- TRIPLE BURDEN OF MALNUTRITION PADA REMAJA INDONESIA: EPIDEMIOLOGI, DETERMINAN, DAMPAK ANTARGENERASI, DAN STRATEGI INTERVENSI BERBASIS PROGRAM AKSI BERGIZI
- Nutrisi Tepat, Tumbuh Sehat
Remaja berusia 10–19 tahun merupakan kelompok populasi strategis dalam pembangunan kesehatan karena berada pada periode percepatan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, maturasi reproduksi, dan pembentukan perilaku kesehatan jangka panjang. Di Indonesia, kelompok ini menghadapi triple burden of malnutrition, yaitu koeksistensi kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien. Berdasarkan data Riskesdas 2018 dan analisis UNICEF, sekitar seperempat remaja mengalami stunting, sekitar 9% remaja usia 13–15 tahun mengalami kekurusan, sekitar 16% mengalami overweight atau obesitas, dan sekitar seperempat remaja putri mengalami anemia dalam estimasi yang digunakan dokumen program tersebut. Masalah ini memiliki determinan multidimensional, meliputi kualitas konsumsi pangan, rendahnya keragaman diet, aktivitas fisik yang tidak memadai, lingkungan keluarga, pendidikan, sosial ekonomi, serta norma gender. Malnutrisi pada remaja juga memiliki implikasi antargenerasi, khususnya melalui hubungan status gizi remaja putri dengan kesehatan prakonsepsi, kehamilan, pertumbuhan janin, dan kesehatan anak. Artikel ini membahas epidemiologi, mekanisme biologis, determinan sosial, konsekuensi kesehatan, serta pendekatan intervensi terpadu melalui program Aksi Bergizi yang dikembangkan UNICEF bersama pemerintah Indonesia. Pendekatan yang direkomendasikan mengintegrasikan suplementasi zat besi dan asam folat, pendidikan gizi berbasis sekolah, aktivitas fisik, serta komunikasi perubahan sosial dan perilaku (Social and Behaviour Change Communication atau SBCC). Penanganan triple burden memerlukan kebijakan multisektoral dan berkelanjutan dengan melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, agama, sosial, keluarga, dan komunitas.
1. PENDAHULUAN
- Remaja merupakan kelompok penduduk berusia 10–19 tahun menurut definisi World Health Organization (WHO). Periode ini memiliki arti penting dalam siklus kehidupan karena terjadi percepatan pertumbuhan somatik, perubahan komposisi tubuh, perkembangan sistem saraf pusat, pematangan sistem reproduksi, dan pembentukan perilaku kesehatan.
- Kebutuhan energi dan zat gizi meningkat selama masa pubertas untuk mendukung pertumbuhan tulang, jaringan otot, volume darah, dan perkembangan organ. Kecukupan nutrisi juga berperan dalam fungsi kognitif, kesehatan reproduksi, sistem imun, serta kemampuan melakukan aktivitas fisik.
- Di Indonesia, masalah gizi remaja menunjukkan karakteristik yang kompleks. Kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien dapat ditemukan secara bersamaan dalam populasi yang sama. Fenomena ini dikenal sebagai triple burden of malnutrition.
- Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi remaja tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan jumlah konsumsi makanan. Kualitas diet, keragaman pangan, kecukupan mikronutrien, aktivitas fisik, lingkungan pangan, serta akses pelayanan kesehatan juga perlu diperhatikan.
- UNICEF menempatkan masa remaja sebagai kesempatan kedua untuk memperbaiki lintasan perkembangan setelah periode anak usia dini. Intervensi yang tepat pada masa ini dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan kognitif, pembentukan perilaku sehat, dan mengurangi risiko malnutrisi antargenerasi.
- Indonesia telah mengembangkan program Aksi Bergizi sebagai salah satu pendekatan terpadu untuk memperbaiki status gizi remaja perempuan dan laki-laki melalui intervensi berbasis sekolah dan pemberdayaan masyarakat.
2. EPIDEMIOLOGI MASALAH GIZI REMAJA DI INDONESIA
- 2.1. Gambaran triple burden of malnutrition
- Triple burden of malnutrition merupakan kondisi ketika tiga bentuk masalah gizi terjadi secara bersamaan:
- Undernutrition, meliputi stunting, wasting, dan kekurangan energi.
- Overnutrition, meliputi overweight dan obesitas.
- Micronutrient deficiency, meliputi kekurangan zat besi, folat, vitamin A, vitamin D, seng, dan mikronutrien esensial lainnya.
- Dokumen strategi komunikasi UNICEF untuk perbaikan gizi remaja Indonesia menggambarkan situasi masalah gizi pada periode penyusunan program sebagai berikut.
- Triple burden of malnutrition merupakan kondisi ketika tiga bentuk masalah gizi terjadi secara bersamaan:
| Indikator | Kelompok remaja | Prevalensi dalam laporan |
|---|---|---|
| Stunting | Usia 13–18 tahun | Sekitar 25% |
| Thinness atau kurus | Usia 13–15 tahun | Sekitar 9% |
| Overweight dan obesitas | Remaja | Sekitar 16% |
| Anemia | Remaja putri | Sekitar 25% |
- Sumber: UNICEF Indonesia, Social and Behaviour Change Communication Strategy: Improving Adolescent Nutrition in Indonesia.
- Angka tersebut menggambarkan situasi historis dalam dokumen program dan tidak boleh dianggap sebagai prevalensi terkini tahun 2026. Kelompok umur dan sumber pengukuran setiap indikator juga berbeda.
- 2.2. Data Riskesdas 2018
- Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa:
| Indikator | Usia 13–15 tahun | Usia 16–18 tahun |
|---|---|---|
| Pendek dan sangat pendek | 25,7% | 26,9% |
| Kurus dan sangat kurus | 8,7% | 8,1% |
| Berat badan lebih dan obesitas | 16,0% | 13,5% |
- Data tersebut menunjukkan bahwa masalah kekurangan dan kelebihan gizi terjadi secara bersamaan pada kelompok remaja Indonesia.
- Stunting pada remaja mencerminkan gangguan pertumbuhan linear yang telah berlangsung dalam periode sebelumnya. Sementara itu, overweight dan obesitas menggambarkan peningkatan masalah kelebihan gizi yang berkaitan dengan perubahan pola konsumsi dan aktivitas fisik.
- Data ini menegaskan bahwa intervensi gizi remaja perlu memiliki dua orientasi, yaitu memperbaiki kekurangan gizi sekaligus mencegah kelebihan gizi.
- 2.3. Anemia pada remaja putri
- Anemia merupakan salah satu masalah mikronutrien yang menjadi perhatian utama pada remaja perempuan.
- Peningkatan kebutuhan zat besi selama pertumbuhan, menstruasi, dan peningkatan volume darah dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan zat besi.
- Defisiensi zat besi dapat berkembang sebelum anemia muncul. Kondisi tersebut dapat mengganggu sintesis hemoglobin, transportasi oksigen, metabolisme sel, dan fungsi neurologis.
- Dampak klinis dapat meliputi kelelahan, penurunan toleransi aktivitas fisik, gangguan konsentrasi, serta penurunan kualitas hidup.
- Pencegahan anemia membutuhkan kombinasi edukasi gizi, peningkatan konsumsi pangan sumber zat besi, fortifikasi pangan, dan suplementasi sesuai pedoman kesehatan.
- 2.4. Perbedaan masalah gizi berdasarkan jenis kelamin
- Masalah gizi remaja juga memiliki dimensi gender.
| Aspek | Remaja putri | Remaja putra |
|---|---|---|
| Anemia | Risiko meningkat akibat menstruasi dan kebutuhan besi | Tetap berisiko akibat pertumbuhan dan asupan tidak adekuat |
| Thinness | Dapat berkaitan dengan pembatasan makan | Dilaporkan lebih tinggi pada beberapa kelompok |
| Pertumbuhan | Percepatan pertumbuhan umumnya lebih awal | Percepatan pertumbuhan umumnya lebih lambat |
| Kebutuhan zat besi | Meningkat setelah menstruasi | Meningkat selama pertumbuhan massa tubuh |
| Perilaku makan | Dapat dipengaruhi citra tubuh dan tekanan sosial | Dapat dipengaruhi target pembentukan massa otot |
- Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya intervensi yang responsif gender. Program pencegahan malnutrisi perlu melibatkan remaja putri dan putra sesuai kebutuhan biologis dan sosial masing-masing.
3. DETERMINAN DAN FAKTOR RISIKO MALNUTRISI REMAJA
Masalah gizi remaja merupakan hasil interaksi berbagai faktor biologis, perilaku, lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya. Pendekatan epidemiologi menunjukkan bahwa determinan tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor langsung, tidak langsung, dan struktural.
- 3.1. Faktor langsung
- Faktor langsung yang memengaruhi status gizi meliputi:
- A. Ketidakcukupan asupan makanan
- Konsumsi energi, protein, dan mikronutrien yang tidak memenuhi kebutuhan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan defisiensi nutrisi.
- B. Rendahnya keragaman diet
- UNICEF melaporkan bahwa hanya sekitar 25% remaja dalam analisis yang digunakan program mengonsumsi sumber pangan kaya zat besi, folat, dan mikronutrien penting lainnya, termasuk pangan hewani dan sayuran.
- Keragaman diet yang rendah meningkatkan kemungkinan terjadinya kekurangan beberapa mikronutrien secara bersamaan.
- C. Aktivitas fisik yang tidak memadai
- Aktivitas fisik yang rendah berkontribusi terhadap ketidakseimbangan energi, penurunan kebugaran kardiorespirasi, dan peningkatan risiko obesitas.
- A. Ketidakcukupan asupan makanan
- Faktor langsung yang memengaruhi status gizi meliputi:
- 3.2. Perubahan pola konsumsi makanan
- Perubahan lingkungan pangan dan gaya hidup memengaruhi pilihan makanan remaja.
- Beberapa kecenderungan yang dilaporkan dalam analisis UNICEF 2017 meliputi:
- Peningkatan konsumsi makanan olahan.
- Peningkatan konsumsi makanan tinggi lemak.
- Kebiasaan mengonsumsi camilan yang rendah kepadatan mikronutrien.
- Kurangnya konsumsi sayuran dan pangan sumber zat besi.
- Meningkatnya ketergantungan terhadap makanan yang praktis dan mudah diperoleh.
- Perubahan ini dapat menggeser pola makan tradisional yang beragam menjadi pola makan dengan kepadatan energi tinggi tetapi kualitas mikronutrien rendah.
- 3.3. Rendahnya aktivitas fisik di sekolah
- Studi kualitatif dan kuantitatif yang ditugaskan UNICEF pada 2017 menemukan bahwa aktivitas fisik di sekolah masih terbatas. Dalam beberapa konteks yang diteliti, kegiatan tersebut jarang melebihi 90 menit per minggu.
- Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan aktivitas fisik remaja dan kesempatan yang tersedia di lingkungan sekolah.
- Aktivitas fisik berperan dalam:
- Mempertahankan sensitivitas insulin.
- Mengatur komposisi tubuh.
- Meningkatkan kebugaran jantung dan paru.
- Mendukung kesehatan tulang.
- Memperbaiki kesehatan psikologis.
- Mengurangi risiko penyakit metabolik.
- 3.4. Faktor sosial ekonomi dan lingkungan
- Status gizi remaja dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, daya beli keluarga, tingkat pendidikan orang tua, akses pelayanan kesehatan, dan lingkungan tempat tinggal.
- Kemiskinan pangan dapat membatasi akses terhadap sumber protein hewani, buah, sayuran, dan makanan kaya mikronutrien.
- Lingkungan sekolah juga berpengaruh melalui ketersediaan makanan di kantin, fasilitas olahraga, pendidikan kesehatan, serta kebijakan sekolah.
- 3.5. Faktor gender dan sosial budaya
- Norma sosial dapat memengaruhi distribusi makanan, kebebasan memilih makanan, aktivitas fisik, dan akses pelayanan kesehatan.
- Remaja putri dapat menghadapi hambatan terkait menstruasi, anemia, pembatasan makanan, dan tekanan citra tubuh.
- Remaja putra dapat menghadapi tekanan untuk meningkatkan massa otot melalui pola makan atau penggunaan suplemen yang tidak tepat.
- Oleh karena itu, program gizi perlu memperhatikan kebutuhan biologis sekaligus kesetaraan gender.
4. DAMPAK MALNUTRISI TERHADAP KESEHATAN DAN PEMBANGUNAN
- 4.1. Dampak terhadap pertumbuhan fisik
- Kekurangan energi, protein, dan mikronutrien selama masa remaja dapat menghambat pertumbuhan linear, pembentukan massa otot, serta pencapaian massa tulang puncak.
- Remaja dengan riwayat stunting memiliki risiko tidak mencapai potensi pertumbuhan optimal. Namun, respons pertumbuhan pada masa remaja masih dipengaruhi usia, maturasi tulang, status pubertas, dan kondisi kesehatan.
- 4.2. Dampak terhadap perkembangan kognitif
- Defisiensi zat besi, yodium, vitamin B12, dan mikronutrien tertentu dapat mengganggu proses biologis yang mendukung fungsi sistem saraf.
- Anemia dapat menyebabkan kelelahan dan menurunkan kapasitas aktivitas. Defisiensi zat besi juga dapat memengaruhi fungsi neurologis, terutama ketika terjadi selama periode perkembangan otak.
- Pemenuhan nutrisi tidak secara otomatis menjamin prestasi akademik yang tinggi, tetapi merupakan salah satu prasyarat biologis untuk mendukung perkembangan dan proses belajar.
- 4.3. Dampak terhadap kesehatan metabolik
- Overweight dan obesitas pada masa remaja berkaitan dengan peningkatan risiko resistensi insulin, dislipidemia, hipertensi, dan gangguan metabolisme hati.
- Sebaliknya, kekurangan gizi kronis dapat menyebabkan gangguan perkembangan organ dan perubahan adaptasi metabolik.
- Koeksistensi kekurangan dan kelebihan gizi menunjukkan bahwa program kesehatan harus memperhatikan kualitas diet, bukan hanya jumlah kalori.
- 4.4. Dampak antargenerasi
- Status nutrisi remaja putri memiliki hubungan penting dengan kesehatan reproduksi dan hasil kehamilan pada masa mendatang.
- Remaja putri yang mengalami anemia, kekurangan energi kronis, atau gangguan pertumbuhan dapat memasuki masa kehamilan dengan cadangan nutrisi yang tidak memadai.
- Kondisi gizi ibu sebelum dan selama kehamilan berhubungan dengan pertumbuhan janin, berat badan lahir, kelahiran prematur, dan risiko gangguan pertumbuhan anak.
- Siklus malnutrisi antargenerasi dapat dijelaskan melalui alur berikut:
- Remaja putri dengan malnutrisi → memasuki usia reproduksi dengan cadangan nutrisi rendah → kehamilan dengan risiko kekurangan nutrisi → gangguan pertumbuhan janin → bayi lahir dengan berat badan rendah atau mengalami gangguan pertumbuhan → risiko malnutrisi pada masa anak meningkat.
- Siklus ini dapat diputus melalui intervensi gizi sejak masa remaja, pelayanan kesehatan reproduksi, perbaikan nutrisi prakonsepsi, dan pelayanan maternal yang berkualitas.
- 4.5. Dampak sosial ekonomi
- Malnutrisi dapat meningkatkan beban pembiayaan kesehatan, mengurangi produktivitas, dan memengaruhi kualitas sumber daya manusia.
- Gangguan pertumbuhan, anemia, dan obesitas dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap kemampuan belajar, kapasitas kerja, dan risiko penyakit kronis.
- Investasi gizi remaja karena itu memiliki manfaat individual, keluarga, dan ekonomi nasional.
- 5. REMAJA SEBAGAI SECOND WINDOW OF OPPORTUNITY
- Intervensi pada masa remaja merupakan kesempatan penting untuk memperbaiki lintasan perkembangan setelah periode awal kehidupan.
- Konsep second window of opportunity menekankan bahwa perubahan biologis selama pubertas menyediakan kesempatan untuk:
- Mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan jaringan tubuh.
- Memperbaiki sebagian defisit nutrisi yang masih dapat dikoreksi.
- Meningkatkan cadangan zat besi dan mikronutrien.
- Mendukung perkembangan kognitif dan kesehatan mental.
- Membentuk kebiasaan makan sehat.
- Meningkatkan aktivitas fisik.
- Mempersiapkan kesehatan reproduksi dan kehamilan yang sehat pada masa mendatang.
- Namun, tidak seluruh gangguan pertumbuhan yang terjadi pada masa anak dapat dipulihkan sepenuhnya ketika remaja. Respons terhadap intervensi bergantung pada penyebab, durasi kekurangan nutrisi, tahap pubertas, dan potensi pertumbuhan individu.
- Pendekatan intervensi sejak dini tetap lebih menguntungkan, tetapi masa remaja memberikan kesempatan tambahan yang tidak boleh diabaikan.
6. PROGRAM AKSI BERGIZI DI INDONESIA
- 6.1. Latar belakang program
- UNICEF Indonesia bersama Pemerintah Indonesia mengembangkan program Aksi Bergizi untuk mengatasi triple burden of malnutrition pada remaja perempuan dan laki-laki.
- Program ini diperkenalkan pada November 2018 dan mulai diuji melalui intervensi di sekolah pada 2019.
- Uji coba dilakukan di 110 sekolah menengah pertama dan menengah atas di dua kabupaten, yaitu:
- Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
- Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
- Program ini menggunakan pendekatan life-course framework, yaitu intervensi kesehatan berdasarkan tahapan kehidupan untuk memutus siklus malnutrisi antargenerasi.
- 6.2. Tiga komponen utama Aksi Bergizi
- A. Suplementasi zat besi dan asam folat mingguan
- Intervensi ini ditujukan terutama kepada remaja putri untuk mencegah dan mengendalikan anemia.
- Tujuan utamanya meliputi:
- Meningkatkan cadangan zat besi.
- Mendukung pembentukan hemoglobin.
- Mengurangi risiko anemia.
- Mempersiapkan kesehatan remaja putri sebelum memasuki usia reproduksi.
- Pelaksanaan suplementasi perlu disertai edukasi, pengawasan konsumsi, pencatatan, dan pemantauan kepatuhan.
- A. Suplementasi zat besi dan asam folat mingguan
- B. Pendidikan gizi berbasis sekolah
- Modul pembelajaran gizi dimasukkan dalam kegiatan pendidikan sekolah.
- Materi mencakup:
- Prinsip gizi seimbang.
- Pemilihan makanan bergizi.
- Pencegahan anemia.
- Konsumsi buah dan sayuran.
- Aktivitas fisik.
- Pencegahan obesitas.
- Pembentukan kebiasaan makan sehat.
- Pendidikan gizi dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, dan keyakinan diri atau self-efficacy remaja dalam menerapkan perilaku sehat.
- C. Social and Behaviour Change Communication (SBCC)
- SBCC merupakan strategi komunikasi perubahan sosial dan perilaku yang bertujuan memengaruhi pengetahuan, sikap, norma sosial, dan perilaku kesehatan.
- Pendekatan ini melibatkan remaja, orang tua, guru, teman sebaya, petugas kesehatan, serta komunitas.
- Pesan komunikasi tidak hanya berisi informasi kesehatan, tetapi juga mendorong keterampilan praktis dan dukungan lingkungan agar remaja mampu menerapkan perilaku sehat secara berkelanjutan.
- 6.3. Kerangka konseptual perubahan perilaku
- Strategi SBCC dalam program Aksi Bergizi menggunakan tiga pendekatan konseptual.
| Kerangka teori | Fokus penerapan |
|---|---|
| Socio-Ecological Model (SEM) | Pengaruh individu, keluarga, teman sebaya, sekolah, komunitas, dan kebijakan |
| Social Cognitive Theory | Pengetahuan, pembelajaran sosial, dukungan lingkungan, dan self-efficacy |
| Stages of Change Model | Tahapan perubahan perilaku dari belum siap hingga mempertahankan kebiasaan sehat |
Ketiga pendekatan tersebut membantu menjelaskan bahwa perubahan perilaku makan tidak cukup dilakukan melalui penyuluhan individual.
Remaja membutuhkan dukungan lingkungan yang memungkinkan pilihan sehat dilakukan secara nyata.
- 6.4. Hasil evaluasi program
- Penelitian evaluasi intervensi Aksi Bergizi yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients pada 2022 menunjukkan hasil yang menjanjikan.
- Setelah intervensi, terdapat peningkatan kemungkinan remaja melaporkan aktivitas fisik minimal 60 menit per hari dengan odds ratio (OR) 2,3 dan interval kepercayaan 95% sebesar 1,7–3,2.
- Pada remaja putri, kemungkinan melaporkan konsumsi tablet tambah darah mingguan meningkat dengan OR 6,7 dan interval kepercayaan 95% sebesar 1,5–30,9.
- Penelitian tersebut juga melaporkan perbaikan pengetahuan, sikap, dan beberapa perilaku terkait konsumsi makanan sehat.
- Hasil ini mendukung potensi intervensi berbasis sekolah. Namun, perubahan perilaku tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai bukti bahwa prevalensi anemia, stunting, atau obesitas telah menurun secara nasional. Penilaian dampak biologis memerlukan pengukuran antropometri dan biomarker yang sesuai.
7. STRATEGI INTERVENSI MULTISEKTORAL
- Triple burden of malnutrition tidak dapat diatasi oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan koordinasi berbagai sektor untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan remaja.
| Sektor | Bentuk intervensi |
|---|---|
| Kesehatan | Skrining anemia, pelayanan gizi, suplementasi, konseling |
| Pendidikan | Kurikulum gizi, UKS, aktivitas fisik, kantin sehat |
| Agama | Edukasi kesehatan melalui lembaga pendidikan dan komunitas keagamaan |
| Sosial | Dukungan akses pangan bergizi bagi keluarga rentan |
| Keluarga | Penyediaan makanan seimbang dan pembiasaan pola makan sehat |
| Komunitas | Posyandu Remaja, edukasi sebaya, kegiatan olahraga |
| Pemerintah daerah | Kebijakan lingkungan pangan sehat dan evaluasi program |
- 7.1. Intervensi nutrition-specific
- Intervensi ini secara langsung menargetkan penyebab masalah gizi, antara lain:
- Suplementasi zat besi dan asam folat.
- Edukasi konsumsi pangan bergizi.
- Pencegahan dan penanganan anemia.
- Konseling gizi individual.
- Pemantauan pertumbuhan.
- Deteksi dan penanganan gangguan makan.
- Intervensi ini secara langsung menargetkan penyebab masalah gizi, antara lain:
- 7.2. Intervensi nutrition-sensitive
- Intervensi ini memperbaiki faktor lingkungan dan sosial yang memengaruhi status gizi.
- Contohnya:
- Peningkatan ketahanan pangan keluarga.
- Perbaikan akses terhadap pangan bergizi.
- Pengembangan kantin sehat.
- Peningkatan fasilitas olahraga sekolah.
- Pengendalian pemasaran makanan tidak sehat kepada anak dan remaja.
- Dukungan perlindungan sosial bagi keluarga rentan.
- Integrasi kedua pendekatan tersebut diperlukan agar perubahan status gizi berlangsung secara berkelanjutan.
8. INDIKATOR PEMANTAUAN DAN EVALUASI PROGRAM GIZI REMAJA
- Keberhasilan program perlu diukur melalui indikator proses, keluaran, hasil perilaku, dan dampak kesehatan.
| Tingkat evaluasi | Indikator |
|---|---|
| Input | Ketersediaan tenaga, anggaran, tablet tambah darah, dan modul pendidikan |
| Proses | Cakupan kegiatan edukasi dan pelaksanaan suplementasi |
| Output | Jumlah remaja yang mengikuti kegiatan dan menerima intervensi |
| Outcome | Peningkatan pengetahuan, konsumsi tablet tambah darah, dan aktivitas fisik |
| Dampak | Perubahan prevalensi anemia, thinness, stunting, overweight, dan obesitas |
- Evaluasi perlu dilakukan secara berkala dengan memperhatikan usia, jenis kelamin, wilayah, dan kondisi sosial ekonomi.
- Data antropometri harus menggunakan standar pertumbuhan yang sesuai. Pemeriksaan hemoglobin dan feritin dapat digunakan untuk mengevaluasi anemia dan status besi sesuai rancangan program.
REKOMENDASI KEBIJAKAN DAN PENGEMBANGAN PROGRAM
- Untuk meningkatkan efektivitas program nutrisi remaja di Indonesia, beberapa rekomendasi dapat dipertimbangkan:
- Memperkuat integrasi program gizi remaja dalam kebijakan kesehatan dan pendidikan nasional.
- Memperluas implementasi Aksi Bergizi di sekolah negeri, swasta, madrasah, dan lembaga pendidikan keagamaan.
- Meningkatkan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah melalui edukasi dan pemantauan.
- Mengembangkan lingkungan sekolah yang mendukung konsumsi makanan bergizi dan aktivitas fisik.
- Memperkuat pelayanan kesehatan ramah remaja di Puskesmas dan Posyandu Remaja.
- Mengembangkan komunikasi digital yang melibatkan remaja sebagai pembuat dan penyebar pesan kesehatan.
- Meningkatkan akses pangan bergizi bagi remaja dari keluarga berpenghasilan rendah.
- Mengembangkan sistem surveilans yang memantau kekurangan gizi, obesitas, dan defisiensi mikronutrien secara bersamaan.
- Memastikan program mempertimbangkan kesetaraan gender dan kebutuhan remaja penyandang disabilitas.
- Melakukan penelitian longitudinal untuk mengevaluasi dampak intervensi terhadap pertumbuhan, kesehatan metabolik, dan kesehatan reproduksi.
KESIMPULAN
- Triple burden of malnutrition merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang kompleks pada remaja Indonesia. Koeksistensi stunting, kekurusan, overweight, obesitas, dan defisiensi mikronutrien menunjukkan bahwa masalah gizi tidak dapat diselesaikan hanya melalui peningkatan konsumsi energi.
- Kualitas diet, kecukupan mikronutrien, aktivitas fisik, perilaku makan, lingkungan sekolah, kondisi sosial ekonomi, dan kesetaraan gender merupakan determinan penting status nutrisi remaja.
- Masa remaja merupakan kesempatan strategis untuk memperbaiki pertumbuhan, perkembangan kognitif, kesehatan metabolik, dan kesiapan reproduksi. Intervensi yang tepat juga berpotensi memutus siklus malnutrisi antargenerasi.
- Program Aksi Bergizi memberikan contoh pendekatan terpadu melalui suplementasi zat besi dan asam folat, pendidikan gizi berbasis sekolah, serta komunikasi perubahan sosial dan perilaku.
- Keberhasilan penanganan masalah ini memerlukan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, sektor kesehatan, pendidikan, agama, sosial, keluarga, sekolah, dan masyarakat.
- Investasi gizi pada masa remaja merupakan investasi kesehatan generasi sekarang dan generasi mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
- UNICEF Indonesia. Social and Behaviour Change Communication Strategy: Improving Adolescent Nutrition in Indonesia. UNICEF Indonesia. 2018–2019. https://www.unicef.org/indonesia/media/9201/file/Social%20behavioural%20change%20communication%20strategy.pdf
- UNICEF Indonesia. Aksi Bergizi: An Integrated Gender Responsive Adolescent Nutrition Program to Support the Government of Indonesia to Address the Triple Burden of Malnutrition Among Adolescent Girls and Boys. https://www.unicef.org/indonesia/reports/aksi-bergizi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2019. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Gizi Optimal untuk Generasi Milenial. 24 Januari 2020. https://www.kemkes.go.id/id/gizi-optimal-generasi-milenial
- World Health Organization. Adolescent Health. https://www.who.int/health-topics/adolescent-health
- World Health Organization. WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: WHO. 2020. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128
- Evidence-Based Nutrition Interventions Improved Adolescents’ Knowledge and Behaviors in Indonesia. Nutrients. 2022;14(9):1717. https://doi.org/10.3390/nu14091717
- Soekarjo DD, Roshita A, Thow AM, Li M, Rah JH. Strengthening Nutrition-Specific Policies for Adolescents in Indonesia: A Qualitative Policy Analysis. Food and Nutrition Bulletin. 2018. https://doi.org/10.1177/0379572118785054
- UNICEF. The State of the World’s Children 2019: Children, Food and Nutrition. New York: UNICEF. 2019. https://www.unicef.org/reports/state-of-worlds-children-2019
- UNICEF. The State of Children in Indonesia 2020. UNICEF Indonesia. 2020. https://www.unicef.org/indonesia/reports/state-children-indonesia-2020







Leave a Reply