- TRIPLE BURDEN OF MALNUTRITION PADA REMAJA PUTRI DAN PUTRA DI INDONESIA: ANALISIS STATUS GIZI, PERBEDAAN GENDER, DAN FAKTOR RISIKO
Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah gizi karena berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Indonesia menghadapi triple burden of malnutrition, yaitu kekurangan gizi, kelebihan berat badan atau obesitas, serta defisiensi zat gizi mikro. Ketiga masalah tersebut dapat terjadi secara bersamaan pada tingkat individu, keluarga, maupun populasi. Artikel ini membahas gambaran status gizi remaja putri dan putra berdasarkan data Riskesdas 2018 dan survei dasar UNICEF tahun 2017 di Kabupaten Klaten dan Lombok Barat. Data menunjukkan bahwa masalah gizi remaja memiliki pola berbeda berdasarkan jenis kelamin, wilayah, dan kondisi sosial ekonomi. Anemia lebih banyak ditemukan pada remaja putri, sedangkan kekurusan lebih banyak ditemukan pada remaja putra dalam survei UNICEF. Pola makan tinggi karbohidrat, rendah konsumsi protein hewani, konsumsi makanan olahan, serta aktivitas fisik yang rendah menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian. Upaya pencegahan membutuhkan pendekatan terpadu melalui edukasi gizi, perbaikan pola makan, aktivitas fisik, suplementasi zat besi dan asam folat, serta dukungan keluarga dan sekolah.
1. Pendahuluan
- Masa remaja merupakan periode penting dalam siklus kehidupan manusia. Pada fase ini terjadi pertumbuhan fisik, perubahan hormonal, perkembangan kognitif, dan pematangan fungsi reproduksi. Proses tersebut meningkatkan kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral. Ketidakcukupan asupan zat gizi selama masa remaja dapat mengganggu pertumbuhan dan meningkatkan risiko masalah kesehatan pada masa dewasa.
- Indonesia menghadapi tiga beban masalah gizi atau triple burden of malnutrition. Istilah ini mencakup kekurangan gizi, kelebihan berat badan dan obesitas, serta kekurangan zat gizi mikro. Masalah tersebut dapat terjadi secara bersamaan pada individu. Sebagai contoh, seseorang dapat mengalami obesitas sekaligus anemia atau kekurangan vitamin. Pada tingkat keluarga, seorang anak dapat mengalami kekurangan gizi sementara anggota keluarga lainnya mengalami obesitas.
- Fenomena ini berkaitan dengan perubahan pola makan dan aktivitas fisik akibat perkembangan ekonomi, urbanisasi, globalisasi, serta perubahan lingkungan pangan. Oleh karena itu, penanganan masalah gizi remaja perlu mempertimbangkan aspek biologis, perilaku, sosial, ekonomi, dan lingkungan.
2. Sumber dan Karakteristik Data
- Artikel ini menggunakan data sekunder dari dua sumber utama, yaitu Riskesdas 2018 dan Baseline Survey of Adolescent Nutritional Status in Klaten and Lombok Barat Districts, Indonesia tahun 2017 yang dikutip dalam dokumen strategi komunikasi perubahan perilaku UNICEF.
- Riskesdas 2018 memberikan gambaran status gizi remaja pada tingkat nasional berdasarkan kelompok umur. Sementara itu, survei UNICEF 2017 mengukur status antropometri, anemia, pola konsumsi makanan, aktivitas fisik, dan faktor sosial pada remaja usia 12–18 tahun di dua kabupaten.
- Kedua sumber memiliki cakupan dan metode pengumpulan data yang berbeda. Oleh karena itu, hasilnya disajikan secara terpisah dan tidak digunakan untuk menyimpulkan perubahan prevalensi dari satu tahun ke tahun lainnya.
3. Hasil dan Gambaran Epidemiologi
-
- 3.1. Status gizi remaja berdasarkan Riskesdas 2018
- Data Riskesdas 2018 yang dilaporkan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa masalah kekurangan gizi dan kelebihan berat badan masih ditemukan pada remaja Indonesia.
- 3.1. Status gizi remaja berdasarkan Riskesdas 2018
| Kelompok usia | Kurus dan sangat kurus | Pendek dan sangat pendek | Berat badan lebih dan obesitas |
|---|---|---|---|
| 13–15 tahun | 8,7% | 25,7% | 16,0% |
| 16–18 tahun | 8,1% | 26,9% | 13,5% |
- Data tersebut memperlihatkan bahwa sekitar satu dari empat remaja mengalami pendek atau sangat pendek. Pada saat yang sama, prevalensi berat badan lebih dan obesitas lebih tinggi dibandingkan prevalensi kurus pada kedua kelompok umur.
- Temuan ini menggambarkan adanya masalah gizi ganda pada populasi remaja Indonesia. Program perbaikan gizi perlu memperhatikan kekurangan gizi sekaligus mencegah peningkatan berat badan berlebih.
- 3.2. Perbedaan anemia berdasarkan jenis kelamin
- Dokumen strategi UNICEF mencantumkan prevalensi anemia sebesar 12,4% pada remaja putra dan 22,7% pada remaja putri usia 13–18 tahun.
- Perbedaan ini menunjukkan bahwa remaja putri memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap anemia. Salah satu faktor biologis yang berperan adalah kehilangan zat besi melalui menstruasi. Kebutuhan zat besi juga meningkat selama masa pertumbuhan.
- Anemia dapat menimbulkan kelelahan, penurunan konsentrasi, gangguan aktivitas, dan penurunan kemampuan belajar. Karena itu, pencegahan anemia pada remaja putri menjadi salah satu prioritas program kesehatan masyarakat.
3.3. Hasil survei dasar UNICEF tahun 2017
Survei UNICEF di Kabupaten Klaten dan Lombok Barat mencakup 514 remaja usia 12–18 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa kekurangan gizi dan kelebihan gizi ditemukan secara bersamaan.
| Indikator status gizi | Prevalensi |
|---|---|
| Kurus | 6,4% |
| Pendek | 21,1% |
| Berat badan lebih | 8,9% |
| Obesitas | 4,0% |
| Anemia | 11,5% |
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa sekitar satu dari lima remaja dalam survei mengalami pendek. Sementara itu, gabungan prevalensi berat badan lebih dan obesitas mencapai 12,9%. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah kekurangan gizi dan kelebihan gizi dapat ditemukan dalam populasi yang sama.
3.4. Perbedaan status gizi berdasarkan jenis kelamin
- Survei UNICEF 2017 menunjukkan adanya perbedaan pola masalah gizi antara remaja putra dan putri.
| Indikator | Putra | Putri |
|---|---|---|
| Kurus | 9,1% | 3,6% |
| Pendek | 16,7% | 20,2% |
| Berat badan lebih | 10,0% | 7,6% |
| Obesitas | 4,3% | 3,7% |
| Anemia | 4,7% | 18,8% |
- Anemia pada remaja putri mencapai 18,8%, sekitar empat kali angka pada remaja putra. Sebaliknya, prevalensi kurus pada remaja putra lebih tinggi dibandingkan remaja putri.
- Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan gizi yang responsif gender. Remaja putri memerlukan perhatian khusus terhadap kecukupan zat besi, sedangkan pencegahan kekurangan energi dan protein juga perlu diperhatikan pada remaja putra.
3.5. Perbedaan status gizi berdasarkan wilayah
- Survei di Klaten dan Lombok Barat menunjukkan variasi masalah gizi antarwilayah.
| Indikator | Klaten | Lombok Barat |
|---|---|---|
| Kurus | 5,9% | 7,4% |
| Pendek | 16,0% | 22,9% |
| Berat badan lebih | 9,5% | 7,6% |
| Obesitas | 5,2% | 1,7% |
| Anemia | 11,0% | 12,5% |
- Prevalensi pendek dan kurus lebih tinggi di Lombok Barat dibandingkan Klaten. Sebaliknya, prevalensi obesitas lebih tinggi di Klaten. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kondisi sosial ekonomi, ketahanan pangan, pola konsumsi, dan lingkungan dapat memengaruhi status gizi remaja.
- Hasil dari dua kabupaten ini tidak dapat digeneralisasikan sebagai gambaran seluruh wilayah Indonesia.
4. Pola Konsumsi dan Aktivitas Fisik
- Survei UNICEF 2017 menemukan bahwa pola konsumsi remaja masih didominasi oleh makanan sumber karbohidrat. Konsumsi protein hewani juga masih terbatas. Hanya sekitar 23,9% remaja yang mengonsumsi daging, unggas, atau ikan setidaknya sekali sehari.
- Konsumsi sayur dan buah yang menjadi sumber vitamin, mineral, dan serat juga perlu ditingkatkan. Sekitar 65,5% remaja dilaporkan terbiasa mengonsumsi makanan ringan produksi pabrik. Minuman berpemanis dan makanan tinggi energi turut menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari.
- Aktivitas fisik remaja juga menjadi perhatian. Kebiasaan menghabiskan waktu untuk kegiatan sedentari, seperti menonton televisi dan aktivitas duduk dalam waktu lama, dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan apabila tidak diimbangi aktivitas fisik dan pola makan yang seimbang.
5. Faktor Risiko dan Determinan Masalah Gizi
- Triple burden of malnutrition pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan.
- Pertama, faktor individu meliputi kualitas makanan, pengetahuan gizi, kebiasaan sarapan, aktivitas fisik, dan kebutuhan zat gizi selama pertumbuhan. Pada remaja putri, menstruasi meningkatkan kebutuhan zat besi.
- Kedua, faktor keluarga meliputi pendapatan, pendidikan orang tua, pola asuh, ketahanan pangan, serta ketersediaan makanan bergizi di rumah. Kondisi ekonomi keluarga dapat menentukan akses remaja terhadap sumber protein, sayuran, buah, dan pangan kaya zat besi.
- Ketiga, faktor lingkungan mencakup ketersediaan makanan sehat di sekolah, akses terhadap fasilitas olahraga, pengaruh teman sebaya, serta paparan pemasaran makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak.
- Keempat, faktor sosial ekonomi dan gender dapat memengaruhi pembagian makanan, aktivitas rumah tangga, kesempatan berolahraga, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. UNICEF juga melaporkan hubungan antara kondisi rumah tangga yang lebih miskin dan risiko stunting yang lebih tinggi dalam survei di Klaten dan Lombok Barat.
6. Dampak terhadap Kesehatan dan Siklus Kehidupan
- Kekurangan gizi selama masa remaja dapat menghambat pertumbuhan fisik, menurunkan kebugaran, dan memengaruhi perkembangan kognitif. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia dan mengganggu konsentrasi serta produktivitas belajar.
- Sebaliknya, kelebihan berat badan dan obesitas meningkatkan risiko gangguan metabolik, seperti resistensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular pada masa dewasa.
- Status gizi remaja putri juga memiliki konsekuensi antargenerasi. Remaja putri yang mengalami anemia atau kekurangan gizi dapat memasuki masa kehamilan dengan cadangan zat gizi yang tidak memadai. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan ibu dan bayi, termasuk berat badan lahir rendah.
- Dengan demikian, perbaikan gizi remaja merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesehatan perempuan, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas sumber daya manusia.
7. Strategi Pencegahan dan Intervensi
- Penanganan triple burden of malnutrition memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
- Program Aksi Bergizi yang dikembangkan UNICEF bersama pemerintah Indonesia menggabungkan tiga intervensi utama, yaitu pemberian tablet tambah darah mingguan bagi remaja putri, pendidikan gizi berbasis sekolah, serta komunikasi perubahan perilaku sosial atau Social and Behaviour Change Communication (SBCC).
- Evaluasi program di Klaten dan Lombok Barat pada 2019–2020 menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi dan sejumlah perilaku kesehatan. Peluang remaja melaporkan aktivitas fisik selama 60 menit setiap hari meningkat dengan OR 2,3 (95% CI 1,7–3,2). Peluang konsumsi tablet tambah darah mingguan pada remaja putri juga meningkat dengan OR 6,7 (95% CI 1,5–30,9).
- Hasil tersebut menunjukkan perbaikan perilaku setelah intervensi. Namun, hasil ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti langsung bahwa prevalensi stunting, anemia, atau obesitas telah menurun secara nasional.
- Intervensi lain yang perlu diperkuat meliputi peningkatan konsumsi protein hewani dan nabati, sayur dan buah, pembatasan minuman berpemanis, peningkatan aktivitas fisik, pemantauan status gizi, serta deteksi dan tata laksana anemia.
8. Indikator Pemantauan Program
Evaluasi program gizi remaja perlu menggunakan indikator yang terukur dan dipisahkan berdasarkan usia serta jenis kelamin.
| Bidang | Indikator yang dipantau |
|---|---|
| Pertumbuhan | Tinggi badan menurut umur dan IMT menurut umur |
| Kekurangan gizi | Prevalensi kurus dan pendek |
| Kelebihan gizi | Prevalensi berat badan lebih dan obesitas |
| Anemia | Kadar hemoglobin dan prevalensi anemia |
| Pola makan | Konsumsi protein, sayur, buah, dan sumber zat besi |
| Suplementasi | Kepatuhan konsumsi tablet tambah darah |
| Aktivitas fisik | Frekuensi dan durasi aktivitas fisik |
| Edukasi | Pengetahuan, sikap, dan perilaku gizi |
| Lingkungan | Ketersediaan makanan sehat di sekolah dan rumah |
Pengukuran berkala diperlukan untuk mengetahui perubahan status gizi, mengidentifikasi kelompok berisiko, dan menilai efektivitas intervensi.
9. Kesimpulan
- Triple burden of malnutrition merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang penting pada remaja Indonesia. Kekurangan gizi, kelebihan berat badan, obesitas, dan defisiensi zat gizi mikro dapat terjadi secara bersamaan dalam satu populasi, keluarga, bahkan individu.
- Data Riskesdas 2018 menunjukkan tingginya prevalensi pendek pada remaja usia 13–18 tahun. Survei UNICEF 2017 di Klaten dan Lombok Barat memperlihatkan perbedaan masalah gizi berdasarkan jenis kelamin dan wilayah. Anemia lebih banyak ditemukan pada remaja putri, sedangkan kekurusan lebih banyak ditemukan pada remaja putra dalam survei tersebut.
- Pencegahan membutuhkan intervensi sejak masa remaja melalui perbaikan kualitas makanan, suplementasi zat besi sesuai program, pendidikan gizi, aktivitas fisik, dan penguatan lingkungan pangan sehat. Pendekatan yang mempertimbangkan usia, jenis kelamin, dan kondisi sosial ekonomi diperlukan agar program gizi remaja lebih tepat sasaran.
Daftar Pustaka
- UNICEF Indonesia. (2019). Social and Behaviour Change Communication Strategy: Improving Adolescent Nutrition in Indonesia. Jakarta: UNICEF Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/media/9201/file/Social%20behavioural%20change%20communication%20strategy.pdf
- UNICEF Indonesia. (2017). Baseline Survey of Adolescent Nutritional Status in Klaten and Lombok Barat Districts, Indonesia. Jakarta: UNICEF Indonesia. Data dikutip dalam dokumen strategi komunikasi perubahan perilaku UNICEF.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
- World Health Organization. (2017). The Double Burden of Malnutrition: Policy Brief. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-17.3
- Oddo VM, Roshita A, Khan MT, Ariawan I, Chakrabarti S, Izwardy D, Rah JH, Wiradnyani LAA. Evidence-Based Nutrition Interventions Improved Adolescents’ Knowledge and Behaviors in Indonesia. Nutrients. 2022;14(9):1717. https://doi.org/10.3390/nu14091717
- Soekarjo DD, Roshita A, Thow AM, Li M, Rah JH. Strengthening Nutrition-Specific Policies for Adolescents in Indonesia: A Qualitative Policy Analysis. Food and Nutrition Bulletin. 2018;39.
- World Health Organization. (2017). Double-Duty Actions for Nutrition: Policy Brief. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-17.2




Leave a Reply