REVIEW ILMIAH: Analisis rekomendasi nutrisi anak usia di bawah 5 tahun

  • REVIEW ILMIAH
  • The 2025–2030 Dietary Guidelines for Americans: A Pediatric Review of Recommendations for Children Under 5 Years
  • Analisis rekomendasi nutrisi anak usia di bawah 5 tahun: makanan ultra-proses, gula tambahan, MPASI, sereal bayi, fortifikasi zat besi, dan pengenalan makanan alergen.
  • Review ilmiah 2026,American Journal of Clinical Nutrition
  • Du N, Abrams SA. The 2025-2030 dietary guidelines for Americans: a pediatric review of recommendations for children under 5 years. Am J Clin Nutr. 2026 May;123(5):101295. doi: 10.1016/j.ajcnut.2026.101295. Epub 2026 Mar 24. PMID: 41887332.

Identitas publikasi

Komponen Keterangan
Judul The 2025–2030 Dietary Guidelines for Americans: A Pediatric Review of Recommendations for Children Under 5 Years
Penulis Nan Du, Steven A. Abrams
Jurnal American Journal of Clinical Nutrition
Tahun 2026
Volume 123
Nomor 5
Artikel 101295
Publikasi elektronik 24 Maret 2026
DOI 10.1016/j.ajcnut.2026.101295
PMID 41887332
  • Penulis dan afiliasi:
  • Nan Du – Center for Nutrition, Division of Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition, Boston Children’s Hospital.
  • Steven A. Abrams – Department of Pediatrics, Dell Medical School, University of Texas, Austin.
  • Referensi: PubMed – PMID 41887332.

Latar belakang

  • Pedoman Dietary Guidelines for Americans (DGA) 2025–2030 yang diterbitkan pada Januari 2026 membawa sejumlah perubahan penting dalam rekomendasi nutrisi, khususnya untuk anak usia di bawah 5 tahun. Perubahan tersebut mencakup perhatian yang lebih besar terhadap risiko konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed foods), pembatasan gula tambahan, serta pendekatan pemberian makanan sejak masa bayi.
  • Artikel Du dan Abrams merupakan review pediatrik yang mengevaluasi perubahan tersebut, sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih membutuhkan penjelasan ilmiah lebih lanjut. Penulis menyoroti bahwa beberapa rekomendasi baru memberikan kemajuan dalam edukasi nutrisi, tetapi terdapat pula penghilangan dan ketidakkonsistenan informasi yang berpotensi memengaruhi penerapan pedoman dalam praktik klinis.
  • Poin penting: Artikel ini bukan sekadar mendukung pedoman DGA 2025–2030, tetapi juga melakukan evaluasi kritis terhadap isi, dasar ilmiah, dan kemungkinan penerapannya pada anak usia dini.

Tujuan review

  • Artikel ini memiliki beberapa tujuan utama:
    • Menganalisis rekomendasi DGA 2025–2030 untuk anak usia di bawah 5 tahun.
    • Mengidentifikasi perubahan rekomendasi dibandingkan pedoman sebelumnya.
    • Mengevaluasi pembatasan gula tambahan pada anak.
    • Mengkaji risiko makanan ultra-proses.
    • Menilai penghilangan rekomendasi penggunaan sereal bayi yang difortifikasi zat besi.
    • Mengevaluasi konsistensi rekomendasi pengenalan makanan alergen.
    • Mengidentifikasi kekurangan pedoman terkait keamanan pangan, termasuk produk susu tidak dipasteurisasi.
    • Memberikan masukan untuk penyusunan pedoman nutrisi anak yang lebih transparan dan berbasis bukti.

Perubahan utama Dietary Guidelines 2025–2030

  • Artikel ini mengidentifikasi beberapa perubahan penting dalam rekomendasi nutrisi anak usia dini.
Aspek Rekomendasi DGA 2025–2030 Analisis penulis
Makanan ultra-proses Mengurangi makanan sangat diproses, kemasan, dan siap saji Perubahan positif, tetapi definisi makanan yang termasuk kelompok ini perlu diperjelas.
Gula tambahan Menghindari gula tambahan pada anak usia 0–4 tahun dan memperkuat pembatasan hingga usia 10 tahun Tujuannya baik, tetapi penerapan larangan hampir menyeluruh dinilai berpotensi tidak realistis.
Karbohidrat olahan Mengurangi karbohidrat rafinasi Perlu memperhatikan kualitas dan jenis karbohidrat, bukan sekadar menghilangkan kelompok makanan.
Produk susu Kembali menekankan susu full-fat tanpa gula tambahan Perlu mempertimbangkan usia, kebutuhan energi, dan asupan lemak jenuh keseluruhan.
Protein Memberikan perhatian lebih besar pada konsumsi protein Kebutuhan harus disesuaikan dengan usia dan tidak berarti semakin banyak protein semakin baik.
Sereal bayi Tidak lagi memberikan penekanan khusus pada sereal bayi fortifikasi sebagai MPASI Penulis menilai penghilangan ini penting karena sereal fortifikasi merupakan sumber zat besi dan mikronutrien.
Susu tidak dipasteurisasi Tidak terdapat peringatan khusus yang memadai Merupakan kekurangan dari sisi keamanan pangan.
Makanan alergen Terdapat ketidakkonsistenan dalam petunjuk pengenalannya Membutuhkan rekomendasi yang lebih jelas dan konsisten.
  • Sumber: Du dan Abrams, 2026.
  • The American Journal of Clinical Nutrition+1

Analisis kritis masing-masing rekomendasi

  • A. Makanan ultra-proses (Ultra-Processed Foods/UPF)
    • Salah satu perubahan penting dalam DGA 2025–2030 adalah meningkatnya perhatian terhadap konsumsi makanan ultra-proses. Produk seperti minuman berpemanis, permen, makanan ringan kemasan, makanan cepat saji, dan produk siap konsumsi tertentu dapat memiliki kandungan gula tambahan, natrium, lemak tidak sehat, serta kepadatan zat gizi yang kurang menguntungkan.
    • Penulis memandang perhatian terhadap makanan ultra-proses sebagai perkembangan positif. Namun, istilah highly processed foods yang digunakan dalam pedoman tidak selalu identik dengan klasifikasi UPF menurut sistem NOVA. Tidak semua makanan yang melalui proses industri mempunyai kualitas nutrisi buruk. Contohnya, susu formula bayi, makanan fortifikasi, dan beberapa produk pangan yang diproses untuk keamanan dapat tetap memiliki fungsi nutrisi penting.
    • Implikasi klinis: Penilaian makanan anak tidak boleh hanya berdasarkan tingkat pemrosesan. Perlu mempertimbangkan kandungan gizi, keamanan, tujuan fortifikasi, ukuran porsi, dan pola konsumsi secara keseluruhan.
  • B. Pembatasan gula tambahan (Added Sugars)
    • DGA 2025–2030 memperkuat rekomendasi menghindari gula tambahan pada anak usia 0–4 tahun, serta mempertahankan perhatian terhadap pembatasan gula pada kelompok usia yang lebih besar.
    • Penulis mempertanyakan apakah rekomendasi menghindari hampir seluruh gula tambahan terlalu sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembatasan yang sangat ketat berpotensi menurunkan kepatuhan orang tua terhadap rekomendasi nutrisi lain yang juga penting.
    • Dari sudut pandang pediatri, penghindaran gula tambahan tetap merupakan pendekatan yang tepat pada bayi dan anak kecil. Namun, edukasi harus realistis, praktis, dan tidak membuat orang tua mengabaikan kualitas makanan secara keseluruhan hanya karena berfokus pada satu komponen nutrisi.

Penting membedakan:

Jenis gula Contoh Interpretasi
Gula tambahan Gula pasir, sirup, madu yang ditambahkan ke makanan Perlu dihindari pada anak di bawah 2 tahun dan dibatasi setelahnya.
Gula alami dalam buah utuh Fruktosa dalam pisang, pepaya, apel Tidak termasuk gula tambahan.
Laktosa alami Laktosa dalam ASI dan susu tanpa gula tambahan Tidak dikategorikan sebagai gula tambahan.
Gula dalam jus Gula alami dalam jus buah 100% Bukan gula tambahan, tetapi jus tetap perlu dibatasi sesuai usia.

Pesan klinis: Jangan memberikan gula tambahan kepada bayi dan anak di bawah 2 tahun. Prioritaskan buah utuh dibandingkan jus dan hindari minuman berpemanis.

  • C. Penghilangan rekomendasi sereal bayi yang difortifikasi
    • Ini merupakan salah satu kritik penting dalam artikel Du dan Abrams.
    • Sereal bayi (infant cereal) yang difortifikasi zat besi selama ini menjadi salah satu pilihan MPASI karena dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi dan beberapa mikronutrien pada periode pertumbuhan cepat.
    • Penulis menilai bahwa penghilangan penekanan terhadap sereal bayi fortifikasi berpotensi mengurangi perhatian terhadap pencegahan defisiensi zat besi, terutama pada bayi yang memperoleh ASI sebagai sumber susu utama.
  • Mengapa zat besi sangat penting?
    • Mendukung pembentukan hemoglobin.
    • Mendukung perkembangan otak.
    • Berperan dalam pembentukan mielin dan fungsi saraf.
    • Membantu perkembangan kognitif dan perilaku.
    • Mencegah anemia defisiensi besi.
  • Namun, perlu ditegaskan bahwa sereal bayi fortifikasi bukan satu-satunya sumber zat besi. Daging merah, ayam, ikan, dan makanan kaya zat besi lainnya juga dapat menjadi sumber penting.
  • Rekomendasi klinis: Sejak MPASI dimulai sekitar usia 6 bulan, bayi perlu mendapatkan makanan kaya zat besi setiap hari. Sereal bayi fortifikasi dapat digunakan sebagai salah satu pilihan, bukan makanan wajib dan bukan pengganti variasi sumber protein hewani.
  • Dasar ilmiah: laporan Dietary Guidelines Advisory Committee 2025 menyebutkan bahwa makanan pendamping yang mengandung zat besi dalam jumlah bermakna, termasuk daging dan sereal fortifikasi zat besi, membantu mempertahankan status zat besi atau mencegah defisiensi pada kelompok bayi tertentu.
  • DGA 2025–2030 kembali menekankan konsumsi produk susu full-fat tanpa gula tambahan. Hal ini berbeda dari pendekatan pedoman sebelumnya yang lebih menekankan susu rendah lemak atau tanpa lemak untuk anak berusia di atas 2 tahun.
  • Penulis mengidentifikasi potensi kebingungan dalam penerapannya, terutama karena susu full-fat mengandung lemak jenuh. Peningkatan konsumsi produk susu berlemak perlu dipertimbangkan bersama keseluruhan pola makan anak.

Implikasi klinis:

Usia Rekomendasi praktis
0–6 bulan ASI atau formula bayi sebagai sumber nutrisi utama.
6–11 bulan ASI atau formula tetap menjadi sumber susu utama; susu sapi tidak digunakan sebagai minuman utama.
12–23 bulan Susu sapi pasteurisasi full-fat tanpa gula tambahan dapat diberikan sebagai bagian pola makan seimbang.
2–5 tahun Jenis susu disesuaikan dengan kebutuhan energi, status pertumbuhan, asupan lemak jenuh, dan kondisi kesehatan.

Catatan: Rekomendasi susu full-fat dalam DGA Amerika tidak berarti semua anak harus mengonsumsi susu tinggi lemak tanpa mempertimbangkan kondisi individual. Pedoman AAP dan rekomendasi pediatri lainnya tetap perlu dipertimbangkan.

  • E. Ketidakkonsistenan rekomendasi pengenalan makanan alergen
    • Pengenalan makanan alergen merupakan bagian penting dalam MPASI. Contohnya adalah telur, kacang tanah, susu sapi, ikan, gandum, dan kedelai.
    • Artikel ini mengkritik adanya ketidakkonsistenan dalam panduan DGA mengenai penanganan makanan alergen. Hal tersebut dapat membingungkan orang tua dan tenaga kesehatan ketika menentukan waktu serta cara pengenalan makanan tersebut.
    • Secara klinis, pengenalan makanan alergen tidak perlu ditunda tanpa alasan medis setelah bayi siap menerima MPASI.
Makanan alergen Cara pengenalan
Telur Telur matang sempurna, diberikan dalam jumlah kecil.
Kacang tanah Selai kacang halus yang diencerkan atau dicampur makanan; bukan kacang utuh.
Ikan Ikan matang tanpa duri.
Susu sapi Yoghurt atau bahan makanan berbasis susu yang sesuai usia; bukan sebagai minuman utama sebelum 12 bulan.
Gandum Bubur gandum atau makanan berbahan gandum.
Kedelai Tahu atau produk kedelai sesuai tekstur bayi.

Bayi dengan eksim berat atau alergi telur perlu dinilai untuk risiko alergi kacang tanah sebelum pengenalan. Pada kelompok berisiko tinggi, pengenalan dapat memerlukan pemeriksaan dan supervisi tenaga kesehatan.

Pesan klinis: Menghindari semua makanan alergen tanpa indikasi dapat menyebabkan pembatasan makanan yang tidak diperlukan dan berpotensi mengganggu variasi serta kecukupan nutrisi.

  • F. Tidak adanya peringatan khusus tentang susu tidak dipasteurisasi
    • Artikel ini juga menyoroti tidak adanya peringatan khusus yang memadai mengenai produk susu tidak dipasteurisasi (unpasteurized dairy products).
    • Susu mentah dapat membawa mikroorganisme patogen, seperti Salmonella, Campylobacter, Escherichia coli penghasil toksin Shiga, dan Listeria monocytogenes.
    • Anak usia dini termasuk kelompok yang rentan mengalami komplikasi infeksi akibat konsumsi produk susu yang tidak aman.
  • Rekomendasi klinis:
    • Berikan susu dan produk susu yang telah dipasteurisasi.
    • Hindari susu mentah atau tidak dipasteurisasi.
    • Pastikan penyimpanan dan pengolahan susu sesuai standar keamanan pangan.
    • Jangan menganggap susu mentah lebih sehat atau lebih bergizi daripada susu pasteurisasi.
    • Penghilangan peringatan dalam pedoman tidak boleh ditafsirkan sebagai izin untuk mengonsumsi susu mentah.
  • G. Ketidakjelasan rekomendasi vitamin D pada bayi
    • Artikel juga menyoroti perubahan penjelasan mengenai suplementasi vitamin D pada bayi yang memperoleh ASI dan formula.
    • Vitamin D sangat penting untuk metabolisme kalsium, mineralisasi tulang, dan pencegahan rakitis.
Kelompok bayi Prinsip rekomendasi
ASI eksklusif Vitamin D 400 IU/hari.
ASI dan formula kombinasi Perlu mempertimbangkan jumlah formula fortifikasi yang dikonsumsi.
Formula eksklusif Suplementasi umumnya tidak diperlukan bila konsumsi formula fortifikasi mencapai sekitar 1 liter per hari; bila kurang, pertimbangkan 400 IU/hari.

Rekomendasi AAP yang telah lama digunakan adalah 400 IU vitamin D per hari pada bayi yang memperoleh ASI, serta bayi yang belum mendapatkan sekitar 1 liter formula fortifikasi vitamin D setiap hari.

Ringkasan kritik ilmiah Du dan Abrams

Aspek Kelebihan DGA 2025–2030 Kekurangan yang disoroti penulis Implikasi klinis
UPF Perhatian terhadap makanan ultra-proses meningkat Definisi dan klasifikasi perlu diperjelas Evaluasi komposisi dan kualitas makanan
Gula tambahan Pembatasan lebih kuat Sulit diterapkan secara menyeluruh Edukasi realistis dan konsisten
Sereal bayi Memberikan fleksibilitas pilihan MPASI Penekanan terhadap sereal fortifikasi dihilangkan Pastikan kecukupan zat besi
Susu full-fat Mengakui kebutuhan lemak pada anak Potensi peningkatan asupan lemak jenuh Sesuaikan dengan kebutuhan individual
Makanan alergen Makanan beragam tetap diperlukan Petunjuk tidak konsisten Pengenalan alergen berbasis bukti
Susu mentah Tidak ada penekanan yang memadai Peringatan keamanan pangan tidak spesifik Tegaskan penggunaan susu pasteurisasi
Vitamin D Mendukung suplementasi bayi yang membutuhkan Penjelasan volume formula berpotensi membingungkan Evaluasi asupan vitamin D total

Perbandingan dengan prinsip rekomendasi WHO, AAP, dan ESPGHAN

  • Review ini perlu dibaca bersama pedoman organisasi pediatri internasional, karena DGA merupakan pedoman nasional Amerika Serikat dan tidak otomatis menjadi standar untuk semua negara.
Topik DGA 2025–2030 WHO / AAP / ESPGHAN: prinsip klinis
ASI Mendukung pemberian ASI ASI eksklusif sekitar 6 bulan, dilanjutkan bersama MPASI
MPASI Makanan beragam dan padat gizi Mulai sekitar 6 bulan sesuai kesiapan perkembangan
Zat besi Penekanan pada makanan bergizi Pastikan kecukupan zat besi melalui makanan fortifikasi dan sumber hewani
Gula tambahan Menghindari pada usia 0–4 tahun WHO menganjurkan pembatasan gula bebas; AAP tidak menganjurkan gula tambahan sebelum usia 2 tahun
UPF Mengurangi makanan sangat diproses Utamakan makanan beragam, segar, dan minim gula serta garam
Makanan alergen Petunjuk perlu diperjelas Tidak perlu menunda pengenalan alergen tanpa indikasi medis
Susu sapi Kembali menekankan full-fat Tidak sebagai minuman utama sebelum 12 bulan; setelahnya sesuaikan kebutuhan anak
Keamanan susu Peringatan susu mentah dinilai kurang Gunakan produk susu pasteurisasi

8. Rekomendasi praktis untuk pemberian nutrisi anak usia 0–5 tahun

  • Berdasarkan analisis artikel, berikut penerapan yang dapat digunakan dalam edukasi orang tua dan praktik pediatri.
Usia Rekomendasi nutrisi Hal yang harus diperhatikan
0–6 bulan ASI eksklusif Vitamin D, kecukupan ASI, dan pertumbuhan
6–8 bulan ASI + MPASI lumat kental Zat besi, protein hewani, zinc, dan variasi makanan
9–11 bulan ASI + MPASI cincang lembut Peningkatan tekstur, finger food aman, dan zat besi
12–23 bulan Makanan keluarga yang dimodifikasi Protein, lemak sehat, kalsium, zat besi, dan variasi makanan
2–3 tahun Makanan bergizi seimbang Hindari gula tambahan, minuman manis, dan makanan ultra-proses berlebihan
4–5 tahun Pola makan keluarga seimbang Kecukupan energi, protein, serat, kalsium, dan vitamin D

Pesan penting bagi dokter anak dan orang tua

  • 10 PESAN PENTING NUTRISI ANAK
    1. ASI merupakan sumber nutrisi utama bayi pada enam bulan pertama.
    2. MPASI harus dimulai sekitar usia 6 bulan dan kaya zat besi.
    3. Protein hewani perlu diperkenalkan sejak awal MPASI.
    4. Sereal bayi fortifikasi zat besi dapat menjadi pilihan MPASI yang bermanfaat.
    5. Hindari gula tambahan pada bayi dan anak di bawah 2 tahun.
    6. Kurangi makanan ultra-proses, terutama produk tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat.
    7. Jangan menunda pengenalan makanan alergen tanpa indikasi medis.
    8. Hindari susu mentah dan produk susu yang tidak dipasteurisasi.
    9. Sesuaikan jenis susu dan lemak dengan usia, kebutuhan, dan status pertumbuhan anak.
    10. Pantau pertumbuhan menggunakan kurva WHO, bukan hanya berdasarkan banyaknya makanan yang dikonsumsi.

Keterbatasan dan penilaian kritis publikasi

  • Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan artikel ini sebagai dasar rekomendasi klinis.
  • Jenis publikasi: Artikel ini merupakan pediatric review/perspective, bukan penelitian klinis intervensi atau systematic review dengan meta-analisis.
  • Konteks negara: DGA dirancang untuk populasi Amerika Serikat. Penerapannya di Indonesia harus memperhatikan pola makan, ketersediaan pangan, masalah defisiensi mikronutrien, dan kondisi sosial ekonomi.
  • UPF: Tidak semua pangan olahan memiliki dampak nutrisi yang sama. Makanan fortifikasi dapat memberikan manfaat penting bagi anak.
  • Gula: Pembatasan gula tambahan perlu dilakukan tanpa mengorbankan variasi dan kecukupan nutrisi.
  • Sereal fortifikasi: Tidak wajib diberikan kepada semua anak, tetapi sumber zat besi harus dipastikan mencukupi.
  • Makanan alergen: Penghindaran makanan secara luas tanpa diagnosis dapat menyebabkan pembatasan nutrisi yang tidak diperlukan.

Kesimpulan review

  • Artikel Du dan Abrams tahun 2026 memberikan evaluasi kritis terhadap perubahan Dietary Guidelines for Americans 2025–2030, khususnya untuk anak usia di bawah 5 tahun.
  • Perhatian terhadap makanan ultra-proses dan pengurangan gula tambahan merupakan perkembangan penting dalam pencegahan masalah nutrisi dan penyakit metabolik sejak usia dini. Namun, penghilangan rekomendasi sereal bayi fortifikasi, kurangnya peringatan mengenai susu tidak dipasteurisasi, serta ketidakkonsistenan petunjuk pengenalan makanan alergen merupakan aspek yang perlu diperbaiki.
  • Dalam praktik pediatri, rekomendasi nutrisi harus tetap berorientasi pada kecukupan energi, protein, zat besi, zinc, kalsium, vitamin D, dan lemak esensial. Pembatasan makanan tidak boleh dilakukan secara berlebihan sehingga justru menyebabkan defisiensi nutrisi atau gangguan pertumbuhan.

PESAN UTAMA

  • Nutrisi anak usia dini bukan hanya tentang menghindari gula dan makanan ultra-proses, tetapi memastikan setiap anak memperoleh makanan yang aman, beragam, cukup energi, kaya protein dan mikronutrien, serta sesuai tahap pertumbuhan dan perkembangannya.
  • Healthy eating is not simply avoiding unhealthy food; it is ensuring adequate nutrition for optimal growth and development.

Referensi utama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *