Kebutuhan Kalori pada Anak Sesuai Usia

Kebutuhan Kalori pada Anak Sesuai Usia

 

Jika persalinan tidak rumit dan neonatus dalam keadaan siaga dan sehat, neonatus dapat dibawa ke ibu untuk segera disusui. Menyusui yang berhasil ditingkatkan dengan menempatkan neonatus ke payudara sesegera mungkin setelah melahirkan. Meludah lendir setelah makan adalah umum (karena otot polos gastroesofageal lemah) tetapi harus mereda dalam waktu 48 jam. Jika lendir atau emesis terus bertahan selama 48 jam atau jika muntahnya berat, evaluasi lengkap saluran cerna bagian atas (GI) dan saluran pernapasan diperlukan untuk mendeteksi anomali GI bawaan sejak lahir.

Kebutuhan cairan dan kalori harian bervariasi sesuai usia dan secara proporsional lebih besar pada neonatus dan bayi dibandingkan pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa (lihat Tabel: Kebutuhan Kalori pada Berbagai Usia *). Persyaratan relatif untuk protein dan energi (g atau kkal / kg berat badan) menurun secara progresif dari akhir masa bayi hingga remaja (lihat Tabel: Asupan Referensi Makanan yang Disarankan * untuk Beberapa Makronutrien, menurut Food and Nutrition Board, Institute of Medicine of the National Academies) , tetapi persyaratan absolut meningkat. Misalnya, kebutuhan protein menurun dari 1,2 g / kg / hari pada 1 tahun menjadi 0,9 g / kg / hari pada 18 tahun, dan rata-rata kebutuhan energi relatif menurun dari 100 kkal / kg pada 1 tahun menjadi 40 kkal / kg pada remaja akhir.

Rekomendasi gizi umumnya tidak berbasis bukti. Kebutuhan vitamin tergantung pada sumber nutrisi (mis. ASI vs susu formula standar), faktor makanan ibu, dan asupan harian.

Masalah makan

  • Variasi kecil dalam asupan makanan sehari-hari adalah umum dan, meskipun sering menjadi perhatian orang tua, biasanya hanya membutuhkan jaminan dan bimbingan kecuali ada tanda-tanda penyakit atau perubahan parameter pertumbuhan, terutama berat (perubahan dalam peringkat persentil anak pada standar). grafik pertumbuhan lebih signifikan daripada perubahan absolut).
  • Kehilangan> 5 hingga 7% dari berat lahir pada minggu pertama menunjukkan kekurangan gizi. Berat lahir harus diperoleh kembali setelah 2 minggu, dan kenaikan berikutnya sekitar 20 hingga 30 g / hari (1 ons / hari) diharapkan untuk beberapa bulan pertama. Bayi harus menggandakan berat lahirnya sekitar 5 bulan.

Kebutuhan Kalori pada Anak Sesuai Usia

Usia

Kebutuhan

kcal/lb/day

kcal/kg/day

 

< 6 bulan

 

50–55

110–120
1 tahun
 

45

 

95–100

 

> 15 tahun

 

20

 

44

 

Ketika protein dan kalori disediakan oleh ASI yang sepenuhnya dicerna dan diserap, persyaratan antara usia 3 bulan dan 9 bulan mungkin lebih rendah.











Patofisiologi Gagal Tumbuh

Perawakan pendek mungkin merupakan ekspresi normal dari potensi genetik, dalam hal ini tingkat pertumbuhan normal, atau mungkin hasil dari suatu kondisi yang menyebabkan kegagalan pertumbuhan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dari normal. Kegagalan pertumbuhan adalah istilah yang menggambarkan tingkat pertumbuhan di bawah kecepatan pertumbuhan yang sesuai untuk usia

Seorang anak dianggap pendek jika ia memiliki ketinggian di bawah persentil kelima; sebagai alternatif, beberapa mendefinisikan perawakan pendek sebagai tinggi kurang dari 2 standar deviasi di bawah rata-rata, yang mendekati persentil ketiga. Dengan demikian, 3-5% dari semua anak dianggap pendek. Banyak dari anak-anak ini sebenarnya memiliki kecepatan pertumbuhan normal. Anak-anak pendek ini termasuk mereka yang bertubuh pendek kekeluargaan atau keterlambatan konstitusional dalam pertumbuhan dan pematangan, yang merupakan varian normal pertumbuhan non-patologis. Untuk mempertahankan persentil ketinggian yang sama pada grafik pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan harus setidaknya pada persentil ke-25. Ketika mempertimbangkan semua anak dengan perawakan pendek, hanya beberapa yang benar-benar memiliki diagnosis yang dapat diobati. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dengan kecepatan pertumbuhan yang lambat.

Patofisiologi

  • Fase pertumbuhan manusia yang paling cepat adalah intrauterin. Setelah kelahiran, penurunan bertahap dalam tingkat pertumbuhan terjadi selama beberapa tahun pertama kehidupan. Panjang rata-rata bayi saat lahir adalah sekitar 20 inci, panjang pada usia 1 tahun adalah sekitar 30 inci, panjang pada usia 2 tahun adalah sekitar 35 inci, dan panjang pada usia 3 tahun adalah sekitar 38 inci. Setelah usia 3 tahun, pertumbuhan linier berlangsung pada tingkat yang relatif konstan 2 inci per tahun (5 cm / tahun) hingga pubertas.
  • Pertumbuhan normal adalah hasil dari interaksi faktor genetik, nutrisi, metabolisme, dan endokrin yang tepat. Untuk sebagian besar, potensi pertumbuhan ditentukan oleh warisan poligenik, yang tercermin dalam ketinggian orang tua dan kerabat. Sekresi hormon pertumbuhan (GH) oleh hipofisis dirangsang oleh hormon pertumbuhan – hormon pelepas (GHRH) dari hipotalamus. GHRH juga merangsang proliferasi somatotrof. Sinyal lain, yang dirangsang oleh peptida pelepas hormon pertumbuhan (GHRP) tertentu, mungkin ada; reseptor untuk GHRP telah diidentifikasi, dan ghrelin, ligan alami untuk reseptor ini, telah diidentifikasi. Reseptor GHRH adalah protein domain spanning tujuh terkait-permukaan sel yang dihubungkan dengan protein G (Gs). Ini merangsang produksi cAMP intraseluler setelah aktivasi yang diinduksi ligan.
  • Ghrelin (dari kata ghre, kata dasar dalam bahasa proto-Indo-Eropa yang berarti tumbuh), unik karena merupakan polipeptida kecil yang dimodifikasi pada asam amino ketiga (serin) dengan esterifikasi asam n-oktanoat. Ghrelin adalah peptida gastrointestinal (disintesis dalam lambung) yang secara spesifik menginduksi sekresi GH. Reseptor ghrelin diekspresikan pada hipofisis anterior. Somatostatin yang dikeluarkan oleh hipotalamus menghambat sekresi hormon pertumbuhan.
  • Ketika pulsa hormon pertumbuhan disekresikan ke dalam sirkulasi sistemik, insulin-like growth factor (IGF) –1 dilepaskan, baik secara lokal atau di lokasi tulang yang tumbuh. Hormon pertumbuhan bersirkulasi terikat pada protein pengikat spesifik (GHBP), yang merupakan bagian ekstraseluler dari reseptor hormon pertumbuhan. IGF-1 bersirkulasi terikat ke salah satu dari beberapa protein pengikat (IGFBPs). IGFBP yang paling tergantung pada hormon pertumbuhan adalah IGFBP-3.

KOMPLIKASI KESEHATAN: Dampak Gangguan Sulit Makan Pada Bayi dan Anak dalam Jangka Panjang

 

Dok, anak saya laki laki umur 5 tahun 5 bulan BBnya hanya 12 kg. Anak saya memang selama ini ada masalah makan. Makannya kadang banyak kadang sedikit dan pilih pilih makanan. Anak saya termasuk paling kecil dimkelasnya. Selama ini saat ditanyakan ke dokter, anak saya dikatakan baik baik saja karena anak masih lincah dan aktif. Anak saya selama ini mudah batuk dan pilek, bahkan kalau sudah berat biasanya demam tinggi. Benarkah anak saya ngga masalah dok ? Apa dampaknya kalaunkondiai anak saya dibiarkan jangka waktunyang lama ?

JAWABAN

Melihat BB dan usia anak ibu tampaknya beratnya sangat kurang. Hanya sayang ibu tidak mencantumkan ukuran tinggi badannya. Kondisi BB yang tidak optimal atau tidak bagus biasanya juga disertai gangguan tinggi badan. Ibu harus berkonsultasi ke dokter segera untuk memastikan apakah penyebab mengapa BB dan sulit makan yang terjadi pada anak ibu.

Gangguan sulit makan pada umumnya akan berlangsung jangka panjang dan hilang timbul. Meskipun tampaknya tidak berbahaya tetapi apabila tidak ditangani dengan baik banyak akibat yang bisa ditimbulkan. Beberapa dampak yang bisa terjadi karena sulit makan yang berkepanjangan di antaranya adalah :

  • BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN KURANG (GAGAL TUMBUH atau FAILURE TO THRIVE) atau Stunting. Gagal tumbuh merupakan salah satu kondisi yang mengancam perkembangan bayi. Jika tak segera ditangani, perkembangan anak bakal terhambat dan mengakibatkan gizi buruk, stunting atau pendek, hingga kebodohan. Gagal tumbuh adalah kondisi tubuh anak yang tidak dapat menerima, mempertahankan atau memanfaatkan kalori untuk menambah berat badan. Dengan kata lain, kondisi ini membuat pertumbuhan bayi yang dilihat dari berat atau tinggi badannya jauh dari kondisi normal yang direkomendasikan WHO.
    Bila tak segera ditangani atau malah dibiarkan, pertumbuhan anak bakal berdampak fatal. Pada kondisi akut, dia menyebut gagal tumbuh dapat mengakibatkan gizi buruk. Sedangkan dalam kondisi kronis, gagal tumbuh menyebabkan stunting.
  • Kekurangan zat besi atau defisiensinzat besi. Anemia defisiensi besi adalah satu jenis anemia yang disebabkan kekurangan zat besi sehingga terjadi penurunan jumlah sel darah merah yang sehat. Zat besi diperlukan tubuh untuk menghasilkan komponen sel darah merah yang dikenal sebagai hemoglobin. Saat tubuh mengalami anemia defisiensi besi, maka sel darah merah juga akan mengalami kekurangan pasokan hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen dalam sel darah merah untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh. Tanpa pasokan oksigen yang cukup dalam darah, tubuh juga tidak mendapat oksigen yang memadai sehingga dapat merasa lemas, lelah, dan sesak napas. F9ungsi zat besi yang paling penting adalah dalam perkembangan system saraf yaitu diperlukan dalam proses mielinisasi, neurotransmitter, dendritogenesis dan metabolisme saraf. Kekurangan zat besi sangat mempengaruhi fungsi kognitif, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi. Besi juga merupakan sumber energi bagi otot sehingga mempengaruhi ketahanan fisik dan kemampuan bekerja terutama pada remaja. Bila kekurangan zat besi terjadi pada masa kehamilan maka akan meningkatkan risiko perinatal serta mortalitas bayi.
  • GANGGUAN ASUPAN GIZI LAINNYA Kekurangan vitamin dan mineral : Calsium, Zinc, vitamin A.
  • Efek samping dari minum obat/ vitaminyang berlebihan dan berkepanjangan. Orang tua harus memahami juga bahaya kelebihan vitamin atau mineral yang sering disebut megavitamin dan megamineral. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi organ tubuh kita terutama pencernaan, hati dan ginjal. Bahkan dilaporkan beberapa kasus meninggal dunia karena Megavitamin dan megamineral, terutama pada anak. Hal ini terjadi karena kelebihan vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin A, vitamin E atau Magnesium dan sebagainya. Pemberian vitamin tertentu seperti vitamin C dosis tinggi dan vitamin B pada orang tertentu seperti penderita gastritis (sakit lambung/mag), atau penderita alergi dapat menimbulkan efek samping baru atau memperberat penyakit yang ada sebelumnya. Pernah dilaporkan kasus pada orang tertentu dapat terjadi alergi vitamin B. Sebaiknya orang tua memberikan vitamin sesuai dosis yang tertera, tidak menggabungkan sekaligus beberapa vitamin. Lebih baik bila berkonsultasi dengan dokter dalam konsumsi vitamin tersebut, terutama pada anak atau bayi. Lebih ideal bila asupan vitamin tersebut berasal langsung dari bahan makanan sayur atau buah. Penelitia lain menyebutkan pemberian vitamin pada anak usia di bawah usia 1 tahun dapat meningkatkan resioko alergi dan asma. Pemberian obat-obatan perangsang nafsu makan pada anak tidak jarang diberikan oleh dokter atau klinisi lain yang diberikan pada anak dengan kesulitan makan. Terdapat beberapa macam obat penambah nafsu makan yang justru dapat menimbulkan masalah baru, karena malahan dapat mengganggu tubuh dan kesehatan anak. Beberapa obat penambah nafsu makan dapat mengganggu ginjal, hati, pertumbuhan tulang atau dapat menurunkan daya tahan tubuh. Peneliti lainnya menemukan pemberian obat-obatan nafsu makan jenisa tertentu pada anak ternyata juga bisa mengubah perilaku anak menjadi hiperaktif, agresif, sangat sensitif dan gampang emosi. Sehingga mengkonsumsi obat-obat tersebut dalam jangka waktu lama sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter.
  • OVERDIAGNOSIS & OVERTREATMENT (DIAGNOSIS & TERAPI BERLEBIHAN) SEBAGAI PENYAKIT TBC. MINUM OBATJANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU BENAR MENDERITA PENYAKIT TBC
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN SERING MENGALAMI INFEKSI BERULANG (panas, batuk, pilek) terutama pada anak dengan keluhan sering muntah dan asma.

 

KONSULTASI KESEHATAN: Anakku Makan Banyak Tapi Berat Badan Sulit Naik

Dok, anak saya perempuan berusia 3 tahun. Saat ini BBnya hanya 11,5 kg. Sejak usia 1 tahun BBnya sulit sekali naik. Kalaupun naik hanya sedikit tetapi begitu sakit turunnya banyak. Anak saya makannya banyak tapi mengapa BBnya sulit naik.

Anak saya pernah divonis TB Paru atau “flek paru”, saat berusia 8 bulan karena BBnya sulit naik, tetapi sudah diobati obat TB selama 2 tahun tidak ada perbaikan BB.

Sekedar informasi dulu papanya menurut cerita orangtua waktu kecil ceritanya juga sama dok. Papanya kurus dan BBnya sulit naik tetapi setelah usia 20 tahun baru bisa gemuk. Apakah ada kautannya dok ?

JAWABAN

  • Kasus seperti anak ibu kita seringkali kita temui dalam praktek sehari hari. Banyak faktor penyebab dan faktor resiko mengapa anak BBnya sulit naik. Faktor utama yang seringkali ditemui adalah faktor genetik dan masalah asupan makanan yang tidak adekuat. Faktor lain sangat jarang terjadi atau kasusnya hanya sekitar 3% seperti faktor penyebab infeksi TB paru, ISK, keganasan (kanker), kelainan bawaan jantung, ginjal , dan faktor lainnya.
  • Faktor genetik adalah faktor yang utama. Sekitar 20% kelompok anak tertentu memiliki genetik saat usia tertentu memang sulit optimal saatnusia tertentu. Kelompok anak ini biasanya BBnya bisa normal tetapi untuk ideal atau gemuk usia tertentu agak sulit. Penelitian awal yang kami lakukan sekitar 80%-90% dilakukan intervensi ataupun tidak bisa gemuk sendiri secara alamiah dengan variasi yang berbeda. Terdapat anak yang bisa gemuk saat usia SD, SMP atau bahkan setelah menikah baru gemuk. Tetapi sekitar 10% hingga usia dewasapun tetap BBnya tidak bisa gemuk. Biasanya kelompok anak tersebut diturunkan secara genetik dari salah satu orangtua atau kakek neneknya m3mpunyai riwayat problem kenaikkan BB yang sama dengan anak. Biasanya diturunkan dengan karakteristik fenotip atau wajah atau golongan darah yang sama dengan anak. Karakteristik kelompok ini bisa dilakukan deteksi dini saat usia 1-3 bulan. Saat usia tersebut idealnya kenaikan BBnya setiap bulan 1 kg tetapi hanya 800 gram. Bila ada hal tersebut harus diwaspadai setelah usia 6 bulan sering mengalami gangguan kenaikkan BB

Gangguan kenaikkan BB yang utama lainnya adalah asupan makan dan minum tidak adekuat atau tidak optimal. Seringkali asupan makan tidak optimal tetapi tidak terdeteksi atau dianggap normal. Hal ini bisa dikenali dengan tanda

  1. Anak makan tidak konsisten kadang banyak kadang sedikit. Saat makan sedikit tidak pernah dianggap, yang dilihat hahya saat makan banyak. Penampilan itu juga bisa dilihat ketika anak tidak konsisten misal makan pagi lebih susah dibandingkan malam. Demikian juga dalam setiap harinya seringkali berbeda saat minggu ini makan mau atau banyak tetapi minggu berikutnya mulai makan agak lama dan susah harus dibujuk.
  2. Hal lain yang bisa dilihat ketika orangtua menganggap makan habis satu mangkuk, tetapi tidak pernah dihitung berapa banyak 1 mangkuk trsebut jumlahnya. Misalnya usia 9 bulan seharusnya total jumlah 1 mangkuk sekali makan seharusnya 9 sendok makan dewasa, tetapi anak hanya bisa makan 7-9 sendok kecil bayi.
  3. Demkian uuga minum susuyang seharusnya usia 6-9 bulan anak lain bisa menghabiskan susu sekitar 120 cc, tetapi anaknya hanya bisa minum susu 75-90 cc

Saat 3 hal itu tidak diperhatikan maka orangtua menganggap anaknya selalu makan banyak. Hal inilah yang sering mengecoh orangtua dan dokter dianggap makannya banyak tetapi anaknya BBnya sulit naik. Padahal jumlah makannya tidak adekuat dan tidak konsisten.

Penanganan terbaik gangguan kenaikkan BB adalah menentukan penyebabnya. Penyebab utama adalah problem makan tidak adekuat biasanya tampilannya kuantitas atau jumlah makan tidak konsisten dan pilih pilih makan karena mengunyahndan menaln terganggu sehingga anak hanya bisa makan yang krispi dan lembut seperti krupuk, biskuit. Anak hanya bisa makan yang lebut seperti mi lebih mudah dibandingkan nasi, jagung lebih mudah dibandingkan nasi, ayam lebih mudah dibandingkah daging sapi empal. Makan daging sapi harus digiling halus sekali. Anak juga menolak makan yang berserat dan lengket seperti sayur tertentu, daging emlal, atau bubur yang lengket.

Gangguan problem makan pada anak sangat banyak tetapi yang paling sering karena gangguan saluran cerna atau hipersensitif saluran cerna.

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA PADA ANAK DAN BAYI YANG HARUS DIWASPADAI SEBAGI PENYEBAB SULIT MAKAN

PADA USIA BAYI

  1. Sering muntah/kembung, sering “cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, REWEL / GELISAH/COLIC terutama malam hari),
  2. BAB sering atau BAB tidak tiap hari sering sulit atau “ngeden”.
  3. Warna feses Hijau atau Hitam. Bibir kering, warna hitam atau lidah putih dan sering ngiler berlebihan (drooling).
  4. Perut rata atau cekung.
  5. Sejak lahir berat badan tidak pernah optimal atau berat badan kurang setelah umur 4-6 bulan.

PADA ANAK LEBIH BESAR :

  1. Sering buang air besar (> 3 kali perhari) atau
  2. susah buang air besar ( ngeden, tidak BAB setiap hari, feses keras hitam atau hijau tua,kecil hitam spt ”tahi” kambing, BERBAU, berak berdarah
  3. Lidah sering kotor (berpulau-pulau), timbul putih, SARIAWAN, BIBIR kering, tebal dan mudah berdarah, air liur berlebihan atau MULUT BERBAU.
  4. Sering MUAL, MUNTAH, sering NYERI PERUT ringan dan hilang timbul,

Bila anak anda mengalami gangguan kenaikkan berat badan yang berlangsung kama dan mengalama beberata tanda dan gejala hipersensitif saluran cerna di atas maka patut dicurigai kemungkinan besar penyebab gangguan kenaikkan BB adalah makanan tidak adekuat yang disebabkan karena hipersensitif makanan. Penanganan utama kasus seperti ini adalah mencari penyebab gangguan hipersensitif saluran cerna tersebut. Karena saat anak makannya terganggu selalu disertai gangguan fungsi saluran cerna. Saat dilakukan eliminasi dan provokasi makanan dengan melakukan penghindaran jenis makanan tertentu dalam 3 minggu maka penyebab gangguan hipersensitif saluran ternyata sebagian besar anak membaik gangguan saluran cernanya diikuti dengan perbaikan nafsu makan lebih konsisten dan disertai kenaikkan BB.

Seringkali orangtua bahkan dokter tidak pernah mengenali dan mengamati masalah utama yang paling sering menjadi penyebab tersebut. Tetapi sudah memikirkan hal yang lebih jauh seperti ISK, Infeksi TB paru dan gangguan hormonal. Sayangnya dalam praktek sehari hari dokter lebih mementingkan mencari penyebab yang sangat jarang itu dengan melakukan berbagai pemeriksaan laboratorium yang invasif dan mahal, tetapi mengabaikan penyebab utama gangguan fungsi saluran cerna anak yang sering dialami.

Kita boleh curiga hal lain sebagai penyebab bila dilakukan eliminasi provokasi makanan melalui pengawasan dokter ahli tetapi gangguan tersebut tidak membaik.

https://youtu.be/xjKFFfoxTw4

Patofisiologi dan Penyebab Gagal Tumbuh Pada Anak

Patofisiologi dan Penyebab Gagal Tumbuh Pada Anak

Gagal Tumbuh adalah gangguan dalam pola pertumbuhan normal, biasanya terlihat pada anak-anak kecil. Sementara banyak standar antropometrik telah digunakan untuk mendefinisikan “pertumbuhan,” (BMI, berat, atau skor z berat-untuk-tinggi), secara serial membandingkan seorang anak dengan kurva pertumbuhan standar yang tepat sekarang umum digunakan.

Sering memperburuk efek infeksi kronis, Gagal Tumbuh mungkin merupakan kontributor terbesar morbiditas dan mortalitas anak di seluruh dunia. Pengerdilan dengan kompromi intelektual terlihat pada anak-anak yang bertahan hidup dalam periode pertumbuhan yang tidak memadai. Di negara maju, ada kontroversi mengenai defisit jangka panjang yang terlihat pada anak-anak yang mengalami kegagalan untuk berkembang. Namun, kontribusi yang gagal berkembang berperan dalam berkontribusi terhadap morbiditas keadaan patologis pediatrik sedang lebih dihargai.

Gagal Tumbuh dapat menjadi sekunder karena asupan kalori yang tidak memadai, pemanfaatan yang tidak efisien dari kalori yang dicerna (emesis, malabsorpsi) atau peningkatan metabolisme basal (biasanya terlihat pada onkologi, infeksi, defisiensi kardiopulmoner, keadaan inflamasi kronis, dan hipertiroidisme).

Evaluasi komprehensif anak-anak oleh tim pemberian makan multidisiplin telah menggambarkan bahwa sering lebih dari satu entitas hadir dalam satu anak dengan kegagalan untuk berkembang. Salah satu contoh akan menjadi anoreksia terkait dengan depresi yang terlihat pada anak-anak dengan penyakit kronis.

Sudah lama dianggap dogma bahwa sebagian besar anak-anak dengan Gagal Tumbuh di negara berkembang memiliki masalah psikososial yang mengakibatkan kegagalan nonorganik untuk berkembang. Banyak tim makan telah mencatat bahwa di antara anak-anak dengan kegagalan nonorganik untuk berkembang, sering ada masalah organik yang halus seperti disfagia, gastroesophageal reflux, sembelit, atau alergi makanan / intoleransi yang telah menciptakan rasa sakit dan / atau rasa takut pada kelompok ini. Pengakuan dan terapi yang mengatasi masalah ini telah menghasilkan hasil yang lebih baik.
Latar Belakang

Gagal Tumbuh (Failure To Thrive atau FTT) adalah istilah deskriptif untuk berbagai entitas dan diagnosis. Ini didefinisikan sebagai gangguan signifikan dalam tingkat pertumbuhan yang diharapkan selama anak usia dini. Karena pengukuran pertumbuhan secara berurutan merupakan aspek vital dari pediatrik preventif, FTT menjadi perhatian semua penyedia perawatan kesehatan anak. Semua buku teks pediatrik standar memiliki bagian tentang topik ini,  dan banyak artikel telah ditulis. Namun, meskipun ada perhatian yang signifikan, konsekuensi FTT pada hasil perkembangan pada anak-anak industri masih kontroversial seperti yang dibahas pada bagian tentang prognosis di bawah ini. Lebih mudah untuk menghargai bahwa pada anak-anak tertentu, FTT dapat menjadi awal morbiditas fisik dan kognitif yang signifikan, termasuk stunting, dan kematian. Ini sangat relevan di seluruh negara berkembang, pada anak-anak kota pedesaan dan miskin, dan pada mereka yang memiliki beberapa penyakit kronis. Dua perkembangan signifikan dalam pendekatan terhadap anak dengan FTT telah mulai secara dramatis mempengaruhi pendekatan untuk anak-anak ini.

Pertama, walaupun diterima bahwa semua anak yang gagal tumbuh dengan baik memiliki pertumbuhan yang tidak memadai atau memburuk dari waktu ke waktu, satu bidang kontroversi menentukan kriteria antropometrik mana yang harus digunakan untuk mendefinisikan istilah ini. ]Definisi yang paling umum adalah berat badan kurang dari persentil ketiga hingga kelima untuk usia lebih dari satu kali atau pengukuran berat yang jatuh 2 garis persentil utama menggunakan grafik pertumbuhan standar dari Pusat Statistik Kesehatan Nasional (NCHS).

Beberapa penulis telah memasukkan pengukuran ketinggian sebagai bagian dari definisi; Namun, pengukuran ketinggian lebih tepat menggambarkan perawakan pendek. Jika parameter berat badan dikompromikan secara signifikan, tinggi badan juga dapat dipengaruhi secara sekunder pada individu dengan FTT. Sebuah penelitian di Eropa meneliti kohort besar anak-anak menggunakan berbagai istilah yang terkait dengan kompromi pertumbuhan anak dan mendokumentasikan variasi yang luas dalam prevalensi kondisi ini. Meskipun pengukuran serial lingkar kepala penting dalam evaluasi bayi dan balita, kegagalan kepala yang tumbuh secara terpisah seharusnya tidak menyarankan kegagalan tipikal untuk berkembang menjadi diferensial.

American Society for Parenteral dan Enteral Nutrition mengumpulkan sekelompok ahli yang baru-baru ini menerbitkan laporan komprehensif tentang malnutrisi pediatrik berdasarkan analisis literatur yang komprehensif yang diterbitkan hingga 2011. [9] Mereka mengorganisir tinjauan, diskusi, rekomendasi, dan definisi mereka di sekitar lima domain utama . Para penulis mengembangkan definisi baru malnutrisi pediatrik yang jelas tumpang tindih dengan istilah kegagalan untuk berkembang seperti yang digunakan dalam artikel ini dan oleh banyak penulis lain. Definisi yang mereka usulkan adalah “ketidakseimbangan antara kebutuhan nutrisi dan asupan, yang mengakibatkan defisit kumulatif energi, protein, atau zat gizi mikro yang dapat secara negatif mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan hasil relevan lainnya.”

Untuk mengatasi kontroversi penentuan kriteria antropometrik mana yang harus digunakan untuk mendefinisikan FTT, kelompok telah merekomendasikan bahwa skor-z digunakan untuk mengekspresikan variabel antropometrik individu dalam kaitannya dengan standar referensi populasi. Para penulis setuju bahwa ini adalah pendekatan terbaik untuk melacak pengukuran serial pada anak yang dievaluasi untuk FTT.

Perkembangan baru kedua dalam pendekatan untuk anak dengan FTT adalah bahwa terutama sejak 2011, telah ada sejumlah publikasi dari kelompok pemberian makan multidisiplin dari seluruh Amerika Serikat yang telah menekankan integrasi yang signifikan antara masalah fisik dan masalah psikososial yang menghasilkan FTT ( lihat bagian patofisiologi di bawah).

Kelompok kerja tersebut mencirikan Gagal Tumbuh sebagai “istilah yang digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang tidak tumbuh seperti yang diharapkan.” Mereka mencatat bahwa lebih dari 90% kasus dalam sebagian besar studi tidak memiliki penyebab medis yang mendasarinya, dan hampir semua diidentifikasi oleh pemeriksaan riwayat dan fisik yang cermat. [10] Laporan ini juga mengutip sebuah makalah yang menggambarkan pusat akademik pusat kota yang hanya mengevaluasi 75 anak di klinik spesialis mereka selama periode 40 bulan. Para penulis ini dan yang lainnya telah mencirikan hampir semua rujukan mereka sebagai memiliki etiologi psikososial untuk FTT mereka dan merekomendasikan penilaian ulang tentang bagaimana menyediakan sumber daya untuk anak-anak ini.

Studi lain baru-baru ini dari program pemberian makanan multidisiplin di sekolah kedokteran AS juga melaporkan bahwa 90% dari rujukan mereka mengalami kegagalan nonorganik untuk berkembang. Sementara mereka menggambarkan tindak lanjut yang sangat singkat, mereka juga melaporkan bahwa anak-anak yang mematuhi instruksi dasar mereka dapat dengan cepat menambah berat badan secara signifikan lebih banyak daripada yang “tidak patuh.” Namun, 25% dari kohort yang tidak dapat mengikuti arahan , mungkin juga termasuk anak-anak yang memiliki masalah tidak dikenal.

Dengan dimasukkannya secara rutin, komprehensif dan evaluasi makan sebagai bagian dari latihan FTT, kompromi psikososial sekarang diakui sebagai yang paling mungkin menghasilkan kegagalan untuk berkembang pada anak-anak dengan disfungsi menelan halus, atau kondisi organik primer lainnya, terutama yang terkait dengan visceral. rasa sakit saat menyusui. Karena paradigma dasar ini dipertimbangkan kembali, penyedia praktik yang mengevaluasi anak yang cacat dengan kegagalan untuk berkembang harus melakukan segala upaya untuk melecehkan dan memperbaiki ketidaknyamanan (seperti penolakan makan, meringis, kembung, kenyang prematur) atau disfagia (seperti batuk, tersedak, tersedak, atau waktu makan yang lama). Dengan demikian, bagian rutin dari evaluasi anak-anak dengan kegagalan untuk berkembang adalah mengidentifikasi setiap kondisi patofisiologis yang dapat berkontribusi faktor.

Untuk mengkonsolidasikan semua nuansa ini, beberapa penulis telah beralih dari mengkategorikan anak-anak sebagai salah satu ekstrim atau yang lain untuk menggambarkan spektrum yang memanjang dari kegagalan nonorganik murni untuk berkembang menjadi kegagalan organik murni untuk berkembang, dengan masing-masing anak berbaring dekat satu atau yang lain.  Dalam pandangan ini, masalah medis, perkembangan, neurologis, lingkungan sering ditemukan pada anak tunggal.

Pertumbuhan normal dan grafik pertumbuhan bayi cukup bulan dan prematur, serta etiologi, evaluasi, manajemen, dan hasil kegagalan tumbuh berkembang dibahas dalam artikel ini. Untuk informasi tentang kekurangan gizi energi, lihat artikel Marasmus.

Penyebab

Gagal Tumbuh dapat diorganisasikan ke dalam Gagal Tumbuh nonorganik, Gagal Tumbuh organik, dan kombinasi Gagal Tumbuh nonorganik dan organik. Kejadian relatif dari masing-masing kategori sepenuhnya tergantung pada populasi yang diteliti oleh penelitian ini. Sebuah studi dari klinik endokrinologi pediatrik di rumah sakit universitas AS menemukan bahwa setengah dari pasien memiliki kekurangan gizi murni dan seperempat lainnya memiliki perawakan pendek. Seperti yang ditunjukkan di atas, banyak anak-anak dari artikel yang lebih tua yang dianggap memiliki kegagalan nonorganik untuk tumbuh sebenarnya memiliki masalah organik halus yang berkontribusi terhadap pertumbuhan mereka yang buruk.

Sebagian besar anak memiliki kontribusi dari kedua etiologi, pedoman disusun untuk membantu dokter dengan keadaan yang tidak jelas. Sebuah tinjauan retrospektif yang disusun oleh rumah sakit anak-anak nasional di Korea menyimpulkan bahwa dalam populasi mereka, anak-anak dengan Gagal Tumbuh organik  memiliki usia kehamilan yang lebih rendah, berat lahir, dan persentil berat pada presentasi dibandingkan dengan mereka yang gagal organisasional untuk berkembang. Selain itu, anak-anak dengan Gagal Tumbuh organik lebih mungkin mengalami penurunan berat badan yang parah.

wp-1558879912816..jpgGagal Tumbuh nonorganik

  • Gagal Tumbuh nonorganik , yang paling banyak ditulis tentang bentuk Gagal Tumbuh berasal dari faktor lingkungan dan psikososial yang merugikan. Onsetnya hampir selalu sebelum usia 5 tahun. Ini sering dikaitkan dengan interaksi abnormal antara pengasuh dan bayi atau anak. Kadang-kadang, ini bisa menjadi bagian dari pola pelecehan anak yang lebih global. Hasilnya adalah penyediaan makanan yang tidak memadai dan / atau asupan makanan yang tidak memadai. Ini paling umum di lingkungan kemiskinan. Ketika mempertimbangkan hampir semua entitas individu yang terkait dengan kegagalan nonorganik untuk tumbuh, proses organik sering dapat diidentifikasi sebagai kaki tangan.

Penyebab prenatal dari gagal tumbuh nonorganik meliputi:

  • Beberapa ibu yang kekurangan gizi selama kehamilan dapat memiliki bayi yang kekurangan gizi dan kecil. Ini lebih sering terjadi pada kehamilan remaja, di lokasi sosial ekonomi rendah, dan dengan banyak kehamilan.
  • Gangguan makan ibu (misalnya, anoreksia, bulimia) juga dapat memengaruhi pertumbuhan janin. Apakah kegagalan untuk berkembang pada bayi-bayi ini terkait dengan faktor-faktor hormonal di samping kekurangan nutrisi masih terbuka untuk diperdebatkan.

Penyebab postnatal dari gagal tumbuh nonorganik  meliputi:

  • Secara tradisional, penyebab postnatal nonorganik dari Gagal Tumbuh dianggap karena penolakan atau kelalaian ibu. Skuse et al menyarankan agar dokter menanyakan lebih dari sekadar nutrisi yang ditawarkan kepada anak-anak. Penderita mengalami perilaku saat makan dan masalah psikososial menjadi variabel penting yang memengaruhi apakah anak-anak mendapatkan energi yang cukup.
  • Pola asuh yang buruk dan disfungsi keluarga dapat berdampak negatif pada asupan energi anak. Keluarga yang dicirikan oleh hubungan yang kurang adaptif, tingkat konflik keluarga yang lebih tinggi, penyalahgunaan obat-obatan ibu, depresi ibu, kurangnya pendidikan ibu, dan kurangnya dukungan emosional bagi ibu memiliki tingkat peningkatan anak-anak dengan kegagalan untuk berkembang. Istilah perampasan psikososial telah dibuat untuk jenis situasi ini.
  • Alasan klasik nonorganik lainnya untuk gagal tumbuh subur pada anak-anak kecil termasuk kegagalan untuk memberi sinyal kelaparan, payah yang buruk, kesulitan menyapih, atau penolakan untuk makan. Dasar organik yang memainkan peran besar dalam perilaku ini sekarang dicatat. Penghargaan atas peran disfungsi integrasi sensorik dalam subset anak-anak dengan masalah isapan dan isyarat ini menyoroti kesulitan dalam memisahkan FTT organik dari nonorganik.
  • Jarang pada bayi dan balita, tetapi lebih umum pada anak-anak yang lebih besar, gangguan makan (misalnya, anoreksia, bulimia) dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang parah. Meskipun bayi dan balita tidak memiliki citra tubuh klasik yang terganggu yang menjadi ciri remaja dengan gangguan makan, semua terlibat dalam perjuangan untuk mengendalikan makanan dengan media.
  • Sebuah tinjauan retrospektif baru-baru ini dari rumah sakit anak-anak Asia menemukan riwayat yang paling umum untuk anak-anak dengan kegagalan nonorganik untuk berkembang adalah penyakit virus yang terjadi sebelumnya yang diikuti oleh adopsi tindakan pemberian makan kompensasi yang keliru oleh penyedia perawatan.
  • Dalam kohort di mana prevalensi FTT tinggi, upaya harus dilakukan untuk memahami pola pemberian makanan pendamping ASI dan untuk menyadari bahwa pilihan makanan pendamping bergantung pada budaya.
  • Meskipun kelompok tipikal dengan kegagalan nonorganik untuk berkembang adalah bayi dan balita, semakin muda anak tersebut, semakin besar kemungkinan mereka memiliki beberapa patologi organik yang berkontribusi terhadap perilaku makan yang menyimpang. Anak-anak yang makan lambat atau cerewet sering mengakibatkan frustrasi orang tua dan kurangnya kegigihan. Disfagia ringan yang mendasari dapat menjadi bagian dari penyebab perilaku ini. Demikian pula, penolakan makan dapat dimulai sebagai konsekuensi dari rasa sakit yang berhubungan dengan refluks gastroesofageal, enteropati atau ketakutan aspirasi mikro pada bayi. Selanjutnya, rasa takut dapat bertahan bahkan setelah terapi medis yang efektif dan menjadi lebih penting daripada masalah organik asli.
  • Disfagia ringan hadir, bayi mungkin menjadi pemberi makan lambat atau cerewet, yang dapat menyebabkan frustrasi orangtua dan kurangnya kegigihan mereka. Sebaliknya, rasa sakit yang berhubungan dengan gastroesophageal reflux atau enteropati atau ketakutan akan aspirasi dapat menyebabkan bayi tidak suka makan yang menjadi masalah yang lebih signifikan daripada yang organik.

Penyebab gagal tumbuh nonorganik  biasanya meliputi kombinasi dari yang berikut:

  • Kemiskinan
  • Interaksi keluarga yang tidak berfungsi (terutama depresi ibu atau penggunaan narkoba)
  • Interaksi orangtua-anak yang sulit
  • Kurangnya dukungan orang tua (misalnya, tidak ada teman, tidak ada keluarga besar)
  • Kurang persiapan untuk mengasuh anak
  • Disfungsi keluarga (misalnya, perceraian, penyalahgunaan pasangan, gaya keluarga yang kacau)
  • Anak yang sulit (sebelum karakterisasi ini, penyedia harus mencari penjelasan mengapa, termasuk disfagia halus)
  • Penelantaran anak
  • Sindrom deprivasi emosional
  • Pemahaman yang tidak memadai tentang usia yang sesuai untuk keterampilan makan pada waktu makan oleh penyedia layanan (mis. Gagal memperkenalkan makanan padat yang dapat dikunyah dan pemberian makan dengan jari pada periode kritis).
  • Respon tidak tepat dalam situasi waktu makan dengan perilaku negatif anak seperti amukan, mengusir atau melemparkan makanan, dan secara tidak sengaja mengakhiri makan yang memungkinkan anak untuk berhenti makan dan memperkuat perilaku.
  • Gangguan makan (misalnya, anoreksia, bulimia)

wp-1558861927920..jpg

Gagal tumbuh organik

Gagal tumbuh organik awal kehamilan melibatkan hal-hal berikut:

  • Penyebab gagal tumbuh prenatal  sering dikaitkan dengan komplikasi prematuritas. Bayi prematur memiliki peningkatan insiden banyak kondisi medis, termasuk penyakit ginjal, penyakit jantung, penyakit paru-paru, dan gangguan SSP. Semua gangguan ini dapat menyebabkan kegagalan intrauterin berkembang.
  • Sebagian besar bayi prematur mengejar pertumbuhan bayi cukup bulan pada saat mereka berusia 2-4 tahun. Retardasi pertumbuhan intrauterin (IUGR) didiagnosis ketika bayi lahir di bawah berat yang diharapkan (biasanya <3%) untuk jenis kelamin dan usia kehamilan. Beberapa bayi prematur (dan juga cukup bulan), terutama bayi dengan IUGR yang bersamaan, mengalami kegagalan untuk berkembang.
  • Apakah bayi prematur kecil karena prematur atau apakah mereka mengalami kegagalan permanen untuk berkembang kadang-kadang sulit untuk ditentukan. Jika bayi menggandakan berat lahir mereka pada usia 4-6 bulan dan tiga kali lipat berat lahir mereka pada 1 tahun, maka pertumbuhan catch-up penuh dapat diantisipasi.
  • Penyebab lain dari onset prenatal dari gagal tumbuh termasuk paparan racun, pengaruh lingkungan, faktor ibu, infeksi intrauterin, dan kelainan plasenta atau kromosom.
  • Eksposur prenatal yang paling penting yang mengkompromikan pertumbuhan adalah perokok, yang diketahui menghasilkan insufisiensi plasenta, dan konsumsi alkohol. Konsumsi obat-obatan pelecehan prenatal (mis., Kokain, amfetamin) juga dapat berperan dalam timbulnya gagal tumbuh sebelum kelahiran. Karena obat ini sering diminum bersama, memisahkan efek dari masing-masing obat mungkin sulit. Juga, paparan ibu terhadap obat-obatan tertentu (misalnya, hidantoin, fenobarbital) dapat menyebabkan kegagalan rahim untuk berkembang.
  • Penyakit ibu tertentu (misalnya, hipertensi, preeklampsia, penyakit jantung, anemia, diabetes mellitus lanjut) dapat menyebabkan insufisiensi uteroplasenta dan dapat menyebabkan bayi lebih kecil.

Meskipun diagnosis diferensial dari gagal tumbuh organik postnatal sangat luas, membagi etiologinya bermanfaat. Etiologi dapat dibagi menjadi 3 area umum berikut: asupan energi yang tidak memadai, penggunaan yang terkompromikan (biasanya muntah atau malabsorpsi dan / atau kehilangan yang berlebihan), dan tuntutan metabolisme yang berlebihan. Seorang ibu yang cerdik mengenali kategori yang termasuk dalam bayinya. Dokter yang lihai mengenali pola-pola yang mencakup lebih dari satu kategori ini.

 

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI PADA ANAK SULIT MAKAN

 

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI

Gangguan sulit makan pada umumnya akan berlangsung jangka panjang dan hilang timbul. Meskipun tampaknya tidak berbahaya tetapi apabila tidak ditangani dengan baik banyak akibat yang bisa ditimbulkan.

 

  • BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN KURANG (GAGAL TUMBUH atau FAILURE TO THRIVE), Stunting
  • GANGGUAN ASUPAN GIZI: Kekurangan vitamin dan mineral : Calsium, Zinc, vitamin A, Anemia Zat Besi (kurang darah/HB rendah).
  • Efek samping dari minum obat/ vitaminyang berlebihan dan berkepanjangan.
  • OVERDIAGNOSIS & OVERTREATMENT(DIAGNOSIS & TERAPI BERLEBIHAN)SEBAGAI PENYAKIT TBC. MINUM OBATJANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU BENAR MENDERITA PENYAKIT TBC
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN SERING MENGALAMI INFEKSI BERULANG (panas, batuk, pilek) terutama pada anak dengan keluhan sering muntah dan asma. 
  • GANGGUAN ASUPAN GIZI: Kekurangan vitamin dan mineral : Calsium, Zinc, vitamin A, Anemia Zat Besi (kurang darah/HB rendah).
  • Efek samping dari minum obat/ vitaminyang berlebihan dan berkepanjangan.
  • OVERDIAGNOSIS & OVERTREATMENT(DIAGNOSIS & TERAPI BERLEBIHAN)SEBAGAI PENYAKIT TBC. MINUM OBATJANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU BENAR MENDERITA PENYAKIT TBC
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN SERING MENGALAMI INFEKSI BERULANG (panas, batuk, pilek) terutama pada anak dengan keluhan sering muntah dan asma. Meskipun beberapa kasus lainnya malahan

Mendiagnosis Gangguan Fungsional Saluran Cerna Sebagai Penyebab Sulit Makan

Mendiagnosis Gangguan Fungsional Saluran Cerna Sebagai Penyebab Sulit Makan

Dr Widodo judarwanto, pediatrician

Gangguan fungsi saluran cerna dianggap sebagai penyebab utama gangguan sulit makan pada anak. Gangguan ini seringkali dianggap normal dan untuk mendiagnosis harus dengan melakukan ekslusi penyakit lainnya. Terdapat banyak pemeriksaan yang rumit, invasif dan mahal untuk melakukan kriteris ekslusi. Gangguan fungsi saluran cerna sering terjadi pada penderita alergi makanan dan hipersensitif makanan. Dengan melakukan eliminasi

Sampai saat ini orangtua ataupun klnisi jarang sekali memfokuskan penyebab sulit makan. Selama ini yang terjadi adalah memberi vitamin dan upaya strategi cara pemberian makan. Dari penelitian yang dilakukan oleh Judarwanto W penyebab paling sering adalah gangguan fungsi saluran cerna. Selama ini gangguan fungsi saluran cerna ini dianggap normal karena memang organ saluran cerna yang ada dalam keadaan normal. Karena hal inilah selama ini gangguan sulit makan sulit diatasi tanpa mengintervensi penyebab sulit makan. Gangguan fungsi saluran cerna ini sering terjadi pada penderita alergi makanan dan hipersensitif makanan.

  • Gangguan Fungsi Saluran Cerna suatu penyakit fungsional. Konsep dari penyakit fungsional adalah terutama bermanfaat ketika membicarakan penyakit dari saluran pencernaan. Konsep diterapkan pada organ-organ berotot dari saluran pencernaan; kerongkongan, lambung, usus kecil, kantong empedu, dan kolon (usus besar). Yang dimaksud dengan istilah fungsional adalah bahwa salah satu dari keduanya yaitu otot-otot dari organ-organ atau syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ tidak bekerja secara normal, dan sebagai akibatnya, organ-organ tidak berfungsi secara normal. Syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ termasuk tidak hanya syaraf-syaraf yang terletak didalam otot-otot dari organ-organ namun juga syaraf-syaraf dari sumsum tulang belakang (spinal cord) dan otak.
  • Beberapa penyakit saluran pencernaan dapat dilihat dan didiagnosis dengan mata telanjang, seperti borok-borok dari lambung. Jadi, borok-borok (ulcers) dapat terlihat pada operasi, pada x-rays, dan pada endoscopies. Penyakit-penyakit lain tidak dapat dilihat dengan mata telanjang namun dapat dilihat dan didiagnosis dengan mikroskop. Contohnya, penyakit celiac dan collagenous colitis didiagnosis oleh pemeriksaan mikroskop dari biopsi-biopsi usus kecil dan usus besar (kolon). Berlawanan dengannya, penyakit-penyakit fungsi saluran pencernaan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskop. Pada beberapa kejadian-kejadian, fungsi abnormal dapat didemonstrasikan dengan tes-tes, contohnya, studi-studi pengosongan lambung atau studi-studi kemampuan bergerak (motility) antro-duodenal. Bagaimanapun, tes-tes ini seringkali adalah kompleks, tidak tersedia secara luas, dan tidak mendeteksi secara terpercaya kelainan-kelainan fungsional. Oleh sebab itu, penyakit-penyakit pencernaan fungsional adalah yang melibatkan fungsi abnormal dari organ-organ pencernaan dimana kelainan-kelainan tidak dapat dilihat pada organ-organ dengan salah satu dari keduanya yaitu mata telanjang atau mikroskop.
  • Kadang penyakit-penyakit yang awlnya diduga fungsional selanjutnya ditemukan suatu gangguan organik atau dapat dilihat. Akhirnya penyakit tersebut tidak masuk kategori fungsional. Suatu contoh dari ini adalah infeksi Helicobacter pylori dari lambung. Banyak pasien-pasien dengan gejala-gejala usus bagian atas yang ringan yang diperkirakan mempunyai fungsi abnormal dari lambung atau usus-usus telah ditemukan mempunyai suatu infeksi dari lambung dengan Helicobacter pylori. Infeksi ini dapat didiagnosis dengan melihat bakteri dan peradangan (gastritis) yang disebabkannya dibawah mikroskop . Ketika pasien-pasien dirawat dengan antibitotik-antibiotik, Helicobacter, gastritis, dan gejala-gejala hilang. Jadi, pengenalan dari infeksi Helicobacter pylori mengeluarkan beberapa penyakit-penyakit pasien dari kategori fungsional.
  • Perbedaan antara penyakit fungsional dan penyakit bukan fungsional mungkin dalam kenyataannya adalah kabur. Jadi, bahkan penyakit-penyakit fungsional kemungkinan mempunyai kelainan-kelainan biokimia atau molekul yang berkaitan yang akhirnya akan mampu diukur. Contohnya, penyakit-penyakit fungsional dari lambung dan usus-usus mungkin akhirnya ditunjukan disebabkan oleh tingkatan-tingkatan yang berkurang dari kimia-kimia yang normal didalam organ-organ pencernaan, sumsum tulang belakang (spinal cord), atau otak. Haruskah suatu penyakit yang ditunjukan disebabkan oleh suatu pengurangan kimia tetap dipertimbangkan sebagai suatu penyakit fungsional ? Saya kira tidak. Pada situasi teoritis ini, kita tidak dapat melihat kelainan dengan mata telanjang atau mikroskop, namun kita dapat mengukurnya. Jika kita dapat mengukur suatu kelainan yang berkaitan atau yang menyebabkannya, penyakitnya kemungkinan harus tdak lagi dipertimbangkan sebagai fungsional.

Meskipun kekurangan-kekurangan dari istilah, fungsional, konsep dari suatu kelainan fungsional adalah bermanfaat untuk pendekatan banyak gejala-gejala yang berasal dari organ-organ berotot saluran pencernaan. Konsep ini terutam diterapkan pada gejala-gejala untuk mana tidak ada kelainan-kelainan yang berkaitan yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau mikroskop.

Ketika IBS adalah suatu penyakit fungsional utama, adalah penting untuk menyebutkan suatu penyakit fungsional utama kedua dirujuk sebagai dyspepsia, atau dyspepsia fungsional. Gejala-gejala dari dyspepsia diperkirakan berasal dari saluran pencernaan bagian atas; kerongkongan, lambung, dan bagian pertama dari usus kecil. Gejala-gejala termasuk ketidakenakan perut bagian atas, perut kembung (perasaan subyektif dari kepenuhan perut tanpa penggelembungan yang obyektif), atau penggelembungan yang obyektif (pembengkakan atau pembesaran). Gejala-gejala mungkin atau mungkin tidak berhubungan dengan makanan-makanan. Mungkin ada mual dengan atau tanpa muntah dan cepat kenyang (suatu perasaan kekenyangan setelah makan hanya sejumlah kecil makanan).

Studi kelainan-kelainan fungsional dari saluran pencernaan seringkali dikategorikan oleh organ yang terlibat. Jadi, ada kelainan-kelainan fungsional dari kerongkongan, lambung, usus kecil, kolon (usus besar), dan kantong empedu. Jumlah penelitian dari kelainan-kelainan fungsional telah difokuskan kebanyakan pada kerongkongan dan lambung (seperti dyspepsia), mungkin karena organ-organ ini adalah mudah untuk dicapai dan dipelajari. Penelitian kedalam kelainan-kelainan fungsional yang mempengaruhi usus kecil dan usus besar adalah lebih sulit untuk dilaksanakan dan ada lebih sedikit kesepakatan diantara studi-studi penelitian. Ini kemungkinan adalah suatu refleksi dari kerumitan dari aktivitas-aktivitas dari usus kecil dan usus besar dan kesulitan dalam mempelajari aktivitas-aktivitas ini. Penyakit-penyakit fungsional dari kantong empedu, seperti yang dari usus kecil dan usus besar, juga adalah lebih sulit untuk dipelajari.

Suatu penyakit fungsional. Konsep dari penyakit fungsional adalah terutama bermanfaat ketika mendiskusikan penyakit dari saluran pencernaan. Konsep diterapkan pada organ-organ berotot dari saluran pencernaan; kerongkongan, lambung, usus kecil, kantong empedu dan usus besar.

Istilah fungsional adalah bahwa salah satu dari keduanya yaitu otot-otot dari organ-organ atau syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ tidak bekerja secara normal, dan sebagai akibatnya, organ-organ tidak berfungsi secara normal. Syaraf-syaraf yang mengontrol organ-organ termasuk tidak hanya syaraf-syaraf yang terletak didalam otot-otot dari organ-organ namun juga syaraf-syaraf dari sumsum tulang belakang dan otak.

Beberapa penyakit saluran pencernaan non fungsional atau gangguan organ dapat dilihat dengan mengamati tanda gangguannya, Seperti luka di lambung dapat terlihat pada operasi, pada x-rays, dan pada endoscopi. Penyakit-penyakit lain tidak dapat dilihat dengan mata telanjang namun dapat dilihat dan didiagnosis dengan pemeriksaan khusus. Misalnya pada penyakit celiac dan collagenous colitis didiagnosis oleh pemeriksaan mikroskop dari biopsi-biopsi usus kecil dan usus besar.

Berbeda dengan gangguan tersebut, penyakit-penyakit fungsi saluran pencernaan tidak dapat dilihat dengan pemeriksaan penunjang dengan mikroskop. Pada beberapa kejadian-kejadian, fungsi abnormal dapat didemonstrasikan dengan tes-tes, contohnya, studi-studi pengosongan lambung atau studi-studi kemampuan bergerak (motility) antro-duodenal. Berbagai pemeriksaan jenis ini seringkali mahal, sangat kompleks, tidak tersedia secara luas, dan tidak mendeteksi secara terpercaya kelainan-kelainan fungsional. Oleh sebab itu, penyakit-penyakit pencernaan fungsional adalah yang melibatkan fungsi abnormal dari organ-organ pencernaan dimana kelainan-kelainan tidak dapat dilihat pada organ-organ dengan salah satu dari keduanya yaitu mata telanjang atau mikroskop.

Adakalanya, penyakit-penyakit yang diperkirakan adalah fungsional akhirnya ditemukan berhubungan dengan kelainan-kelainan yang dapat dilihat. Kemudian, penyakit keluar dari kategori fungsional. Misalnya infeksi Helicobacter pylori dari lambung. Banyak pasien-pasien dengan gejala-gejala usus bagian atas yang ringan yang diperkirakan mempunyai fungsi abnormal dari lambung atau usus-usus telah ditemukan mempunyai suatu infeksi dari lambung dengan Helicobacter pylori. Infeksi ini dapat didiagnosis dengan melihat bakteri dan peradangan (gastritis) yang disebabkannya dibawah mikroskop . Ketika pasien-pasien dirawat dengan antibitotik-antibiotik, Helicobacter, gastritis, dan gejala-gejala hilang. Jadi, pengenalan dari infeksi Helicobacter pylori mengeluarkan beberapa penyakit-penyakit pasien dari kategori fungsional.

Perbedaan antara penyakit fungsional dan penyakit bukan fungsional mungkin dalam falta klinis sangat sulit dibedakan. Jadi, bahkan penyakit-penyakit fungsional kemungkinan mempunyai kelainan-kelainan biokimia atau molekul yang berkaitan yang akhirnya akan mampu diukur. Contohnya, penyakit-penyakit fungsional dari lambung dan usus-usus mungkin akhirnya ditunjukan disebabkan oleh tingkatan-tingkatan yang berkurang dari kimia-kimia yang normal didalam organ-organ pencernaan, sumsum tulang belakang (spinal cord), atau otak.

Meskipun kekurangan-kekurangan dari istilah, fungsional, konsep dari suatu kelainan fungsional adalah bermanfaat untuk pendekatan banyak gejala-gejala yang berasal dari organ-organ berotot saluran pencernaan. Konsep ini terutam diterapkan pada gejala-gejala untuk mana tidak ada kelainan-kelainan yang berkaitan yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau mikroskop.
Gangguan fungsional lain adalah dyspepsia, atau dyspepsia fungsional. Gejala-gejala dari dyspepsia diperkirakan berasal dari saluran pencernaan bagian atas; kerongkongan, lambung, dan bagian pertama dari usus kecil. Gejala-gejala termasuk ketidakenakan perut bagian atas, perut kembung (perasaan subyektif dari kepenuhan perut tanpa penggelembungan yang obyektif), atau penggelembungan yang obyektif (pembengkakan atau pembesaran). Gejala-gejala mungkin atau mungkin tidak berhubungan dengan makanan-makanan. Mungkin ada mual dengan atau tanpa muntah dan cepat kenyang (suatu perasaan kekenyangan setelah makan hanya sejumlah kecil makanan).

Studi kelainan-kelainan fungsional dari saluran pencernaan seringkali dikategorikan oleh organ yang terlibat. Jadi, ada kelainan-kelainan fungsional dari kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, dan kantong empedu.

Perhatian klinisi pada gangguan fungsional pada kerongkongan dan lambung (dyspepsia) lebih besar. Namun penelitian kelainan fungsional pada usus kecil dan usus besar adalah lebih rumit. Sangat mungkin hal ini yang membuat penyakit fungsional dari empedu, usus kecil dan usus besar relatif lebih belum banyak terungkap.

The Rome II Criteria

Kriteria Rome II menyatakan bahwa diagnosis gangguan fungsi saluran cerna harus terdapat ketidaknyamanan perut selama minggu atau lebih (tidak perlu harus minggu yang berurutan) dalam 12 bulan sebelumnya. Nyeri atau ketidaknyamanan harus mempunyai dua dari tiga ciri-ciri berikut:

1. Pembebasan dengan pembuangan air besar
2. Serangan yang berhubungan dengan suatu perubahan dalam frekwensi feces
3. Gejala lain yang menunjang gangguan fungsi saluran cerna, adalah:

  • frekwensi abnormal dari feces-feces (lebih dari 3/per hari atau kurang dari 3
  • per minggu)bentuk feces yang abnormal (bergumpal-gumpal dan keras, atau lepas dan berair)pengeluaran fece
  • s yang abnormal (ngeden
  • ,kebelet, atau perasaan-perasaan belum bersih buang air be
  • sarnya)Pengeluaran lendir; dankembung (merasakan penggelembungan perut, atau pembesaran).

Kriteria Rome II adalah agak spesifik untuk suatu diagnosis gangguan saluran cerna fungsional. Gejala-gejala dari dyspepsia (mual atau ketidaknyamanan perut setelah makan-makan), penggelembungan perut, dan kentut yang meningkat sendirian tidak jatuh didalam definisi ini.

Eksklusi (Pengeluaran) dari Penyakit Pencernaan Non-Fungsional

Beberapa pemeriksaan dilakukan untuk mengeluarkan penyakit pencernaan non-fungsional. Pemeriksaan tersebut mengidentifikasi penyakit-penyakit anatomik (struktural) dan histologik (mikroskopik) dari usus-usus. Seperti selalu, suatu sejarah yang mendetil dari pasien dan suatu pemeriksaan fisik seringkali akan menyarankan penyebab dari gejala-gejala. Screening tes-tes darah yang rutin seringkali dilaksanakan untuk mencari petunjuk-petunjuk pada penyait-penyakit yang tidak dicurigai. Pemeriksaan-pemeriksaan dari feces juga adalah suatu bagian dari evaluasi karena mereka mungkin mengungkap infeksi, tanda-tanda dari peradangan, atau darah dan mengarahkan pengujian diagnostik lebih lanjut. Pengujian feces yang sensitif (antigen/antibody) untuk Giardia lamblia akan menjadi layak karena infeksi parasitik ini adalah umum dan dapat menjadi akut atau kronis. Beberapa dokter-dokter melakukan pengujian darah untuk penyakit celiac (sprue), namun nilai dari melakukan ini adalah tidak jelas. Lebih dari itu, jika suatu EGD direncanakan, biopsi-biopsi dari usus dua belas jari (duodenum) biasanya akan membuat diagnosis dari penyakit celiac. Keduanya x-rays dan endoscopies dapat mengidentifikasi penyakit-penyakit anatomik. Hanya endoscopies, bagaimanapun, dapat mendiagnosis penyakit-penyakit histologik karena biopsi-biopsi dapat diambil sewaktu prosedurnya. Tes-tes x-ray termasuk:

  • Esophagram dan video-fluoroscopic swallowing Pemeriksaan  untuk menguji kerongkongan
  • Evaluasi pencernaan bagian atas untuk menguji lambung dan duodenum serial
  • Evaluasi radiolgi usus kecil untuk menguji usus kecil serial
  • Barium enema untuk menguji usus besar dan terminal ileum.
  • Tes-tes endoskopi termasuk:
  • Upper gastrointestinal endoscopy (esophago-gastro-duodenoscopy, atau EGD) untuk menguji kerongkongan, lambung, dan duodenum (usus dua belas jari)
  • Colonoscopy untuk menguji usus besar (kolon) dan terminal ileum

Endoscopy juga tersedia untuk memeriksausus kecil, namun tipe dari endoskopi ini adalah kompleks, tidak tersedia secara luas, dan nilai yang tidak terbukti dalam IBS yang dicurigai.

Untuk pemeriksaan usus kecil, ada juga suatu kapsul yang mengandung suatu kamera kecil yang dapat ditelan. Ketika kapsul berjalan melalui usus-usus, ia mengirim gambar-gambar dari bagian dalam usus-usus ke suatu alat perekam eksternal untuk peninjauan ulang kemudian. Bagaimanapun, kapsul tidak tersedia secara luas dan nilainya pada IBS masih belum terbukti.

Eksklusi (Pengeluaran) dari Penyakit Non-Usus

  • Pemeriksaan penunjang hanya dilakukan untuk mencari atau mengeklusi gangguan organ saluran cerna lainnya seperti ultrasonography (US), computerized tomography (CT atau CAT scans), atau magnetic resonance imaging (MRI) perut. X-ray dan endoscopy.

Gangguan Fungsional SSP

  • Ternyata gangguan fungsional tersebut juga terjadi bukan hanya di saluran cerna organ tubuh lainnya juga mengalami seperti susunan saraf pusat. Seringkali didapatkan anak mengalami kejang tanpa demam, saat diperiksa EEG dalam batas normal. Hal ini sering dikondisikan sebagai gangguan fungsional susunan saraf pusat. Biasanya dalam kasus seperti ini tidak memerlukan obat epilepsi, karena seringkali responnya tidak baik.
  • Tetapi pada kelompok lain dengan gangguan yang sama didapatkan gambaran EEG yang tidak normal. Pada contoh terakhir ini biasanya terdapat gangguan organ organ berupa gangguan aliran listrik di otak. Kelainan seperti ini pemberian obat epilepsi responnya sangat dan harus diberikan jangka panjang dalam waktu tertentu di hentikan.
  • Demikian juga gangguan fungsional susunan saraf pusat ternyata seringkali dipicu oleh adanya gangguan fungsi saluran cerna. Gangguan fungsi susunan saraf pusat jenis ini manifestasinya anak aktif, emosi tinggi, gangguan konsentrasi, gangguan tidur dan sebagainya. Gangguan ini dapat dibedakan dengan Autism, karena autism bisa juga masuk gangguan organik. Karena, dalam penelitian beberapa anak Autism mempunya bentuk dan ukuran berbeda pada bagian tertenyu di otaknya.

1518794120120-15.jpg

Patofisiologi Terkini Malnutrisi Pada Anak

dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Malnutrisi secara langsung bertanggung jawab atas 300.000 kematian per tahun pada anak-anak di bawah 5 tahun di negara-negara berkembang dan secara tidak langsung berkontribusi lebih dari setengah dari semua kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Selain itu, meningkatkan mahalnya biaya perawatan kesehatan

Menurut American Society for Parenteral dan Enteral Nutrition (ASPEN), malnutrisi dapat diklasifikasikan sebagai penyakit yang terkait (sekunder atau penyakit lain) terkait non-penyakit, (disebabkan oleh penyebab lingkungan / perilaku) atau kombinasi keduanya.

Patofisiologi

  • Malnutrisi mempengaruhi hampir semua sistem organ. Protein diet diperlukan untuk menyediakan asam amino untuk sintesis protein tubuh dan senyawa lain yang memiliki berbagai peran fungsional. Energi sangat penting untuk semua fungsi biokimia dan fisiologis dalam tubuh. Selain itu, zat gizi mikro sangat penting dalam banyak fungsi metabolisme dalam tubuh sebagai komponen dan kofaktor dalam proses enzimatik.
  • Selain gangguan pertumbuhan fisik dan fungsi kognitif dan fisiologis lainnya, perubahan respons imun terjadi pada awal perjalanan malnutrisi yang signifikan pada anak. Perubahan respons imun ini berkorelasi dengan hasil yang buruk dan meniru perubahan yang diamati pada anak-anak dengan sindrom defisiensi imun yang didapat (AIDS). Hilangnya hipersensitivitas tertunda, lebih sedikit limfosit T, gangguan respons limfosit, gangguan fagositosis sekunder akibat penurunan komplemen dan sitokin tertentu, dan penurunan sekresi imunoglobulin A (IgA) adalah beberapa perubahan yang mungkin terjadi. Perubahan-perubahan kekebalan ini membuat anak-anak rentan terhadap infeksi-infeksi kronis dan parah, paling umum, diare infeksi, yang lebih lanjut mengkompromikan nutrisi yang menyebabkan anoreksia, penurunan penyerapan nutrisi, peningkatan kebutuhan metabolisme, dan kehilangan nutrisi secara langsung.
  • Studi awal anak-anak yang kekurangan gizi menunjukkan perubahan pada otak yang sedang berkembang, termasuk, laju pertumbuhan otak yang melambat, berat otak yang lebih rendah, korteks serebral yang lebih tipis, penurunan jumlah neuron, mielinisasi yang tidak mencukupi, dan perubahan duri dendritik. Baru-baru ini, studi neuroimaging telah menemukan perubahan parah pada aparatus tulang belakang dendritik neuron kortikal pada bayi dengan malnutrisi protein-kalori yang parah. Perubahan ini mirip dengan yang dijelaskan pada pasien dengan keterbelakangan mental dari berbagai penyebab. Belum ada penelitian yang pasti untuk menunjukkan bahwa perubahan ini lebih bersifat kausal daripada kebetulan.
  • Perubahan patologis lainnya termasuk degenerasi lemak hati dan jantung, atrofi usus kecil, dan penurunan volume intravaskular yang mengarah ke hipaldosteronisme sekunder.

Referensi:

  • Mehta NM, Corkins MR, Lyman B, Malone A, Goday PS, Carney LN, et al. Defining pediatric malnutrition: a paradigm shift toward etiology-related definitions. JPEN J Parenter Enteral Nutr. 2013 Jul. 37 (4):460-81.
  • Benitez-Bribiesca L, De la Rosa-Alvarez I, Mansilla-Olivares A. Dendritic spine pathology in infants with severe protein-calorie malnutrition. Pediatrics. 1999 Aug. 104(2):e21

wp-1557528598877..jpg

Penanganan Terkini Perawakan Pendek

Perawakan pendek mungkin merupakan ekspresi normal dari potensi genetik, dalam hal ini tingkat pertumbuhan normal, atau mungkin hasil dari suatu kondisi yang menyebabkan kegagalan pertumbuhan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dari normal.  Kegagalan pertumbuhan adalah istilah yang menggambarkan tingkat pertumbuhan di bawah kecepatan pertumbuhan yang sesuai untuk usia 

Kegagalan pertumbuhan panjang dan berat dengan normal

  • Kegagalan pertumbuhan panjang dan berat badan dengan lingkar kepala normal pada bayi dengan defisiensi hormon pertumbuhan.
  • Seorang anak dianggap pendek jika ia memiliki ketinggian di bawah persentil kelima; sebagai alternatif, beberapa mendefinisikan perawakan pendek sebagai tinggi kurang dari 2 standar deviasi di bawah rata-rata, yang mendekati persentil ketiga. Dengan demikian, 3-5% dari semua anak dianggap pendek. Banyak dari anak-anak ini sebenarnya memiliki kecepatan pertumbuhan normal. Anak-anak pendek ini termasuk mereka yang bertubuh pendek kekeluargaan atau keterlambatan konstitusional dalam pertumbuhan dan pematangan, yang merupakan varian normal pertumbuhan non-patologis. Untuk mempertahankan persentil ketinggian yang sama pada grafik pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan harus setidaknya pada persentil ke-25. Ketika mempertimbangkan semua anak dengan perawakan pendek, hanya beberapa yang benar-benar memiliki diagnosis yang dapat diobati. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dengan kecepatan pertumbuhan yang lambat.

Patofisiologi

  • Fase pertumbuhan manusia yang paling cepat adalah intrauterin. Setelah kelahiran, penurunan bertahap dalam tingkat pertumbuhan terjadi selama beberapa tahun pertama kehidupan. Panjang rata-rata bayi saat lahir adalah sekitar 20 inci, panjang pada usia 1 tahun adalah sekitar 30 inci, panjang pada usia 2 tahun adalah sekitar 35 inci, dan panjang pada usia 3 tahun adalah sekitar 38 inci. Setelah usia 3 tahun, pertumbuhan linier berlangsung pada tingkat yang relatif konstan 2 inci per tahun (5 cm / tahun) hingga pubertas.
  • Pertumbuhan normal adalah hasil interaksi faktor genetik, nutrisi, metabolisme, dan endokrin yang tepat. Untuk sebagian besar, potensi pertumbuhan ditentukan oleh pewarisan poligenik, yang tercermin dalam ketinggian orang tua dan kerabat. Sekresi hormon pertumbuhan (GH) oleh hipofisis dirangsang oleh hormon pertumbuhan-hormon pelepas (GHRH) dari hipotalamus. GHRH juga merangsang proliferasi somatotrof. Sinyal lain, yang distimulasi oleh peptida pelepas hormon pertumbuhan (GHRP) tertentu, mungkin ada; reseptor untuk GHRP telah diidentifikasi, dan ghrelin, ligan alami untuk reseptor ini, telah diidentifikasi. Reseptor GHRH adalah protein domain spanning tujuh terkait-permukaan sel terkait dengan protein G (Gs). Keadaan ini merangsang produksi cAMP intraseluler setelah aktivasi yang diinduksi ligan.
  • Ghrelin (dari kata ghre, sebuah kata dasar dalam bahasa proto-Indo-Eropa yang berarti tumbuh), unik karena merupakan polipeptida kecil yang dimodifikasi pada asam amino ketiga (serin) dengan esterifikasi asam n-oktanoat. Ghrelin adalah peptida gastrointestinal (disintesis dalam lambung) yang secara spesifik menginduksi sekresi GH. Reseptor ghrelin diekspresikan pada hipofisis anterior. Somatostatin yang dikeluarkan oleh hipotalamus menghambat sekresi hormon pertumbuhan.
  • Ketika hormon pertumbuhan disekresikan ke dalam sirkulasi sistemik, insulin-like growth factor (IGF) -1 dilepaskan, baik secara lokal atau di lokasi tulang yang tumbuh. Hormon pertumbuhan bersirkulasi terikat pada protein pengikat spesifik (GHBP), yang merupakan bagian ekstraseluler dari reseptor hormon pertumbuhan. IGF-1 bersirkulasi terikat ke salah satu dari beberapa protein pengikat (IGFBPs). IGFBP yang tergantung pada hormon pertumbuhan adalah IGFBP-3.

Epidemiologi

Frekuensi

  • Amerika Serikat. Pada tahun 1994, Lindsay et al mempelajari 114.881 anak-anak sekolah di Utah.  Setelah 1 tahun, 79.495 dari kelompok asli tersedia untuk evaluasi. Dari jumlah tersebut, 555 (0,7%) memiliki ketinggian di bawah persentil ketiga dan tingkat pertumbuhan yang kurang dari 5 cm / tahun. Ketika diperiksa lebih lanjut, penyebab perawakan pendek dalam kelompok anak-anak ini termasuk perawakan pendek keluarga (37%), keterlambatan konstitusional (27%), kombinasi perawakan pendek keluarga dan keterlambatan konstitusi (17%), penyebab medis lainnya (10%) , perawakan pendek idiopatik (5%), defisiensi hormon pertumbuhan (3%), sindrom Turner (3% perempuan), dan hipotiroidisme (0,5%).
  • Internasional. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menentukan frekuensi berbagai penyebab perawakan pendek. Pada 1974, Lacey dan Parkin mengevaluasi anak-anak di Newcastle upon Tyne di Inggris.  Mereka mempelajari 2256 anak-anak, 111 di antaranya berada di bawah persentil ketiga dalam status. Dari 98 anak yang dapat mereka periksa, hanya 16 yang memiliki bukti penyakit organik yang menyebabkan perawakannya pendek. Diagnosis termasuk sindrom Down, fibrosis kistik, insufisiensi ginjal kronis, defisiensi hormon pertumbuhan, artritis reumatoid remaja (diobati dengan glukokortikoid), dan sindrom Hurler.
  • Kematian / Morbiditas. Perawakan pendek telah dianggap memiliki efek luas pada kesejahteraan psikologis, termasuk prestasi akademik yang buruk (meskipun kecerdasan normal, dinamika keluarga yang sehat, dan status sosial ekonomi yang tinggi) dan masalah perilaku (misalnya, kecemasan, tindakan mencari perhatian, sosial yang buruk keterampilan).
  • Morbiditas terkait dengan penyebab kegagalan pertumbuhan juga dapat diamati. Beberapa penelitian yang melibatkan anak-anak yang belum pernah terlihat di klinik yang merawat perawakan pendek (dan, oleh karena itu, dapat mewakili populasi pasien yang berbeda) telah menentang gagasan bahwa perawakan pendek memiliki implikasi psikologis. Saat ini, masalah ini belum sepenuhnya terselesaikan.
  • Tingkat kematian pada anak-anak dengan kegagalan pertumbuhan berhubungan dengan penyebab mendasar dari kegagalan pertumbuhan. Kematian tidak terkait dengan kegagalan pertumbuhan itu sendiri; melainkan, itu hanya terkait dengan penyebab kegagalan pertumbuhan.
  • Ras. Tidak ada kecenderungan rasial yang diketahui untuk kegagalan pertumbuhan; Namun, dalam database besar anak-anak berikut yang diobati dengan hormon pertumbuhan, nj anak-anak kulit putih tampaknya lebih terwakili, dibandingkan dengan anak-anak keturunan Asia atau Afrika. Pengamatan ini dianggap mungkin karena bias rujukan.
  • Jenis kelamin. Distribusi jenis kelamin anak-anak yang diobati dengan hormon pertumbuhan adalah sekitar 3 anak laki-laki untuk setiap perempuan. Pekerjaan terbaru di bidang ini menunjukkan bahwa ini sebagian besar disebabkan oleh bias rujukan, baik dari orang tua sendiri atau dari dokter yang merujuk.

Anamnesa
Riwayat mereka yang mengalami kegagalan pertumbuhan harus fokus pada bidang-bidang berikut:

  • Berat lahir dan panjang lahir: Salah satu masalah dalam diagnosis diferensial adalah retardasi pertumbuhan intrauterin, yang harus terlihat dari riwayat kelahiran.
  • Ketinggian orang tua: Untuk mengevaluasi potensi genetik anak, perhitungan tinggi menengah yang disesuaikan jenis kelamin (yaitu, tinggi target) sangat membantu. Ketinggian midparental yang disesuaikan dengan jenis kelamin dihitung dengan menambahkan 2,5 inci ke (untuk anak laki-laki) atau mengurangi 2,5 inci dari (untuk anak perempuan) rata-rata ketinggian orang tua; ini mewakili tinggi badan orang dewasa yang paling mungkin secara statistik untuk anak, berdasarkan pada kontribusi orang tua. Dengan menghitung persentil untuk tinggi target midparental ini, seseorang dapat menentukan persentil di mana tinggi anak diharapkan untuk dilacak.
  • Waktu pubertas pada orang tua: Keterlambatan konstitusional dalam pertumbuhan dan pematangan mungkin memiliki riwayat keluarga. Sebagian besar ibu dapat mengingat usia mereka saat menarche (usia rata-rata, 12-12,5 tahun). Menggali sejarah pubertas dari seorang ayah lebih sulit karena tidak ada tengara tertentu yang diakui. Bukti pubertas yang tertunda dapat mencakup terus tumbuh setelah sekolah menengah atau tidak bercukur sampai usia 20 tahun atau lebih.

Poin pertumbuhan sebelumnya

  • Bagian yang paling berguna dari pemeriksaan kegagalan pertumbuhan adalah mengamati pola pertumbuhan. Data pertumbuhan sebelumnya dapat diperoleh dari kantor dokter, sekolah, atau tanda yang telah disimpan di pintu atau dinding di rumah. Peningkatan baru-baru ini dalam penggunaan rekam medis elektronik telah memberikan kontribusi positif dalam akses ke data pertumbuhan.
  • Jika laju pertumbuhannya normal (sekitar 5 cm / tahun) dari usia 3 tahun hingga pubertas), penyebab perawakan pendek anak kemungkinan adalah salah satu varian normal, dan anak itu sebenarnya tidak mengalami kegagalan pertumbuhan. . Penting untuk dicatat bahwa bayi dan remaja adalah dua fase pertumbuhan pascanatal ketika melintasi garis persentil panjang / tinggi dapat diamati karena fisiologi normal. Dalam 2 tahun pertama kehidupan, kurva tinggi (panjang) bayi dapat melintasi kurva persentil ke atas atau ke bawah sesuai dengan potensi genetik anak, menjauh dari pengaruh lingkungan intrauterin. Di sisi lain, pubertas ditandai oleh lonjakan pertumbuhan. Oleh karena itu persilangan persentil tinggi antara usia 2 dan masa pubertas harus dicatat oleh dokter dan dievaluasi sesuai kebutuhan.
  • Jika tingkat pertumbuhan rendah, kegagalan pertumbuhan hadir, dan penyebab patologis untuk kegagalan pertumbuhan lebih mungkin.
  • Anak-anak dengan keterlambatan konstitusional dalam pertumbuhan dan pendewasaan sering tampak tumbuh lambat tepat sebelum percepatan pertumbuhan pubertas; mereka mungkin bingung dengan anak-anak yang mengalami kegagalan pertumbuhan aktual.
  • Kesehatan umum anak: Mengesampingkan penyakit kronis atau gizi buruk sebagai penyebab kegagalan pertumbuhan adalah penting. Di seluruh dunia, kekurangan gizi mungkin merupakan penyebab kegagalan pertumbuhan yang paling mungkin

Pemeriksaan Fisik
Hal-hal berikut dalam pemeriksaan fisik ditargetkan untuk menilai kegagalan pertumbuhan:

  • Tinggi (atau panjang) dan berat: Penentuan berat tidak sulit; tinggi (berdiri) atau panjang (berbaring) harus diukur dengan hati-hati. Menggunakan stadiometer tunggal yang stabil dan mendapatkan lebih dari satu pengukuran memberikan nilai yang akurat.
  • Mengambil pengukuran panjang yang akurat membutuhkan perhatian sebagai berikut:
    • Alat pengukur yang akurat harus digunakan. Untuk bayi, perangkat harus terdiri dari papan dengan tolok ukur terpasang (atau tertanam), pelat kepala stasioner, dan alas kaki bergerak.
    • Regangkan anak dengan lembut. Tumit, bokong, bahu, dan bagian belakang kepala harus menyentuh dasar perangkat, dan telapak kaki harus tegak lurus terhadap alas perangkat.
    • Mengulang pengukuran 2-3 kali (dan mengambil rata-rata pengukuran ini) meningkatkan akurasi pengukuran.
  • Saat melakukan pengukuran tinggi badan, hal-hal berikut harus diperhatikan:
    • Selalu minta anak itu bertelanjang kaki atau menggunakan kaus kaki. Tumit, pantat, dan bahu harus bersentuhan dengan dinding atau alat pengukur.
    • Anak itu harus berdiri dengan tumit bersama, kaki sedikit terentang.
    • Anak itu harus melihat lurus ke depan. Ini disebut memiliki kepala di bidang horizontal Frankfurt, yang merupakan bidang yang diwakili dalam profil dengan garis antara titik terendah pada margin orbit dan titik tertinggi pada margin meatus auditori.
    • Pada saat pengukuran, mintalah anak menahan napas dalam-dalam.
    • Gunakan peralatan yang tepat. Perangkat ideal untuk pengukuran tinggi adalah stadiometer, yang dapat dipasang di dinding, dengan lengan yang bergerak secara vertikal. Lengan diletakkan di kepala, dan tingginya bisa dibaca dari penghitung atau dari penggaris di dinding. Jika stadiometer tidak tersedia, pengukuran tinggi yang baik dapat diperoleh dari tolok ukur (atau meteran tongkat) yang melekat pada dinding dan perangkat yang membuat sudut kanan dengan dinding dan kepala anak. Perangkat floppy arm yang dipasang pada timbangan berat secara inheren bervariasi dan seringkali menghasilkan pengukuran yang tidak akurat. Pengukuran ketinggian dapat ditentukan menggunakan perangkat ini, tetapi perhatian lebih dibutuhkan.
    • Untuk penentuan tinggi badan yang tepat, ukur anak 2-3 kali dan ambil mean. Jika 2 pengukuran pertama setuju, mereka harus dianggap akurat.
    • Untuk meminimalkan variasi ketinggian diurnal, selalu ukur anak pada waktu yang bersamaan.
  • Proporsionalitas: Periksa anak untuk proporsionalitas anggota badan dan belalai. Jika dicurigai disproporsi, pengukuran berikut dapat diambil:
    • Rentang lengan: Ukur lengan terentang dari ujung jari ke ujung jari. Pada anak-anak yang berasal dari Eropa, rentang lengan harus mendekati tinggi. Dalam perbandingan orang-orang dari peninggalan Asia, Eropa, dan Afrika, orang Asia memiliki lengan yang lebih pendek secara proporsional, orang Eropa memiliki lengan panjang menengah, dan orang Afrika memiliki lengan yang jauh lebih panjang.
    • Segmen bawah (LS): Ukur dari simfisis pubis ke lantai.
    • Segmen atas (AS): Kurangi LS dari ketinggian.
    • Rasio AS / LS dihitung dengan membagi AS dengan LS. Pada anak-anak yang berasal dari Eropa, rasio ini adalah sekitar 1,7 pada saat lahir dan menurun menjadi 1 pada sekitar usia 10, di mana ia tetap sepanjang masa dewasa. Dalam perbandingan orang-orang dari warisan Asia, Eropa, dan Afrika, orang Asia memiliki kaki yang lebih pendek secara proporsional (oleh karena itu, rasio AS / LS lebih besar), orang Eropa memiliki kaki panjang menengah, dan orang Afrika memiliki kaki lebih panjang secara signifikan.
  • Status pubertas: Pubertas harus dipentaskan menggunakan sistem pementasan Tanner. Dalam keterlambatan konstitusional serta banyak penyebab patologis dari perawakan pendek (termasuk defisiensi hormon pertumbuhan [GH]), pubertas tertunda.
  • Cari tanda-tanda sindrom spesifik: Sejumlah sindrom spesifik mencakup perawakan pendek dan kecepatan pertumbuhan lambat.
  • Untuk sindrom Turner, cari anyaman leher (pterygium colli), sudut pembawa lebar (cubitus valgus), garis rambut rendah, langit-langit melengkung tinggi, metakarpal keempat pendek, dan banyak nevi.
  • Sindrom Noonan dan sindrom Russell-Silver, antara lain, harus dipertimbangkan.
  • Periksa apakah ada anggota tubuh yang tidak proporsional ketika mempertimbangkan kemungkinan displasia tulang.
  • Sindrom lain mungkin ada juga.

Perawatan medis

  • Pengobatan harus dikaitkan dengan penyebab kegagalan pertumbuhan. Jika anak didiagnosis menderita hipotiroidisme, pengobatannya adalah penggantian hormon tiroid. Demikian juga, jika anak didiagnosis menderita defisiensi hormon pertumbuhan, pengobatannya adalah terapi penggantian hormon pertumbuhan.
  • Pada tahun 2003, FDA menyetujui penggunaan hormon pertumbuhan untuk anak-anak yang tidak kekurangan hormon pertumbuhan tetapi yang setidaknya 2,25 standar deviasi di bawah rata-rata tinggi badan, yang tidak mungkin memiliki tinggi badan dewasa di atas -2 standar deviasi, dan yang memiliki tidak ada penjelasan untuk perawakan pendek mereka. Gangguan ini disebut perawakan pendek idiopatik.

Konsultasi

  • Meskipun dokter di puskesmas, klinik atau  perawatan primer sering memulai pemeriksaan, anak biasanya dirujuk ke ahli endokrin untuk penyelidikan yang lebih rinci tentang kemungkinan penyebab kegagalan pertumbuhan.

wp-1557032539258..jpgPenanganan Terapi Medis

Hormon pertumbuhan (GH) disetujui oleh FDA untuk pengobatan kegagalan pertumbuhan yang disebabkan oleh: defisiensi hormon pertumbuhan, sindrom Turner, insufisiensi ginjal kronis, kegagalan pertumbuhan intrauterin dengan kegagalan pertumbuhan postnatal, sindrom Noonan, sindrom Prader-Willi, perawakan pendek idiopatik dan mutasi SHOX.

  • Hormon pertumbuhan. Obat ini digunakan untuk penggantian fisiologis defisiensi hormon pertumbuhan dan digunakan secara farmakologis sebagai agen pemacu pertumbuhan pada pasien dengan sindrom Turner, insufisiensi ginjal kronis, kegagalan pertumbuhan intrauterin, sindrom Prader-Willi, atau perawakan pendek idiopatik.
  • Somatropin (Humatrope, Nutropin AQ, Genotropin, Norditropin, Omnitrope, Saizen, Tev-Tropin, Zorbtive). Asal DNA rekombinan GH. Pada anak-anak yang epifisisnya belum menyatu, terapi GH biasanya menghasilkan peningkatan kecepatan pertumbuhan yang signifikan (rata-rata 10-11 cm / y selama tahun pertama terapi defisiensi GH dan 7-9 cm / y selama tahun pertama di negara lain. gangguan). Respons berkurang setiap tahun, tetapi kecepatan pertumbuhan terus lebih cepat daripada tingkat pra-perlakukan.
  • Androgen. Oxandrolone, bersama dengan hormon pertumbuhan, telah digunakan dalam sindrom Turner untuk mempotensiasi efek pemacu pertumbuhan hormon pertumbuhan.
  • Oxandrolone acetate (Oxandrin). Turunan testosteron sintetis. Androgen lemah yang tidak dapat aromatisasi untuk estrogen.

Faktor pertumbuhan seperti insulin, IGF-I (mecasermin) telah disetujui oleh FDA untuk defisiensi IGF-I primer yang parah. Beberapa anak dengan perawakan pendek idiopatik mungkin memiliki tingkat ketidakpekaan hormon pertumbuhan; anak-anak ini dapat mengambil manfaat dari perawatan dengan IGF-I. Studi klinis saat ini sedang berlangsung untuk menentukan apakah hipotesis ini benar.

  • Mecasermin (Increlex)/ IGF-1 manusia rekombinan diindikasikan untuk pengobatan jangka panjang dari kegagalan pertumbuhan pada anak-anak dengan berat (yaitu, skor IGF-1 basal dan tinggi SD ≤ -3, level GH normal atau tinggi) defisiensi IGF-1 primer (IGFD primer). IGF-1 sangat penting untuk pertumbuhan normal tulang anak-anak, tulang rawan, dan organ dengan merangsang glukosa, asam lemak, dan penyerapan asam amino ke dalam jaringan. IGF-1 adalah hormon utama untuk pertumbuhan alami dan memediasi langsung efek GH. IGFD primer ditandai oleh kurangnya produksi IGF-1 meskipun kadar GH normal atau meningkat.
  • Gonadotropin Melepaskan Hormon Analog, Analog hormon pelepas gonadotropin kadang-kadang digunakan untuk mencoba memperlambat onset dan perkembangan pubertas, sehingga menghasilkan waktu pertumbuhan yang lebih lama. Studi telah menunjukkan peningkatan kecil, tetapi signifikan secara statistik, dalam prediksi tinggi orang dewasa. Efeknya tampaknya lebih besar jika pubertas dini terganggu dengan terapi ini. Bagian dari masalah menggunakan terapi ini adalah bahwa anak-anak yang mengalami perawakan pendek bermasalah dengan menjadi berbeda, dan menunda pubertas di luar batas normal juga membuat mereka berbeda dari teman sebayanya.
  • Leuprolide acetate (Lupron). Menekan steroidogenesis ovarium dan testis dengan menurunkan kadar LH dan FSH.

Penghambat Aromatase. Pematangan kerangka telah terbukti sebagai hasil dari estrogen pada anak laki-laki dan perempuan. Studi telah menunjukkan bahwa menghambat konversi androgen menjadi estrogen untuk jangka waktu 3 tahun dapat mengakibatkan peningkatan prediksi ketinggian orang dewasa sebanyak 3 inci atau lebih. Data tinggi dewasa aktual sedang menunggu, meskipun data ini baru mulai muncul.

  • Letrozole (Femara). Letrozole adalah inhibitor aromatase, yang mengganggu konversi androgen menjadi estrogen.

Referensi

JENIS TANAMAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OBAT TRADISIONAL UNTUK MENGATASI KESULITAN MAKAN

JENIS TANAMAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OBAT TRADISIONAL UNTUK MENGATASI KESULITAN MAKAN

  • Piper cubebae L (Kemukus) buah
  • Parkia roxburghii G Don (kedawung) bijiParkia roxburghii G Don (kedawung) biji
  • Foeniculum vulgare Mill (adas) buah
  • Eucalyptus globulus (kayu putih) Eucalyptus globulus (kayu putih) buah
  • Cyperus Rotundus L (rumput teki) umbi
  • Curcuma xanthoriza Roxb (temulawak) umbiCurcuma xanthoriza Roxb (temulawak) umbi
  • Curcuma domestica Val (kunyit) umbi
  • Curcuma aeroginosa Roxb (temu hitam) umbi
  • Oriadrum sativum l (ketumbar) buah
  • Cinnamomum sintok BI (sintok) Cinnamomum sintok BI (sintok) kulit kayu
  • Cinnamomum burmanni BI (kayu Manis) kulit kayukulit kayu
  • Centella asiatica Urban (pegagan, kaki kuda) semua
  • Zingiber zerumbet BI (lempuyang gajah) umbi umbi
  • Nigella sativa L (Jintan hitam pahit) Nigella sativa L (Jintan hitam pahit) biji
  • Capsicum sp L (cabe) buah
  • Orthosiphon stamineus Benth. ( Kumis kucing) daunOrthosiphon stamineus Benth. ( Kumis kucing) daun
  • Zingiber aromatica Vahl. (lempuyang wangi) umbi
  • Alyxia reinwarditi (Pulasari) kulit kayuAlyxia reinwarditi (Pulasari) kulit kayu
  • Boesenbergia pandureata Roxb (temu kunci) umbi
  • Zingiber officinale Roxb. (jahe) umbiZingiber officinale Roxb. (jahe) umbi
  • Stachytarpheta`mutabilis L (remek- getih) daun
  • Phylantus niruri L (meniran) semuaPhylantus niruri L (meniran) semua
  • Punica granatum L (delima putih) buah
  • Piper retrofractum Vahl. (cabe jawa) buahPiper retrofractum Vahl. (cabe jawa) bua

Mitos dan Kontroversi: Anakku Berat Susah Naik Karena Tidak Bisa Diam

Mitos dan Kontroversi: Anakku Berat Susah Naik Karena Tidak Bisa Diam

Mitos dan Kontroversi :

  • Anak beratnya kurang dan kurus karena anak tidak bisa diam dan anak sangat lincah.

Fakta:

  • Pada anak dengan berat badan yang kurus terjadi bisa karena berbagai faktor. Bisa karena genetik tertentu atau karena nafsu makannya tidak stabil. Nafsu makan tidak stabil dan tidak konsisten kadang banyak kadang sedikit.  Nafsu makannya hilang timbul kadang baik kadang kurang. Karena asupan makanan yang tidak optimal ini maka berakibat berat badan kurang. Anak aktif dan banyak gerak tidak akan berdampak dengan gangguan kenaikkan berat badan bila asupan makanannya baik.
  • Banyak anak aktif dan sangat lincah tetapi gemuk dan badannya bagus selama asupan makanannya konsisten baik dalam jangka panjang.

Penanganan Terbaik Atasi Penyebabnya

  • Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makanan ke mulut, kemudian mengunyah dan menelan, sehingga ketrampilan dan kemampuan sistem pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperan dalam proses makan. Pergerakan motorik yang berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah, dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah, dan banyak otot lainnya di sekitar mulut.
  • Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan menelan. Ketrampilan dan kemampuan koordinasi oral motor atau koordinasi pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperanan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di sekitar mulut. Gangguan proses makan di mulut tersebut seringkali berupa gangguan mengunyah makanan. Gangguan proses makan di mulut sering disertai gangguan nafsu makan yang makan yang tidak baik. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.
  • Gejala kesulitan makan pada anak adalah (1) Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (2).Makan berlama-lama dan memainkan makanan, (3) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (4) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (5). Tidak menyukai banyak variasi makanan atau suka pilih-pilih makan dan (6), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil. Gangguan oral motor dan nafsu makan yang berkurang sering disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna.
  • Data yang ada di Picky Eaters Clinic Jakarta, sebagian besar penderita atau sekitar 90 persen penderita sulit makan sering disertai gangguan alergi dan hipersensitiftas saluran cerna.
  • Gangguan hipersensitif saluran cerna pada bayi berupa : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS atau GER, Sering muntah atau gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, Sering rewel atau gelisah terutama malam hari atau kadang mengalami kolik namun kedaan ini sering dianggap haus minta minum, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis, tali pusat lama keringnya dan lepasnya lama. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering.
  • Gangguan hipersensitif saluran cerna pada anak berupa : MUAL terutama pagi hari, bila menangis atau batuk mudah muntah, BAB tidak tiap hari, sering sulit atau ngeden bila BAB, BAB lebih dari 2 kali, mudah NYERI PERUT (Seperti mau BAB tapi tidak jadi), tidur nungging, Feses : bau tajam, bulat (seperti kotoran kambing) warna hitam, hijau atau gelap, berlendir, pernah berdarah (sering danggap disentri atau amuba), mulut berbau, bihir kering, lidah kotor dan berpulau, mudah mual atau muntah, sering buang angin dan berbau tajam
  • Berbagai tip dan cara pemberian makanan bagi anak ternyata kurang bermanfaat bila penyebab utama gangguan saluran cerna pada anak sulit makan tidak diperbaiki. Ternyata saat dilakukan intervensi penanganan gangguan fungsi saluran cerna terdapat perbaikan diikuti membaiknya nafsu makan anak

1516243780133-13.jpg

wp-1521496400005..jpgwp-1521479869979..jpg

Deteksi Dini STUNTING atau  Terhambatnya Pertumbuhan Balita

Data Global Nutrition Report 2016 mencatat jumlah balita stunting sebanyak 36,4 persen dari seluruh balita di Indonesia. Stunting mencerminkan kekurangan gizi kronis selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak. Umumnya bagi seorang anak yang mengalami kurang gizi kronis, proporsi tubuh akan tampak normal, namun kenyataannya lebih pendek dari tinggi badan normal untuk anak-anak seusianya.

Kondisi stunting sudah tidak bisa ditangani lagi bila anak memasuki usia dua tahun. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya stunting pada anak, ibu perlu mengonsumsi asupan gizi yang layak, terutama selama masa kehamilan hingga anak lahir dan berusia 18 bulan. Pada dasarnya, kelangsungan hidup dan kesehatan anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan Sang Ibu sendiri.

Deteksi Dini STUNTING atau Terhambatnya Pertumbuhan Balita

Pemantauan tinggi badan dibutuhkan untuk menilai normal tidaknya pertumbuhan anak. Deteksi dini terhambatnya pertumbuhan diperlukan untuk memberikan terapi lebih awal, sehingga memberikan hasil yang baik dan mencegah stunting lebih dini.

Secara umum bisa dilakukan pengamatan awal secara kasar  dengan mengamati tinggindan BB anak.

  • Bila BB dan tingginya kurang dari 3-5 anak usia sebaya di sekitar keluarga, saudara atau sekitar rumah, kita harus waspada
  • Bila BB dan tinggi badan dalam pengamatan kita kurang dari sekitar 50% jumalah anak atau dari 10 -15 anak di sekolahnya maka harus waspada

Langkah selanjutnya harus mengamatindengan cermat BB dan tinggi badanya dengan uarameter ukuran Tinggi dan BB. Pengukuran tinggi badan, berat badan harus diukur dan dipantau berkala, minimal pada waktu-waktu berikut:

  • Umur < 1 tahun : saat lahir, 1, 2, 4, 6, 9, 12 bulan
  • Umur 1 – 2 tahun : setiap 3 bulan
  • Umur > 3 – 21 tahun : setiap 6 bulan

Deteksi Berat Badan pada bayi 0 – 24 bulan

  • Usia o – 3 bulan kenaikkan BB kurang dari 800 gram perbulan
  • Usia 6 – 12 bulan kenaikkan BB kurang dari 400 gram perbulan
  • Usia 12 – 24 bulan kenaikkan BBkurang dati 200 gram perbulan

Rumus Tinggi Potensi Genetik (TPG) Anak :

TPG Anak Laki laki : TB ibu (cm) + 13 cm + TB Ayah ± 8,5 cm

2

Pemeriksaan Fisis : Tb Ayah (cm) – 13 cm + Tb Ibu ± 8,5 cm

Apakah Stunting itu ?

Menurut WHO, di seluruh dunia, diperkirakan ada 178 juta anak di bawah usia lima tahun pertumbuhannya terhambat karena stunting. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.

Penyebab

Stunting terjadi dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut:

  • Kurang gizi kronis dalam waktu lama
  • Retardasi pertumbuhan intrauterine
  • Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
  • Perubahan hormon yang dipicu oleh stres
  • Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.
  • Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi di masa lalu seorang.

Gejala Stunting

  • Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
  • Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya
  • Berat badan rendah untuk anak seusianya
  • Pertumbuhan tulang tertunda

Penanganan

 

  • Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
  • Mulai usia 6 bulan, selain ASI, bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
  • Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih.

wp-1521623082375..jpg

ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN PERTUMBUHAN

wp-1521494061058..jpgALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN PERTUMBUHAN

 

Beberapa fakta ilmiah menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun terakhir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Menurut survey rumah tangga dari beberapa negara menunjukkan penyakit alergi adalah adalah satu dari tiga penyebab yang paling sering kenapa pasien berobat ke dokter keluarga. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, bahkan 20% mempunyai asma.Alergi pada anak dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali d engan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Berbagai sistem tubuh ternyata dapat terpengaruh dan terganggu. Penderita alergi dan asma ternyata sering dikaitkan dengan gangguan gizi ganda pada anak. Gizi ganda artinya dapat berkaitan dengan obesitas (kegemukan) atau bahkan sebaliknya terjadi berat badan kurang. Gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua organ tubuh dan sistem fungsi tubuh. Menurut Richard Mackarness, 1992 berpendapat berat badan yang berlebihan atau sebaliknya berat badan kurang merupakan salah satu dari lima gejala utama alergi yang diungkapkan.

BERAT BADAN KURANG DAN SULIT MAKAN

  • Penelitian yang dilakukan oleh Erika von Mutius dkk dari University Children’s Hospital, Munich, Germany menyebutkan bahwa BMI tampaknya merupakan factor resiko independent pada terjadinya asma. Sebaliknya didapatkan penelitian pada penderita asma terdapat resiko gangguan pertumbuhan tinggi badan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Baum mengungkapkan penderita asma sering terjadi peningkatan platelet-activating factor (PAF) yang ternyata dapat menghambat produksi PGE2 dalam osteobast. Prostaglandin E2 (PGE2) adalah salah satu faktor lokal yang berperanan penting untuk pertumbuhan tulang5. Ellul dalam penelitiannya mengungkapkan keterkaitan asma dan penyakit celiac pada anak. Secara bermakna didapatkan kenaikkan resiko terjadinya asma pada penderita celiac. Celiac adalah gangguan saluran yang tidak dapat mencerna kandungan gluten dan sejenisnya. Manifestasi klinis yang timbul adalah gangguan saluran cerna, dermatitis herpertiformis dan gagal tumbuh.
  • Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistim tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Fungsi organ tubuh yang sering terlibat dalam proses terjadinya alergi makanan adalah saluran cerna. Gejala gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan adalah muntah, diare, konstipasi, kolik, nyeri perut, sariawan dan sebagainya.
  • Penelitian yang dilakukan Judarwanto Widodo, didapatkan gangguan kenaikkan berat badan pada penderita alergi pada usia setelah 4-6 bulan. Hal ini terjadi karena sudah mulai diperkenalkan makanan tambahan baru. Bila makanan tambahan tersebut terdapat reaksi simpang pada tumbuh akan mengganggu saluran cerna dan berakibat sulit makan dan gangguan kenaikkan berat badan

IMATURITAS SALURAN CERNA

  • Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergi ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan rusaknya bahan penyebab alergi (denaturasi allergen). Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen (penyebab alergi) masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak saluran cerna masih imatur (belum matang). Sehingga sistim pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh. Gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan tersebut sering diistilahkan sebagai gastroenteropati atopi.
  • Saluran cerna adalah target awal dan utama pada proses terjadinya alergi makanan. Karena penyebab utama adalah imaturitas (keitidak matangan) saluran cerna maka gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi paling sering ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, yang paling sensitif di bawah 3 bulan. Dengan pertambahan usia secara bertahap imaturitas saluran cerna akan semakin membaik hingga pada usia 5 atau 7 tahun. Hal inilah yang menjelaskan kenapa alergi makanan akan berkurang dengan pertambahan usia terutama di atas 5 atau 7 tahun.

