- STUNTING DAN GAGAL TUMBUH PADA ANAK: MENGAPA ANAK PENDEK, BERAT BADAN SULIT NAIK, ATAU PERTUMBUHANNYA TERLAMBAT?
Pertanyaan
- Mengapa sebagian anak memiliki tubuh lebih pendek dibandingkan anak seusianya, berat badan sulit naik, atau mengalami keterlambatan pertumbuhan meskipun sudah diberikan makanan bergizi, susu, vitamin, dan suplemen? Apakah kondisi tersebut selalu disebabkan oleh kekurangan asupan makanan, atau dapat berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi makanan, infeksi berulang, gangguan penyerapan nutrisi, penyakit kronis, faktor genetik, dan masalah hormonal? Bagaimana membedakan stunting, berat badan kurang, gagal tumbuh (growth faltering), dan perawakan pendek (short stature)? Pemeriksaan apa yang diperlukan dan bagaimana strategi penanganan yang tepat agar anak dapat mencapai potensi pertumbuhan, perkembangan fisik, dan kemampuan kognitif secara optimal?
Jawaban
- 1. Stunting bukan sekadar anak bertubuh pendek
- Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan linier yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut umur berada di bawah minus dua standar deviasi (-2 SD) berdasarkan Standar Pertumbuhan Anak WHO. Kondisi ini mencerminkan adanya hambatan pertumbuhan yang berlangsung dalam jangka panjang, sering kali akibat kombinasi kekurangan nutrisi, infeksi berulang, kondisi kesehatan ibu, serta lingkungan pengasuhan yang kurang mendukung. Stunting berat ditentukan apabila tinggi badan menurut umur berada di bawah minus tiga standar deviasi (-3 SD). Stunting bukan hanya persoalan penampilan fisik, tetapi juga dapat berkaitan dengan perkembangan kognitif, kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitas pada masa dewasa.
- 2. Berat badan sulit naik dan gagal tumbuh memiliki penyebab yang beragam
- Gagal tumbuh atau growth faltering merupakan istilah untuk menggambarkan pertumbuhan anak yang tidak berlangsung sesuai pola yang diharapkan. Kondisi ini dapat ditandai dengan kenaikan berat badan yang melambat, penurunan berat badan, atau penurunan posisi pertumbuhan pada kurva standar. Penyebab paling umum adalah asupan energi yang tidak mencukupi, tetapi dapat pula disebabkan oleh gangguan penyerapan nutrisi, peningkatan kebutuhan energi akibat penyakit kronis, gangguan metabolik, infeksi, dan masalah pemberian makan. American Academy of Pediatrics (AAP) dalam pedoman klinis 2026 menekankan pentingnya penilaian pertumbuhan berdasarkan pengukuran antropometri dan perubahan skor-z dari waktu ke waktu. Karena itu, satu kali pengukuran berat badan tidak cukup untuk menentukan apakah seorang anak mengalami gagal tumbuh.
- 3. Kekurangan asupan energi dan protein merupakan penyebab penting
- Anak membutuhkan energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya. Apabila asupan makanan tidak mencukupi, tubuh akan mengalami keterbatasan bahan baku untuk membentuk jaringan, tulang, otot, dan organ. Kondisi ini dapat terjadi pada bayi dengan masalah menyusu, produksi ASI yang tidak mencukupi, pemberian MPASI yang tidak adekuat, anak yang hanya mengonsumsi susu, serta balita dengan kebiasaan makan sangat terbatas. Kualitas makanan sama pentingnya dengan jumlah makanan. Pemberian susu atau suplemen saja tidak selalu dapat menggantikan kebutuhan nutrisi dari pola makan yang beragam dan seimbang. Evaluasi harus mencakup jumlah, jenis, frekuensi, tekstur, dan kemampuan anak mengonsumsi makanan.
- 4. Picky eating dan gangguan kesulitan makan dapat menghambat pertumbuhan
- Kesulitan makan atau feeding difficulties merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan pada anak dengan berat badan sulit naik. Anak mungkin menolak makanan, hanya mau beberapa jenis makanan, sulit menerima tekstur tertentu, makan dalam waktu sangat lama, atau menunjukkan perilaku menolak saat diberikan makanan. Pada sebagian anak, masalah ini berkaitan dengan gangguan oral-motor, sensorik, perkembangan, konstipasi, refluks gastroesofageal, atau pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Apabila asupan energi dan protein terus-menerus tidak mencukupi, pertumbuhan dapat terganggu. Penanganan tidak cukup hanya dengan memaksa anak makan atau mengganti makanan dengan susu, tetapi harus mencari penyebab kesulitan makan dan memperbaiki proses pemberian makan secara bertahap.
- 5. Gangguan pencernaan dan penyerapan nutrisi harus dievaluasi
- Gangguan pencernaan dapat menjadi faktor penting pada anak yang mengalami berat badan sulit naik. Konstipasi kronis, diare berulang, muntah, refluks gastroesofageal, penyakit celiac, dan gangguan penyerapan nutrisi dapat mengurangi kecukupan asupan atau pemanfaatan zat gizi. Pada beberapa kondisi, anak mengalami nyeri perut, perut kembung, cepat kenyang, sulit makan, atau kehilangan nutrisi melalui saluran pencernaan. Penyakit celiac, misalnya, dapat menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi dan pertumbuhan yang tidak optimal. Namun, tidak semua konstipasi atau keluhan perut merupakan tanda malabsorpsi. Pemeriksaan harus diarahkan berdasarkan riwayat klinis, gejala penyerta, pemeriksaan fisik, dan respons terhadap intervensi awal.
- 6. Alergi makanan dapat berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan pada sebagian anak
- Alergi makanan, termasuk alergi protein susu sapi, dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi status gizi dan pertumbuhan anak. Reaksi alergi dapat menimbulkan gangguan kulit maupun saluran pencernaan, seperti muntah, diare, darah pada tinja, dan kesulitan makan. Pada sebagian anak, gejala yang berlangsung lama dapat mengganggu asupan dan menyebabkan pertumbuhan tidak optimal. Alergi yang dimediasi imunoglobulin E dan alergi non-imunoglobulin E memiliki pola manifestasi yang berbeda. Diagnosis tidak boleh hanya didasarkan pada pemeriksaan panel laboratorium atau dugaan orang tua. Evaluasi memerlukan riwayat klinis yang terarah, eliminasi makanan yang memiliki indikasi jelas, pengawasan kecukupan nutrisi, dan uji tantang makanan oral (oral food challenge/OFC) di bawah pengawasan tenaga medis apabila diperlukan. Pemeriksaan imunoglobulin G makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan.
- 7. Infeksi berulang dan penyakit kronis dapat menghambat pertumbuhan
- Infeksi yang berulang atau berlangsung lama dapat meningkatkan kebutuhan energi, menurunkan nafsu makan, dan mengganggu proses penyerapan maupun pemanfaatan nutrisi. Contohnya adalah infeksi saluran kemih berulang, tuberkulosis, infeksi saluran cerna, dan penyakit inflamasi kronis. Selain itu, kelainan jantung bawaan, penyakit ginjal, penyakit paru kronis, serta beberapa gangguan metabolik dapat menyebabkan anak membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan anak sehat. Terjadi hubungan dua arah antara malnutrisi dan infeksi: kekurangan gizi dapat melemahkan daya tahan tubuh, sementara infeksi dapat memperburuk status gizi. Oleh karena itu, anak dengan pertumbuhan terhambat perlu dievaluasi kemungkinan penyakit penyerta, terutama apabila terdapat demam berkepanjangan, batuk kronis, diare persisten, pucat, atau penurunan aktivitas.
- 8. Faktor genetik, hormonal, dan gangguan pertumbuhan tulang juga perlu dipertimbangkan
- Tidak semua anak bertubuh pendek mengalami kekurangan gizi atau stunting. Sebagian anak memiliki perawakan pendek familial karena faktor genetik, sedangkan sebagian lainnya mengalami keterlambatan pertumbuhan dan pubertas konstitusional. Gangguan hormon pertumbuhan, hipotiroidisme, gangguan hormon lainnya, serta kelainan tulang dapat menyebabkan pertumbuhan linier yang tidak optimal. Evaluasi perlu memperhatikan tinggi badan kedua orang tua, riwayat pertumbuhan sejak lahir, proporsi tubuh, kecepatan pertambahan tinggi badan, dan tahap perkembangan pubertas. Apabila terdapat kecurigaan gangguan endokrin atau kelainan tulang, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan hormon, usia tulang, atau evaluasi spesialis endokrinologi anak. Pemberian hormon pertumbuhan tidak boleh dilakukan tanpa diagnosis dan indikasi medis yang jelas.
- 9. Evaluasi dan penanganan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan
- Penanganan anak pendek atau berat badan sulit naik harus dimulai dengan pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, indeks massa tubuh, dan penilaian kurva pertumbuhan WHO sesuai usia dan jenis kelamin. Dokter perlu menilai riwayat kehamilan dan kelahiran, pola menyusu, MPASI, variasi makanan, perilaku makan, riwayat infeksi, gangguan pencernaan, perkembangan, serta kondisi keluarga. Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap, ferritin, fungsi tiroid, pemeriksaan urine, pemeriksaan penyakit celiac, atau pemeriksaan lainnya dilakukan sesuai indikasi klinis, bukan sebagai paket pemeriksaan rutin untuk semua anak. Intervensi dapat meliputi perbaikan asupan energi dan protein, terapi gangguan makan, penanganan penyakit penyerta, dan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Anak dengan masalah pertumbuhan berat atau menetap mungkin membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, dokter gizi klinik, ahli gizi, dan tenaga terapi makan. Tujuan akhirnya adalah memperbaiki penyebab gangguan pertumbuhan dan membantu anak mencapai potensi pertumbuhan terbaiknya.
- Pesan penting
- Jangan hanya mengejar kenaikan berat badan. Cari penyebab pertumbuhan terhambat.
- Anak pendek belum tentu mengalami stunting.
- Anak kurus belum tentu hanya kekurangan makanan.
- Berat badan tidak naik harus dievaluasi melalui kurva pertumbuhan, bukan hanya satu kali penimbangan.
- Picky eating berkepanjangan dapat menyebabkan kekurangan nutrisi.
- Gangguan pencernaan, alergi makanan, dan malabsorpsi perlu dipertimbangkan berdasarkan gejala klinis.
- Infeksi berulang dan penyakit kronis dapat menghambat pertumbuhan.
- Faktor genetik dan hormonal tidak boleh diabaikan.
- Susu, vitamin, dan suplemen bukan pengganti evaluasi medis.
- Intervensi sejak dini, khususnya selama 1.000 hari pertama kehidupan, sangat penting.
Prinsip utama: Setiap anak yang mengalami gangguan pertumbuhan harus mendapatkan evaluasi individual. Jangan langsung memberikan susu tinggi kalori, vitamin, atau suplemen tanpa mengetahui penyebabnya. Perbaiki masalah nutrisi yang terbukti, tangani penyakit penyerta, dan pantau respons pertumbuhan secara objektif.
- Daftar pustaka
- World Health Organization. (2006). WHO Child Growth Standards: Length/height-for-age, weight-for-age, weight-for-length, weight-for-height and body mass index-for-age. WHO. WHO Child Growth Standards.
- World Health Organization. (2025). Child growth. WHO. WHO Child Growth.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1928/2022. PNPK Tata Laksana Stunting.
- American Academy of Pediatrics. (2026). Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. AAP Clinical Practice Guideline.
- Goodwin ET, Buel KL, Cantrell LD. (2023). Growth Faltering and Failure to Thrive in Children. American Family Physician. 107(6):597–603. Artikel ilmiah.
- National Institute for Health and Care Excellence. (2017). Faltering growth: recognition and management of faltering growth in children (NG75). NICE Guideline.
- World Health Organization. (2023). Malnutrition. WHO. WHO Fact Sheet.
- American Academy of Pediatrics. Growth Faltering in Newborns and Infants. AAP Clinical Resource.
- Materi edukasi kesehatan anak. Diagnosis dan terapi harus disesuaikan dengan pemeriksaan klinis masing-masing pasien.




Leave a Reply