KONSULTASI ONLINE: Picky Eating dan Gangguan Kesulitan Makan (Feeding Difficulties) pada Anak

  • KONSULTASI ONLINE: Picky Eating dan Gangguan Kesulitan Makan (Feeding Difficulties) pada Anak

Pertanyaan

Mengapa anak usia 18 bulan dengan berat badan hanya 8 kg mengalami kesulitan makan, menolak berbagai jenis makanan, hanya mau mengonsumsi makanan tertentu atau susu, dan sulit menerima tekstur makanan baru? Apakah kondisi tersebut merupakan picky eating yang masih normal dalam proses perkembangan anak, atau sudah termasuk gangguan kesulitan makan (feeding difficulties) yang dapat menyebabkan kekurangan nutrisi dan gangguan pertumbuhan? Faktor apa saja yang dapat mendasarinya, termasuk kebiasaan makan, gangguan pencernaan, konstipasi, refluks gastroesofageal, alergi makanan, gangguan oral-motor, dan sensitivitas sensorik? Bagaimana cara melakukan evaluasi status gizi, menentukan penyebab, memperbaiki pola makan, memenuhi kebutuhan energi dan protein, serta membantu anak mencapai pertumbuhan yang optimal tanpa memaksa anak untuk makan?

Jawaban

  • 1. Memahami picky eating dan gangguan kesulitan makan
    • Picky eating merupakan perilaku memilih makanan yang sering dijumpai pada anak usia 1–5 tahun, terutama ketika anak mulai mengembangkan kemandirian, preferensi rasa, dan kemampuan mengenali berbagai tekstur makanan. Anak dapat menolak sayuran, buah, daging, atau makanan baru, tetapi hanya mau mengonsumsi makanan yang sudah dikenalnya. Sebagian perilaku ini merupakan bagian dari perkembangan normal. Namun, apabila penolakan makanan berlangsung berat, jenis makanan yang diterima sangat terbatas, waktu makan sangat lama, atau asupan nutrisi tidak mencukupi, kondisi tersebut perlu dievaluasi sebagai gangguan kesulitan makan. Feeding difficulties bukan sekadar anak yang tidak mau makan, melainkan kondisi yang dapat melibatkan faktor medis, nutrisi, keterampilan makan, sensorik, dan interaksi psikososial.
  • 2. Contoh kasus klinis: anak usia 18 bulan dengan berat badan 8 kg
    • Seorang anak laki-laki berusia 18 bulan dibawa orang tuanya untuk berkonsultasi karena mengalami kesulitan makan sejak mulai mendapatkan makanan pendamping ASI. Berat badan saat pemeriksaan hanya 8 kg. Orang tua mengeluhkan anak sering menolak makanan keluarga, hanya mau beberapa jenis makanan dengan tekstur lembut, sulit mengunyah makanan yang lebih padat, dan terkadang menutup mulut ketika disuapi. Anak lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama. Waktu makan dapat berlangsung lebih dari 30–45 menit dan sering berakhir dengan tangisan. Orang tua telah mencoba memberikan berbagai vitamin dan mengganti beberapa jenis susu, tetapi berat badan belum menunjukkan peningkatan yang memadai. Kasus ini memerlukan evaluasi lebih lanjut karena berat badan 8 kg pada usia 18 bulan perlu dinilai berdasarkan jenis kelamin, panjang atau tinggi badan, kurva pertumbuhan WHO, serta riwayat kenaikan berat badan sebelumnya. Angka tersebut merupakan tanda yang perlu diperhatikan, tetapi belum cukup untuk menetapkan diagnosis malnutrisi atau gagal tumbuh.
  • 3. Menilai status gizi dan pola pertumbuhan anak
    • Langkah pertama adalah melakukan pengukuran berat badan, panjang badan atau tinggi badan, serta membandingkannya dengan standar pertumbuhan WHO. Pada usia 18 bulan, penilaian meliputi berat badan menurut umur (weight-for-age), panjang badan menurut umur (length-for-age), dan berat badan menurut panjang badan (weight-for-length). Perlu diketahui apakah anak mengalami berat badan kurang, wasting, stunting, atau kombinasi beberapa kondisi tersebut. Dokter juga perlu menilai kecepatan pertambahan berat badan, riwayat berat lahir, pola pertumbuhan sejak bayi, dan perkembangan motorik. Berat badan yang tidak bertambah selama beberapa bulan lebih mengkhawatirkan dibandingkan satu kali pengukuran yang rendah. Pemeriksaan ini penting untuk menentukan apakah masalah utama adalah asupan yang kurang, gangguan pertumbuhan linier, atau penyakit yang mendasari.
  • 4. Kekurangan asupan energi dan protein akibat pilihan makanan terbatas
    • Anak dengan picky eating berat sering mengonsumsi makanan dalam jumlah kecil dan variasi yang sangat terbatas. Sebagai contoh, anak hanya mau bubur, biskuit, nasi lembek, atau susu, tetapi menolak sumber protein seperti telur, ikan, daging, dan ayam. Jika berlangsung lama, asupan energi, protein, zat besi, zinc, vitamin B12, kalsium, dan berbagai mikronutrien dapat tidak mencukupi. Kekurangan energi menyebabkan tubuh tidak memiliki bahan bakar yang memadai untuk pertumbuhan, sedangkan kekurangan protein dapat menghambat pembentukan jaringan dan otot. Pada kasus anak 18 bulan dengan berat badan 8 kg, perlu dilakukan pencatatan makanan dan minuman selama 3 hari untuk mengetahui jumlah serta kualitas asupan aktual. Penanganan dilakukan dengan meningkatkan kepadatan energi dan protein makanan sesuai kebutuhan, bukan hanya menambah volume makanan.
  • 5. Gangguan pencernaan dapat menyebabkan anak semakin sulit makan
    • Konstipasi, refluks gastroesofageal, muntah berulang, perut kembung, dan nyeri perut dapat menyebabkan anak kehilangan kenyamanan saat makan. Anak yang mengalami konstipasi mungkin merasa cepat kenyang, perut tidak nyaman, dan menolak makanan karena mengalami rasa sakit saat buang air besar. Refluks dapat menimbulkan muntah, rasa tidak nyaman, atau pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Kondisi ini dapat membentuk siklus: gangguan pencernaan menyebabkan anak menolak makan, asupan berkurang, dan pertumbuhan semakin terganggu. Pada kasus anak 18 bulan, dokter perlu menanyakan frekuensi buang air besar, konsistensi tinja, riwayat muntah, perut kembung, nyeri, serta gejala lain. Penanganan gangguan pencernaan yang terbukti dapat membantu memperbaiki kenyamanan makan, tetapi tidak semua picky eating disebabkan oleh gangguan saluran cerna.
  • 6. Alergi makanan perlu dipertimbangkan apabila terdapat gejala yang mendukung
    • Pada sebagian anak, alergi makanan dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gangguan pencernaan, penolakan makanan, dan pertumbuhan yang tidak optimal. Alergi protein susu sapi, misalnya, dapat menimbulkan muntah, diare, darah pada tinja, atau gejala kulit pada anak tertentu. Alergi yang dimediasi imunoglobulin E biasanya menunjukkan reaksi relatif cepat, sedangkan alergi non-imunoglobulin E dapat menimbulkan gejala tertunda, terutama pada saluran pencernaan. Namun, picky eating saja tidak cukup untuk mendiagnosis alergi makanan. Evaluasi harus berdasarkan riwayat gejala yang konsisten, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan terarah sesuai indikasi. Jika diperlukan, eliminasi makanan dilakukan secara terencana dengan pengganti nutrisi yang memadai dan dilanjutkan uji tantang makanan oral di bawah pengawasan medis. Pemeriksaan panel imunoglobulin G makanan tidak direkomendasikan untuk diagnosis alergi makanan.
  • 7. Gangguan oral-motor, sensorik, dan perkembangan perlu diperiksa
    • Sebagian anak mengalami kesulitan makan bukan karena tidak lapar, tetapi karena belum memiliki keterampilan makan yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Gangguan oral-motor dapat menyebabkan anak kesulitan mengunyah, memindahkan makanan di dalam mulut, mengatur gerakan lidah, atau menelan makanan dengan tekstur tertentu. Sementara itu, sensitivitas sensorik dapat menyebabkan anak menolak makanan karena warna, aroma, rasa, suhu, maupun konsistensinya. Anak mungkin hanya mau makanan yang halus dan menolak makanan bertekstur kasar atau berserat. Dokter perlu mengevaluasi kemampuan mengunyah dan menelan, perkembangan motorik oral, serta kemungkinan gangguan perkembangan lainnya. Jika ditemukan indikasi, anak dapat dirujuk kepada terapis wicara atau tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam terapi makan dan menelan.
  • 8. Strategi memperbaiki pola makan dan memenuhi kebutuhan nutrisi
    • Penanganan anak dengan picky eating harus dilakukan secara bertahap, konsisten, dan tanpa paksaan. Orang tua dianjurkan memberikan tiga kali makan utama dan dua sampai tiga kali makanan selingan dengan jadwal yang teratur. Waktu makan sebaiknya sekitar 20–30 menit, dengan suasana nyaman dan tanpa distraksi televisi atau gawai. Makanan diberikan sesuai kemampuan mengunyah dan menelan anak, tetapi tekstur perlu ditingkatkan secara bertahap agar keterampilan makan berkembang. Untuk anak 18 bulan dengan berat badan 8 kg, dokter dan ahli gizi perlu menghitung kebutuhan energi dan protein berdasarkan kondisi klinis, kemudian meningkatkan kepadatan nutrisi makanan melalui sumber protein hewani, telur, ikan, ayam, daging, serta sumber lemak yang sesuai. Susu tidak boleh diberikan berlebihan hingga menggantikan makanan utama. Orang tua juga perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenali, menyentuh, mencium, dan mencoba makanan baru secara berulang tanpa tekanan.
  • 9. Pemantauan pertumbuhan dan evaluasi keberhasilan terapi
    • Keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga dari perbaikan variasi makanan, kemampuan mengunyah, kenyamanan saat makan, kecukupan energi dan protein, serta pertumbuhan anak. Pada kasus anak 18 bulan dengan berat badan 8 kg, pemantauan berat badan dan panjang badan perlu dilakukan secara berkala sesuai tingkat risiko dan kondisi klinis. Apabila berat badan tetap sulit meningkat meskipun intervensi nutrisi sudah dilakukan, dokter perlu mengevaluasi kembali kemungkinan gangguan pencernaan, alergi makanan, penyakit kronis, gangguan penyerapan nutrisi, atau masalah perkembangan. Pendekatan multidisiplin dapat melibatkan dokter anak, dokter gizi klinik, ahli gizi, terapis wicara, dan tenaga terapi okupasi sesuai kebutuhan. Tujuan penanganan adalah memperbaiki status gizi, mengembangkan keterampilan makan, membangun hubungan positif antara anak dan makanan, serta mencapai pertumbuhan yang optimal.
  • Pesan penting
    • Anak sulit makan bukan sekadar anak yang tidak mau makan.
    • Picky eating ringan dapat merupakan bagian dari perkembangan normal, tetapi penolakan makan berat dan berkepanjangan perlu dievaluasi.
    • Berat badan 8 kg pada usia 18 bulan memerlukan penilaian kurva pertumbuhan dan pemeriksaan klinis.
    • Jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah kurang nafsu makan.
    • Evaluasi gangguan pencernaan, konstipasi, refluks, alergi makanan, dan gangguan oral-motor apabila terdapat gejala yang mendukung.
    • Jangan memberikan susu, vitamin, atau suplemen sebagai pengganti evaluasi penyebab.
    • Hindari memaksa, mengancam, atau menyuapi anak secara berlebihan.
    • Perbaiki kecukupan energi, protein, dan mikronutrien.
    • Pantau pertumbuhan dan perkembangan secara berkala.
    • Intervensi sejak dini dapat mencegah masalah nutrisi berkepanjangan.

Prinsip utama: Jangan hanya memaksa anak untuk makan lebih banyak. Cari tahu mengapa anak tidak mau makan, apakah terdapat gangguan medis, pencernaan, sensorik, atau keterampilan makan, kemudian lakukan intervensi sesuai penyebabnya.

  • Daftar pustaka
    • Goday PS, et al. (2019). Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 68(1):124–129. https://doi.org/10.1097/MPG.0000000000002188.
    • Kerzner B, et al. (2015). A Practical Approach to Classifying and Managing Feeding Difficulties. Pediatrics. 135(2):344–353. https://doi.org/10.1542/peds.2014-1630.
    • World Health Organization. (2006). WHO Child Growth Standards. WHO.
    • American Academy of Pediatrics. (2026). Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics.
    • American Academy of Pediatrics. (2017). Identification and Management of Feeding Difficulties in Children. Pediatrics.
    • Romano C, et al. (2017). European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition Guidelines for the Evaluation and Treatment of Gastrointestinal and Nutritional Complications in Children With Neurological Impairment. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 65(2):242–264.
    • World Health Organization. (2023). WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age. WHO.
  • KlinikGizi.com — Edukasi nutrisi, pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak berbasis bukti ilmiah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *