NUTRISI PADA MASA REMAJA (USIA 10–19 TAHUN): KEBUTUHAN GIZI, FISIOLOGI PERTUMBUHAN, METABOLISME, DAN DAMPAK TERHADAP KESEHATAN JANGKA PANJANG

  • NUTRISI PADA MASA REMAJA (USIA 10–19 TAHUN): KEBUTUHAN GIZI, FISIOLOGI PERTUMBUHAN, METABOLISME, DAN DAMPAK TERHADAP KESEHATAN JANGKA PANJANG
  • Nutrisi Tepat, Tumbuh Sehat

Masa remaja merupakan periode perkembangan biologis yang ditandai oleh percepatan pertumbuhan somatik, perubahan komposisi tubuh, maturasi sistem reproduksi, serta perkembangan struktur dan fungsi sistem saraf pusat. Proses tersebut meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi makro maupun mikronutrien. Kecukupan nutrisi selama periode ini berperan dalam pencapaian potensi pertumbuhan tinggi badan, akumulasi massa tulang, perkembangan jaringan otot, fungsi kognitif, regulasi hormonal, dan kematangan reproduksi. Ketidakseimbangan asupan nutrisi dapat meningkatkan risiko malnutrisi, anemia defisiensi besi, gangguan pertumbuhan, obesitas, serta gangguan metabolik yang berpotensi berlanjut hingga usia dewasa. Artikel ini menguraikan dasar fisiologis kebutuhan nutrisi remaja, kebutuhan zat gizi utama, permasalahan gizi berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin, serta pendekatan evaluasi dan intervensi nutrisi berbasis bukti ilmiah. Pemenuhan gizi remaja perlu menggunakan pendekatan individual dengan mempertimbangkan usia kronologis, tahap pubertas, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan status pertumbuhan.

World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja sebagai kelompok individu berusia 10–19 tahun. Periode ini merupakan fase transisi biologis dan psikososial dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai oleh perubahan signifikan pada pertumbuhan, komposisi tubuh, sistem endokrin, fungsi reproduksi, dan perkembangan neurologis.

Secara biologis, masa remaja ditandai oleh pubertal growth spurt, yaitu peningkatan kecepatan pertumbuhan tinggi dan berat badan akibat interaksi hormon pertumbuhan (growth hormone/GH), insulin-like growth factor-1 (IGF-1), hormon tiroid, serta hormon seks, terutama estrogen dan testosteron.

Perubahan hormonal tersebut memengaruhi proliferasi kondrosit pada lempeng pertumbuhan tulang, sintesis protein, pembentukan massa otot, distribusi lemak tubuh, dan mineralisasi tulang. Pada perempuan, peningkatan estrogen berperan dalam percepatan pertumbuhan sekaligus penutupan lempeng epifisis. Pada laki-laki, testosteron berkontribusi terhadap peningkatan massa otot, ukuran tulang, dan produksi sel darah merah. Perubahan tersebut menyebabkan kebutuhan energi, protein, zat besi, kalsium, vitamin D, seng, folat, dan berbagai mikronutrien meningkat.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, masa remaja merupakan periode strategis untuk mencegah masalah gizi yang dapat berdampak pada kesehatan sepanjang kehidupan. Kekurangan gizi dapat menghambat pencapaian potensi pertumbuhan, sedangkan kelebihan energi dan rendahnya kualitas diet meningkatkan risiko obesitas serta penyakit metabolik. Oleh karena itu, penilaian nutrisi remaja harus mempertimbangkan aspek kuantitatif dan kualitatif asupan makanan, status antropometri, perkembangan pubertas, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan individu.

FISIOLOGI PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN METABOLISME PADA REMAJA

  • 2.1. Percepatan pertumbuhan somatik
    • Pertumbuhan remaja berlangsung melalui peningkatan panjang tulang, massa otot, volume darah, ukuran organ, serta perubahan jaringan adiposa.
    • Kecepatan pertumbuhan tinggi badan mencapai puncaknya pada waktu yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Perempuan umumnya mengalami percepatan pertumbuhan lebih awal, sedangkan laki-laki cenderung mengalami lonjakan pertumbuhan lebih lambat dan dalam periode yang lebih panjang.
    • Implikasi klinisnya adalah kebutuhan energi dan protein tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan usia kronologis. Tahap maturasi pubertas juga perlu dipertimbangkan.
  • 2.2. Perubahan komposisi tubuh
    • Selama pubertas terjadi perubahan proporsi massa bebas lemak dan massa lemak.
    • Pada remaja laki-laki, peningkatan testosteron berhubungan dengan peningkatan massa otot dan massa bebas lemak. Pada remaja perempuan, peningkatan estrogen berkontribusi terhadap perubahan distribusi lemak tubuh, terutama di area gluteofemoral.
    • Perubahan ini merupakan bagian fisiologis dari perkembangan seksual. Karena itu, perubahan berat badan dan bentuk tubuh selama pubertas harus dinilai berdasarkan kurva pertumbuhan dan maturasi biologis, bukan semata-mata berdasarkan standar estetika.
  • 2.3. Perkembangan sistem saraf pusat
    • Masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan otak. Proses mielinisasi, pemangkasan sinapsis atau synaptic pruning, serta reorganisasi jaringan saraf berlangsung secara dinamis.
    • Kebutuhan nutrisi yang adekuat mendukung metabolisme energi otak, pembentukan membran sel, neurotransmisi, dan fungsi kognitif.
    • Zat besi, seng, yodium, vitamin B12, folat, asam lemak omega-3, dan protein memiliki peran biologis dalam berbagai proses perkembangan saraf.
    • Kekurangan zat gizi tertentu dapat mengganggu fungsi neurologis dan kognitif. Namun, hubungan antara status nutrisi dan kemampuan belajar juga dipengaruhi oleh faktor tidur, lingkungan sosial, pendidikan, dan kesehatan mental.

KEBUTUHAN ENERGI DAN ZAT GIZI MAKRO

  • 3.1. Kebutuhan energi
  • Energi diperlukan untuk mempertahankan metabolisme basal, aktivitas fisik, termogenesis, dan proses pertumbuhan jaringan.
  • Kebutuhan energi dipengaruhi oleh:
    • Usia dan jenis kelamin.
    • Berat badan dan tinggi badan.
    • Tahap pubertas.
    • Komposisi tubuh.
    • Tingkat aktivitas fisik.
    • Kondisi fisiologis dan penyakit.
  • Sebagai gambaran, kebutuhan energi remaja dapat berada pada kisaran 1.600–3.200 kkal per hari. Nilai tersebut merupakan kisaran populasi dan tidak dapat digunakan sebagai resep individual.
  • Penentuan kebutuhan energi sebaiknya menggunakan persamaan estimasi kebutuhan energi atau Estimated Energy Requirement (EER), dengan mempertimbangkan usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, dan tingkat aktivitas fisik.
  • 3.2. Protein
    • Protein merupakan zat gizi esensial untuk sintesis jaringan, pembentukan enzim, hormon peptida, antibodi, serta pemeliharaan massa otot.
    • Selama pubertas, peningkatan sintesis protein mendukung pertumbuhan jaringan otot dan organ.
    • Kebutuhan protein berdasarkan Dietary Reference Intakes (DRI) Amerika Serikat:
Kelompok usia Protein harian
10–13 tahun 0,95 g/kg berat badan
14–18 tahun 0,85 g/kg berat badan
Usia 19 tahun 0,80 g/kg berat badan

Sumber protein dapat berasal dari pangan hewani maupun nabati, termasuk ikan, telur, daging, susu, tempe, tahu, dan kacang-kacangan.

Kecukupan protein perlu dinilai bersama kecukupan energi. Asupan protein yang memadai tanpa energi yang cukup dapat menyebabkan sebagian asam amino digunakan sebagai sumber energi, sehingga kurang optimal untuk sintesis jaringan.

  • 3.3. Karbohidrat
    • Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh dan berperan dalam mempertahankan ketersediaan glukosa untuk metabolisme jaringan, termasuk sistem saraf pusat.
    • Kebutuhan karbohidrat berdasarkan DRI adalah sekitar 45–65% dari total energi. Recommended Dietary Allowance (RDA) karbohidrat untuk usia 10 tahun ke atas adalah 130 gram per hari.
    • Sumber yang dianjurkan meliputi serealia utuh, beras, jagung, kentang, ubi, buah, dan kacang-kacangan.
    • Kualitas karbohidrat perlu diperhatikan. Konsumsi gula bebas dan minuman berpemanis yang berlebihan perlu dibatasi.
  • 3.4. Lemak
    • Lemak berfungsi sebagai sumber energi, penyusun membran sel, prekursor hormon steroid, dan pembawa vitamin larut lemak.
    • Kebutuhan lemak berdasarkan DRI untuk usia 4–18 tahun berkisar 25–35% dari total energi.
    • Asam lemak esensial, terutama asam linoleat (omega-6) dan alfa-linolenat (omega-3), dibutuhkan karena tubuh tidak dapat mensintesisnya dalam jumlah yang mencukupi.
    • Sumber lemak berkualitas meliputi ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, dan minyak nabati.

KEBUTUHAN MIKRONUTRIEN PADA MASA REMAJA

Mikronutrien berperan dalam pertumbuhan tulang, pembentukan darah, metabolisme energi, fungsi enzim, sintesis DNA, dan regulasi sistem imun.

Zat gizi Kebutuhan usia 10–18 tahun Fungsi fisiologis
Zat besi Laki-laki 11 mg, perempuan 15 mg/hari Sintesis hemoglobin dan metabolisme energi
Kalsium 1.300 mg/hari Mineralisasi dan kekuatan tulang
Vitamin D 15 mcg atau 600 IU/hari Absorpsi kalsium dan metabolisme tulang
Seng Laki-laki 8–11 mg, perempuan 8–9 mg/hari Pertumbuhan, sintesis DNA, dan fungsi imun
Folat 300 mcg DFE/hari Sintesis DNA dan pembentukan sel
Vitamin B12 2,4 mcg/hari Pembentukan eritrosit dan fungsi neurologis
Yodium 120–150 mcg/hari Sintesis hormon tiroid

Sumber: Dietary Reference Intakes, National Academies dan NIH Office of Dietary Supplements. Angka kebutuhan dapat berbeda menurut kelompok usia dan jenis kelamin.

  • 4.1. Zat besi dan eritropoiesis
    • Zat besi diperlukan untuk sintesis hemoglobin, mioglobin, dan berbagai enzim yang terlibat dalam respirasi sel.
    • Peningkatan volume darah dan massa otot selama pubertas meningkatkan kebutuhan zat besi. Pada remaja perempuan, kehilangan darah menstruasi menjadi faktor tambahan yang meningkatkan risiko defisiensi besi.
    • Defisiensi besi dapat terjadi sebelum anemia berkembang. Kondisi ini dapat ditandai dengan penurunan cadangan besi yang tercermin pada kadar feritin.
    • Evaluasi klinis dapat mencakup pemeriksaan hemoglobin, feritin, dan parameter hematologi lainnya sesuai indikasi.
  • 4.2. Kalsium dan mineralisasi tulang
    • Sekitar 40–60% massa mineral tulang dewasa terakumulasi selama periode pubertas dan remaja, meskipun proporsinya bervariasi berdasarkan jenis kelamin dan individu.
    • Kalsium berperan dalam pembentukan hidroksiapatit yang memberikan kekuatan mekanis pada tulang.
    • Kekurangan asupan kalsium selama masa pertumbuhan dapat menghambat pencapaian massa tulang puncak atau peak bone mass.
    • Vitamin D mendukung absorpsi kalsium di usus dan homeostasis kalsium-fosfat.
  • 4.3. Seng
    • Seng merupakan kofaktor berbagai enzim yang terlibat dalam sintesis protein, pembelahan sel, metabolisme asam nukleat, pertumbuhan, dan fungsi imun.
    • Defisiensi seng dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan nafsu makan, dan gangguan fungsi kekebalan tubuh.
  • 4.4. Folat dan vitamin B12
    • Folat dan vitamin B12 berperan dalam sintesis DNA, pembelahan sel, dan pembentukan eritrosit.
    • Kekurangan kedua vitamin tersebut dapat menyebabkan anemia megaloblastik. Vitamin B12 juga memiliki fungsi penting dalam pemeliharaan mielin dan integritas sistem saraf.
    • Remaja dengan pola makan vegetarian atau vegan yang tidak direncanakan dengan baik memiliki risiko kekurangan vitamin B12.

MASALAH GIZI DAN KONSEKUENSI KLINIS PADA REMAJA

  • 5.1. Defisiensi besi dan anemia
    • Defisiensi besi merupakan salah satu masalah mikronutrien yang penting pada masa remaja. Peningkatan kebutuhan besi selama pertumbuhan, menstruasi, dan ekspansi volume darah menjadi faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya defisiensi.

Secara klinis, defisiensi besi berkembang melalui beberapa tahap:

  • Penurunan cadangan besi, ditandai dengan penurunan feritin serum.

