formula. Dalam menghadapi kasus seperti ini klinik Children Allergy Clinic Jakarta melakukan eliminasi provokasi terbuka sederhana. Secara awal penderita diberikan susu ekstensif hidrolisat. Bila gejala alergi membaik selanjutnya dilakukan provokasi formula berturut turut yang lebih beresiko seperti soya, parsial hidrolisat, dan susu formula yang minimal kandungan AA, DHA, minyak kelapa sawit dan sebagainya. Formula yang paling tepat adalah yang tidak menimbulkan gangguan. Bila timbul gejala pada salah satu formula tersebut kita harus pilih formula satu tingkat lebih aman di atasnya. Bila susu parsial hidrolisa dan soya timbul gangguan dilakukan provokasi terhadap susu laktosa dan lemah rantai tunggal (Monochain Trigliceride/MCT).
    • Banyak keraguan terhadap kualitas gizi susu pengganti susu sapi.  Keraguan tersebut seperti “soya tidak menggemukkan”, “susu hipoalergenik  tidak mebuat anak pintar karena tidak mengadung DHA” dan sebagainya. Secara umum semua susu formula yang beredar secara resmi kandungan gizinya sama. Karena mengikuti standard RDA (Recomendation Dietery Allowence) dalam jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Keraguan bahwa susu formula tertentu tidak menggemukkan tidak beralasan karena kandungan kalori, vitamin dan mineral tidak berbeda. Penggunaan apapun merek susu formula yang sesuai kondisi dan usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut. Bila ketidakcocokan susu sapi terus dipaksakan pemberiannya, akan mengganggu fungsi tubuh terutama saluran cerna sehingga membuat gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak..
    • British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO (Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur, karena belum bisa mensintesa AA dan DHA secara baik. Penambahan AA dan DHA secara langsung tidak terlalu penting karena sebenarnya tubuh bayi cukup bulan sudah bisa mensitesa atau memproduksi sendiri AA dan DHA dari asam lemak esessial lain.

    wp-1510726155282..jpg

    wp-1578159617076.jpg