MANIFESTASI KLINIS SALURAN CERNA

  • Pada bayi baru lahir hingga terutama hingga usia 3 bulan biasanya ditandai hiccups (cegukan), sering “ngeden”, meteorismus (kembung), muntah, sering flatus (buang angin), diare, sulit BAB (Buang Air Besar) atau kolik. Gejala ringan biasanya ditandai bayi sering hiccups atau cegukan yang sering dan agak lama. Gejala ini disertai oleh gerakan seperti mengejan (”ngeden”) pada perut. Biasanya anak tampak sering ”mulet” dengan gerakan tangan sering bergerak lurus ke atas dengan disertai bunyi seperti mengejan di mulut dan perut mengeras. Kadang juga disertai keluhan ”ngeden” bila sedang buang air kecil. Bila buang air besar tampak sulit (ngeden) padahal bentuk feses lembek atau bahkan cair.
  • Bila keluhan dalam derajat yang tidak ringan sering timbul kolik. Gangguan kolik biasanya ditandai bayi sering rewel seperti kesakitan atau menangis terus menerus tanpa sebab. . Gangguan ini biasanya lebih sering terjadi pada malam. Gangguan inilah yang mengakibatkan bayi sering tidak bisa tidur malam hari dan siang hari jam tidurnya sangat panjang. Kolik diduga karena perut bayi mengalami nyeri dan sakit. Penelitian yang dilakukan penulis, bayi yang mempunyai gejala kolik saat usia 2 hingga 7 tahun beresiko terjadi keluhan sakit perut yang berulang. Hal lain didapatkan penderita kolik beresiko terjadi gangguan nyeri perut saat timbul demam.
  • Dalam buang air besarpun sering terjadi gangguan, biasanya sulit BAB atau malahan diare. Dikatakan sulit BAB, selain ”ngeden” biasanya bayi tidak bisa BAB setiap hari. Sebaliknya bisa juga terjadi BAB yang sering, pada bayi usia kurang 1 bulan frekuensinya lebih 4 kali perhari atau usia di atas 1 bulan lebih dari 2 kali perhari. Bentuk feses biasanya cair atau bahkan keras, berwarna hijau atau gelap dan berbau tajam. Pada anak yang lebih besar tampilan kotoran feses yang terjadi adalah bulat-bulat seperti kotoran kambing.
  • Keluhan lain gangguan saluran cerna yang sering terjadi adalah muntah. Keluhan ini paling berat terjadi saat usia di bawah 3 bulan. Pada bayi tampak sering ”gumoh” atau susu yang diminum meleleh ke luar mulut. Dalam keadaan yang lebih berat timbul keluhan muntah seperti gerakan menyemprot air dari dalam mulut kadang keluar lewat hidung. Secara bertahap seiring dengan kematangan saluran cerna maka gangguan ini juga secara bertahap akan berkurang. Pada anak yang lebih besar gangguan muntah hanya timbul saat melakukan aktifitas seperti berlari, menangis, naik kendaraan atau makan yang terlalu banyak gejala muntah tersebut akan timbul. Penderita inilah yang sering dianggap sebagai orang yang gampang ”mabuk kendaraan”. Gejala lain yang lebih ringan biasanya gejala mual, biasanya timbul saat minum susu atau makan.
  • Pada lidah sering ditemukan berwarna putih kotor, perubahan itu terjadi karena lidah merupakan bagian dari dari saluran cerna. Bila lidah berubah warna harus diwaspadai sebagai tanda gangguan pada pencernaan. Gangguan buang air besar dapat berupa sulit buang air besar (tidak setiap hari) atau malahan sering buang air besar sebanyak 3 kali atau lebih pada usia di atas 2 minggu .
  • Pada anak yang lebih besar dapat berupa nyeri perut berulang, sering muntah, buang air besar (>2 kali perhari), gangguan buang air besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak berwarna hitam atau hijau, berak ngeden), kembung, sulit berak, sering flatus (buang angin), sariawan, mulut berbau dan lidah sering kotor berbentuk pulau atau sariawan (geographic tongue).

GEJALA YANG MENYERTAI

  • Gangguan pada saluran cerna biasanya sering disertai oleh gangguan kulit (dermatitis atopi) dan gangguan pada hidung. Tanda dan gejala alergi pada kulit biasanya sudah dapat di deteksi sejak lahir. Bayi yang baru lahir apabila sejak dalam kandungan sudah terpapar oleh pencetus alergi tampak terdapat bintil dan bercak kemerahan dan kusam pada kulit dahi dan wajah, kadang disertai timbulnya beberapa bintil kecil warna putih di hidung. Pada bayi sering timbul dermatitis atopi di pipi, daerah popok (dermatitis diapers) dan telinga, kadang dijumpai dermatitis seboroikum atau timbul kerak di kulit kepala. Sering juga timbul bintik kemerahan di sekitar mulut. Kadang timbul furunkel (bisul) di kepala dan badan. Mata dan telinga sering gatal dan digosok-gosok. Karena sering timbul gangguan kulit di sekitar leher dan kepala, seringkali disertai pembesaran kelenjar kepala bagian belakang dekat telinga.
  • Pada anak yang lebih besar sering urticaria (gatal), miliaria (biang keringat), bengkak di bibir, vaskulitis atau pembuluh darah yang pecah) dengan gambaran lebam biru kehitaman seperti bekas terbentur, bercak ke hitam seperti bekas digigit nyamuk.
  • Perbedaan lokasi alergi kulit sesuai dengan usia tertentu. Pada bayi sering lokasi alergi sekitar wajah dan daerah popok, pada usia anak lokasi tersebut biasanya berpindah pada darerah lengan dan tungkai. Sedangkan pada anak yang lebih besar atau usia dewasa lokasi alergi kulit biasanya pada pelipatan dalam antara lengan atas dan bawah atau pelipatan dalam antara tungkai atas dan bawah
  • Pada anak di bawah 2 tahun, tanda yang paling sensitif untuk mengetahui bahwa gangguan saluran cerna itu terjadi adalah adanya gangguan tidur malam. Artinya bila gangguan tidur malam itu sering terjadi disertai gangguan saluran cerna maka harus diwaspadai adanya makanan alergi yang masih terkonsumsi.
    Mulut adalah termasuk salah satu bagian dari sistim saluran cerna. Bila saluran cerna terganggu karena alergi makanan biasanya tampak juga gangguan pada organ tubuh di daerah mulut di antaranya lidah, gigi dan bagian di rongga mulut lainnya.
  • Pada bayi lidah sering tampak kotor berwarna putih (like moniliasis symptoms) , gejala ini mirip gangguan jamur pada lidah atau moniliasis sejenis jamur pada mulut. Bedanya pada alergi warna putih hanya tipis dan tidak terlalu tebal, namun pada moniliasis tampak lebih tebal. Bila gangguan tersebut karena jamur biasanya dengan obat tetes mulut jamur akan cepat membaik, namun bila karena alergi biasanya diberi obat jamur tetap tidak akan membaik dan tetap sering timbul. Bila karena alergi sebaiknya tidak perlu diberi obat jamur, namun cukup dibersihkan dengan kasa basah.
  • Pada anak yang lebih besar gangguan alergi bisa menimbulkan sariawan atau luka (aphtous ulcer) pada lidah dan mulut yang sering berulang. Biasanya juga disertai lidah kotor mirip gambaran pulau-pulau atau geographic tounge).
  • Gangguan lain adalah timbulnya nyeri gigi atau gusi yang bukan di sebabkan karena infeksi atau gigi berlubang. Gangguan ini biasanya sering dianggap sebagai impacted tooth (gigi yang tumbuhnya miring).

DIAGNOSIS

  • Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.

PENANGANAN

  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengan gangguan saluran cerna adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat-obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Larsen GL: Asthma in children. N Engl J Med 1992 Jun 4; 326(23): 1540-5.
2. Castro-Rodriguez JA, Holberg CJ, Wright AL: A clinical index to define risk of asthma in young children with recurrent wheezing. Am J Respir Crit Care Med 2000 Oct; 162(4 Pt 1): 1403-6.
3. Colver AF, Nevantaus H, Macdougall CF, Cant AJ. Severe food-allergic reactions in children across the UK and Ireland, 1998-2000. Acta Paediatr., 2005 Jun;94(6):689-95
4. Ellul P, Vassallo M, Montefort S. Association of asthma and allergic rhinitis with celiac disease. Indian J Gastroenterol [serial online] 2005;24:270-271.
5. W. F. Baum1, U. Schneyer2, A. M. Lantzsch2, E. Klöditz1. Delay of growth and development in children with bronchial asthma, atopic dermatitis and allergic rhinitis.Exp Clin Endocrinol Diabetes 2002; 110: 53-59.
6. Michael Evans, Mari Palta, Mona Sadek, Marie R. Weinstein, Mary Ellen Peters. Associations between Family History of Asthma, Bronchopulmonary Dysplasia, and Childhood Asthma in Very Low Birth Weight Children. American Journal of Epidemiology Vol. 148, No. 5: 460-466.
7. Judarwanto W. Overdiagnosis tuberkulosis of nonspesificic respiratory distress in children. Presented in World Lung Congress, Paris Frances 2006.
8. Croen et al., Allergies or asthma during pregnancy may increase the risk of giving birth to a child who develops autism. Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, February, 2005; Vol. 159: pp. 151-157
9. Yamada T, Murayama T, Taguchi H.. A case of interstitial cystitis that developed alternately with bronchial asthma. Hinyokika Kiyo. 1987 Jan;33(1):85-9..
10. Biederman J, Milberger S, Faraone SV, Guite J, Warburton R.Associations between childhood asthma and ADHD: issues of psychiatric comorbidity and familiality. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 1994 Jul-Aug;33(6):842-8.
11. Kitaw Demissie, Stephen W. Marcella, Mary B. Breckenridge, George G. Rhoads. Maternal Asthma and Transient Tachypnea of the Newborn. Pediatrics 102,1, 1998, 84-90.
12. Peter Stutchfield, Rhiannon Whitaker. Ian Russell. Antenatal betamethasone and incidence of neonatal respiratory distress after elective caesarean section: pragmatic randomised trial. BMJ 2005;331:662
13. Harding SM, Richter JE. The role of gastroesophageal reflux in chronic cough and asthma. Chest, 1997; 111: 1389-1402
14. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 1994 Jul-Aug;33(6):842-8. Associations between childhood asthma and ADHD.
15. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 1996 Aug;35(8):1042-9. Psychiatric family history in adolescents with severe asthma
16. Silva PA, Sears MR, Jones DT, Holdaway MD, Hewitt CJ, Flannery EM, Williams S. Some family social background, developmental, and behavioural characteristics of nine year old children with asthma. N Z Med J 1987; 100:318-20..
17. Woller W, Jung K, Alberti L, Worth H, Weske G, Kraut D. Anxiety and illness behavior in bronchial asthma. Pneumologie,1990,44 Suppl 1, 114-5.
18. Woller W, Kruse J, Schmitz N, Richter B Determinants of high risk illness behavior in patients with bronchial asthma. Psychother Psychosom Med Psychol Mar 1998 ,48, 3-4, 101-7.
19. Ducolone A, Vandevenne A, Jouin H, Grob JC, Coumaros D, Meyer C, Burghard G, Methlin G, Hollender L. Gastroesophageal reflux in patients with asthma and chronic bronchitis. Am Rev Respir Dis 1987; 135: 327-332
20. Costa M, Brookes SJ. The enteric nervous system. Am J Gastroenterol 1994;89:S29-137.
21. William H., Md Philpott, Dwight K., Kalita, Dwight K. Kalita, Linus Pauling, Linus. Pauling, William H. Philpott. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.
22. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.
23. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
24. Jonathan M. Feldman et all. Psychiatric Disorders and Asthma Outcomes Among High-Risk Inner-City Patients. Psychosomatic Medicine, 2005, 67:989-996,.
25. Judarwanto W. Dietery Intervention as Therapy for behaviour problem in Children with Gastrointestinal Allergy. Presented at World Congress Pediatric Gastroenterology Hepatology Nutrition, Paris, Juli 2004.
26. Judarwanto W.. “Dietery Intervention as a therapy for Headache in Children with Gastrointestinal Allergy”; pada “8th Asian & Oceanian Congress of Child Neurology, Newdelhi India”, 7 – 10 Oktober, 2004.
27. Judarwanto W. “Dietery Intervention as a therapy for Sleep Difficulty in Children with Gastrointestinal Allergy”; pada “24TH International Congress of Pediatric Cancun Mexico”, 15-20 Agustus,2004.
28. Stores G, Ellis AJ, Wiggs L, Crawford C, Thomson A Sleep and psychological disturbance in nocturnal asthma. Arch Dis Child 1998; 78:413-9.
29. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3.
30. Siniatchkin M, et all. Migraine and asthma in childhood: evidence for specific asymmetric parent-child interactions in migraine and asthma families. Cephalalgia 2003; 23:790-802.
31. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.2003
32. Reichenberg K, Broberg AG. Emotional and behavioural problems in Swedish 7- to 9-year olds with asthma. Chron Respir Dis 2004; 1:183-9.

 

Penderita Gangguan Makan Beresiko Mengalami Kebutaan

Penderita Gangguan Makan Beresiko Mengalami Kebutaan

Gangguan makan banyak dialami oleh sekelompok orang tertentu. Pada umumnya meski mengganggu tapi penderita sering tidak mencemaskannya. Ternyata penderita gangguan makan beresiko terjadi gangguan kerusakan mata.

Para peneliti dari University of Athens, Yunani, menemukan pengidap kelainan pola makan, seperti anoreksia, berisiko tinggi mengalami kerusakan mata serius.

Penelitian yang dimuat dalam British Journal of Ophthalmology itu menyebutkan bahwa kerusakan mata biasanya terjadi pada makula atau bintik yang berada di dekat retina. Bintik itu berfungsi untuk menangkap cahaya dan membantu kita melihat detail benda dengan jelas.

Pada negara berkembang anorexia nervosa lebih sering terjadi pada wanita, sekitar 10 wanita mengalami gangguan ini dibanding 1 orang penderita laki-laki.

Peneliti menganalisa ketebalan makula dan aktifitas listrik ke dua mata 13 wanita dengan anorexia nervosa dan 20 wanita sehat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwea makula dan lapisan serabut saraf retinal. Secara bermakna lebih tipis pada mata penderita anoreksia wanita. Hal ini juga disertai kurangnya dopamain sebagai
neurotransmitter atau berperanan dalam aktifitas listrik di mata penderita anoreksi.

Kendati demikian, perlu diteliti lebih jauh apakah kerusakan mata ini bersifat permanen atau tidak. “Penelitian lebih jauh diperlukan untuk mengetahui apakah kerusakan itu dapat mengakibatkan butaan permanenatau bisa disembuhkan asal si pengidap anoreksia mau memperbaiki pola makannya.

GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA, PENYEBAB UTAMA SULIT MAKAN

GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA, PENYEBAB UTAMA SULIT MAKAN

dr Widodo Judarwanto pediatrician

“Seorang ibu, jadi bingung ketika seorang dokter anak mengatakan penyebab sulit makan anaknya karena gangguan fungsi saluran cerna. Tetapi, dokter anak lainnya mengatakan bahwa saluran cernanya baik-baik saja. Dan, si ibu juga merasa bahwa saat ini anak tidak pernah masalah dengan saluran cernanya, buktinya buang air besarnya baik-baik saja. Tetapi ternyata setelah dilakukan intervensi dalam memperbaiki saluran cernanya, dan beberapa paremeter bang air besar yang selama ini dianggap normal ternyata membaik dan diertai dengan membaiknya nafsu makan anak.

latar belakang

  • Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi kesulitan makan pada anak, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali timbul bersamaan.
  • Peyebab sulit makan secara umum sangat luas dan bervariasi. Bila dikelom,pokkan dalam penggolongan utama penyebab paling sering adalah hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai ditinggalkan atau sangat jarang.
  • Penyebab sulit sangat banyak dan bervariasi. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak.
  • Penelitian yang telah dilakukan d Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan makan Anak) penyebab yang paling dominan adalah gangguan fungsi saluran cerna pada anak. Repotnya, gangguan fungsi saluran cerna tersebut seringkali berlangsung lama dan akan membaik seiring dengan membaiknya ketidak matangan saluran cerna pada anak atau sekitar usia 5-7 tahun. Meskipun pada beberapa kasus berkepanjangan hingga sampai usia dewasa. Sehingga seringkali gangguan sulit makan akan berlangsung jangka panjang hilang timbul, tetapi pada usia tertentu akan membaik.
  • Pada beberapa kelompok kasus, terutama gangguan saluran cerna yang disebabkan karena intoleransi makanan dan seliak kadang sangat ringan dan sering disebut asimtomatik. Tetapi sebenarnya bila dicermati lagi ternyata beberapa manifestasi dan tampilan klinis dari karakteristik buang air besar seorang anak dapat dijadikan parameter untuk mengamati adanya gangguan fungsi saluran cerna.

PENYEBAB SULIT MAKAN

  • PALING SERING :  GANGGUAN FUNGSI PENCERNAAN(GASTROINTESTINAL FOOD HYPERSENSITIVITY atau karena hipersensitifitas makanan : alergi makanan, Celiac, intoleransi dll)
  • SANGAT JARANG : Kelainan kronis  (TBC, Infeksi saluran kencing, keganasan, kelainan jantung bawaan, kelainan endokrin dan metabolik, gangguan neurologis (persarafan)  dan Gangguan Psikologis

GANGGUAN SALURAN CERNA DAN SULIT MAKAN

  • Gangguan pencernaan tersebut mulai dari yang ringan hingga yang tidak ringan. Gangguan sulit makan seringkali diawali dengan gangguan saluran cerna.
  • Gangguan fungsi saluran cerna tersebut dapat berkaitan dengan gangguan alergi makanan, penyakit celiac dan gangguan intoleransi makanan lainnya. Seringkali dipicu oleh adanya konsumsi makanan tertentu, hal ini yang menunjukkan kenapa sulit makan dan berat badan sulit naik seringkali bermula setelah usia 6 bulan. Saat mulai makanan tambahan baru dikenalkan, bila jenis makanan tersebut tidak cocok maka gangguan tersebut mulai hilang timbul terjadi.
  • Saat terjadi infeksi pada tubuh baik berupa demam, batuk, pilek maka gangguan fungsi saluran cerna tersebut timbul dan sering diikuti kambuhnya lagi gangguan sulit makan.

KARAKTERISTIK GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA  PADA ANAK DAN BAYI

  • Biasanya dalam pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi perut (USG abdomen), barium followthrough dan peeriksaan lainnnya  tidak ditemukan kelainan
  • Pada pemeriksaan feses rutin didapatkan jamur, hypha dan bakteri non patogen gram negatif lainnya. Tetapi, pada kultur feses tidak ditemukan kelainan, kecuali didapatkan bakteri nonpatogen.
  • Tanda dan gejalanya akan semakin berat saat terjadi infeksi seperti (batuk, pilek dan demam)

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA  PADA ANAK DAN BAYI YANG HARUS DIWASPADAI SEBAGI PENYEBAB SULIT MAKAN

PADA USIA BAYI

  1. Sering muntah/kembung, sering “cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, REWEL / GELISAH/COLIC terutama malam hari),
  2. BAB sering atau BAB tidak tiap hari sering sulit atau “ngeden”. 
  3. Warna feses Hijau atau Hitam. Bibir kering, warna hitam atau lidah putih dan sering ngiler berlebihan (drooling).
  4. Perut rata atau cekung.
  5. Sejak lahir berat badan tidak pernah optimal atau berat badan kurang setelah umur 4-6 bulan.

PADA ANAK LEBIH BESAR :

  1.  Sering buang air besar (> 3 kali perhari) atau
  2. susah buang air besar ( ngeden, tidak BAB setiap hari, feses keras hitam atau hijau tua,kecil hitam spt ”tahi” kambing, BERBAU, berak berdarah
  3. Lidah sering kotor (berpulau-pulau), timbul putih, SARIAWAN, BIBIR kering, tebal dan mudah berdarah, air liur berlebihan atau MULUT BERBAU.
  4. Sering MUAL, MUNTAH, sering NYERI PERUT ringan dan hilang timbul, 

 

PERBEDAAN GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA DAN INFEKSI SALURAN CERNA

PADA INFEKSI SALURAN CERNA

  •  BIasanya disertai demam tidak tinggi atau tidak demam, BAB lebih dari 5-7 kali perhari, baunya sangat menyengat seperti telur busuk, diawali dengan muntah yang sering. akan membaik paling lama  dalam 6-7 hari. Pemeriksaan laboratorium : Lekosit feses normal (0-5 plp) dan  kultur feses negatif
  • INFEKSI BAKTERI : demam sangat tinggi, disertai lendir, darah banyak, lekosit feses : lebih dari 5 plp, kultur feses didapatkan bakteri patogen.

GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA

  • frekuensi diare lebih sering 3-5 kali  perhari, baunya keras tetapi tidak terlalu  menyengat, feses hitam, hijau, kadang mengapung, bulat seperti kotoran kambing
  • Bisa terjadi sebentar atau kadang terjadi lebih dari 7-14 hari.
  • Bisa dipicu oleh adanya infeksi di luar pencernaan (seperti demam, batuk,pilek, Infeksi aluran kencing dll) dalam keadaan ini kadang disertai timbul darah meskipun tidak seberat seperti infeksi bakteri.
  • Pemeriksaan laboratorium : feses normal, lekosit feses normal (0-5 plp) dan  kultur feses negatif,

KONTROVERSI TENTANG GANGGAN FUNGSI SALURAN CERNA

  • Kontroversi timbul di antara dokter karena gejala yang timbul kadang sangat ringan. Beberapa dokter mengatakan bahwa saluran cernanya baik saja, tetapi faktanya mereka memberi probiotik pada saat itu. Dan, si ibu juga merasa bahwa saat ini anak tidak pernah masalah dengan saluran cernanya, buktinya buang air besarnya baik-baik saja.
  • Ternyata setelah dilakukan intervensi dalam memperbaiki saluran cernanya, dan beberapa paremeter bang air besar yang selama ini dianggap normal ternyata membaik dan diertai dengan membaiknya nafsu makan anak.
  • Penelitian yang telah dilakukan pada 235 anak dengan gangguan sulit makan diPicky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan makan Anak) penyebab yang paling dominan adalah gangguan fungsi saluran cerna pada anak yang disebabkan karena alergi makanan, hdan hipersensitifitas makanan lainnya

KONTROVERSI DAN MITOS  LAINNYA

  • Buang air besar air warna hijau dianggap karena warna makanannya hijau atau karena makan sayur. Faktanya : manusia dewasa setiap hari makan sayur tetapi beraknya tidak pernah hijau. Byi di bawah usia 6 bulan hanya minum susu sormula tetapi BABnya kadang hijau. Diduga saat terjadi ganggan fngsi saluran cerna fungsi empedu bekerja lebih keras sehingga terlibat dalam proses metabolisme di saluran cerna saat terganggu.
  • BAB 3 kali atau lebih dianggap karena makan terlalu banyak atau buang besar nyisa karena belum habis sebelumnya
  • BAB keras teori yang banyak dianut saat ini baik oleh orang awam ataupun klinisi adalah karena kurang serat, kurang buah atau kuran air putih. FAKTANYA : banyak penderita sulit buang air besar setiap hari makan buah, makan sayur dan minum banyak air putih tetpi keluhan masih sering timbul. Pada beberapa penelitian ditunjukkan saat didakan penghindaran susu atau makanan tertentu ternyata gangguan sulit buang air besar tersebut membaik.

END POINT :

  • Penyebab gangguan sulit makan yang utama adalah gangguan fungsi saluran cerna yang disebabkan karena alergi makanan,seliak, dan hipersensitifitas makanan lainnya.
  • Tampilan klinis gangguan saluran fungsi saluran cerna kadang sangat ringan sehingga sering dianggap normal.
  • Pemantauan gangguan fungsi saluran cerna sangat penting karena bila tanda dan gejala itu timbul sering kali disertai gangguan sulit makan
  • Secara umum yang paling sering terjadi gangguan saluran cerna atau sulit makan bisa terjadi bila terdapat reaksi simpang makanan atau terjadi infeksi baik di saluran cerna ataupun infeksi di luar saluran cerna

wp-1521479869979..jpg

PEMBERIAN OBAT DAN VITAMIN NAFSU MAKAN

wp-1521496350203..jpgPEMBERIAN OBAT DAN VITAMIN NAFSU MAKAN

Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh orang tua, dokter ataupun klinisi lainnya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak. Tindakan paling sering dilakukan adalah pemberian vitamin, obat perangsang nafsu makan bahkan sering dilakukan pemberian obat tradisional.

PEMBERIAN VITAMIN

  •  Para orang tua bahkan beberapa dokter masih mempunyai kebiasaan bahwa untuk mengatasi kesulitan makan pada anak adalah memberikan vitamin penambah nafsu makan tanpa memperhatikan penyebab kesulitan makan itu sendiri. Cara tersebut sebenarnya tidak menyelesaikan masalah, karena bila penyebabnya tidak ditangani dengan benar maka bila vitamin tersebut habis maka anak kembali akan tetap mengalami sulit makan. Bahkan banyak kasus didapatkan dengan berganti-ganti beberapa vitamin kemampuan makan anak tidak kunjung membaik.
  •  Pemberian vitamin memang berguna dan dibutuhkan bila memang asupan beberapa vitamin dan mineral tidak mencukupi terutama pada anak dengan berat badan yang kurang. Hal ini mungkin cukup bermanfaat sehingga mencegah anak mengalami kekurangan vitamin dan mineral tertentu yang dapat menyebabkan gejala tertentu.
    Pemberian vitamin pada anak yang sehat dengan berat badan yang bagus dan asupan makanan yang baik tidak terlalu penting, karena kebutuhan terhadp vitamin dan mineralnya sudah tercukupi dari susu dan makanannya.

BAHAYA PENGGUNAAN VITAMIN

  •  Orang tua harus memahami juga bahaya kelebihan vitamin atau mineral yang sering disebut megavitamin dan megamineral. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi organ tubuh kita terutama pencernaan, hati dan ginjal. Bahkan dilaporkan beberapa kasus meninggal dunia karena Megavitamin dan megamineral, terutama pada anak. Hal ini terjadi karena kelebihan vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin A, vitamin E atau Magnesium dan sebagainya
  •  Pemberian vitamin tertentu seperti vitamin C dosis tinggi dan vitamin B pada orang tertentu seperti penderita gastritis (sakit lambung/mag), atau penderita alergi dapat menimbulkan efek samping baru atau memperberat penyakit yang ada sebelumnya. Pernah dilaporkan kasus pada orang tertentu dapat terjadi alergi vitamin B.
  •  Sebaiknya orang tua memberikan vitamin sesuai dosis yang tertera, tidak menggabungkan sekaligus beberapa vitamin. Lebih baik bila berkonsultasi dengan dokter dalam konsumsi vitamin tersebut, terutama pada anak atau bayi. Lebih ideal bila asupan vitamin tersebut berasal langsung dari bahan makanan sayur atau buah.

PENGGUNAAN OBAT PERANGSANG NAFSU MAKAN

  •  Pemberian obat-obatan perangsang nafsu makan pada anak tidak jarang diberikan oleh dokter atau klinisi lain yang diberikan pada anak dengan kesulitan makan. Terdapat beberapa macam obat penambah nafsu makan yang justru dapat menimbulkan masalah baru, karena malahan dapat mengganggu tubuh dan kesehatan anak. Beberapa obat penambah nafsu makan dapat mengganggu ginjal, hati, pertumbuhan tulang atau dapat menurunkan daya tahan tubuh.
  •  Peneliti lainnya menemukan pemberian obat-obatan nafsu makanan pada anak ternyata juga bisa mengubah perilaku anak menjadi hiperaktif, agresif, sangat sensitif dan gampang emosi.
  •  Sehingga mengkonsumsi obat-obat tersebut dalam jangka waktu lama sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter.

BERGANTI-GANTI VITAMIN ATAU PEMAKAIAN VITAMIN JANGKA PANJANG ADALAH BUKTI KEGAGALAN DALAM MENCARI PENYEBAB SULIT MAKAN PADA ANAK. KARENA BEGITU VITAMIN DIHENTIKAN MAKA ANAK SULIT MAKAN LAGI, BAHKAN KADANG DIBERI VITAMIN APAPUN ATAU BERGANTI-GANTI VITAMIJN TETAP SAJA MAKAN SULIT.

PENANGANAN TERBAIK ADALAH HARUS DICARI PENYEBABNYA DAN TANGANI SEGERA DENGAN BIJAK. BILA TERDAPAT GANGGUAN SALURAN CERNA AEBAGAI PENYEBAB TERSERING HARUS DICARI DAN DIIDENTIFIKASI MAKANAN PENYEBAB YANG MENGGANGGU SALURAN CERNA.

wp-1521479869979..jpg

 

TERAPI HERBAL SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK

wp-1521496350203..jpgTERAPI HERBAL SEBAGAI ALTERNATIF PENANGANAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK

Dr Widodo Judarwanto pediayrician

Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Sering juga terjadi penderita kesulitan makan mengalami ”overdiagnosis Tuberkulosis” atau diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.kepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Sering juga terjadi penderita kesulitan makan mengalami ”overdiagnosis Tuberkulosis” atau diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.

Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Dalam keadaan frustasi yang berkepanjangan akhirnya sebagioan orangtua beralih pada pengobatan alternatif diantaranya pemberian obat herbal atau tanaman obat. Pemilihan terapi herbal ini dapat menjadi pilihan karena resiko terjadinya efek samping lebih kecil dan biayanya lebih ekonomis.

Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak meliputi kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair. Memuntahkan, menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut atau makan berlama-lama dan memainkan makanan. Lebih berat didapatkan sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat. Keluhan yang sering menyertai adalah tidak menyukai banyak variasi makanan25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak meliputi kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair. Memuntahkan, menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut atau makan berlama-lama dan memainkan makanan. Lebih berat didapatkan sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat. Keluhan yang sering menyertai adalah tidak menyukai banyak variasi makanan

PENYEBAB KESULITAN MAKAN

Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fiskesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.

Secara umum penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Penyebab paling sering adalah hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai ditinggalkan atau sangat jarang.

Gangguan nafsu makan tampaknya merupakan penyebab utama masalah kesulitan makan pada anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai dari yang ringan (berkurang nafsu makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan). Tampilan gangguan nafsu makan yang ringan berupa minum susu botol sering sisa, waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit), makan hanya sedikit atau mengeluarkan, menyembur-nyemburkan makanan atau menahan makanan di mulut terlalu lama. Sedangkan gangguan yang lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya, menepis suapan orang tua atau tidak mau makan dan minum sama sekali. Faktor inilah yang sering dianggap anak bosan terhadap makanan tertentu, padahal makanan barupun akan mau sesaat setelah itu besoknya tidak mau lagi/

Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan menelan. Ketrampilan dan kemampuan sistem pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperanan alam proses makan tersebut. Pergerakan morik tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di sekitar mulut. Gangguan motorik mulut ini juga sering disertai oleh gangguan tergigit sendiri bagian bibir atau lidah secara tidak sengaja. Gangguan proses makan ini sering terjadi pada penderita gangguan saluran pencernaan seperti sering muntah, nyeri perut dan mual. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan teori ”Gut Brain Axis”. Gangguan saluran cerna ternyata dapat mengganggu susunan saraf pusat termasuk gangguan motorik kasar mulut.

.

KOMPLIKASI KESULITAN MAKAN

Peristiwa kesulitan makan yang terjadi pada penderita Autis biasanya berlangsung lama. Komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah gangguan asupan gizi seperti kekurangan kalori, protein, vitamin, mineral dan anemia (kurang darah). Defisiensi zat gizi ini ternyata juga akan memperberat masalah gangguan metabolisme dan gangguan fungsi tubuh lainnya yang terjadi pada penderita Autis. Keadaan ini tentunya akan menghambat beberapa upaya penanganan dan terapi yang sudah dilakukan selama ini.Keadaan ini tentunya akan menghambat beberapa upaya penanganan dan terapi yang sudah dilakukan selama ini.

Kekurangan kalori dan protein yang terjadi tentunya akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada penderita Autis. Tampilan klinis yang dapat dilihat adalah kegagalan dalam peningkatan berat badan atau tinggi badan. Dalam keadaan normal anak usia di atas 2 tahun seharusnya terjadi peningkatan berat badan 2 kilogram dalam setahun. Pada penderita kesulitan makan sering terjadi kenaikkan berat badan terjadi agak susah bahkan terjadi kecenderungan tetap dalam keadaan yang cukup lamasering terjadi kenaikkan berat badan terjadi agak susah bahkan terjadi kecenderungan tetap dalam keadaan yang cukup lama

PENANGANAN TERKINI KESULITAN MAKAN PADA ANAK

Pendekatan dan penanganan terbaik pada kasus kesulitan makan pada anak bukanlah dengan pemberian vitamin nafsu makan, tetapi harus dilakukan pendekatan yang cermat, teliti dan terpadu. Pemberian vitamin nafsu makan hanya akan mengaburkan penyebab Kesulitan makan tersebut. Sering terjadi orang tua dalam menghadapi masalah kesulitan makan pada anaknya telah berganti-ganti dokter dan telah mencoba berbagai vitamin tetapi tidak kunjung membaik.

Beberapa langkah perlu dilakukan pada penatalaksanaan kesulitan makan pada anak. Pertama pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan. Langkah berikutnya cari penyebab kesulitan makanan pada anak dan identifikasi adakah komplikasi yang terjadi. Tangani penyebab gangguan tersebut. Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau coeliac), hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.

Bila terdapat kesulitan makan yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu sebaiknya harus segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter anak yang biasa merawat. Dengan penanganan awal namun kesulitan makan tidak membaik hingga lebih 1 bulan disertai dengan gangguan kenaikkan berat badan dan belum bisa dipastikan penyebabnnya maka sebaiknya dilakukan penanganan beberapa disiplin ilmu. Koordinator penanganannya adalah dokter anak atau dokter tumbuh kembang anak. Dokter anak yang merawat harus mengkonsultasikan ke dokter spesialis anak dengan minat subspesialis tertentu untuk menyingkirkan kelainan organik atau medis sebagai penyebab kesulitan makan tersebut. Bila dicurigai adanya latar belakang psikologis maka kelainan makan tersebut harus dikonsultasikan pada psikiater atau pskolog anak.

Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menangani penyebab tersebut secara langsung. Mengingat penyebabnya demikian luas dan kompleks bila perlu hal tersebut harus ditangani oleh beberapa disiplin ilmu tertentu yang berkaitan dengan kelainannya.

Bila dalam waktu satu bulan kesulitan makan tidak kunjung membaik disertai penurunan atau tidak meningkatnya berat badan dan belum ditemukan penyebabnya kita harus waspada. Sebelum menjadi lebih berat dan timbal komplikasi yang lebih berat maka bila perlu dalam penanganan kesulitan makan tersebut harus melibatkan berbagai disilpin ilmu kedokteran. Dokter spesialis dengan peminatan tertentu yang sering berkaitan dengan hal ini adalah : Dokter Spesialis Anak minat gizi anak, tumbuh kembang anak, alergi anak, neurologi anak atau psikiater anak, psikolog anak, Rehabilitasi Medis, dan beberapa subspesialis lainnya. Bila masalah gangguan pencernaan cukup menonjol maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak gastroenterologi, bila masalah alergi yang dominan maka konsultasi ke dokter alergi anak demikian seterusnya.

Penyebab kesulitan makanan demikian kompleks dan luas, kadang penyebabnya lebih dari satu bahkan satu sama lain saling mempengaruhi dan memberatkan.Sehingga sering terjadi kebingungan pada orang tua, karena beberapa diagnosis dan penanganannya sangat berbeda atau bertentangan antara dokter satu dengan lainnya. Perbedaan ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara dokter yang merawat atau mungkin juga sering terjadi penanganan penyakit anak yang ditangani secara sepotong-sepotong. Paling ideal dalam menangani kasus seperti ini adalah dengan cara holistik, dimana semua yang dicurigai sebagai penyebab dicari dan ditangani secara tuntas secara bersamaan. Dokter yang harus merawat melakukan komunikasi satu sama lainnya, baik melalui rekam medis (catatan penderita) atau hubungan langsung.

Gangguan pencernaan kronis pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kesulitan makan. Gangguan saluran cerna kronis yang terjadi adalah imaturitas saluran cerna, alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit coeliac dan gangguan reaksi simpang makanan lainnya. Sebagian besar kelainan reaksi simpang makanan tersebut terjadi karena adanya jenis makanan yang mengganggu saluran cerna anak sehingga menimbulkan kesulitan makan. Berkaitan dengan hal ini tampaknya pendekatan diet merupakan penatalaksanaan terkini yang cukup inovatif.

Penelitian yang dilakukan di Picky Eater Clinic Jakarta, dengan melakukan pendekatan diet pada 218 anak dengan kesulitan makan. Pendeketan diet adalah dengan cara penghindaran makanan yang berpotensi mengakibatkan reaksi simpang makanan. Setelah dilakukan penghindaran makanan selama 3 minggu, tampak perbaikan kesulitan makan sejumlah 78% pada minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga. Gangguan saluran cerna juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penderita antara minggu pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa diperbaiki sekitar 30%. Pendekatan diet mungkin dapat digunakan sebagai alat untuk mendiagnosis gangguan saluran cerna yang ada, tanpa harus menggunakan pemeriksaan laboratorium yang mahal dan invasif.

Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan sikat gigi listrik kadang membantu msnstimulasi sensoris otot di daerah mulut. Tindakan yang tampaknya dapat membantu adalah melatih koordinasi gerakan otot mulut adalah dengan membiasakan minum dengan memakai sedotan, latihan senam gerakan otot mulut, latihan meniup balon atau harmonika.

PENGOBATAN HERBAL

Pengobatan tradisional dengan menggunakan zat herbal atau tumbuh-tumbuhan telah diyakini oleh beberapa pakar obat tradisional. Disamping aman bagi tubuh obat tradisional juga relatif lebih murah. Meskipun relatif aman pemberian ramuan tradisional harus hati-hati terutama anak di bawah 1 tahun. Sebaiknya pemberian tersebut harus dikonsultasikan kepada dokter anak yang merawat. Sampai sejauh ini penelitian ilmiah tentang khasiat obat tradisional untuk pengobatan kesulitan makan pada anak masih belum banyak dilakukan. Tetapi terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan kandungan dan khasiat dari zat aktif obat tradisional tersebut yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan fungsim organ tubuh lainnya.

Berbagai macam tanaman obat yang banyak tumbuh di Indonesia, yang telah banyak digunakan oleh leluhur kita sebagai obat untuk mengatasi gangguan makan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

JENIS TANAMAN YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT TRADISIONAL OBAT TRADISIONAL UNTUK MENGATASI KESULITAN MAKAN

TANAMAN OBAT BAGIAN TANAMANTANAMAN OBAT BAGIAN TANAMAN

1 Zingiber zerumbet BI (lempuyang gajah) umbi umbi

2 Nigella sativa L (Jintan hitam pahit) Nigella sativa L (Jintan hitam pahit) biji

3 Capsicum sp L (cabe) buah

4 Orthosiphon stamineus Benth. ( Kumis kucing) daunOrthosiphon stamineus Benth. ( Kumis kucing) daun

5 Zingiber aromatica Vahl. (lempuyang wangi) umbi

6 Alyxia reinwarditi (Pulasari) kulit kayuAlyxia reinwarditi (Pulasari) kulit kayu

7 Boesenbergia pandureata Roxb (temu kunci) umbi

8 Zingiber officinale Roxb. (jahe) umbiZingiber officinale Roxb. (jahe) umbi

9 Stachytarpheta`mutabilis L (remek- getih) daun

10 Phylantus niruri L (meniran) semuaPhylantus niruri L (meniran) semua

11 Punica granatum L (delima putih) buah

12 Piper retrofractum Vahl. (cabe jawa) buahPiper retrofractum Vahl. (cabe jawa) buah

13 Piper cubebae L (Kemukus) buah

14 Parkia roxburghii G Don (kedawung) bijiParkia roxburghii G Don (kedawung) biji

15 Foeniculum vulgare Mill (adas) buah

16 Eucalyptus globulus (kayu putih) Eucalyptus globulus (kayu putih) buah

17 Cyperus Rotundus L (rumput teki) umbi

18 Curcuma xanthoriza Roxb (temulawak) umbiCurcuma xanthoriza Roxb (temulawak) umbi

19 Curcuma domestica Val (kunyit) umbi

20 Curcuma aeroginosa Roxb (temu hitam) umbi

21 Oriadrum sativum l (ketumbar) buah

22 Cinnamomum sintok BI (sintok) Cinnamomum sintok BI (sintok) kulit kayu

23 Cinnamomum burmanni BI (kayu Manis) kulit kayukulit kayu

24 Centella asiatica Urban (pegagan, kaki kuda) semua

RESEP HERBAL

Beberapa bahan dari nabati yang sering digunakan sebagai obat tradisional untuk pengobatan kesulitan makanan pada anak adalah temulawak, jahe, kunyit, jeruk nipis, temu ireng, lempuyang, daun pegagan dan daun papaya.

1. LEMPUYANG DAN TEMU IRENG

Lempuyang dan temu ireng juga banyak dipakai oleh para pakar obat tradisional untuk mengatasi kesulitan makan pada anak. Kedua bahan nabati tersebut ternyata berkhasiat memperbaiki gangguan pencernaan pada anak.

Cara membuat :

Lempuyang biasanya didapat di pasar tradisional.

Ambil 1/2 (+/- 5 cm) lempuyang dan temu ireng, dikupas dan cuci. Kemudian parut dan peras. Karena agak pahit, sebaiknya diberikan ke anak dengan campuran madu. Diberikan cukup 1x seminggu. Kalau nafsu makannya sudah biasa, bisa 2 minggu sekali saja, bahkan sebulan sekali. Resep diatas untuk anak diatas 2 thn.

Kalau untuk usia dibawahnya, cukup pakai lempuyang aja, takarannya juga hanya 1 sendok teh aja setiap minum.

2. DAUN PEGAGAN

Daun pegagan juga banyak dipakai oleh para leluhur kita untuk mengobati anak dengan kesulitan makan. Tanaman pegagan adalah tanaman liar yang tumbuh diperkebunan, ladang, tepi jalan dan beberapa tempat lainnya. Nama daerah yang biasanya dikenal adalah pegaga (aceh) calingan rambat, rendeng (jawa), sedangkan nama asingnya Centella Asiatica. Kandungan daun pegagan adalah asiaticode, thankuniside, braminoside dan beberapa vitamin dan mineral lainnya.dan beberapa vitamin dan mineral lainnya.

Resep ramuan tersebut :

Daun pegagan 12 lembar

Madu murni Madu murni 2 sendok makan

Air 2 gelas

Cara membuat :

Daun pegagan setelah dicuci bersih dicampur dengan air 2 gelas dipanaskan dalam keadaan tertutup hingga mendidih selama 15 menit, kemudian disaring sarinya diambil airnya. Cairan tersebut ditambah madu murni diminum 3 kali ½ gelas sehari. Dapat diberikan pada anak sampai nafsu makan pada anak membaik.

3. RIMPANG TEMULAWAK

Resep ramuan tersebut :

Rimpang temulawak 1 1//2 jari

Gula jawa 30 gGula jawa 30 g

Asam jawa 10 g

Madu murni 1 sendok makan

Air Air 2 gelas

Cara membuat :

Rimpang temulawak sebesar kurang lebih 1 jari dicuci bersih serta ditambah gula jawa dan asam jawa dicampur dengan air 2 gelas dipanaskan dalam keadaan tertutup hingga mendidih selama 15 menit, kemudian disaring sarinya diambil airnya. Cairan tersebut ditambah madu diminum 3 kali ½ gelas sehari. Dapat diberikan pada anak sampai nafsu makan pada anak membaik.

4. DAUN PEPAYA

Obat tradisional lainnya yang diyakini cukup berkasiat untuk meningkatkan nafsu makan pada anak adalah pemberian daun pepaya. Sehelai daun pepaya segar dicuci lalu dilumatkan dengan sedikit garam dan diberi air matang sedikit demi sedikit kira-kira 1/4 gelas , peras airnya tambahkan 1 sendok makan made kemudian diminum sekali zaherí.

5. JAHE DAN KUNYIT

Beberapa pengalaman para ahli obat tradisional, mempercayai bahwa khasiat kunyit dan jahe sangat baik. Bila dicampur dengan madu dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat mencegah penyakit, juga dapat meningkatkan nafsu makan pada anak.

Jahe atau Zingiber officinale mengandung kurkumin dan beberapa zat berkhasiat lain yang terkandung di dalamnya yang dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh karena mengandung antioksidan yang tinggi

Tips untuk membuat ramuan Kunyit dan jahe untuk meningkatkan nafsu makan pada anak : Kunyit dan Jahe masing-masing 5 gram atau segenggam kecil ditumbuk dan diperas untuk dijadikan minuman dicampur dengan madu dan gula aren atau gula Jawa secukupnya. Untuk meningkatkan nafsu makandapat diminum setiap hari.jahe untuk meningkatkan nafsu makan pada anak : Kunyit dan Jahe masing-masing 5 gram atau segenggam kecil ditumbuk dan diperas untuk dijadikan minuman dicampur dengan madu dan gula aren atau gula Jawa secukupnya. Untuk meningkatkan nafsu makandapat diminum setiap hari.

6. DAUN PEPAYA

Obat tradisional lainnya yang diyakini cukup berkasiat untuk meningkatkan nafsu makan pada anak adalah pemberian daun pepaya. Sehelai daun pepaya segar dicuci lalu dilumatkan dengan sedikit garam dan diberi air matang sedikit demi sedikit kira-kira 1/4 gelas , peras airnya tambahkan 1 sendok makan made kemudian diminum sekali zaherí.

7. JERUK NIPIS

Untuk anak di atas usia 2 tahun yang mengalami kesulitan makan dapat digunakan pemberian jeruk nipis. Cara membuatnya : sesendok makan air jeruk nipis diberi gula secukupnya, diminum 2x sehari sesudah makan. Pemberian jeruk nipis pada anak dengan gangguan pencernaan sebaiknya harus hati-hati atau lebih aman untuk dihindari.

PENUTUP

Pemberian vitamin dan pemberian terapi herbal tertentu sering dilakukan oleh orang tua atau dokter sebagai terapi alternatif pada kasus kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian tersebut justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin atau terapi herbal tersebut. Padahal bila tidak waspada akan terdapat efek samping dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.

Tampaknya terapi herbal tidak berpotensi menimbulkan efek samping dan relatif lebih aman dibandingkan obat. Tetapi, pemberian terapi herbal pada anak-anak dalam jangka panjang masih belum dilakukan penelitian lebih jauh. Sebaiknya untuk pemberian jangka panjang harus dikonsultasikan dengan dokter anak. Beberapa anak ditemukan mendapatkan reaksi simpang makanan terhadap produk herbal tertentu seperti jeruk nipis dan gula jawa. Gangguan tersebut berupa batuk dan diare. gula jawa. Gangguan tersebut berupa batuk dan diare. Bila setelah diberikan terapi herbal mengalami efek samping sebaiknya terapi tersebut harus dihentikan segera.

Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Keadaan ini biasanya terjadi jangka panjang, pada beberapa kasus seperti alergi makanan keadaan akan membaik setelah usia setelah usia 5-7 tahun. Pada kasus penyakit coeliac atau intoleransi makanan terjadi dalam waktu yang lebih lama bahkan tidak sedikit yang terjadi hingga dewasa.

 

wp-1521479869979..jpg

Kisah Inspiratif Orangtua Dengan Anakku Sulit Makan, Inilah Penanganan Terbaiknya

Kisah Inspiratif Orangtua Dengan Anakku Sulit Makan, Inilah Penanganan Terbaiknya
Si Upik yang berusia 2 tahun belakangan ini sulit sekali makan. dan kurus sekali Sudah lama beratnya tidak beranjak dari 9 kilogram. Untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya harus dengan penuh perjuangan. Kejadian inilah yang membuat orang tua sangat cemas. Akhirnyajalan pintas yang dilakukan adalah dengan paksaan dan memarahi. Sudah beberapa dokter ahli didatangi, bahkan berbagai vitamin dan jamu tradisional diberikan tetapi keluhan tersebut tak kunjung membaik. Yang tragis si upik sempat divonis TBC dan harus minum obat selama 6 bulan, tetapi ternyata setelah dilakukan “second opinion” dengan dokter ahli paru anak ternyata bukan TBC. Fenomena tersebut seringkali dihadapi oleh anak dengan sulit makan atau sekarang lazim disebut picky eaters.

Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tuakepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik.

Kesulitan makan atau Picky Eaters bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anaktidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaandan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.

DETEKSI DINI DAN GEJALA

Anak dengan suulit makan dan berat badan sulit naik dapat dikenali sejak dini. Seringkali orangtua bahkan dokter baru menyadari setelah anak mengalami keluhan tersebut selama bertahun-tahun. Deteksi dini yang dapat dilakukan adalah mengamati tanda dan gejala pola makan dan perkembanganberat badan pada bayi Saat usia 0-6 bulan kemampuan minum hanya 60-75 cc sekali minum, 6 – 1 tahun hanya 90 cc sekali minum. Minum ASI hanya sebentar (10 menit) tapi sering, produksi ASI sering sisa. Usia 0-4 bulan kenaikkan Berat badan setiap bulan hanya naik < 800 gram. Kenaikan berat badan lebih jelek setelah usia 4-6 bulan. Seringkali dokter lupa atau mengabaikan menggambar grafik kenaikkan berat badan yang ada dalam buku kesehatan anak. Padahal hal ini adalah sangat penting sekali untuk mengenali gangguan kenaikkan berat badan pada anak sejak kecil.

·

GEJALA SULIT MAKAN :

  • Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak dan menepis suapan dari orangtua atau sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulu
  • Makanan hanya ”dikemut”, makan berlama-lamadan memainkan makanan dalam mulut
  • Gangguan mengunyah dan menelan : hanya mau makan makanan cair, lumat, harus diblender dan tidak suka makanan berserat (nasi, sayur, daging sapi). Kesulitan mengunyah tetapi langsung menelan makanan. Tidak menyukai variasi banyak makanan.Sering pilih-pilih makanan.

IDENTIFIKASI PENYEBAB

Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi kesulitan makan pada anak, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali timbul bersamaan. Penyebab paling sering adalah hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai ditinggalkan atau sangat jarang.

Penyebab sulit sangat banyak dan bervariasi. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Penelitian yang telah dilakukan d Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan makan Anak) penyebab yang paling dominan adalah gangguan fungsi saluran cerna pada anak. Repotnya, gangguan fungsi saluran cerna tersebut seringkali berlangsung lama dan akan membaik seiring dengan membaiknya ketidak matangan saluran cerna pada anak atau sekitar usia 5-7 tahun. Meskipun pada beberapa kasus berkepanjangan hingga sampai usia dewasa. Sehingga seringkali gangguan sulit makan akan berlangsung jangka panjang hilang timbul, tetapi pada usia tertentu akan membaik.

Gangguan pencernaan tersebut mulai dari yang ringan hingga yang tidak ringan. Gangguan sulit makan seringkali diawali dengan gangguan saluran cerna. Gangguan fungsi saluran cerna tersebut dapat berkaitan dengan gangguan alergi makanan, penyakit celiac dan gangguan intoleransi makanan lainnya. Seringkali dipicu oleh adanya konsumsi makanan tertentu, hal ini yang menunjukkan kenapa sulit makan dan berat badan sulit naik seringkali bermula setelah usia 6 bulan. Saat mulai makanan tambahan baru dikenalkan, bila jenis makanan tersebut tidak cocok maka gangguan tersebut mulai hilang timbul terjadi. Saat terjadi infeksi pada tubuh baik berupa demam, batuk, pilek maka gangguan fungsi saluran cerna tersebut timbul dan sering diikuti kambuhnya lagi gangguan sulit makan.

KENALI GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA YANG MERUPAKAN PENYEBAB TERSERING SULIT MAKAN DAN BERAT BADAN SULIT NAIK

PADA USIA BAYI

Sering muntah/kembung, sering “cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, REWEL / GELISAH/COLIC terutama malam hari), BAB sering atau BAB tidak tiap hari. BAB Hijau / Hitam

PADA ANAK LEBIH BESAR :

  • Sering buang air besar (> 3 kali perhari) atau susah buang air besar ( ngeden, tidak BAB setiap hari, feses keras hitam atau hijau tua,kecil hitam spt ”tahi” kambing, BERBAU, berak berdarah
  • Lidah sering kotor (berpulau-pulau), timbul putih, SARIAWAN, BIBIR kering, tebal dan mudah berdarah, air liur berlebihan atau MULUT BERBAU
  • Sering MUAL, MUNTAH, sering NYERI PERUT ringan dan hilang timbul
  • Sejak lahir berat badan tidak pernah optimal atau berat badan kurang setelah umur 4-6 bulan.

GEJALA LAIN YANG MENYERTAI :

  • KULIT SENSITIF, pada bayi sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. KULIT TIMBUL BERCAK PUTIH SEPERTI PANU. KULIT KERING DAN KASAR
  • GIGI mudah rusak, kuning, hitam, caries gigi
  • Seringkali disertai gangguan alergi lainnya seperti sering pilek, batuk, sesak (asma).

GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PADA ANAK DENGAN SULIT MAKAN

Tampak aneh, meskipun anak sulit makan tetapi dalam kegiatan sehari-hari anak tampak tidak bisa diam, bergerak terus tidak kenal lelah. Ternyata fenomena ini terjadi karena pada anak sulit makan sering disertai adanya peningkatan rangsangan ke susunan saraf pusat.Fenomena inilah yang menyingkirkan anggapan salah bahwa anak berat badan sulit naik karena tidak bisa diam. Karena banyak anak yang gemuk ternyata juga aktifitasnya sangat tinggi dan tidak bisa diam.Karena banyak anak yang gemuk ternyata juga aktifitasnya sangat tinggi dan tidak bisa diam.

Penelitian yang dilakukan di Picky Eaters Clinic jakarta tersebut menunjukkan, ternyata gangguan fungsi saluran cerna tidak hanya mengakibatkan sulit makan tetapi juga disertai beberapa gangguan perkembangan dan perilaku ringan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa ternyata gangguan saluran cerna tersebut dapat merangsang ke fungsi susunan saraf pusatyang dapat meningkatkan beberapa perilaku yang mengganggu pada anak.

·GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN

Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong atau diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang (head banging), membentur benturkan kepala.Waspadai anak mudah jatuh dari tempat tidur.Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}, sering memanjat. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.

·GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan thd sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game,baca komik, belajar & mengerjakan sesuatutidak bisa bertahan lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI BIASANYA ANAK TAMPAK CERDAS

·AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”).

·EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), NEGATIVISME TINGGI : keras kepala, suka membantah, orang tua bilang A anak bilang B.

·GANGGUAN SENSORIS, KOORDINASI DAN MOTORIK (KESEIMBANGAN):

Bolak-balik, duduk, merangkak terlambat atau tidak sesuai usia. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh ataumenabrak, Gangguan sensoris : sensitif terhadap raba (jalan jinjit, duduk leter ”W”,gampang geli), sensitif cahaya dan suara.

·GANGGUAN ORAL MOTOR :

GANGGUAN BICARA :TERLAMBAT BICARA, BICARA TIDAK JELAS, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENGUNYAH MENELAN : tidak bisamakan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.

·IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain

·GANGGUAN TIDUR MALAM :

Tidur larut malam, sulit untuk memulai tidur,Tidur gelisah bolak-balik ujung ke ujung,tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak saat tidur, sulit tidur, malam sering terbangun atau duduk,mimpi buruk, “beradu gigi” atau gigi gemeretak (bruxism)

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI

Gangguan sulit makan pada umumnya akan berlangsung jangka panjang dan hilang timbul. Meskipun tampaknya tidak berbahaya tetapi apabila tidak ditangani dengan baik banyak akibat yang bisa ditimbulkan.

  1. BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN KURANG (GAGAL TUMBUH atau FAILURE TO THRIVE)
  2. GANGGUAN ASUPAN GIZI: Kekurangan vitamin dan mineral : Calsium, Zinc, vitamin A, Anemia Zat Besi (kurang darah/HB rendah).
  3. Efek samping dari minum obat/ vitaminyang berlebihan dan berkepanjangan.
  4. OVERDIAGNOSIS & OVERTREATMENT(DIAGNOSIS & TERAPI BERLEBIHAN)SEBAGAI PENYAKIT TBC. MINUM OBATJANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU BENAR MENDERITA PENYAKIT TBC
  5. DAYA TAHAN TUBUH MENURUN SERING MENGALAMI INFEKSI BERULANG (panas, batuk, pilek) terutama pada anak dengan keluhan sering muntah dan asma. Meskipun beberapa kasus lainnya malahan

PENANGANANTERBAIK ATASI PENYEBAB

Pendekatan dan penanganan pada kasus kesulitan makan pada anak bukanlah dengan pemberian vitamin nafsu makan, tetapi harus dilakukan pendekatan yang cermat, teliti dan terpadu. Pemberian vitamin nafsu makan hanya akan mengaburkan penyebab Kesulitan makan tersebut. Sering terjadi orang tua dalam menghadapi masalah kesulitan makan pada anaknya telah berganti-ganti dokter dan telah mencoba berbagai vitamin tetapi tidak kunjung membaik. Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menangani penyebab tersebut secara langsung. Mengingat penyebabnya demikian luas dan kompleks bila perlu hal tersebut harus ditangani oleh beberapa disiplin ilmu tertentu yang berkaitan dengan kelainannya.

Dok, saya minta vitamin anak saya sulit makan. Inilah kesalahan yang sering dilakukan saat konsultasi ke dokter. Yang benar adalah : dok, apa penyebab anak saya sulit makan.Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi keluhan tetap tidak membaik.

Penanganan sulit makan yang ideal harus dilakukan adalah mengidentifikasi penyebabnya. Bila terdapat gangguan fungsi saluran cerna dilakukan pendekatan diet eliminasi provokasi makanan yang berpotensi mengganggu. Pendekatan diet tersebut selain memperbaiki fungsi saluran cerna juga berfungsi untuk mencari jenis makanan yang mengganggu saluran cerna sebagai penyebab utama sulit makan. Program penanganan sulit makan tersebut kadang harus dilakukan untuk jangka panjang, hingga gangguan fungsi saluran cerna tersebut membaik pada usia tertentu.

Meskipun bukan yang utama dapat juga dilakukan penanganan dalam segi neuromotorik melalui terapi okupasi kadang diperlukan. Terapi ini dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan sikat gigi listrik dapat membantu menstimulasi sensoris otot di daerah mulut. Tindakan yang tampaknya dapat membantu adalah melatih koordinasi gerakan otot mulut adalah dengan membiasakan minum dengan memakai sedotan, latihan senam gerakan otot mulut, latihan meniupbalon atau harmonika.

Terdapat banyak strategi dan tips cara pemberian makan pada anak sulit makan, yang direkomendasikan oleh para ahli medis dan psikologis. Tetapi ternyata berbagai cara tersebut tidak juga efektif selama gangguan fungsi saluran cerna yang terjadi tidak dikenali dan diperbaiki. Demikian pula pemberian obat ensim pencernaan juga tidak banyak bermanfaat selama penyebab utama tidak ditangani dengan baik.

Anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Pendekatan yang tak kalah penting adalah selalu sabar dan telaten menghadapi kasus seperti ini, karena akan terjadi jangka panjang dan hilang timbul. Saat timbul gangguan sulit makan orangtua harus cermat biasanya disertai kekambuhan gangguan fungsi saluran cerna.