Defisiensi besi tanpa anemia, ditandai dengan keterbatasan ketersediaan besi untuk proses eritropoiesis.

Anemia defisiensi besi, ketika sintesis hemoglobin terganggu dan kadar hemoglobin menurun.

Dampak klinis dapat berupa kelelahan, penurunan kapasitas aktivitas fisik, gangguan konsentrasi, dan gangguan fungsi kognitif.

Pemeriksaan laboratorium perlu disesuaikan dengan kondisi klinis. Feritin merupakan indikator cadangan besi, tetapi dapat meningkat pada inflamasi sehingga interpretasinya perlu mempertimbangkan penanda inflamasi.

  • 5.2. Kekurangan energi dan gangguan pertumbuhan
    • Asupan energi yang tidak mencukupi kebutuhan metabolik dapat menyebabkan keseimbangan energi negatif. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat pertambahan berat badan, pertumbuhan linear, dan akumulasi massa otot.
      • Faktor penyebab meliputi:
        • Asupan makanan yang tidak adekuat.
        • Gangguan perilaku makan.
        • Aktivitas fisik berlebihan.
        • Penyakit kronis.
        • Gangguan gastrointestinal yang memengaruhi asupan atau absorpsi nutrisi.
        • Pembatasan makanan tanpa indikasi medis.
    • Evaluasi perlu mencakup riwayat pertumbuhan longitudinal. Satu kali pengukuran berat badan tidak cukup untuk menentukan adanya gangguan pertumbuhan.
  • 5.3. Overweight dan obesitas
    • Obesitas remaja merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan interaksi faktor genetik, neuroendokrin, metabolik, perilaku, lingkungan, dan sosial ekonomi.
    • Ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi merupakan komponen penting, tetapi regulasi berat badan juga dipengaruhi oleh hormon leptin, ghrelin, insulin, sistem saraf pusat, kualitas tidur, dan lingkungan pangan.
    • Obesitas selama masa remaja berhubungan dengan peningkatan risiko:
        • Resistensi insulin.
        • Diabetes melitus tipe 2.
        • Dislipidemia.
        • Hipertensi.
        • Metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD).
        • Obstructive sleep apnea.
        • Gangguan kesehatan mental dan kualitas hidup.
    • Obesitas tidak dapat dinilai menggunakan batas IMT dewasa secara langsung pada seluruh kelompok remaja. WHO menggunakan IMT menurut umur dan jenis kelamin untuk kelompok usia 5–19 tahun.
  • 5.4. Defisiensi mikronutrien tersembunyi
    • Kelebihan berat badan tidak selalu menunjukkan kecukupan mikronutrien. Remaja dengan obesitas tetap dapat mengalami kekurangan zat besi, vitamin D, folat, atau mikronutrien lainnya.
    • Fenomena ini sering disebut hidden hunger, yaitu kekurangan zat gizi mikro meskipun asupan energi relatif berlebihan.
    • Kualitas makanan menjadi faktor penting dalam menilai kecukupan nutrisi. Konsumsi makanan tinggi kalori tetapi rendah kepadatan zat gizi dapat menghasilkan kondisi tersebut.
  • 5.5. Gangguan perilaku makan
    • Pada masa remaja, perubahan citra tubuh, tekanan sosial, dan paparan media digital dapat memengaruhi perilaku makan.
    • Pembatasan energi yang berlebihan, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, binge eating, serta perilaku kompensasi dapat menyebabkan gangguan status nutrisi dan kesehatan psikologis.
    • Penilaian harus dilakukan secara sensitif dan tidak menghakimi. Gangguan makan memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, ahli gizi, dan tenaga kesehatan mental.

EVALUASI STATUS GIZI REMAJA

  • Evaluasi status gizi remaja harus menggunakan pendekatan komprehensif. Penilaian tidak cukup hanya berdasarkan berat badan atau penampilan fisik.
  • 6.1. Pemeriksaan antropometri
    • Parameter utama meliputi:
Parameter Tujuan pemeriksaan
Berat badan Menilai perubahan massa tubuh
Tinggi badan Menilai pertumbuhan linear
IMT menurut umur Menilai status berat badan relatif terhadap tinggi dan usia
Lingkar lengan atas Membantu evaluasi komposisi dan status nutrisi pada konteks tertentu
Riwayat pertumbuhan Menilai kecepatan pertumbuhan dan perubahan lintasan kurva
  • Indeks massa tubuh dihitung menggunakan rumus:
    • Interpretasi IMT pada usia 10–19 tahun harus menggunakan kurva IMT menurut umur atau BMI-for-age, dengan memperhatikan jenis kelamin dan usia dalam bulan.
    • Menurut referensi WHO 2007 untuk usia 5–19 tahun:
Kategori Interpretasi WHO
Sangat kurus Z-score kurang dari -3 SD
Kurus Z-score kurang dari -2 SD
Normal Z-score -2 SD sampai +1 SD
Overweight Z-score lebih dari +1 SD
Obesitas Z-score lebih dari +2 SD

Interpretasi tersebut menggunakan referensi WHO dan perlu diterapkan sesuai standar antropometri yang berlaku di Indonesia.

  • 6.2. Pemeriksaan biokimia
    • Pemeriksaan laboratorium dilakukan berdasarkan indikasi klinis, bukan sebagai skrining menyeluruh tanpa pertimbangan.
    • Beberapa pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan:
Pemeriksaan Tujuan
Hemoglobin Evaluasi anemia
Feritin serum Menilai cadangan besi
C-reactive protein (CRP) Membantu interpretasi feritin saat terdapat inflamasi
Glukosa darah atau HbA1c Evaluasi gangguan metabolisme glukosa
Profil lipid Evaluasi dislipidemia
25-hydroxyvitamin D Evaluasi status vitamin D berdasarkan indikasi
Fungsi hati Evaluasi gangguan hepatik atau dugaan MASLD

Pemeriksaan tambahan seperti vitamin B12, folat, fungsi tiroid, dan pemeriksaan gastrointestinal dapat dilakukan sesuai riwayat klinis.

  • 6.3. Evaluasi asupan makanan
    • Penilaian asupan dapat menggunakan:
      • Food recall 24 jam.
      • Food record selama 3–7 hari.
      • Food frequency questionnaire.
      • Analisis kecukupan energi dan zat gizi.
      • Evaluasi variasi serta kualitas pangan.
    • Penilaian perlu mempertimbangkan kemungkinan perbedaan antara asupan yang dilaporkan dan konsumsi aktual.
  • 6.4. Evaluasi aktivitas fisik dan tidur
    • Aktivitas fisik memengaruhi kebutuhan energi, komposisi tubuh, sensitivitas insulin, serta kesehatan tulang.
    • WHO merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat rata-rata minimal 60 menit per hari sepanjang minggu, dengan aktivitas penguatan otot dan tulang setidaknya 3 hari per minggu.
    • Tidur juga berperan dalam regulasi hormon pertumbuhan, metabolisme energi, nafsu makan, dan pemulihan jaringan.

STRATEGI INTERVENSI NUTRISI BERBASIS ILMIAH

  • Intervensi nutrisi harus disesuaikan dengan status gizi, kebutuhan fisiologis, kebiasaan makan, dan kondisi medis remaja.
  • 7.1. Prinsip gizi seimbang
    • Pendekatan yang dianjurkan meliputi:
      • Kecukupan energi sesuai kebutuhan pertumbuhan.
      • Distribusi protein yang memadai sepanjang hari.
      • Karbohidrat terutama berasal dari sumber pangan berkualitas.
      • Lemak esensial dalam jumlah cukup.
      • Konsumsi sayuran dan buah beragam.
      • Kecukupan zat besi, kalsium, vitamin D, seng, dan folat.
      • Kecukupan cairan.
      • Pembatasan gula bebas, natrium berlebihan, dan lemak trans.
    • WHO menganjurkan konsumsi minimal 400 gram buah dan sayuran per hari serta sedikitnya 25 gram serat alami bagi individu berusia di atas 10 tahun.
  • 7.2. Pendekatan pada remaja dengan anemia
    • Intervensi mencakup identifikasi penyebab, perbaikan kualitas makanan, dan suplementasi zat besi bila terdapat indikasi atau sesuai program kesehatan nasional.
    • Sumber zat besi heme antara lain daging dan ikan. Sumber non-heme meliputi kacang-kacangan, sayuran, serta pangan fortifikasi.
    • Kombinasi sumber zat besi nabati dengan vitamin C dapat meningkatkan absorpsi besi.
    • Suplementasi tidak boleh diberikan secara sembarangan karena dosis dan durasi perlu disesuaikan dengan status besi serta diagnosis.
  • 7.3. Pendekatan pada remaja dengan obesitas
    • Penatalaksanaan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang yang berorientasi pada kesehatan metabolik dan pertumbuhan.
    • Komponen intervensi meliputi:
      • Perbaikan kualitas makanan.
      • Pengaturan porsi berdasarkan kebutuhan energi.
      • Pengurangan minuman berpemanis.
      • Peningkatan aktivitas fisik.
      • Perbaikan durasi dan kualitas tidur.
      • Dukungan keluarga.
      • Pemantauan pertumbuhan dan parameter metabolik.
    • Pembatasan energi yang terlalu agresif dapat mengganggu pertumbuhan dan maturasi pubertas. Karena itu, target intervensi harus disesuaikan dengan usia dan derajat obesitas.
  • 7.4. Pendekatan pada remaja dengan kekurangan gizi
    • Intervensi harus mengidentifikasi penyebab asupan yang tidak adekuat, gangguan absorpsi, penyakit kronis, atau masalah perilaku makan.
    • Peningkatan asupan energi dan protein dilakukan secara bertahap dengan pemantauan respons pertumbuhan.
    • Pada kasus malnutrisi berat atau gangguan makan, diperlukan evaluasi medis untuk mengantisipasi komplikasi metabolik, termasuk risiko refeeding syndrome.

HUBUNGAN NUTRISI REMAJA DENGAN KESEHATAN JANGKA PANJANG

  • Status nutrisi pada masa remaja berkontribusi terhadap kesehatan pada usia dewasa melalui beberapa mekanisme biologis.
    1. Pertama, kecukupan nutrisi mendukung pencapaian massa tulang puncak.
    2. Kedua, kualitas diet dan aktivitas fisik memengaruhi sensitivitas insulin dan metabolisme lipid.
    3. Ketiga, defisiensi mikronutrien dapat memengaruhi fungsi hematologis, neurologis, dan imunologis.
  • Masa remaja juga merupakan periode pembentukan perilaku kesehatan. Kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan pola tidur yang terbentuk pada tahap ini dapat berlanjut hingga dewasa.
  • Dengan demikian, intervensi nutrisi remaja memiliki nilai preventif terhadap penyakit tidak menular dan komplikasi metabolik pada masa mendatang.

KESIMPULAN ILMIAH

  • Masa remaja merupakan periode kritis dalam perkembangan biologis manusia. Peningkatan aktivitas hormonal, pertumbuhan somatik, perubahan komposisi tubuh, dan maturasi neurologis menyebabkan kebutuhan nutrisi mengalami perubahan yang signifikan.
  • Kecukupan energi, protein, lemak esensial, zat besi, kalsium, vitamin D, seng, folat, dan vitamin B12 berperan dalam mendukung pertumbuhan serta fungsi fisiologis tubuh.
  • Masalah nutrisi seperti anemia defisiensi besi, kekurangan energi, obesitas, dan defisiensi mikronutrien dapat memengaruhi kesehatan remaja dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada usia dewasa.
  • Oleh karena itu, intervensi nutrisi harus mengutamakan pendekatan individual, evaluasi antropometri longitudinal, penilaian asupan makanan, pemeriksaan biokimia berdasarkan indikasi, serta edukasi gizi berbasis bukti ilmiah.
  • Pemenuhan nutrisi yang optimal selama masa remaja merupakan salah satu determinan penting dalam membangun kesehatan individu sepanjang siklus kehidupan.

REFERENSI ILMIAH

  • 1. World Health Organization. Adolescent Health. WHO.
  • 2. World Health Organization. Growth Reference Data for 5–19 Years. WHO 2007.
  • 3. World Health Organization. BMI-for-age (5–19 years).
  • 4. World Health Organization. Healthy Diet.
  • 5. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Iron: Fact Sheet for Health Professionals.
  • 6. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Calcium: Fact Sheet for Health Professionals.
  • 7. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Vitamin D: Fact Sheet for Health Professionals.
  • 8. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. Dietary Reference Intakes. National Academies Press.
  • 9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
  • 10. World Health Organization. WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. 2020.

 

  • Catatan koreksi angka kebutuhan zat besi:
  • Berdasarkan DRI Amerika Serikat, kebutuhan zat besi usia 9–13 tahun adalah 8 mg/hari untuk laki-laki maupun perempuan. Usia 14–18 tahun adalah 11 mg/hari untuk laki-laki dan 15 mg/hari untuk perempuan. Usia 19 tahun mengikuti kebutuhan dewasa, yaitu 8 mg untuk laki-laki dan 18 mg untuk perempuan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *