Hubungan Status Gizi dengan Fungsi Kognitif pada Lansia

  • Hubungan Status Gizi dengan Fungsi Kognitif pada Lansia: Tinjauan Penelitian Geriatric Nutritional Risk Index Berdasarkan Data NHANES 2011–2014
  • Artikel: Lai W, Hu J, Li D, Luo S, Lu Q. The relationship between nutritional status measured by geriatric nutritional risk index and cognitive function in older adults: evidence from NHANES 2011–2014. Geriatric Nursing. 2026;68:103773.
    DOI: 10.1016/j.gerinurse.2025.103773
    Epub: 26 Desember 2025
    PMID: 41455396
  • Penulis tinjauan:
    Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A
    Pediatrician – Klinik Picky Eaters Jakarta

Pendahuluan

  • Penuaan populasi meningkatkan perhatian terhadap masalah penurunan fungsi kognitif, gangguan daya ingat, demensia, dan ketergantungan fungsional pada kelompok lanjut usia. Penurunan kognitif merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh usia, faktor genetik, penyakit vaskular, diabetes melitus, hipertensi, aktivitas fisik, kualitas tidur, kondisi psikososial, serta status gizi.
  • Status gizi merupakan salah satu faktor yang berpotensi dimodifikasi. Lansia berisiko mengalami malnutrisi akibat penurunan nafsu makan, perubahan kemampuan mengecap dan mencium, gangguan mengunyah atau menelan, penyakit kronis, keterbatasan aktivitas, gangguan pencernaan, serta faktor sosial seperti kesulitan memperoleh makanan bergizi.
  • Malnutrisi tidak hanya berdampak pada berat badan dan massa otot, tetapi juga dapat memengaruhi sistem saraf, metabolisme, respons imun, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Kekurangan energi, protein, dan sejumlah mikronutrien dapat mengganggu proses fisiologis yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi otak.
  • Penelitian Lai dan kolega tahun 2026 mengevaluasi hubungan antara status gizi yang diukur menggunakan Geriatric Nutritional Risk Index (GNRI) dan fungsi kognitif pada lansia Amerika Serikat berdasarkan data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) periode 2011–2014.

Tujuan penelitian

  • Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor GNRI dan kemampuan kognitif pada kelompok lanjut usia.
  • Secara khusus, penelitian mengevaluasi:
    • Hubungan tingkat GNRI dengan performa pada pemeriksaan fungsi kognitif.
    • Hubungan antara peningkatan GNRI dan prevalensi performa kognitif yang rendah.
    • Pola hubungan dosis-respons antara status gizi dan beberapa komponen fungsi kognitif.

Metode penelitian

  • Penelitian menggunakan data NHANES 2011–2014, yaitu survei kesehatan dan nutrisi populasi Amerika Serikat yang mengumpulkan data demografi, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan berbagai indikator kesehatan.
  • Sebanyak 2.283 orang dewasa lanjut usia dimasukkan dalam analisis. Status gizi dinilai menggunakan GNRI, sedangkan fungsi kognitif diukur melalui tiga jenis pemeriksaan. Abstrak penelitian secara khusus menyebutkan hasil pada Animal Fluency Test (AFT) dan Digit Symbol Substitution Test (DSST).
  • Analisis menggunakan model regresi, termasuk restricted cubic spline regression, untuk mengevaluasi pola hubungan antara GNRI dan prevalensi performa kognitif rendah.
  • Penelitian ini merupakan analisis observasional terhadap data survei, bukan uji klinis pemberian intervensi nutrisi.

Memahami Geriatric Nutritional Risk Index (GNRI)

  • GNRI merupakan alat penilaian risiko masalah gizi pada lansia yang dikembangkan dengan menggabungkan kadar albumin serum dan rasio berat badan aktual terhadap berat badan ideal.
  • Rumus yang umum digunakan adalah:
      • Rasio berat badan aktual terhadap berat badan ideal dibatasi maksimal 1 apabila berat badan aktual melebihi berat badan ideal.
      • Berat badan ideal dalam sejumlah penelitian dihitung menggunakan pendekatan indeks massa tubuh 22 kg/m², meskipun metode perhitungan dapat berbeda menurut protokol penelitian.

Interpretasi skor GNRI

Skor GNRI Kategori risiko gizi
≥98 Tidak menunjukkan risiko malnutrisi berdasarkan klasifikasi GNRI
92–97,9 Risiko malnutrisi ringan
82–91,9 Risiko malnutrisi sedang
<82 Risiko malnutrisi berat
  • Klasifikasi tersebut merupakan kategori yang lazim digunakan dalam literatur GNRI. Interpretasi klinis tetap harus mempertimbangkan kondisi pasien dan metode pengukuran yang digunakan.
  • Catatan penting: GNRI bukan pemeriksaan tunggal untuk menegakkan diagnosis malnutrisi. Albumin dapat menurun akibat inflamasi, infeksi, gangguan fungsi hati, kehilangan protein melalui ginjal, dan penyakit kronis. Karena itu, nilai albumin yang rendah tidak selalu berarti kekurangan asupan protein.
  • 5. Pemeriksaan fungsi kognitif
  • Fungsi kognitif tidak hanya berarti kemampuan mengingat. Fungsi ini mencakup perhatian, bahasa, kecepatan memproses informasi, kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan fungsi eksekutif.
  • Dua pemeriksaan yang secara khusus disebutkan dalam hasil abstrak penelitian adalah:
Pemeriksaan Kemampuan yang dinilai
Animal Fluency Test (AFT) Kelancaran verbal, kemampuan menyebutkan nama hewan dalam waktu tertentu, akses leksikal, dan aspek fungsi eksekutif
Digit Symbol Substitution Test (DSST) Kecepatan pemrosesan informasi, perhatian, koordinasi visual-motorik, dan fungsi eksekutif
  • Abstrak menyatakan bahwa penelitian menggunakan tiga tes kognitif, tetapi hasil yang secara eksplisit ditonjolkan adalah hubungan GNRI dengan AFT dan DSST. Oleh sebab itu, interpretasi utama tinjauan ini difokuskan pada kedua pemeriksaan tersebut.

Hasil utama penelitian

  • Penelitian melibatkan 2.283 lansia dan menemukan bahwa tingkat GNRI yang rendah berkaitan dengan performa yang lebih buruk pada beberapa komponen fungsi kognitif.
  • Analisis restricted cubic spline menunjukkan hubungan dosis-respons yang kurang lebih linear antara GNRI dan prevalensi performa kognitif rendah berdasarkan AFT dan DSST.
  • Dengan kata lain, semakin rendah skor GNRI, semakin tinggi kecenderungan ditemukan performa kognitif yang rendah pada kedua pemeriksaan tersebut.
  • Temuan ini menunjukkan bahwa status gizi yang lebih baik berkaitan dengan pemeliharaan beberapa aspek kemampuan kognitif pada lansia.
  • Namun, hubungan tersebut tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai bukti bahwa peningkatan GNRI pasti mencegah demensia. Penelitian ini menunjukkan hubungan statistik, bukan hubungan sebab-akibat.

Catatan editorial:

Terdapat redaksi yang tampaknya tidak konsisten dalam abstrak PubMed, yaitu frasa bahwa GNRI rendah merupakan faktor risiko untuk performa normal pada AFT dan DSST. Hal tersebut berlawanan dengan kesimpulan abstrak mengenai hubungan GNRI rendah dan performa kognitif rendah. Interpretasi hasil dalam tinjauan ini mengikuti arah hubungan yang dinyatakan dalam kesimpulan abstrak; angka hasil lengkap dan tabel artikel perlu diperiksa untuk memastikan estimasi efeknya.

7. Mengapa status gizi dapat berkaitan dengan fungsi otak?

  • Hubungan antara nutrisi dan fungsi kognitif dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme biologis. Mekanisme berikut merupakan penjelasan fisiologis yang masuk akal, tetapi tidak seluruhnya diuji secara langsung dalam penelitian Lai dan kolega.
  • A. Kekurangan energi dan protein
    • Otak membutuhkan pasokan energi yang stabil untuk mempertahankan aktivitas neuron, transmisi sinaptik, dan metabolisme sel.
    • Kekurangan energi dan protein yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan massa otot, kelemahan, gangguan imunitas, serta penurunan kemampuan fisik. Pada lansia, kondisi ini dapat memperburuk kerentanan terhadap gangguan kognitif dan ketergantungan fungsional.
  • B. Albumin dan kondisi inflamasi
    • Albumin merupakan protein utama dalam plasma darah dan dapat menggambarkan kondisi kesehatan serta status inflamasi secara tidak langsung.
    • Kadar albumin rendah sering ditemukan pada kondisi inflamasi kronis, infeksi, penyakit hati, dan malnutrisi. Inflamasi sistemik yang berlangsung lama berpotensi berhubungan dengan perubahan fungsi vaskular dan proses neuroinflamasi.
    • Namun, albumin bukan penanda spesifik status asupan protein maupun kesehatan otak.
  • C. Kekurangan mikronutrien
    • Sejumlah mikronutrien mempunyai peran penting dalam fungsi sistem saraf, antara lain:
      • Vitamin B12 dan folat: berperan dalam metabolisme satu karbon, pembentukan sel darah, dan fungsi neurologis.
      • Vitamin B1 (tiamin): penting dalam metabolisme energi sel saraf.
      • Vitamin D: mempunyai berbagai fungsi biologis, termasuk pada sistem saraf dan otot.
    • Zat besi: diperlukan dalam transportasi oksigen dan sejumlah proses metabolisme saraf.
    • Seng dan sejumlah mineral lain: berperan dalam aktivitas enzim dan fungsi sel.
    • Kekurangan nutrien tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berpotensi menyerupai atau memperburuk keluhan kognitif. Akan tetapi, suplementasi tanpa indikasi tidak otomatis memperbaiki fungsi kognitif.
  • D. Sarkopenia, kelemahan, dan penurunan aktivitas
    • Malnutrisi dapat mempercepat kehilangan massa dan kekuatan otot atau sarkopenia. Akibatnya, lansia menjadi kurang aktif, lebih mudah jatuh, dan lebih bergantung pada orang lain.
    • Penurunan aktivitas fisik dan keterlibatan sosial dapat berhubungan dengan memburuknya kesehatan otak. Hubungan antara nutrisi, otot, aktivitas fisik, dan kognisi kemungkinan bersifat timbal balik.

Hubungan malnutrisi dan penurunan kognitif dapat bersifat dua arah

  • Salah satu aspek penting dalam memahami hasil penelitian ini adalah kemungkinan adanya hubungan timbal balik.
Malnutrisi dapat memengaruhi kognisi Gangguan kognitif dapat memperburuk status gizi
Kekurangan energi dan protein Lupa makan atau melewatkan jadwal makan
Kekurangan mikronutrien Kesulitan merencanakan dan menyiapkan makanan
Inflamasi dan penyakit kronis Kesulitan berbelanja atau mengatur kebutuhan makanan
Sarkopenia dan kelemahan fisik Kesulitan menggunakan alat makan
Penurunan kondisi umum Lupa mengonsumsi obat atau mengikuti anjuran diet
  • Dengan demikian, status gizi yang buruk dapat menjadi faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif, tetapi gangguan kognitif juga dapat menyebabkan penurunan asupan dan memperburuk status gizi.
  • Hal ini penting karena penelitian observasional tidak selalu dapat menentukan mana yang terjadi lebih dahulu.

Implikasi klinis: penilaian gizi perlu menjadi bagian dari evaluasi lansia

  • Temuan penelitian mendukung pentingnya memperhatikan status gizi dalam pelayanan kesehatan geriatri. Evaluasi gizi sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika berat badan sudah sangat rendah atau pasien tampak kurus.
  • Pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan meliputi:
Komponen Hal yang dinilai
Berat badan Penurunan berat badan yang tidak disengaja dan perubahan berat badan berkala
Indeks massa tubuh Gambaran status berat badan, dengan interpretasi khusus pada lansia
Asupan makanan Jumlah energi, protein, variasi, dan kualitas makanan
Pemeriksaan laboratorium Albumin, darah lengkap, fungsi ginjal, fungsi hati, dan pemeriksaan lain sesuai indikasi
Fungsi otot Kekuatan genggam, kemampuan berdiri, berjalan, dan indikator sarkopenia
Fungsi kognitif Pemeriksaan terstandar sesuai keluhan dan kondisi klinis
Fungsi menelan dan mengunyah Kesulitan makan, tersedak, gangguan gigi, dan disfagia
Kondisi psikososial Depresi, kesepian, keterbatasan ekonomi, dan dukungan keluarga
  • GNRI dapat digunakan sebagai salah satu alat skrining risiko gizi, tetapi tidak menggantikan evaluasi menyeluruh.

Strategi nutrisi untuk membantu mempertahankan kesehatan lansia

Intervensi nutrisi perlu disesuaikan dengan penyakit penyerta, fungsi ginjal, kemampuan menelan, kondisi metabolik, aktivitas fisik, dan kebutuhan energi masing-masing individu.

  • A. Memenuhi kebutuhan protein
    • Asupan protein yang memadai membantu mempertahankan massa otot dan fungsi fisik. Sumber protein dapat berasal dari ikan, telur, ayam, daging, susu, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
    • Pada lansia sehat, kebutuhan protein sering dipertimbangkan sekitar 1,0–1,2 gram/kg berat badan/hari. Pada kondisi penyakit akut atau malnutrisi, kebutuhan dapat lebih tinggi, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi klinis, khususnya pada pasien dengan penyakit ginjal.
  • B. Memastikan kecukupan energi
    • Asupan energi yang tidak mencukupi menyebabkan tubuh menggunakan cadangan jaringan, termasuk otot, untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
    • Makanan perlu diberikan dalam jumlah dan bentuk yang dapat diterima lansia. Pada pasien dengan nafsu makan rendah, porsi kecil tetapi lebih sering dapat dipertimbangkan.
  • C. Mengonsumsi makanan beragam
    • Pola makan sebaiknya mencakup:
      • Ikan dan sumber protein berkualitas.
      • Sayur dan buah beragam warna.
      • Sumber karbohidrat kompleks.
      • Kacang-kacangan dan biji-bijian sesuai kemampuan mengunyah.
      • Lemak tidak jenuh dari ikan, kacang, dan minyak nabati.
      • Sumber vitamin B12, folat, vitamin D, zat besi, dan mineral lainnya.
  • D. Mempertahankan hidrasi
    • Dehidrasi dapat menyebabkan lemah, kebingungan, pusing, dan gangguan fungsi sehari-hari. Kebutuhan cairan perlu disesuaikan dengan kondisi jantung, ginjal, dan penyakit penyerta.
  • E. Mengombinasikan nutrisi dan aktivitas fisik
    • Pemenuhan nutrisi perlu disertai aktivitas fisik yang sesuai kemampuan, latihan kekuatan otot, latihan keseimbangan, dan aktivitas sosial. Pendekatan multidimensi lebih tepat dibandingkan hanya berfokus pada pemberian suplemen.

Kekuatan penelitian

  • Beberapa aspek yang menjadi nilai tambah penelitian ini adalah:
    • Menggunakan data NHANES yang memiliki metode pengambilan sampel populasi yang terstruktur.
    • Melibatkan lebih dari dua ribu peserta lanjut usia.
    • Menggunakan GNRI yang menggabungkan parameter antropometri dan laboratorium.
    • Mengevaluasi lebih dari satu komponen fungsi kognitif.
    • Menggunakan analisis restricted cubic spline untuk menilai pola hubungan dosis-respons.

Keterbatasan penelitian dan interpretasi kritis

  • Beberapa keterbatasan perlu diperhatikan sebelum menerapkan hasil penelitian dalam praktik klinis.
    1. Pertama, desain observasional. Penelitian tidak dapat membuktikan bahwa GNRI rendah menyebabkan gangguan kognitif. Penyakit kronis, inflamasi, gangguan metabolik, dan faktor sosial dapat memengaruhi kedua variabel.
    2. Kedua, data berasal dari NHANES 2011–2014. Data tersebut memberikan gambaran populasi Amerika Serikat pada periode tertentu. Hasilnya belum tentu sepenuhnya mencerminkan kondisi lansia Indonesia saat ini.
    3. Ketiga, GNRI memiliki keterbatasan. Albumin dapat dipengaruhi oleh inflamasi, penyakit hati, gangguan ginjal, dan kondisi medis lainnya. Karena itu, GNRI tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk mendiagnosis malnutrisi.
    4. Keempat, pemeriksaan kognitif tidak sama dengan diagnosis demensia. AFT dan DSST mengukur komponen kemampuan kognitif tertentu. Hasil yang rendah tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit Alzheimer atau demensia.
    5. Kelima, kemungkinan kausalitas terbalik. Gangguan kognitif dapat menyebabkan seseorang lupa makan, mengalami kesulitan menyiapkan makanan, atau kehilangan kemampuan mengatur pola makan. Dengan demikian, hubungan status gizi dan kognisi dapat berjalan dua arah.
    6. Keenam, generalisasi intervensi perlu hati-hati. Penelitian ini tidak membuktikan bahwa meningkatkan skor GNRI melalui suplemen atau diet tertentu akan memperbaiki kemampuan kognitif.

Rekomendasi dalam praktik geriatri

  • Berdasarkan hasil penelitian dan prinsip pelayanan geriatri, beberapa langkah dapat dipertimbangkan:
    • Melakukan skrining risiko malnutrisi secara berkala pada lansia, terutama mereka yang mengalami penurunan berat badan, penyakit kronis, atau penurunan kemampuan aktivitas.
    • Mempertimbangkan GNRI sebagai salah satu alat penilaian risiko, bukan sebagai satu-satunya parameter.
    • Mengevaluasi keluhan daya ingat dan penurunan fungsi kognitif secara terstruktur.
    • Mencari penyebab yang dapat diperbaiki, seperti depresi, gangguan tidur, efek obat, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, hipotiroidisme, dan defisiensi vitamin B12 sesuai indikasi.
    • Menilai kemampuan mengunyah, menelan, dan memperoleh makanan.
    • Memberikan intervensi nutrisi individual berdasarkan kebutuhan dan penyakit penyerta.
    • Menggabungkan perbaikan nutrisi dengan aktivitas fisik, latihan kekuatan, stimulasi kognitif, dan dukungan sosial.

Kesimpulan

  • Penelitian Lai dan kolega yang dipublikasikan dalam Geriatric Nursing tahun 2026 menunjukkan adanya hubungan antara status gizi yang lebih rendah berdasarkan GNRI dan performa kognitif yang lebih buruk pada beberapa komponen pemeriksaan, khususnya Animal Fluency Test dan Digit Symbol Substitution Test.
  • Hubungan dosis-respons yang ditemukan memperkuat pentingnya memperhatikan status gizi sebagai salah satu aspek kesehatan otak pada lansia. Status gizi yang baik berpotensi mendukung pemeliharaan fungsi kognitif, massa otot, kemampuan fisik, dan kemandirian.
  • Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa GNRI rendah secara langsung menyebabkan demensia atau bahwa peningkatan GNRI pasti mencegah penurunan kognitif. Penilaian gizi harus dilakukan bersama evaluasi medis, fungsional, dan kognitif yang menyeluruh.

Pesan utama: Menjaga kesehatan otak pada lansia tidak cukup hanya dengan melatih daya ingat. Kecukupan nutrisi, pemeliharaan massa otot, aktivitas fisik, pengendalian penyakit kronis, tidur yang baik, dan keterlibatan sosial merupakan bagian penting dari pendekatan kesehatan otak sepanjang usia lanjut.


Referensi

  • Lai W, Hu J, Li D, Luo S, Lu Q. The relationship between nutritional status measured by geriatric nutritional risk index and cognitive function in older adults: evidence from NHANES 2011–2014. Geriatr Nurs. 2026;68:103773. doi:10.1016/j.gerinurse.2025.103773.
  • Bouillanne O, Morineau G, Dupont C, et al. Geriatric Nutritional Risk Index: a new index for evaluating at-risk elderly medical patients. Am J Clin Nutr. 2005;82(4):777–783.
  • World Health Organization. Risk Reduction of Cognitive Decline and Dementia: WHO Guidelines. Geneva: WHO; 2019.
  • Volkert D, Beck AM, Cederholm T, et al. ESPEN practical guideline: clinical nutrition and hydration in geriatrics. Clin Nutr. 2022;41(4):958–989.
  • National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES). Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/nchs/nhanes/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *